- Beranda
- Berita dan Politik
DPR: Anggaran Pembangunan Pangkalan Militer Natuna Melonjak Tiga Kali Lipat
...
TS
solit4ire
DPR: Anggaran Pembangunan Pangkalan Militer Natuna Melonjak Tiga Kali Lipat
Anggaran Pembangunan Pangkalan Militer Natuna Melonjak Tiga Kali Lipat
25 MAR 2016 07:20
C
Rimanews - Komisi I DPR mengungkapkan anggaran untuk membangun pangkalan militer di Natuna naik tiga kali lipat atau 300 persen lebih dari perkiraan awal sekitar Rp400 miliar menjadi senilai Rp1,3 triliun.
"(Sumber anggaran pembangunan) APBN Perubahan 2015 dan APBN 2016, namun masih ada kekurangan. Targetnya 2017 selesai," kata Ketua Komisi I DPR, Mahfud Siddiq, di Jakarta, Kamis (24/03/2016).
Menurut Mahfud, rencana pembangunan pangkalan mititer di Pulau Natuna sudah dimulai sejak 2015 dan masih berlangsung, termasuk pembahasan tentang anggaran pembiayaannya.
Mahfud menambahkan pembangunan pangkalan militer di Natuna itu akan melengkapi wilayah pertahanan Indonesia bagian barat dan timur yang sudah ada sehingga memudahkan mobilitas militer.
"Pembangunan (pangkalan militer di Natuna) sangat penting sebagai bagian pembangunan wilayah pertahanan bagian tengah yang berhadapan langsung dengan batas wilayah beberapa negara dan Laut China Selatan," tandas politikus PKS itu.
Sebelumnya, kapal patroli Penjaga Pantai China mengganggu upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menindak kapal pencuri ikan dari negara tirai bambu itu di kawasan perairan Natuna.
Ketika sedang berpatroli di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (19/03), kapal pengawas KKP Hiu 11 mendeteksi pergerakan kapal ikan ilegal dari China, Kway Fey 10078.
Pada pukul 14.15 WIB Sabtu (19/3), Kway Fey 10078 tercatat berada di sekitar koordinat 5 derajat Lintang Utara dan 109 derajat Bujur Timur yang merupakan kawasan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Akibat pelanggaran tersebut, Hiu 11 mulai mengejar sambil melepaskan tembakan peringatan, tetapi kapal Kway Fey melarikan diri, antara lain dengan bermanuver zig-zag.
Namun sekitar pukul 15.00 WIB, kapal ikan ilegal China tersebut berhasil dihentikan dan petugas KKP segera menginjak geladak kapal Kway Fey serta menahan delapan awak buah kapal itu.
Kemudian, saat KM Kway Fey akan dibawa petugas KKP, tiba-tiba datang kapal Penjaga Pantai Tiongkok yang datang mendekat dan menabrak Kway Fey, dengan dugaan agar kapal ikan asal Tiongkok tersebut tidak bisa dibawa ke daratan Indonesia.
Untuk menghindari konflik, petugas KKP meninggalkan Kway Fey dan kembali ke KP Hiu 11 dan hanya berhasil membawa delapan ABK.
http://nasional.rimanews.com/keamana...iga-Kali-Lipat
Makin Memanas, TNI Kirim 7 Kapal Perang ke Natuna dan AS Kirim 1 Kapal Perangnya
10/23/2015

NBCIndonesia.com - Laut China Selatan makin memanas, kondisi ini memaksa TNI mengirimkan armada tempur ke Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Selain patroli pesawat tempur dari Lanud Pekanbaru, TNI juga mengirimkan tujuh kapal perang untuk menjaga kedaulatan NKRI dari ancaman China.
Pengerahan armada tempur untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut, terutama China yang mengklaim wilayahnya dari Kepulauan Spartly hingga tujuh pulau di gugusan Kepulauan Natuna. “Saat ini ada tujuh KRI (kapal perang) yang kita siagakan di sana (Natuna), ada juga pesawat udara patroli maritim,” terang Kadispenal, Laksamana Muda (Laksma) Muhammad Zainuddin, kemarin.
Menurutnya, tiga KRI sudah berada Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV (Lantamal IV) Tanjung Pinang, yang merupakan Lantamal terdekat yang dimiliki Komando Armada Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar). Namun saat ditanya nama kapal perang tersebut, Zainuddin mengaku hal itu rahasia negara.
“Dengan penambahan tiga KRI tersebut, sudah tujuh kapal perang yang disiagakan untuk memberikan deterrent effect di kawasan tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat KRI yang disiagakan. Selain itu, intensitas patroli udara di kawasan itu juga ditingkatkan,” tambahnya.
Meski diprotes oleh sejumlha negara Asia Tenggara, China tetap menduduki Kepualuan Spartly. Bahkan negara tirai bambu itu telah mereklamasi tujuh pulau karang untuk pembangunan pangkalan militer. Tak hanya sampai di situ, China kemudian memperluas peta wilayahnya dengan memasukkan wilayah NKRI di Kepulauan Natuna sebagai wilayahnya.
Inilah yang kemudian membuat buruk hubungan kedua negara. Bahkan sikap tegas telah ditunjukkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Di antaranya menolak ajakan Menteri Pertahanan (Menhan) China, Chang Wanquan, untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan. Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.
Terpisah, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (pur) Marsetio mengatakan, penguatan armada tempur di kawasan Laut China Selatan sebagai hal yang mutlak dilakukan. “Di situ terdapat sumber energi yang besar,” ujarnya di Kantor Lemhannas, Jakarta. Menurutnya, persoalan energi akan menjadi sumber utama pertikaian antar bangsa di masa mendatang. Sebagai kawasan penyimpan energi, Laut China Selatan menjadi daerah yang rawan. “Perang tidak di eropa lagi, tapi di kawasan yang menyimpan energi,” ujarnya.
http://www.nbcindonesia.com/2015/10/...al-perang.html
5 Hal Buruk ini Akan Terjadi Seandainya Tiongkok Menantang Indonesia Berperang
3/27/2016

Sempat bekerja sama beberapa waktu lalu, kini hubungan Tiongkok dan Indonesia justru memanas. Ya, ini terkait dengan masalah laut China Selatan di mana ada semacam konflik antara Kapal Kementrian dan Perikanan (KKP) dengan kapal Coast Guard Tiongkok. Masalahnya diduga karena KKP menahan ABK kapal nelayan Tiongkok yang menangkap ikan secara ilegal di wilayah Natuna. Kapal Coast Guard Tiongkok tidak terima dengan ini dan berusaha melakukan konfrontasi.
Secara hukum Tiongkok ada di posisi bersalah karena kapal nelayan itu memang memasuki wilayah Indonesia. Mengenai ini, Menteri Susi sendiri sudah melayangkan protes. Masalah ini pun menurut TNI AL, murni tentang konflik perikanan saja, bukan pertahanan. Meskipun begitu, berawal dari sini, sangat mungkin bisa terjadi konflik yang lebih besar. Terutama jika Tiongkok berkeras hati merasa benar.
Tentu saja kita tidak mengharapkan terjadi konflik yang lebih besar. Namun, kalau Tiongkok menantang, maka sepertinya tak ada pilihan bagi Indonesia selain meladeni mereka. Jika sampai itu terjadi, maka tentu saja akan banyak hal buruk yang terjadi. Misal beberapa hal ini.
1. Hubungan Bilateral Bisa Langsung Putus
Ketika konflik terjadi di antara dua negara, maka kemungkinan yang sudah pasti terjadi adalah putusnya hubungan diplomatik keduanya. Cara ini bisa dianggap sebagai wujud paling nyata jika dua negara sedang tidak menyukai satu sama lain. Nah, seumpama terjadi konflik yang lebih besar antara Indonesia dan Tiongkok, kemungkinan hal yang sama juga akan terjadi.
Putusnya bilateral sendiri juga akan berpengaruh banyak. Terutama tentang potensi hilangnya semua kerja sama yang ada. Mulai dari bisnis, pendidikan sampai pariwisata. Jelas ada kerugian memang, namun sikap pemutusan hubungan seperti ini adalah bentuk ketegasan yang memang harus dilakukan.
2. Akan Memberikan Dampak Kepada Orang Tiongkok di Indonesia dan Sebaliknya
Sentimentil kedua warga di dua negara ini besar. Pernah dijajah Jepang di masa lalu, membuat orang-orang Tiongkok benci tujuh turunan terhadap warga Jepang meskipun kejadian buruk itu sudah lama usai. Sentimen yang sama juga pernah dialami orang Indonesia yang pernah begitu membenci warga Tionghoa, seperti konflik di tahun 1998 lalu itu.
Jika sampai terjadi konflik Indonesia-Tiongkok, mungkin saja hal-hal seperti itu akan terulang lagi. Dan memang yang seperti ini akan selalu ada sebagai side effect dari sebuah pertikaian dua negara. Tak hanya orang Tiongkok yang akan merasa terancam di Indonesia, orang kita yang ada di negeri tirai bambu juga akan merasakan hal yang sama.
3. Tiongkok Melakukan Pemaksaan Pembayaran Utang
Seperti yang kita tahu, Indonesia pernah melakukan semacam pinjaman kepada pemerintah Tiongkok. Tercatat di tahun tahun lalu, Indonesia berutang sebanyak Rp 42 triliun. Jumlah yang sangat besar tentu saja. Nah, yang jadi pertanyaan, apa yang akan terjadi dengan utang ini jika Tiongkok dan Indonesia saling konflik.
Ya, sudah jelas pihak Tiongkok akan memaksa Indonesia untuk segera melunasi utangnya. Hal ini bisa jadi sesuatu yang buruk apalagi jika ekonomi Indonesia tidak stabil. Alhasil, segala cara pun bakal dilakukan entah itu menjual aset atau mungkin berutang ke IMF dan negara lain demi membayar utang ini. Bisa jadi gara-gara ini utang luar negeri Indonesia mungkin akan sedikit bertambah.
4. Secara Militer Kita Mungkin Imbang Dengan Tiongkok
Bicara konfrontasi, maka militer jelas jadi hal yang harus dikaitkan. Tentang militer Tiongkok, kita tahu jika negara ini adalah salah satu adidaya dunia sebagai pemilik militer nomor 3 terhebat di dunia, setelah AS dan juga Rusia. Indonesia sendiri hanya berada di peringkat 12 besar dunia. Meskipun ada selisih secara statistik dan peringkat, namun bukan berarti Indonesia tidak punya kans.
Memang mungkin secara alutsista dan juga jumlah personel Indonesia kalah, namun soal ability dan skill negara kita menang jauh. Dulu pernah ada latihan gabungan antara TNI dan militer Tiongkok. Sangarnya, tentara mereka pun geleng-geleng begitu tahu kemampuan personel kita. Soal militer tidak melulu statistik, Indonesia pasti menggigit kalau ditantang.
5. Intervensi Asing dan Jadi Konflik yang Lebih Besar
Sangat disayangkan jika sampai terjadi konflik, maka nantinya ini tak hanya tentang Indonesia dan Tiongkok saja. Ya, lambat laun akan makin banyak negara-negara yang terlibat di dalamnya. Terutama negara-negara sahabat dari masing-masing pihak.
Tiongkok sendiri mungkin akan mendapatkan dukungan dari Rusia dan Korea Utara, sedangkan Indonesia mungkin akan dibantu AS yang merasa berkepentingan atas keterlibatan Rusia dan Korut. Jika seperti ini, praktis konflik yang awalnya hanya antara dua negara, akan jadi sebuah perang global yang menakutkan.
Terlihat sangat imajinatif sekali memang, tapi hal-hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Tiongkok sudah mulai memicu pelatuknya lewat ngototnya mereka di Laut China Selatan. Ketika mereka makin sok, Indonesia harus ambil keputusan. Tapi, jangan sampai malah memilih mengalah saja karena hal tersebut akan jadi bukti kalau negara kita lemah.
http://www.nbcindonesia.com/2016/03/...inya.html#more
------------------------------------------
Dari aspek sejarah dan antrophologi ... gua meragukan China modern sekarang ini, yang di dominasi etnis bangsa Han, akan berani dan se agrsif saat dulu China dibawah kekuasaan Kaisar-kaisar dari Mongolia (Dinsti Kubilai Khan dan Jengis Khan), yang dulu pernah menyerbu kerajaan majapahit di pulau jawa. Sementara Indonesia, sampai saat ini, tetap saja di dominasi etnis jawa, yang pada zaman Majapahit dulu, berani melawan dominasi Kekaisaran Mogolia dari China itu untuk menaklukkan Majapahit. Bangsa Han intinya lebih suka bisnis dan berdagang sehingga bagi mereka pedamaian dengan negara-negara yang jadi mitra bisnis internasionalnya, sangat penting dan harus dijaga baik. Kalau kemarin, konon kabarnya, kapal mereka berani menembaki kapal kita, bisa jadi itu ulah segelintir militer China yang terlalu 'pede saja dengan kekuatan militer negaranya.
Tapi langkah antisipatif TNI membangun pangkalan utama di kepulauan Natuna itu yang selesai tahun depan, perlu di apresiasi untuk kewaspadaan kita semua. Buktikan bahwa cicit-cicit tentara Majapahit dulu, siap melayani hegemoni China di wilayah kedaulatan kita di Nusantara ini.
Gua nggak membayangkan, sebuah konflik perang regional antara ASEAN (pastilah didukung AS dan NATO serta Jepang) yang dipimpin Indonesia melawan China (yang didukung Rusia dan Korut) di laut China Selatan LCT) itu, bisa saja berubah menjadi konflikyang mengarah pada terciptanya perang WW III. Sebab, begitu negara-negara ASEAN meblokade jalur laut di selat Malaka, selat Sunda dan Selat Lombok ... habislah itu jalur pasokan untuk kegiatan ekonomi China. Jelas China bisa bermata gelap dibuatnya! Sehingga 'perang nuke', bisa saja pecah secara terbatas di wilayah itu. Na'uzu billahi min zalik ...
:
25 MAR 2016 07:20
CRimanews - Komisi I DPR mengungkapkan anggaran untuk membangun pangkalan militer di Natuna naik tiga kali lipat atau 300 persen lebih dari perkiraan awal sekitar Rp400 miliar menjadi senilai Rp1,3 triliun.
"(Sumber anggaran pembangunan) APBN Perubahan 2015 dan APBN 2016, namun masih ada kekurangan. Targetnya 2017 selesai," kata Ketua Komisi I DPR, Mahfud Siddiq, di Jakarta, Kamis (24/03/2016).
Menurut Mahfud, rencana pembangunan pangkalan mititer di Pulau Natuna sudah dimulai sejak 2015 dan masih berlangsung, termasuk pembahasan tentang anggaran pembiayaannya.
Mahfud menambahkan pembangunan pangkalan militer di Natuna itu akan melengkapi wilayah pertahanan Indonesia bagian barat dan timur yang sudah ada sehingga memudahkan mobilitas militer.
"Pembangunan (pangkalan militer di Natuna) sangat penting sebagai bagian pembangunan wilayah pertahanan bagian tengah yang berhadapan langsung dengan batas wilayah beberapa negara dan Laut China Selatan," tandas politikus PKS itu.
Sebelumnya, kapal patroli Penjaga Pantai China mengganggu upaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menindak kapal pencuri ikan dari negara tirai bambu itu di kawasan perairan Natuna.
Ketika sedang berpatroli di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (19/03), kapal pengawas KKP Hiu 11 mendeteksi pergerakan kapal ikan ilegal dari China, Kway Fey 10078.
Pada pukul 14.15 WIB Sabtu (19/3), Kway Fey 10078 tercatat berada di sekitar koordinat 5 derajat Lintang Utara dan 109 derajat Bujur Timur yang merupakan kawasan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI).
Akibat pelanggaran tersebut, Hiu 11 mulai mengejar sambil melepaskan tembakan peringatan, tetapi kapal Kway Fey melarikan diri, antara lain dengan bermanuver zig-zag.
Namun sekitar pukul 15.00 WIB, kapal ikan ilegal China tersebut berhasil dihentikan dan petugas KKP segera menginjak geladak kapal Kway Fey serta menahan delapan awak buah kapal itu.
Kemudian, saat KM Kway Fey akan dibawa petugas KKP, tiba-tiba datang kapal Penjaga Pantai Tiongkok yang datang mendekat dan menabrak Kway Fey, dengan dugaan agar kapal ikan asal Tiongkok tersebut tidak bisa dibawa ke daratan Indonesia.
Untuk menghindari konflik, petugas KKP meninggalkan Kway Fey dan kembali ke KP Hiu 11 dan hanya berhasil membawa delapan ABK.
http://nasional.rimanews.com/keamana...iga-Kali-Lipat
Makin Memanas, TNI Kirim 7 Kapal Perang ke Natuna dan AS Kirim 1 Kapal Perangnya
10/23/2015

NBCIndonesia.com - Laut China Selatan makin memanas, kondisi ini memaksa TNI mengirimkan armada tempur ke Kepulauan Natuna, Kepulauan Riau (Kepri). Selain patroli pesawat tempur dari Lanud Pekanbaru, TNI juga mengirimkan tujuh kapal perang untuk menjaga kedaulatan NKRI dari ancaman China.
Pengerahan armada tempur untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut, terutama China yang mengklaim wilayahnya dari Kepulauan Spartly hingga tujuh pulau di gugusan Kepulauan Natuna. “Saat ini ada tujuh KRI (kapal perang) yang kita siagakan di sana (Natuna), ada juga pesawat udara patroli maritim,” terang Kadispenal, Laksamana Muda (Laksma) Muhammad Zainuddin, kemarin.
Menurutnya, tiga KRI sudah berada Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV (Lantamal IV) Tanjung Pinang, yang merupakan Lantamal terdekat yang dimiliki Komando Armada Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar). Namun saat ditanya nama kapal perang tersebut, Zainuddin mengaku hal itu rahasia negara.
“Dengan penambahan tiga KRI tersebut, sudah tujuh kapal perang yang disiagakan untuk memberikan deterrent effect di kawasan tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat KRI yang disiagakan. Selain itu, intensitas patroli udara di kawasan itu juga ditingkatkan,” tambahnya.
Meski diprotes oleh sejumlha negara Asia Tenggara, China tetap menduduki Kepualuan Spartly. Bahkan negara tirai bambu itu telah mereklamasi tujuh pulau karang untuk pembangunan pangkalan militer. Tak hanya sampai di situ, China kemudian memperluas peta wilayahnya dengan memasukkan wilayah NKRI di Kepulauan Natuna sebagai wilayahnya.
Inilah yang kemudian membuat buruk hubungan kedua negara. Bahkan sikap tegas telah ditunjukkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Di antaranya menolak ajakan Menteri Pertahanan (Menhan) China, Chang Wanquan, untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan. Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.
Terpisah, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (pur) Marsetio mengatakan, penguatan armada tempur di kawasan Laut China Selatan sebagai hal yang mutlak dilakukan. “Di situ terdapat sumber energi yang besar,” ujarnya di Kantor Lemhannas, Jakarta. Menurutnya, persoalan energi akan menjadi sumber utama pertikaian antar bangsa di masa mendatang. Sebagai kawasan penyimpan energi, Laut China Selatan menjadi daerah yang rawan. “Perang tidak di eropa lagi, tapi di kawasan yang menyimpan energi,” ujarnya.
http://www.nbcindonesia.com/2015/10/...al-perang.html
5 Hal Buruk ini Akan Terjadi Seandainya Tiongkok Menantang Indonesia Berperang
3/27/2016

Sempat bekerja sama beberapa waktu lalu, kini hubungan Tiongkok dan Indonesia justru memanas. Ya, ini terkait dengan masalah laut China Selatan di mana ada semacam konflik antara Kapal Kementrian dan Perikanan (KKP) dengan kapal Coast Guard Tiongkok. Masalahnya diduga karena KKP menahan ABK kapal nelayan Tiongkok yang menangkap ikan secara ilegal di wilayah Natuna. Kapal Coast Guard Tiongkok tidak terima dengan ini dan berusaha melakukan konfrontasi.
Secara hukum Tiongkok ada di posisi bersalah karena kapal nelayan itu memang memasuki wilayah Indonesia. Mengenai ini, Menteri Susi sendiri sudah melayangkan protes. Masalah ini pun menurut TNI AL, murni tentang konflik perikanan saja, bukan pertahanan. Meskipun begitu, berawal dari sini, sangat mungkin bisa terjadi konflik yang lebih besar. Terutama jika Tiongkok berkeras hati merasa benar.
Tentu saja kita tidak mengharapkan terjadi konflik yang lebih besar. Namun, kalau Tiongkok menantang, maka sepertinya tak ada pilihan bagi Indonesia selain meladeni mereka. Jika sampai itu terjadi, maka tentu saja akan banyak hal buruk yang terjadi. Misal beberapa hal ini.
1. Hubungan Bilateral Bisa Langsung Putus
Ketika konflik terjadi di antara dua negara, maka kemungkinan yang sudah pasti terjadi adalah putusnya hubungan diplomatik keduanya. Cara ini bisa dianggap sebagai wujud paling nyata jika dua negara sedang tidak menyukai satu sama lain. Nah, seumpama terjadi konflik yang lebih besar antara Indonesia dan Tiongkok, kemungkinan hal yang sama juga akan terjadi.
Putusnya bilateral sendiri juga akan berpengaruh banyak. Terutama tentang potensi hilangnya semua kerja sama yang ada. Mulai dari bisnis, pendidikan sampai pariwisata. Jelas ada kerugian memang, namun sikap pemutusan hubungan seperti ini adalah bentuk ketegasan yang memang harus dilakukan.
2. Akan Memberikan Dampak Kepada Orang Tiongkok di Indonesia dan Sebaliknya
Sentimentil kedua warga di dua negara ini besar. Pernah dijajah Jepang di masa lalu, membuat orang-orang Tiongkok benci tujuh turunan terhadap warga Jepang meskipun kejadian buruk itu sudah lama usai. Sentimen yang sama juga pernah dialami orang Indonesia yang pernah begitu membenci warga Tionghoa, seperti konflik di tahun 1998 lalu itu.
Jika sampai terjadi konflik Indonesia-Tiongkok, mungkin saja hal-hal seperti itu akan terulang lagi. Dan memang yang seperti ini akan selalu ada sebagai side effect dari sebuah pertikaian dua negara. Tak hanya orang Tiongkok yang akan merasa terancam di Indonesia, orang kita yang ada di negeri tirai bambu juga akan merasakan hal yang sama.
3. Tiongkok Melakukan Pemaksaan Pembayaran Utang
Seperti yang kita tahu, Indonesia pernah melakukan semacam pinjaman kepada pemerintah Tiongkok. Tercatat di tahun tahun lalu, Indonesia berutang sebanyak Rp 42 triliun. Jumlah yang sangat besar tentu saja. Nah, yang jadi pertanyaan, apa yang akan terjadi dengan utang ini jika Tiongkok dan Indonesia saling konflik.
Ya, sudah jelas pihak Tiongkok akan memaksa Indonesia untuk segera melunasi utangnya. Hal ini bisa jadi sesuatu yang buruk apalagi jika ekonomi Indonesia tidak stabil. Alhasil, segala cara pun bakal dilakukan entah itu menjual aset atau mungkin berutang ke IMF dan negara lain demi membayar utang ini. Bisa jadi gara-gara ini utang luar negeri Indonesia mungkin akan sedikit bertambah.
4. Secara Militer Kita Mungkin Imbang Dengan Tiongkok
Bicara konfrontasi, maka militer jelas jadi hal yang harus dikaitkan. Tentang militer Tiongkok, kita tahu jika negara ini adalah salah satu adidaya dunia sebagai pemilik militer nomor 3 terhebat di dunia, setelah AS dan juga Rusia. Indonesia sendiri hanya berada di peringkat 12 besar dunia. Meskipun ada selisih secara statistik dan peringkat, namun bukan berarti Indonesia tidak punya kans.
Memang mungkin secara alutsista dan juga jumlah personel Indonesia kalah, namun soal ability dan skill negara kita menang jauh. Dulu pernah ada latihan gabungan antara TNI dan militer Tiongkok. Sangarnya, tentara mereka pun geleng-geleng begitu tahu kemampuan personel kita. Soal militer tidak melulu statistik, Indonesia pasti menggigit kalau ditantang.
5. Intervensi Asing dan Jadi Konflik yang Lebih Besar
Sangat disayangkan jika sampai terjadi konflik, maka nantinya ini tak hanya tentang Indonesia dan Tiongkok saja. Ya, lambat laun akan makin banyak negara-negara yang terlibat di dalamnya. Terutama negara-negara sahabat dari masing-masing pihak.
Tiongkok sendiri mungkin akan mendapatkan dukungan dari Rusia dan Korea Utara, sedangkan Indonesia mungkin akan dibantu AS yang merasa berkepentingan atas keterlibatan Rusia dan Korut. Jika seperti ini, praktis konflik yang awalnya hanya antara dua negara, akan jadi sebuah perang global yang menakutkan.
Terlihat sangat imajinatif sekali memang, tapi hal-hal seperti ini sangat mungkin terjadi. Tiongkok sudah mulai memicu pelatuknya lewat ngototnya mereka di Laut China Selatan. Ketika mereka makin sok, Indonesia harus ambil keputusan. Tapi, jangan sampai malah memilih mengalah saja karena hal tersebut akan jadi bukti kalau negara kita lemah.
http://www.nbcindonesia.com/2016/03/...inya.html#more
------------------------------------------
Dari aspek sejarah dan antrophologi ... gua meragukan China modern sekarang ini, yang di dominasi etnis bangsa Han, akan berani dan se agrsif saat dulu China dibawah kekuasaan Kaisar-kaisar dari Mongolia (Dinsti Kubilai Khan dan Jengis Khan), yang dulu pernah menyerbu kerajaan majapahit di pulau jawa. Sementara Indonesia, sampai saat ini, tetap saja di dominasi etnis jawa, yang pada zaman Majapahit dulu, berani melawan dominasi Kekaisaran Mogolia dari China itu untuk menaklukkan Majapahit. Bangsa Han intinya lebih suka bisnis dan berdagang sehingga bagi mereka pedamaian dengan negara-negara yang jadi mitra bisnis internasionalnya, sangat penting dan harus dijaga baik. Kalau kemarin, konon kabarnya, kapal mereka berani menembaki kapal kita, bisa jadi itu ulah segelintir militer China yang terlalu 'pede saja dengan kekuatan militer negaranya.
Tapi langkah antisipatif TNI membangun pangkalan utama di kepulauan Natuna itu yang selesai tahun depan, perlu di apresiasi untuk kewaspadaan kita semua. Buktikan bahwa cicit-cicit tentara Majapahit dulu, siap melayani hegemoni China di wilayah kedaulatan kita di Nusantara ini.
Gua nggak membayangkan, sebuah konflik perang regional antara ASEAN (pastilah didukung AS dan NATO serta Jepang) yang dipimpin Indonesia melawan China (yang didukung Rusia dan Korut) di laut China Selatan LCT) itu, bisa saja berubah menjadi konflikyang mengarah pada terciptanya perang WW III. Sebab, begitu negara-negara ASEAN meblokade jalur laut di selat Malaka, selat Sunda dan Selat Lombok ... habislah itu jalur pasokan untuk kegiatan ekonomi China. Jelas China bisa bermata gelap dibuatnya! Sehingga 'perang nuke', bisa saja pecah secara terbatas di wilayah itu. Na'uzu billahi min zalik ...
:0
4.6K
29
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
691.7KThread•56.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya