- Beranda
- Berita dan Politik
Industri e-Commerce Dalam Kepungan Konglomerat
...
TS
zhouxian
Industri e-Commerce Dalam Kepungan Konglomerat
JAKARTA, JITUNEWS.COM - Taipan atau orang kaya Indonesia keturunan Tiongkok mulai hari ini tergila-gila pada industri ataupun bisnis berbasis online dalam bentuk e-commerce. Sedikitnya ada tujuh taipan besar yang telah bergerak merambah bisnis potensial tersebut.
Meski tak menjanjikan pundi-pundi keuntungan secara langsung, para taipan Indonesia itu nyata-nyata telah mengepung bisnis e-commerce. Adalah gain nilai perusahaan yang cepat melesat adalah hal yang membuat mereka tergiur.
Tak tanggung-tanggung, ketujuh taipan tersebut melalui grup konglomerasinya membenamkan uang yang tak sedikit hingga triliunan rupiah untuk bisnis jualan on line. Padahal, industri yang sedang mereka incar itu tidak memberikan nilai keuntungan secara langsung.
Sebut saja Grup Djarum yang memiliki blibli.com, selanjutnya Grup Salim yang memiliki Lazada dan Zalora, dan Grup Sinarmas yang menggenggam Excite Point.
Tak berhenti pada grup konglomerasi itu saja, Grup Lippo pun ikut-ikutan dengan membuat mataharimall.com, Grup Emtek dengan SENSOR, Grup Alfamart dengan alfaonline.com, dan terakhir Grup MNC sebelum pecah kongsi dengan Rakuten membentuk MNC Shop.
Sebagai informasi, Rakuten tak hanya angkat kaki dari Indonesia semata, tetapi juga dari Malaysia dan Singapura per 1 Maret 2016. Disinyalir penghentian tersebut sebagai bentuk transformasi Rakuten untuk bisa fokus di negerinya sendiri, Jepang. Tetapi Rakuten tetap beroperasi di wilayah Taiwan, Amerika Serikat, dan Asia Timur.
Daniel Tumiwa, yang tak lain sebagai Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) mengatakan bahwa bermainnya para konglomerat tanah air di arena e-commerce bukanlah sebuah hal yang kebetulan. Daniel meyakini bahwa para konglomerat itu telah mempelajari industri e-dagang (bahasa pemerintah menyebut e-commerce) sejak empat tahun terakhir.
"Berbicara bisnis di internet tidak bisa bicara secara hitungan matematika. Para konglomerat membidik nilai perusahaan yang pasti akan besar. Itu keuntungannya. Bagi taipan yang baru masuk, agak terlambat," ucap daniel seperti yang dikutip dari harian Bisnis Indonesia, Senin (15/2).
Daniel menyatakan, investasi besar yang dikucurkan para taipan tidak akan balik modal dalam waktu dekat atau selama 10 tahun. Lantas Daniel pun mencotohkan perusahaan media sosial Twitter dan Facebook. Kedua perusahan tersebut tidaklah memiliki pemasukan dan keuntungan, tetapi nilai dari kedua perusahaan tersebut justru spektakuler.
Pengalaman manis Twitter dan Facebook rupanya juga dirasakan oleh alibaba.com yang mencatatkan rekor nilai tertinggi penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), yakni sebesar $ 162,7 miliar, juga IPO amazone.com yang menacapai $ 152,4 miliar. Meski selama 12 tahun amazone.com selalu merugi.
"Nilai perusahaan itulah yang dikejar. Jadi, meski tidak mencatat keuntungan lebih dari satu dasawarsa, Amazone tetap menggelar IPO dan publik memborong sahamnya lantaran nilai dari perusahaan telah berlipat hingga 300 kali," lanjut Daniel.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengungkapkan, bisnis e-commerce telah berkembang pesat di tanah air lantaran terjadi perubahan gaya berbelanja masyarakat. Perekonomian Indonesia mulai bergeser dari transaksi fisik ke dunia maya.
Pergesaran budaya belanja masyarakat yang didukung dengan demografis Indonesia yang berpulau-pulau, berhasil ditangkap dengan baik peluang usahanya oleh para konglomerat tersebut dan grup usahanya. Meski tak bisa memberikan keuntungan secara langsung, namun bisnis e-commerce dimaknai sebagai sebuah bisnis untuk menyelamatkan perekonomian di masa yang akan datang.
Kemudian Direktur Utama PT XL Axiata Tbk Dian Siswarini ikut angkat bicara terkait potensi bisnis e-commerce. Ia mangatakan, karena potensi pasar e-commerce yang snagat besar, perseroan berencana menggarap bisnis tersebut semaksimal mungkin.
"Melihat dua tahun Elevenia berdiri, pertumbuhannya lebih tinggi dari perkiraan. Jadi, kami lihat e-commerce itu sebagai next game. kami pun telah menambah investasi $ 50 juta dari investasi awal $ 110 juta," ucapnya.
Tak hanya XL Axiata, Direktur Grup Lippo John Riady juga berancana menambahkan nilai investasinya untuk mataharimall.com, dimana memiliki kebutuhan investasi sebesar $ 500 juta.
Berikut adalah ketujuh konglomerat yang menghamburkan banyak uangnya untuk mengepung bisnis e-commerce:
Michael dan Budi Hartono
Grup Djarum memiliki PT Global Digital Prima Venture yang menaungi blibli.com, kaskus.co.id, Mindtalk, LintasME, Crazymarket, DailySocial.net.GDN dikendalikan oleh putra R. Budi Hartono, yakni Martin Hartono. Grup Djarum mengalokasikan dana $ 1 juta per tahun untuk mendanai blibli.com. Total grup ini telah menggelontorkan dana sebesar $ 15, 4 miliar.
Anthoni Salim
Total dana yang dikeluarkan untuk bisnis ini sebesar $ 5,4 miliar. Grup Salim memiliki saham Rocket Internet sebagai induk usaha e-commerce Lazada dan Zalora. Sayap bisnis grup ini berbasis di Hongkong menguasai saham Philipphine Long Distance Telephone Company (PLTD). Dari PLTD-lah Grup Salim memiliki saham Rocket Internet selaku pemilik lazada.com dan zalora.com dengan membeli 10 persen saham senilai 333 juta Euro pada Agustus 2014.
Eka Tjipta Widjaja
Pendiri Grup Sinarmas akhirnya juga tergiur bisnis yang satu ini. Melalui anak usaha PT Dian Swastika Sentosa Tbk. yang menaungi Excite Point sejak 2013 dengan nilai investasi sebesar $ 1,5 juta. Selain itu Grup Sinarmas juga menaungi MyRepublic Limited dengan investasi sebesar 19,63 juta dolar Singapura, dan Mora Quatro Multimedia. Total dana investasi yang sudah dilakukan mencapai $ 550 juta pada 2014.
Mochtar Riady
Pemilik Grup Lippo mulai melirik bisnis e-commerce dengan mendirikan mataharimall.com lewat PT Global Ecommerce Indonesia. Lippo bahkan mengguyurkan dana hingga $ 500 juta sebagai modal. Sekitar $ 2,2 miliar telah dihabiskan Grup Lippo untuk bermain di bisnis e-commerce.
Eddy Kusnasi Sariaatmadja
Grup Elang Mahkota melalui PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. memiliki beberapa e-commerce. Sekitar Rp 1 triliun telah diinvestasikan guna merebut porsi kue bisnis e-commerce. Salah satu e-commerce yang dimiliki grup ini ialah SENSOR dana bobobobo.com. Sekitar $1,6 miliar telah dikeluarkan oleh grup ini.
Djoko Susanto
Pemilik minimarket Alfamart melalui PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. pun tergiur akan pasar yang dimiliki e-commerce dengan membentuk alfaonline.com. Sebanyak $ 1,2 miliar telah dihabiskan grup ini untuk menguasai pasar e-commerce.
Hary Tanoesoedibjo
Pemilik Grup MNC ini berkali-kali memasuki bisnis e-commerce. Setelah sebelumnya pecah kongsi dengan Rakuten, Hary Tanoe kemudian mendirikan MNC Shop dengan investasi $ 7,5 juta. Grup MNC juga memiliki e-commerce khusus pakaian dengan nama brandoutlet.co.id.
Penulis : -
Editor : Syukron Fadillah
@jitunews http://www.jitunews.com/read/31171/i...#ixzz40OpXB1Vg
dikepung gan
Meski tak menjanjikan pundi-pundi keuntungan secara langsung, para taipan Indonesia itu nyata-nyata telah mengepung bisnis e-commerce. Adalah gain nilai perusahaan yang cepat melesat adalah hal yang membuat mereka tergiur.
Tak tanggung-tanggung, ketujuh taipan tersebut melalui grup konglomerasinya membenamkan uang yang tak sedikit hingga triliunan rupiah untuk bisnis jualan on line. Padahal, industri yang sedang mereka incar itu tidak memberikan nilai keuntungan secara langsung.
Sebut saja Grup Djarum yang memiliki blibli.com, selanjutnya Grup Salim yang memiliki Lazada dan Zalora, dan Grup Sinarmas yang menggenggam Excite Point.
Tak berhenti pada grup konglomerasi itu saja, Grup Lippo pun ikut-ikutan dengan membuat mataharimall.com, Grup Emtek dengan SENSOR, Grup Alfamart dengan alfaonline.com, dan terakhir Grup MNC sebelum pecah kongsi dengan Rakuten membentuk MNC Shop.
Sebagai informasi, Rakuten tak hanya angkat kaki dari Indonesia semata, tetapi juga dari Malaysia dan Singapura per 1 Maret 2016. Disinyalir penghentian tersebut sebagai bentuk transformasi Rakuten untuk bisa fokus di negerinya sendiri, Jepang. Tetapi Rakuten tetap beroperasi di wilayah Taiwan, Amerika Serikat, dan Asia Timur.
Daniel Tumiwa, yang tak lain sebagai Ketua Umum Asosiasi e-Commerce Indonesia (idEA) mengatakan bahwa bermainnya para konglomerat tanah air di arena e-commerce bukanlah sebuah hal yang kebetulan. Daniel meyakini bahwa para konglomerat itu telah mempelajari industri e-dagang (bahasa pemerintah menyebut e-commerce) sejak empat tahun terakhir.
"Berbicara bisnis di internet tidak bisa bicara secara hitungan matematika. Para konglomerat membidik nilai perusahaan yang pasti akan besar. Itu keuntungannya. Bagi taipan yang baru masuk, agak terlambat," ucap daniel seperti yang dikutip dari harian Bisnis Indonesia, Senin (15/2).
Daniel menyatakan, investasi besar yang dikucurkan para taipan tidak akan balik modal dalam waktu dekat atau selama 10 tahun. Lantas Daniel pun mencotohkan perusahaan media sosial Twitter dan Facebook. Kedua perusahan tersebut tidaklah memiliki pemasukan dan keuntungan, tetapi nilai dari kedua perusahaan tersebut justru spektakuler.
Pengalaman manis Twitter dan Facebook rupanya juga dirasakan oleh alibaba.com yang mencatatkan rekor nilai tertinggi penawaran perdana saham (initial public offering/IPO), yakni sebesar $ 162,7 miliar, juga IPO amazone.com yang menacapai $ 152,4 miliar. Meski selama 12 tahun amazone.com selalu merugi.
"Nilai perusahaan itulah yang dikejar. Jadi, meski tidak mencatat keuntungan lebih dari satu dasawarsa, Amazone tetap menggelar IPO dan publik memborong sahamnya lantaran nilai dari perusahaan telah berlipat hingga 300 kali," lanjut Daniel.
Kepala Riset PT Universal Broker Indonesia Satrio Utomo mengungkapkan, bisnis e-commerce telah berkembang pesat di tanah air lantaran terjadi perubahan gaya berbelanja masyarakat. Perekonomian Indonesia mulai bergeser dari transaksi fisik ke dunia maya.
Pergesaran budaya belanja masyarakat yang didukung dengan demografis Indonesia yang berpulau-pulau, berhasil ditangkap dengan baik peluang usahanya oleh para konglomerat tersebut dan grup usahanya. Meski tak bisa memberikan keuntungan secara langsung, namun bisnis e-commerce dimaknai sebagai sebuah bisnis untuk menyelamatkan perekonomian di masa yang akan datang.
Kemudian Direktur Utama PT XL Axiata Tbk Dian Siswarini ikut angkat bicara terkait potensi bisnis e-commerce. Ia mangatakan, karena potensi pasar e-commerce yang snagat besar, perseroan berencana menggarap bisnis tersebut semaksimal mungkin.
"Melihat dua tahun Elevenia berdiri, pertumbuhannya lebih tinggi dari perkiraan. Jadi, kami lihat e-commerce itu sebagai next game. kami pun telah menambah investasi $ 50 juta dari investasi awal $ 110 juta," ucapnya.
Tak hanya XL Axiata, Direktur Grup Lippo John Riady juga berancana menambahkan nilai investasinya untuk mataharimall.com, dimana memiliki kebutuhan investasi sebesar $ 500 juta.
Berikut adalah ketujuh konglomerat yang menghamburkan banyak uangnya untuk mengepung bisnis e-commerce:
Michael dan Budi Hartono
Grup Djarum memiliki PT Global Digital Prima Venture yang menaungi blibli.com, kaskus.co.id, Mindtalk, LintasME, Crazymarket, DailySocial.net.GDN dikendalikan oleh putra R. Budi Hartono, yakni Martin Hartono. Grup Djarum mengalokasikan dana $ 1 juta per tahun untuk mendanai blibli.com. Total grup ini telah menggelontorkan dana sebesar $ 15, 4 miliar.
Anthoni Salim
Total dana yang dikeluarkan untuk bisnis ini sebesar $ 5,4 miliar. Grup Salim memiliki saham Rocket Internet sebagai induk usaha e-commerce Lazada dan Zalora. Sayap bisnis grup ini berbasis di Hongkong menguasai saham Philipphine Long Distance Telephone Company (PLTD). Dari PLTD-lah Grup Salim memiliki saham Rocket Internet selaku pemilik lazada.com dan zalora.com dengan membeli 10 persen saham senilai 333 juta Euro pada Agustus 2014.
Eka Tjipta Widjaja
Pendiri Grup Sinarmas akhirnya juga tergiur bisnis yang satu ini. Melalui anak usaha PT Dian Swastika Sentosa Tbk. yang menaungi Excite Point sejak 2013 dengan nilai investasi sebesar $ 1,5 juta. Selain itu Grup Sinarmas juga menaungi MyRepublic Limited dengan investasi sebesar 19,63 juta dolar Singapura, dan Mora Quatro Multimedia. Total dana investasi yang sudah dilakukan mencapai $ 550 juta pada 2014.
Mochtar Riady
Pemilik Grup Lippo mulai melirik bisnis e-commerce dengan mendirikan mataharimall.com lewat PT Global Ecommerce Indonesia. Lippo bahkan mengguyurkan dana hingga $ 500 juta sebagai modal. Sekitar $ 2,2 miliar telah dihabiskan Grup Lippo untuk bermain di bisnis e-commerce.
Eddy Kusnasi Sariaatmadja
Grup Elang Mahkota melalui PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. memiliki beberapa e-commerce. Sekitar Rp 1 triliun telah diinvestasikan guna merebut porsi kue bisnis e-commerce. Salah satu e-commerce yang dimiliki grup ini ialah SENSOR dana bobobobo.com. Sekitar $1,6 miliar telah dikeluarkan oleh grup ini.
Djoko Susanto
Pemilik minimarket Alfamart melalui PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. pun tergiur akan pasar yang dimiliki e-commerce dengan membentuk alfaonline.com. Sebanyak $ 1,2 miliar telah dihabiskan grup ini untuk menguasai pasar e-commerce.
Hary Tanoesoedibjo
Pemilik Grup MNC ini berkali-kali memasuki bisnis e-commerce. Setelah sebelumnya pecah kongsi dengan Rakuten, Hary Tanoe kemudian mendirikan MNC Shop dengan investasi $ 7,5 juta. Grup MNC juga memiliki e-commerce khusus pakaian dengan nama brandoutlet.co.id.
Penulis : -
Editor : Syukron Fadillah
@jitunews http://www.jitunews.com/read/31171/i...#ixzz40OpXB1Vg
dikepung gan
0
1.5K
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.1KThread•58.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya