Kaskus

News

BeritagarIDAvatar border
TS
BeritagarID
Ketika orang boleh memilih waktu matinya sendiri
Ketika orang boleh memilih waktu matinya sendiri
Demonstran yang menentang bunuh diri dengan pendampingan di London, Inggris, September 2015.
Apakah manusia tidak kuasa memilih waktu kematiannya sendiri? Pertanyaan itu acap kali diajukan oleh para penganjur assisted suicide, atau bunuh diri dengan pendampingan.

Dalam kasus terbaru, bolehlah Kanada ditengok. Negeri itu selangkah lagi bakal meloloskan rancangan undang-undang yang mengatur hak seseorang untuk "mati dengan terhormat." Dan kata terhormat di situ berarti, seseorang tidak harus menanggung derita berkepanjangan akibat sakit tak terobati yang berujung siksaan psikologis serta ekonomis bagi si sakit dan keluarganya.

Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, menyumbangkan komentarnya. "Masalah ini pelik dan teramat pribadi, dan pemerintah (Kanada) telah mempelajari dengan saksama mengenai dukungan terbaik yang dapat diberikan bagi mereka yang mesti menanggung derita hebat," demikian cuitannya pada akun Twitter pribadi seperti dilansir USA Today pekan lalu.

Rancangan aturan itu nantinya akan memungkinkan para penderita sakit parah yang berniat mengakhiri hidupnya untuk melakukan bunuh diri dengan obat pemberian dokter. Lewat skenario lain, penderita dapat meminta bantuan dokter atau juru rawat untuk menentukan dosis obat yang tepat untuk menjemput ajal. Dalam praktiknya, seseorang dapat meminta bantuan anggota kerabat atau handai tolan untuk melakukan eksekusi. Pekerja sosial dan apoteker pun boleh turut andil.

"Saya telah banyak melihat orang mati, baik dengan tenang maupun tersiksa," ujar Menteri Kesehatan Kanada, Jane Philpott, yang juga seorang dokter. "Saya ingin warga Kanada bisa mendapatkan penanganan yang sebaik-baiknya," imbuhnya.

Namun, selain masalah moral, rancangan undang-undang itu dicemaskan bakal memancing kedatangan para pelancong yang memang tujuannya mencari lokasi bunuh diri legal. Ada istilah untuk kegiatan itu: suicide tourism, atau wisata bunuh diri.

Hanya saja, dewan legislatif agaknya telah mengantisipasi hal tersebut. Aturan nantinya dikhususkan bagi warga yang tinggal di Kanada belaka.

Swiss mengalami hal yang dikhawatirkan Kanada. Negeri itu salah satu daerah tujuan utama bagi para pesiar yang ingin melakukan bunuh diri secara sah. Menurut kajian yang tersiar lewat jurnal Medical Ethics pada Agustus 2014, sekitar 611 pelancong menyambangi Swiss pada rentang 2008-2011 untuk melakoni bunuh diri dengan pendampingan. Mereka datang dari 31 negara dari seluruh dunia. Mayoritas turis bertolak dari Jerman dan Inggris.

"Buat orang Inggris, pergi ke Swiss adalah kalimat halus untuk (bunuh diri dengan pendampingan)," demikian artikel menyebutkan seperti dikutip CNN. "Enam lembaga yang (menawarkan jasa bunuh diri termaksud) menangani kira-kira 600 kasus bunuh diri per tahun; 150-200 di antaranya adalah pelancong bunuh diri."

Dari sekitar 611 itu, lebih dari 58 persen pelakunya adalah perempuan. Usia pasien beragam, mulai 23 tahun hingga 97 tahun dengan usia rata-rata 69 tahun. Nyaris setengahnya mengaku tengah mengidap penyakit syaraf. Sisanya adalah penderita kanker, rematik, atau kelainan cardiovaskular.

Dari semua kasus, kecuali empat, bahan yang digunakan adalah sodium pentobarbital, yang dalam dosis tinggi menyebabkan pasien terjebak koma. Dalam kondisi itu, sistem pernafasan pasien bakal mengalami kegagalan.

Untuk data bunuh diri sendiri, badan kesehatan dunia WHO menyatakan 75 persen bunuh diri dilakukan di negeri berpendapatan rendah hingga menengah pada 2012. Bunuh diri menyumbang 1,4 persen kematian dunia, atau penyebab kematian tertinggi ke-15 di tahun itu. Menyinggung angkanya, 800 ribu orang mati setiap tahunnya karena bunuh diri. Dan untuk rentang usia 15-29 tahun, bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua di seluruh dunia.

Selain Swiss dan, terhangat, Kanada, ada beberapa negara yang juga melegalkan bunuh diri dengan pendampingan, yakni Belanda, Luksemburg, dan sejumlah negara bagian Amerika Serikat.

Anaesthesia aktif

Namun demikian, bunuh diri dengan pendampingan punya definisi lain, yakni anaesthesia aktif. Perbedaannya ada pada derajat keterlibatan dan perilaku. Bunuh diri dengan pendampingan berarti ada dokter atau juru rawat yang menyiapkan alat pembawa ajal bagi pasien yang bakal digunakan atas keinginan sang pasien itu sendiri. Sementara itu, euthanasia aktif menyuratkan peran aktif dokter atau juru rawat dalam menunaikan permintaan pasien.

Bagi para dokter atau juru rawat, kategori pertama lebih ringan secara emosional. Pasalnya, mereka tidak harus terlibat langsung dalam eksekusi: mereka 'hanya' menyediakan mediumnya.

Untuk kategori yang kedua ini, negara-negara yang menerapkan adalah Kolombia (1997), Belanda (2002), Belgia (2002), Luksemburg (2008), dan Kanada (2016).

Secara ekonomi, dua model pengambilan nyawa ini punya bahasa ekonomi tersendiri. Menurut hitung-hitungan di AS, ongkos obat untuk bunuh diri dengan pendampingan 35 USD, atau kurang dari Rp500 ribu. Sementara, biaya untuk jaminan kesehatan layak berkisar 35 ribu hingga 40 ribu USD.

Oregon, salah satu negara bagian AS yang melegalkan bunuh diri dengan pendampingan, menyorongkan misal.

Pada 2008, seorang pasien kanker bernama Barbara Wagner dirujuk melakukan terapi kemoterapi oleh dokternya. Namun, jaminan kesehatan di negara bagian itu menampik rujukan itu. Sebaliknya, Barbara mendapatkan tawaran untuk ditangani lewat cara lain, termasuk bunuh diri dengan pendampingan.

Pada titik itu, pasien, yang sebenarnya masih ingin melanjutkan hidup, dihadapkan pada jalan berapi.


Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...atinya-sendiri

---

anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.1K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
Beritagar.id
KASKUS Official
13.5KThread916Anggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.