Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh Deloitte mengungkapkan bahwa tingkat stres seorang pekerja dan bagaimana respons mereka terhadap stres itu tergantung pada tipe kepribadian masing-masing orang.
Seperti dipaparkan oleh Business Insider, berdasarkan cara para pekerja merespons stres yang mereka alami, para peneliti kemudian mengategorikannya ke dalam empat kelompok, yaitu sang pelopor (orang yang selalu mencari hal-hal baru), sang pengendali (orang yang selalu mencari tantangan), sang pamong (orang yang selalu mencari kestabilan) dan sang integrator (orang yang selalu mencari koneksi dengan orang lain).
Para pekerja yang mencari kestabilan dan koneksi cenderung untuk melaporkan bahwa mereka lebih merasa stres di kantor daripada orang yang mencari hal-hal baru dan tantangan.
Dalam laporan Business Chemistry yang merupakan hasil dari survei terhadap 23.000 orang profesional terungkap bahwa sebagian besar responden, sekitar 82 persen, mengatakan bahwa mereka pernah melakukan kesalahan di tempat kerja sehingga memicu stres.
Selain itu, beban kerja yang berlebihan, termasuk juga jam kerja yang panjang atau mengerjakan berbagai tugas dalam satu waktu, disebut sebagai pemicu stres oleh 52 persen responden.
Secara keseluruhan, 57 persen dari para pekerja itu melaporkan kadang-kadang mengalami stres, sedangkan 14 persen menyebut jarang stres, 25 persen sering stres, dan 3 persen selalu stres.
Selain itu laporan ini juga mengungkap beberapa hal menarik, misalnya ternyata 52 persen responden mengalami stres saat terjadinya konflik, contohnya ketika diberi peringatan oleh atasan atau ketika sedang berusaha menyampaikan pesan yang sulit.
Selain itu terungkap pula bahwa sebanyak 46 persen responden merasa stres ketika sedang terburu-buru menyelesaikan tugas, misalnya ketika waktu semakin mepet atau mengerjakan proyek yang penting.
Ada pula 45 persen responden mengatakan interaksi tatap muka bisa memicu stres, misalnya ketika melakukan presentasi atau memimpin rapat.
Studi ini kemudian ditindaklanjuti dengan menanyakan kembali kepada 17.000 responden tentang bagaimana
strategi mereka mengatasi stress. Studi susulan ini mengungkap cara mereka mengatasi stres, yaitu:
Quote:
strategi aksi, misalnya dengan langsung menyelami dan menyelesaikan masalah (83 persen)
strategi kognitif, misalnya dengan cara melangkah mundur atau mencari kemungkinan lain (79 persen)
kerja lapangan, misalnya dengan mengatur atau mencari informasi lebih mendalam (78 persen)
strategi antarpribadi, misalnya berbicara dengan orang lain atau mencari gagasan lain (47 persen)
mengerjakan hal lain, misalnya bersosialisasi atau berolahraga (46 persen)
Kim Christfort, direktur pelaksana Deloitte dan direktur pelaksana The Deloitte Greenhouse Experience Team mengatakan,"Survei ini mengindikasikan bahwa stres di tempat kerja merupakan hal yang relatif dan tidak semua orang mengalami stres yang sama atau pada tingkat yang sama. Semua tergantung pada gaya seseorang dalam bekerja."
Jika Anda stres, segera mencari cara untuk melepaskan diri dari cenkeramannya. Studi yang dilakukan oleh para peneliti dari Harvard Business School dan Stanford University yang diterbitkan di jurnal Health Affairs memaparkan bagaimana stres di kantor bisa memperpendek umur Anda.
Agar bisa cepat lepas dari stres, cobalah untuk mengikuti saran dari Bustle.com agar stres bisa segera lenyap. Olahraga, mandi, meditasi dan tertawa konon bisa meredakan stres dengan segera.