- Beranda
- Beritagar.id
Diplomasi Obama, ASEAN, dan Tiongkok atas Laut Cina Selatan
...
TS
BeritagarID
Diplomasi Obama, ASEAN, dan Tiongkok atas Laut Cina Selatan

Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkerumun dengan para penasihatnya termasuk Asisten Khusus Presiden dan Direktur Senior untuk Asia Dan Kritenbrink dan Penasihat bidang Keamanan Nasional Susan Rice ketika ia menghadiri Pertemuan EAS di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Vientiane, Laos, Kamis (8/9/2016).
Barack Obama mengembalikan agenda Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Vietiane, Laos, ke jalurnya.
Di hari terakhir konferensi digelar, Kamis (8/9/2016), Obama muncul dan meyakinkan negara-negara ASEAN bahwa Amerika Serikat akan membantu menyelesaikan perebutan wilayah Laut Cina Selatan dengan perdamaian.
Obama, seperti yang dilansir dalam Al-Jazeera, mengatakan keputusan mahkamah arbitrase pada 12 Juli lalu terkait sengketa Laut Cina Selatan adalah keputusan yang mengikat dan memperjelas hak maritim di wilayah itu.
"Aku merasakan ketegangan yang terjadi, tetapi aku berharap kita bisa duduk bersama dan mencari solusi untuk meredakan ketegangan ini," kata Obama.
Untuk diketahui, pada akhir KTT ini, salah satu kesepakatan yang akan dikeluarkan adalah sikap negara-negara ASEAN atas aktivitas yang masih dilakukan oleh Tiongkok di wilayah sengketa yang dimenangkan Filipina itu.
Pascakeputusan mahkamah arbitrase internasional, Tiongkok masih saja enggan meninggalkan wilayah Laut Cina Selatan. Bahkan, sebuah foto peta yang dikeluarkan Filipina menunjukkan, aktivitas Tiongkok yang saat ini sedang mendirikan sebuah pulau dan membangun pangkalan udara di sekitar Scarborough Shoal, wilayah yang diklaim Tiongkok sebagai basis militernya.
Kehadiran Presiden Amerika Serikat itu memang dinantikan para petinggi negara-negara ASEAN, khususnya yang bersengketa dengan Tiongkok atas perebutan wilayah Laut Cina Selatan.
Sejak putusan mahkamah Den Haag, Presiden Amerika Serikat itu secara lantang menyebut bahwa negaranya mendukung dan siap membantu Filipina dalam menyelesaikan perebutan ini.
Bahkan pertemuan antar Presiden Filipina, Rodrido Duterte dengan Obama adalah yang paling dinantikan Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam (negara-negara yang turut bersengketa), karena diyakini pertemuan ini akan menghasilkan keputusan yang strategis.
Namun, mulut harimau Presiden Filipina, Rodrido Duterte, hampir mengacaukan semuanya.
Saat jumpa pers menjelang keberangkatan ke Laos, 5 September 2016, Presiden Duterte terpancing pertanyaan wartawan tentang kemungkinan Obama akan membicarakan soal pemberantasan narkoba di Filipina, yang sejak dilakukan dua bulan lalu sudah membunuh lebih dari 2.400 orang.
Ia menduga Obama akan menceramahinya soal HAM dan pembunuhan ekstrajudisial. Kepada wartawan, Duterte mengatakan tak akan membiarkan seorang "anak haram" menceramahinya. Ucapan yang disampaikan Duterte membuat Obama tak terima. Ia membatalkan pertemuan dengan Duterte, meski Presiden Filipina itu telah menyatakan penyesalannya.
Tiongkok keluarkan pernyataan
Seperti berusaha untuk kooperatif, Tiongkok, pada Rabu (7/9/2016), atau satu hari menjelang konferensi ditutup, merilis sebuah pernyataan terkait sengketa Laut Cina Selatan.
Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, "seakan-akan" mengutarakan bahwa Tiongkok sebenarnya bersedia bekerja sama dengan negara-negara ASEAN untuk menyelesaikan perebutan wilayah di Laut Cina Selatan ini.
Pernyataan yang sebenarnya tidak mengartikan bahwa Tiongkok benar-benar menginginkan penyelesaian ini. Karena, beberapa perkataan yang mengisyaratkan ketidakinginan Tiongkok atas ikut campur negara-negara di luar wilayah Laut Cina Selatan, acap disebutkan berulang kali.
Pernyataan Tiongkok itu disinyalir keluar setelah Filipina merilis foto dari kapal-kapal Tiongkok yang diduga membawa material untuk membangun pulau buatan di Scarborough Shoal.
Tiongkok meguasai Scarborough Shoal pada 2012 setelah negosiasi menemukan jalan buntu dengan militer Filipina. Sejak saat itu Tiongkok melarang kapal-kapal ikan Filipina untuk melaut di daerah itu.
Wilayah yang dikuasai Tiongkok itu juga yang menjadi perebutan antara Vietnam, Filipina, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Pasalnya, jalur perdagangan keempat negara itu harus melalui jalur tersebut.
Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...t-cina-selatan
---
Baca juga dari kategori BERITA :
-
Menyorot video anti-Ahok dari aktivis mahasiswa HTI-
Misteri asal usul senjata Gatot terungkap-
Ahli patologi Australia akui ada sianida di lambung Mirnaanasabila memberi reputasi
1
1.5K
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
13.5KThread•913Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya