Kaskus

News

pakdejoyAvatar border
TS
pakdejoy
Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?
Romo Benny: Sejak Awal Sikap Gereja Katolik Tegas Tolak LGBT
Rabu, 17 Februari 2016 17:27 WIB

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?
Rohaniawan, Romo Benny Susetyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rohaniwan Katolik Pastor Benny Susetyo menegaskan sikap Gereja Katolik sejak awal tegas terhadap LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender).

Yakni tidak mengakui alias menolak LGBT.

"Sikap Gereja Katolik sejak awal tidak mengakui perkimpoian sejenis. Semua agama pasti menolak karena tidak bisa menerima orientasi seksual menyimpang," tegas Rohaniawan ini kepada Tribun, Rabu (17/2/2016).

Benny mengatakan gereja Katolik, mengikuti sikap Tahta Suci Vatikan dan Paus, sejak awal tidak akan mengakui perkimpoian sejenis karena menyalahi kodrati manusia yang diciptakan Tuhan berpasangan laki-laki dan perempuan.

"Namun, gereja tetap menghormati dan mencintai kelompok-kelompok penyuka sesama jenis dan merangkul mereka sebagai manusia," ucapnya.

Menurut Benny, perkimpoian adalah buah dari prokreasi antara laki-laki dan perempuan.

Karena itu, perkimpoian sejenis bertentangan tentang penciptaan manusia oleh Tuhan karena akan mengaburkan identitas laki-laki dan perempuan.

"Selain itu, perkimpoian sejenis juga akan menghilangkan makna keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak. Anak yang hidup dalam keluarga dari orang tua sejenis akan kehilangan figur ayah atau ibu," katanya.

Akan tetapi, kata Benny, kelompok LGBT sebagai ciptaan Tuhan, harus dihargai, dicintai dan tidak boleh dikucilkan.

"Sebagai manusia mereka harus diperlakukan secara adil dan tidak boleh diskriminasi. Mereka diterima, dihargai, dicintai dan tidak dikucilkan sebagai manusia memiliki martabat," katanya.
http://m.tribunnews.com/nasional/201...gas-tolak-lgbt


Pro Kontra LGBT, Pernyataan Tegas Paus Fransiskus! "Siapakah Aku Sehingga Menghakimi?"
Sabtu, 20 Februari 2016 12:01

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?
Paus Fransiskus

TRIBUNMANADO.CO.ID - Maraknya pemberitaan soal Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender (LGBT) telah menuai pro dan kontra dan perdebatan cukup sengit beberapa waktu terakhir.

Pernyataan mendukung dan menolak kelompok LGBT membanjiri sosial media.

Menanggapi hal tersebut, Pemimpin Tertinggi Umat Katolik Roma, Paus Fransiskus angkat bicara.

Pernyataan tegas Paus memandang kaum LGBT telah menyebar melalui medis sosial facebook.

Dalam pandangannya, Paus menilai dirinya tidak berhak untuk menghakimi kaum LGBT.

Hal tersebut tertuang dalam pernyataannya :

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?

"If someone is gay and he searches for the Lord, and has good will, who am i to judge? we shouldn't marginalize people for this. They must be integrated into society"

("Jika seseorang adalah gay dan ia mencari Tuhan, serta memiliki niat baik, siapakah aku sehingga menghakimi? kita tidak harus meminggirkan orang karena ini . Mereka harus diintegrasikan ke dalam masyarakat")


Pernyataan Paus ini sontak mendapat beragam tanggapan dari netizen.

"Silakan baca supaya lebih paham dan terbuka (merujuk pada pernyataan Paus). Siapakah aku bisa menghakimi kamu? Bukankah aku juga kerap berdosa? Jika kamu tidak pernah berdosa, kamu boleh menghakimi," tutur pemilik akun facebook Deodatus Suksmo Pradipto.
http://manado.tribunnews.com/2016/02...gga-menghakimi


Kardinal Dolan: Pernyataan Paus Fransiskus tentang Gay, Menegaskan Posisi Gereja
21:54 WIB | Kamis, 01 Agustus 2013

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?
Kardinal dari Keuskupan Agung New York, Timothy Dolan. (Foto: cathnewsusa)

NEW YORK, SATUHARAPAN.COM - Kardinal dari Keuskupan Agung New York, Timothy Dolan, belum lama ini menjelaskan bahwa Paus Fransiskus dan Gereja Katolik Roma masih menganggap homoseksualitas adalah salah.

Kardinal Dolan mengatakan hal itu dalam siaran media CBS This Morning, pernyataan Paus itu memperjelas posisi Gereja yang menerima homoseksual tanpa menerima perilaku homoseksual.

"Paus Fransiskus akan menjadi yang pertama untuk mengatakan, 'Pekerjaan saya bukan untuk mengubah ajaran Gereja. Pekerjaan saya adalah untuk hadir sejelas mungkin'," kata Kardinal Dolan, pada Selasa (30/7), seperti dilansir dari situs christianpost.

"Sementara itu, tindakan-tindakan tertentu mungkin salah ... (tetapi) kita akan selalu mencintai dan menghormati orang dan memperlakukan orang dengan bermartabat," kata Kardinal Dolan, yang juga menjabat sebagai Ketua Konferensi Waligereja Amerika.

Pertanyaan Wartawan tentang Gay

Pada hari terakhir kunjungan Paus ke Brazil untuk Hari Pemuda Se-Dunia, Paus Fransiskus menjawab pertanyaan wartawan tentang posisi kaum gay dalam Gereja Katolik. "Jika seseorang gay dan ia mencari Tuhan dan memiliki niat baik, siapa aku untuk menilai?" kata Paus. Ia menambahkan bahwa kaum gay "tidak boleh terpinggirkan" dalam perjalanan pesawat menuju Vatikan, pada Senin (29/7) yang lalu.

Pernyataan Paus Fransiskus tersebut menjadi pemberitaan besar pada media sekuler di Amerika Serikat, yang secara khusus menyoroti pernyataan "siapa aku untuk menilai?" Akan tetapi, banyak pihak yang berpendapat bahwa respon media massa terhadap pernyataan Paus telah 'menggiring mereka keluar dari konteks, karena waktu itu ia (Paus) menjawab dalam konteks pertanyaan tentang lobi LGBT yang terjadi dalam Gereja.

Di tempat terpisah, menurut jajak pendapat yang dilakukan pewresearch.org terhadap komunitas lesbian, gay, bisexual, dan transgender (LGBT) di Amerika, diperoleh data 79 persen orang dewasa LGBT yang menganggap Gereja tidak ramah terhadap mereka dan 66 persen LGBT beragama mengatakan hal yang sama.

Gay diintegrasikan ke dalam masyrakat

Selanjutnya, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Katekismus Gereja Katolik menjelaskan ini dengan sangat baik. Ia mengatakan, "seseorang tidak harus meminggirkan orang-orang ini, mereka harus diintegrasikan ke dalam masyarakat."

"Masalahnya bukan ini [homoseksual] orientasi. Kita harus menjadi seperti saudara dan saudari. Masalahnya adalah sesuatu yang lain, masalahnya adalah melobi baik untuk orientasi ini atau lobi politik atau lobi Masonik," kata Paus Fransiskus.

Di lain pihak, beberapa kelompok menanggapi penafsiran keliru yang beredar pada media masa terhadap pernyataan Paus Fransiskus yang melakukan wawancara informal dalam pesawat terbang. Ketua Organisasi Nasional untuk Pernikahan (Ruth Institute) di California, Dr. Jennifer Roback Morse, mengatakan bahwa jawaban Paus tidak resmi tetapi konsisten dengan ajaran abadi Gereja, meskipun dalam perjalanan pulang ke Vatikan.

"Paus tidak mengatakan sesuatu yang baru dalam sambutannya, itu spontan kepada wartawan dalam penerbangan pulang Kepausan dari World Youth Day. Semua yang dia katakan benar-benar konsisten dengan ajaran abadi dari Gereja Katolik, yang menyatakan bahwa ada perbedaan moral penting antara hasrat seksual dan tindakan seksual," kata Morse membedakan.

"Sejak Kejatuhan, kita semua dilahirkan dengan keinginan untuk melakukan hal-hal yang tidak baik dan tidak konsisten dengan hukum-hukum Allah. Ini termasuk mereka yang pola hasrat seksual terutama untuk orang-orang dari jenis kelamin yang sama," kata Morse, pada Selasa (30/7).
http://www.satuharapan.com/read-deta...-posisi-gereja


Dokumen Vatikan Serukan Gereja Katolik Menyambut Kaum Gay
WEDNESDAY, 15 OCTOBER 2014

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?

VATIKAN - Majelis uskup Katolik, yang bersidang di bawah kontrol Paus Fransiskus di Vatikan, menerbitkan sebuah dokumen yang menyerukan Gereja Katolik untuk "menyambut" kaum gay, pasangan yang belum menikah dan mereka yang telah bercerai, serta anak-anak dari mereka.

Dokumen itu memang tidak mengubah doktrin dasar Katolik Roma dan pengajarannya, namun diprediksi akan menuai perdebatan sengit.

Inilah sinyal pertama bahwa Gereja Katolik mengikuti arah pelayanan Paus Fransiskus dalam 18 bulan pertama kepausannya. Pelayanan ini lebih menuju pemahaman, keterbukaan dan belas kasihan.

Lebih dari 200 uskup telah mengambil bagian dalam sinode yang diselenggarakan oleh Paus Fransiskus untuk membahas isu aborsi, kontrasepsi, homoseksualitas dan perceraian, sejak 5 Oktober lalu. Demikian dilaporkan nytimes.com.

Laporan 12 halaman, ditulis oleh sebuah komite yang dipilih oleh Francis, menyatakan bahwa tanpa meninggalkan ajaran gereja pada Sakramen Perkimpoian, pemimpin gereja harus mengakui bahwa ada "aspek positif dari hidup bersama". Itu berlawanan dari konsep Katolik tradisional yang lebih tegas menilai pasangan yang "hidup dalam dosa."

Dokumen itu juga mengatakan bahwa orang-orang gay memiliki sesuatu yang bisa ditawarkan kepada komunitas Kristen, dan menekankan pentingnya sikap hidup dengan saling berkorban dan saling memberikan dukungan.

Dokumen ini dibacakan kepada hampir 200 uskup yang berkumpul di sinode, namun mendapat tanggapan yang cenderung keberatan dari 41 uskup. Mereka menganggap gereja berisiko mengkhianati doktrin definitif tentang pernikahan dan homoseksualitas. Kelompok Konservatif pun menolak dokumen itu dan menyebutnya sebagai "pengkhianatan". Inilah yang menandakan bahwa perdebatan akan semakin sengit di waktu-waktu mendatang.

Laporan BBC mengatakan, keterbukaan terhadap kaum gay tidak menantang doktrin yang dipegang Gereja untuk pernikahan sesama jenis. Namun, beberapa kelompok pejuang hak-hak gay memuji hasil sinode itu sebagai terobosan.

"Apakah kita mampu menyambut orang-orang ini, menjamin kepada mereka ruang persaudaraan dalam masyarakat kita?" demikian kutipan dokumen tersebut.

"Apakah masyarakat kita mampu membuktikan, menerima dan menghargai orientasi seksual mereka, tanpa mengorbankan ajaran Katolik pada keluarga dan pernikahan?" Disebutkan bahwa 1,2 milyar anggota Gereja harus melihat perkembangan posisi homoseksual sebagai “tantangan pendidikan yang penting” bagi institusi global.

New Ways Ministry, kelompok hak asasi gay Katolik terkemuka di Amerika Serikat, menyebut dokumen itu sebagai “langkah maju”. Hal senada dinyatakan pula oleh QUEST, kelompok hak asasi gay Katolik yang berbasis di London menyebut sikap ini sebagai "terobosan".

Namun Voice Of The Family, sebuah organisasi Katolik Roma konservatif, menolaknya sebagai "pengkhianatan". Ada pula yang menyebutnya "salah satu dokumen resmi terburuk yang disusun dalam sejarah Gereja".
Sumber :
http://www.rakyatmerdekaonline.com/n....php?id=175702
http://mirajnews.com/id/internasiona...m-homoseksual/
source: http://www.bersatulahdalamgerejakato...a-katolik.html


KOMPAS*) TV dan Online Giring Opini Dukung LGBT
24/02/2016

Mensikapi LGPT: Pandangan Paus Alexander, Romo Benny & KOMPAS kok nggak kompak?
Acara Kompas TV tentang LGBT (Dok KOMPAS TV)

Kompas TV dan online berupaya menggiring pembacanya untuk mendukung gerakan Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Dalam acara dialog dalam Program Khusus yang membahas tentang LGBT di Kompas TV pada Kamis (11/2/2016) “Program Khusus: Apakah LGBT harus dicemaskan” nampak sekali televisi ini memberikan panggung pada pendukung LGBT.

Walaupun dalam dialog itu ada panelis lain yang tidak setuju LGBT tetapi tidak menguasai masalah dan terlihat normatif.

CEO Kanet Indonesia, Yons Achmad menulis artikel berjudul “Penggiringan Opini Kompas TV Pro LGBT.”

Ia menulis, “pada akhirnya dalam industri media, membela LGBT, memberikan ruang kepada pembelanya, barangkali menjadi isu yang “seksi”. Dan Kompas TV, memilih melakukan politik media semacam ini.”

Kompas Online menulis judul “Nyatakan LGBT Gangguan Jiwa, dr Fidiansyah Dituding Menutupi Kebenaran”

Kompas Online mengutip pernyataan dr Andri SpKJ FAPM, psikiater dengan kekhususan psikosomatik medis, Fellow of Academy of Psychosomatic Medicine dan pengajar di Fakultas Kedokteran UKRIDA.

Kebetulan dr Andri menulis di Kompasiana yang membantah pernyataan dari dr Fidiansyah Sp KJ MPH yang menyatakan LGBT merupakan gangguan jiwa.

Andri menunjukkan dengan detail bagaimana buku itu menyatakan bahwa LGBT buka gangguan jiwa.

Kompas Online juga mengutip pernyataan dokter yang juga pendukung LGBT yaitu dr Ryu Hasan.

Sedangkan seorang Doktor yang juga dokter mantan aktivis HMI, Taruna Ikrar yang saat ini mengajar di University of California, Irvine, Amerika Serikat mengatakan, LGBT adalah disorientation sex yang didasari oleh perubahan
1. Neurosynaptic
2. Neuro compensation
3. Balance hormonal exchanges

Taruna menegaskan, LGBT bukan genetic, because no genetic evidence. Sehingga orang yg mengalami sexual disorientation, bisa di therapy.
Ia pun mempersilahkan untuk membaca buku karyanya yang berjudul “Ilmu Neurosains Modern”
http://suaranasional.com/2016/02/24/...i-dukung-lgbt/

*) KOMPAS selama ini dikenal publik Indonesia sejak lama sebagai corong ummat Katholik di Indonesia

------------------------------

Lhaaa ... terus ummatnya ikut pandangan yang mana?


Diubah oleh pakdejoy 26-02-2016 08:14
0
3.8K
15
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.7KThread59.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.