Apakah Kemajuan Teknologi Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat?
TS
ardakanan
Apakah Kemajuan Teknologi Berbanding Lurus dengan Kesejahteraan Masyarakat?
Gan Salam Kenal ane nubitol nyang biasanya cuma silent reader kali ini ane mau melepas "keperjakaan" ane dengan membuat thread di lonje untuk pertama kali bray
Langsung aja bray jadi ceritanya ane lagi buka Situs TechInAsia trus ane nemu sebuah postingan terjemahan yang bersumber dari Sebuah Postingan yang dibuat oleh Andrew Rasmussen akan gagasannya tentang Kemajuan Teknologi dan keterkaitannya dengan Kesejahteraan Masyarakat yang di post di [URL="https://S E N S O R@a13n/tech-innovation-economic-inequality-501b1c2b7fa8#.3xwdrh41o"]Medium[/URL]
oiya berhubung dia tinggal di amerika jadi ini data dan sudut pandangnya dari lingkungannya dia disono.
Berbelit belit yakk bray okeh langsung sajah bray
Spoiler for Otomatisasi:
Tak lama lagi kita akan menyaksikan otomatisasi pekerjaan. Dengan otomatisasi, kita bisa melakukan segala hal dengan lebih cepat dan efisien dari sebelumnya.
Contoh paling mutakhir adalah otomatisasi pekerjaan mengemudi. Lebih dari 2,8 persen pekerjaan yang ada di AS berhubungan dengan mengemudi, entah itu pengemudi truk, bus, ataupun taksi. Meski persentase ini terlihat kecil, namun itu artinya ada empat juta orang terancam digantikan pekerjaannya oleh mesin.
Itu baru di AS saja. Apa kamu pernah mendengar berita mengenai sopir Uber yang protes karena gajinya dipotong? Tunggu hingga mobil kendali otomatis mengambil alih.
Spoiler for Otomatisasi Pekerjaan Mengemudi:
Mobil kendali otomatis mungkin terdengar terlalu futuristik, namun hal tersebut nampaknya akan segera terwujud. Elon Musk menengarai mobil Tesla yang mampu beroperasi tanpa pengemudi diperkirakan hadir akhir 2018. Setelah itu, regulasi yang memperbolehkan beroperasinya mobil kendali otomatis akan diresmikan sekitar 1 hingga 3 tahun kemudian.
Kendaraan yang hilir-mudik di jalan bebas hambatan adalah hal yang paling mudah untuk di otomatisasi. Sopir truk mewakili 77,6 persen dari total empat juta pekerjaan mengemudi yang ada di AS.
Kapan supir-supir itu akan “dirumahkan”? Tampaknya tidak lama lagi, mengingat truk tronton dengan kendali otomatis sudah mulai diuji di jalan bebas hambatan pada Mei 2015.
Spoiler for Otomatisasi Industri Makanan.:
Bukan hanya pekerjaan mengemudi
Industri lain yang terancam diterjang gelombang otomatisasi adalah industri makanan.
Pernah mendengar eatsa? Mereka membuat salad quinoa di Los Angeles dan San Francisco. Meski pembuatan makanannya tidak (atau lebih tepatnya belum) terotomatisasi, penikmat salad tak pernah sekalipun melihat maupun berinteraksi dengan pegawai eatsa.
Kamu memesan lewat iPad, menggesek kartu kredit, tunggu beberapa menit, dan pesanan dapat diambil dari sebuah kotak yang persis seperti vending machine raksasa. Harga salad eatsa dijual $6,95 (sekitar Rp93 ibu), terbilang murah untuk penduduk Amerika.
Ada juga Momentum Machines. Perusahaan ini menciptakan mesin yang dapat membuat sederet makanan seperti salad, roti lapis, hamburger, dan berbagai macam hidangan gourmet lainnya.
Soylent menjual minuman pengganti makanan yang diklaim memiliki nutrisi lengkap seharga $12 (sekitar Rp160 ribu), setara dengan kebutuhan kalori sehari penuh (2.000 kalori).
Saya berani bertaruh bahwa dalam kurun waktu lima tahun ke depan, mesin penjual makanan otomatis akan sama populernya seperti kendaraan yang bisa berjalan tanpa perlu pengemudi. Kita tidak akan lagi menemukan pelayan dan sebagai gantinya ada sistem yang secara konsisten menghidangkan makanan—yang lebih lezat serta lebih sehat—dengan waktu penyajian yang lebih singkat dan harga yang lebih bersahabat.
Ada berapa pekerjaan yang berkaitan dengan layanan makanan di AS? Lebih dari 10 juta pekerjaan (atau sekitar 7,1 persen). Bagaimana dengan pekerjaan lainnya yang diprediksi akan diotomatisasi seperti kasir, teller bank, customer service, pegawai pembukuan, loan officer, dan lainnya? Ini juga jumlahnya diperkirakan mencapai 10 juta pekerjaan .
Spoiler for Dampak Negatif:
Inovasi teknologi berimbas terhadapketimpangan ekonomi
Kamu pasti menyadari kalau jenis pekerjaan yang dapat diotomatisasi tersebut dihuni oleh para pegawai yang tak mengenyam pendidikan formal maupun mereka yang tak mengantongi ijazah kuliah. Pekerjaan-pekerjaan yang diotomatisasi itu tak membutuhkan kualifikasi pendidikan yang terlalu tinggi, dan biasanya dikerjakan oleh para buruh.
Pekerjaan seperti apa yang nantinya akan dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan yang berinovasi ke otomatisasi? Pekerjaan yang memerlukan pegawai dengan tingkat keterampilan yang tinggi dan setidaknya mengantongi ijazah sarjana.
Siapa saja yang diuntungkan dengan kehadiran inovasi itu? Orang-orang yang menjalankan dan bekerja di perusahaan tersebut. Para investor, eksekutif, dan pegawai dengan keterampilan serta pendidikan yang tinggi.
Sampai sini, kamu tentunya bisa memahami kalau inovasi teknologi berkontribusi langsung terhadap ketimpangan ekonomi.
Spoiler for Dampak Positif:
Namun inovasi tak selamanya berdampak buruk
Di sinilah segalanya mulai menjadi sangat rumit. Kendaraan dengan kendali otomatis akan berdampak signifikan terhadap transportasi yang aman dan efisien. Restoran otomatis akan mampu menghidangkan makanan yang lebih bernutrisi dalam waktu yang singkat dengan harga yang lebih hemat.
Hal-hal tersebut terdengar menakjubkan dan inovatif, namun kedua inovasi tersebut membawa dampak negatif terhadap ketimpangan ekonomi, khususnya bagi tenaga kerja di AS.
Saya seorang ahli teknologi, bukan ahli ekonomi. Apa yang kini saya rasakan adalah antusiasme tinggi akan masa depan dan inovasi yang terhampar di depan mata. Namun, layaknya penghuni Silicon Valley yang lain, saya juga orang yang idealis.
Saya berkeinginan agar semua orang punya kesempatan yang sama dalam menjalani hidup sejahtera, terlepas dari uang yang mereka miliki. Misalkan dalam hal pendidikan yang layak, tempat tinggal, asupan gizi yang baik, layanan kesehatan, dan waktu untuk dihabiskan bersama orang terkasih. In bukan omongan yang keluar dari seseorang yang sedang mencalonkan diri di putaran pemilu tahun ini.
Realita yang terjadi saat ini di AS, dan khususnya di negara manapun di dunia, begitu banyak orang yang tak memperoleh kesempatan tersebut. Masalah-masalah ini perlu segera dicari pemecahannya oleh Silicon Valley.
Spoiler for Solusi:
Sejak menurunnya jumlah pekerjaan yang memerlukan keterampilan dan tingkat pendidikan rendah, saya semakin yakin dengan gagasan saya bahwa kita harus menekan harga semua kebutuhan serendah-rendahnya agar semua orang berkesempatan untuk hidup sejahtera. Karena biaya untuk memenuhi kebutuhan hidup semakin sulit didapat, kita tak boleh mengorbankan orang-orang yang tidak menyadari adanya krisis ini.
Salah satu hal favorit yang saya pelajari dari industri teknologi (khususnya ketika bekerja di Facebook) bukanlah menargetkan 10 persen peningkatan, melainkan menargetkan 10 kali lipat peningkatan. Peningkatan yang kecil memang lumayan, namun hal-hal inovatif biasanya linear dengan serangkaian peningkatan besar.
Kamu boleh menganggap saya gila, namun di bawah ini adalah serangkaian peningkatan besar yang saya pertimbangkan:
Tempat tinggal—Setiap orang berhak tidur nyenyak di bawah atap rumah.
Makanan— Setiap orang berhak mendapatkan jatah makan tiga kali sehari sehingga asupan gizi mereka tetap terjaga.
Pendidikan— Setiap orang berhak mendapat pendidikan yang layak sehingga mereka dapat mengejar karier yang mereka mau. Mereka tak perlu khawatir mengenai biaya untuk menempuh pendidikan kuliah.
Layanan kesehatan—Setiap orang berhak mendapat akses layanan kesehatan sesuai kebutuhan mereka masing-masing.
Waktu— Tak lupa, setiap orang juga berhak mendapat kesempatan untuk menghabiskan sebagian waktu mereka bersama orang yang mereka sayangi, tidur delapan jam per hari, melakukan yoga, ataupun apa pun yang mereka sukai.
Terlepas dari gaji yang mereka terima, setiap orang wajib mendapatkan semua kebutuhan di atas. Saya taksir semua biaya tersebut saat ini bernilai $60 ribu (sekitar Rp810 juta) untuk satu keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu beserta satu orang anak yang tinggal di wilayah perkotaan.
Nah, sekarang bisakah kita menyusutkan biaya tersebut menjadi hanya $6 ribu (sekitar Rp81 juta) saja? Jawabannya bisa. Caranya dengan berinovasi di bidang perumahan, makanan, pendidikan, serta layanan kesehatan.
Spoiler for Kesimpulan:
Ada banyak hal yang menyebabkan ketimpangan ekonomi. Bagaimana jika seandainya letak persoalannya bukan lah ketimpangan itu? Namun, penyebabnya adalah biaya hidup yang kian hari kian melambung?
Meski inovasi teknologi tampaknya akan memperlebar jarak ketimpangan ekonomi, inovasi tak selamanya berdampak buruk! Daripada menyalahkan dan menghalangi inovasi, mari kita terima dan manfaatkan guna membantu sesama dalam memperoleh kehidupan yang lebih baik.
memang kondisinya sih agak kurang relevan sama diindonesia,
tapi bukan tidak mungkin bray dalam 10 tahun kedepan kita akan menghadapi permasalahan otomatisasi tersebut karena teknologi berkembang cepat banget
nah nyari pekerjaan aja susah trus mau diganti sama robot
gak kebayang ketimpangan ekonominya gimana
okeh bray sekian dari saia yang masih nubi ini semoga menambah wawasan kalian tentang apa sedang terjadi dibelahan bumi bagian barat sana
Spoiler for Sumber:
[URL="https://S E N S O R@a13n/tech-innovation-economic-inequality-501b1c2b7fa8#.3xwdrh41o"]Sumber 1[/URL]