- Beranda
- Heart to Heart
Belum Kutemukan {Judul}
...
TS
luxlive
Belum Kutemukan {Judul}
Quote:
Perkenalkan namaku Nelson Silitonga, tetapi aku lebih senang dipanggil Niel. Lahir dalam garis keturunan batak yang dimana semuanya merupakan keturunan Raja tak lantas membuatku sombong dan angkuh.
Aku berasal dari Sipahutar tepatnya Aek Nauli, tempat dimana masih banyak dijumpai hamparan pepohonan hijau, udara segar dan kicauan burung yang merdu.
Aku merupakan anak keenam dari delapan bersaudara.
Hidup yang keras dalam perantauanpun kujalani, aku lupa dengan teman teman semasa kecilku dulu. Suasana gereja yang sepi di sore hari dengan dihiasi belalang yang berterbangan kesana kemari membuatku merasa tenang untuk meluapkan segala emosi.
Aku selalu ikut dalam perlombaan karya tulis bukan dikarenakan bapakku yang seorang guru SD honorer dikampung dan ibu yang cuma memiliki keahlian bertani.
Berjuang dimasa kepemimpinan orde baru membuatku tak lantas mudah untuk meraih gelar sarjana. Menjadi kuli bangunan, penjual cabai dipasar bahkan membersihkan kotoran sepupuku pun kujalani demi untuk menyambung hidup untuk dapat terus bercita cita.
Tuhan memang tidak pernah tidur, Dia selalu dapat memperhatikan hamba hambaNya yang bertekun dalam berusaha dan meminta.
Aku mendapat gelar sarjana dari Universitas Dharma Agung, universitas swasta dimana aku membanting tulang untuk membiayai uang kuliahku sendiri tanpa adanya kiriman orang tua, karna bapakku menginginkanku memutuskan sekolah dan berladang saja seperti kelima kakak ku.
Lagi Tuhan memang sangat adil, dengan indeks prestasi yang tak bisa dikatakan tinggi aku direkrut universitas tersebut untuk menjadi seorang tenaga pendidik.
Mata kuliah PKN (red : Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan)
Memang selama diperkuliahan aku selalu menjadi asisten dosen mata kuliah inti ekonomi pembangunan. Yang kebetulan beliau merupakan orang kepercayaan Gubernur pada saat itu. Pak alin begitu aku menyebutnya, seorang professor yang sangat dekat denganku. Pak alin sangat menyenangi pribadiku yang humoris dan percaya diri. Bahkan suatu ketika dengan diam diam dia mendatangi rumahku untuk menawarkan program pasca sarjana ditahun 1998. Rumah yang masih kecil dan tanggungjawabku yang besar bagi ketiga buah hati membuatku ragu untuk mengambilnya. Hingga dia meyakinkanku dan juga pasanganku.
Tentu juga dalam menyelesaikan program pasca sarjana tak mudah bagiku. Untung dia selalu mengerti dan berdoa.
Kami memulai dengan bercocok cabai di atas tanah yang baru saja kubeli dari salah seorang dosen ditempatku mengajar.
Aku ingat betul sabtu malam kala itu, mengendarai vespa dan memecah angin berdua. Aku meliriknya sedikit lewat kaca spion, dia tampak kesusahan dalam memeluk hasil panen kami dengan satu kantong goni penuh cabai.
Pemandangan dijalan membuatku merenungi betapa bahagia aku mendapatkannya, dikala mereka semua tampak rapih ingin menghabiskan waktu bersama pasangan masing masing. Bahkan ada yang rela membuang waktu waktu romantis tersebut dan memegang sekantong hasil panen dengan baju yang penuh tanah. Dia selalu berkata aku sangat bahagia seperti ini, romantis bukan hal yang selalu kelihatannya enak, tapi beginilah romantis bagiku. Suatu filosopi yang sangat simple namun cukup memberikan jawaban pada pandangan mataku yang menerawang jauh tentang kebahagiaannya. Jika mereka memakimu aku akan menerkam mereka, jika mereka menyalahkanmu aku akan menghakimi mereka, bukan cerita tentang aku dan mereka atau tentang kau dan mereka. Cerita tentang kita, tentang buah hati kita.
Mereka semakin bertambah besar, dan aku baru saja menemukan bakat terpendam anakku, seorang yang kubayangkan menjadi pianis hebat dunia saat dia bisa memainkan lagu "Kartini". Euforia tersendiri bagiku saat jari jemarinya memencet lembut tuts tuts pianika yang sekali sekali bertanya apakah nada yang dimainkannya benar. Bahkan aku juga memasukkannya kesalah satu bimbingan belajar bahasa inggris dimana didalamnya anak SD kelas 4 sampai 6. Sementara dia masih TK. Kita bertengkar dan aku bersih keras menaruhnya disana tentu dengan iming iming aku yang membayari uang bimbingannya. Kau baik, dan bahkan sangat baik.
"Aku tidak memiliki cerita yang bagus seperti kebanyakan orang dan aku juga tak bermimpi kau akan bisa menulis. Aku masih menunggu kalian disini, dimana pelangi tergambar jelas di langit orange" ~Nelson~
Aku berasal dari Sipahutar tepatnya Aek Nauli, tempat dimana masih banyak dijumpai hamparan pepohonan hijau, udara segar dan kicauan burung yang merdu.
Aku merupakan anak keenam dari delapan bersaudara.
Hidup yang keras dalam perantauanpun kujalani, aku lupa dengan teman teman semasa kecilku dulu. Suasana gereja yang sepi di sore hari dengan dihiasi belalang yang berterbangan kesana kemari membuatku merasa tenang untuk meluapkan segala emosi.
Aku selalu ikut dalam perlombaan karya tulis bukan dikarenakan bapakku yang seorang guru SD honorer dikampung dan ibu yang cuma memiliki keahlian bertani.
Berjuang dimasa kepemimpinan orde baru membuatku tak lantas mudah untuk meraih gelar sarjana. Menjadi kuli bangunan, penjual cabai dipasar bahkan membersihkan kotoran sepupuku pun kujalani demi untuk menyambung hidup untuk dapat terus bercita cita.
Tuhan memang tidak pernah tidur, Dia selalu dapat memperhatikan hamba hambaNya yang bertekun dalam berusaha dan meminta.
Aku mendapat gelar sarjana dari Universitas Dharma Agung, universitas swasta dimana aku membanting tulang untuk membiayai uang kuliahku sendiri tanpa adanya kiriman orang tua, karna bapakku menginginkanku memutuskan sekolah dan berladang saja seperti kelima kakak ku.
Lagi Tuhan memang sangat adil, dengan indeks prestasi yang tak bisa dikatakan tinggi aku direkrut universitas tersebut untuk menjadi seorang tenaga pendidik.
Mata kuliah PKN (red : Pendidikan Pancasila Kewarganegaraan)
Memang selama diperkuliahan aku selalu menjadi asisten dosen mata kuliah inti ekonomi pembangunan. Yang kebetulan beliau merupakan orang kepercayaan Gubernur pada saat itu. Pak alin begitu aku menyebutnya, seorang professor yang sangat dekat denganku. Pak alin sangat menyenangi pribadiku yang humoris dan percaya diri. Bahkan suatu ketika dengan diam diam dia mendatangi rumahku untuk menawarkan program pasca sarjana ditahun 1998. Rumah yang masih kecil dan tanggungjawabku yang besar bagi ketiga buah hati membuatku ragu untuk mengambilnya. Hingga dia meyakinkanku dan juga pasanganku.
Tentu juga dalam menyelesaikan program pasca sarjana tak mudah bagiku. Untung dia selalu mengerti dan berdoa.
Kami memulai dengan bercocok cabai di atas tanah yang baru saja kubeli dari salah seorang dosen ditempatku mengajar.
Aku ingat betul sabtu malam kala itu, mengendarai vespa dan memecah angin berdua. Aku meliriknya sedikit lewat kaca spion, dia tampak kesusahan dalam memeluk hasil panen kami dengan satu kantong goni penuh cabai.
Pemandangan dijalan membuatku merenungi betapa bahagia aku mendapatkannya, dikala mereka semua tampak rapih ingin menghabiskan waktu bersama pasangan masing masing. Bahkan ada yang rela membuang waktu waktu romantis tersebut dan memegang sekantong hasil panen dengan baju yang penuh tanah. Dia selalu berkata aku sangat bahagia seperti ini, romantis bukan hal yang selalu kelihatannya enak, tapi beginilah romantis bagiku. Suatu filosopi yang sangat simple namun cukup memberikan jawaban pada pandangan mataku yang menerawang jauh tentang kebahagiaannya. Jika mereka memakimu aku akan menerkam mereka, jika mereka menyalahkanmu aku akan menghakimi mereka, bukan cerita tentang aku dan mereka atau tentang kau dan mereka. Cerita tentang kita, tentang buah hati kita.
Mereka semakin bertambah besar, dan aku baru saja menemukan bakat terpendam anakku, seorang yang kubayangkan menjadi pianis hebat dunia saat dia bisa memainkan lagu "Kartini". Euforia tersendiri bagiku saat jari jemarinya memencet lembut tuts tuts pianika yang sekali sekali bertanya apakah nada yang dimainkannya benar. Bahkan aku juga memasukkannya kesalah satu bimbingan belajar bahasa inggris dimana didalamnya anak SD kelas 4 sampai 6. Sementara dia masih TK. Kita bertengkar dan aku bersih keras menaruhnya disana tentu dengan iming iming aku yang membayari uang bimbingannya. Kau baik, dan bahkan sangat baik.
"Aku tidak memiliki cerita yang bagus seperti kebanyakan orang dan aku juga tak bermimpi kau akan bisa menulis. Aku masih menunggu kalian disini, dimana pelangi tergambar jelas di langit orange" ~Nelson~
Cerita ini berawal dimana cerita ini berakhir
Diubah oleh luxlive 22-03-2016 00:42
anasabila memberi reputasi
1
927
Kutip
7
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Heart to Heart
23.1KThread•40.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok