- Beranda
- Berita dan Politik
"Ternyata JK Otak Dibalik Penggulingan Gus DUR"
...
TS
48k.d
"Ternyata JK Otak Dibalik Penggulingan Gus DUR"
BULOGGATE, JK HARUS BERTANGGUNGJAWAB!
RMOL. Kalau benar otak pelengseran Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dari kursi kepresidenan pada 2001 adalah Jusuf Kalla, seperti diungkapkan wartawan senior jebolan Universitas Hasanuddin Tomi Lebang, maka Wapres JK secara moral dan politik harus mempertanggungjawabkannya kepada rakyat Indonesia, khususnya kaum Nahdliyin.
Hal ini dikatakan Adhie M Massardi, juru bicara Presiden Gus Dur ketika itu, kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu siang (6/1), saat dimintai tanggapannya atas pernyataan Tomi Lebang tentang kejatuhan Gus Dur yang ditulis dalam akun facebook-nya,.
Menurut bekas wartawan majalah Tempo yang mengaku pernah mewawancarai JK kala itu, Gus Dur jatuh karena "skandal korupsi" Rp 35 miliar di Bulog yang melibatkan Wakablog Sapuan dan orang yang mengaku tukang pijat Gus Dur (dalam terminologi politik nasional dikenal sebagai Buloggate).
"Semua diawali dengan blak-blakan Jusuf Kalla-Jusuf ketiga dalam blantika politik Indonesia asal Makassar," tulis Tomi Lebang dalam catatan yang diberi judul JUSUF yang diunggah di akunnya (https://m.facebook.com/TomiLebang/po...f¬if_t=like).
Adhie membantah Gus Dur jatuh karena kasus Bulog. Sebab fakta politiknya, SI MPR yang digelar untuk menjatuhkan Gus Dur alasannya karena pergantian Kapolri tanpa persetujuan DPR, kemudian diubah seketika menjadi "karena Gus Dur mengeluarkan dekrit". Semua itu sepenuhnya rekayasa politik yang kasar dan tidak bermartabat.
"Tapi memang harus diakui, kasus Buloggate merupakan rekayasa politik yang menjadi titik awal pendelegitimasian pemerintahan Gus Dur secara terstruktur, sistematis dan masif. Saya tidak tahu siapa perekayasa Buloggate. Setelah baca catatan Tomi Lebang ini saya baru tahu, otak di balik kasus ini ternyata Jusuf Kalla," tutur Adhie.
Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) ini mengakui kecanggihan JK dalam bermanuver politik. Karena meskipun dicopot Gus Dur sebagai Menteri Perindustrian karena terindikasi korupsi, JK tetap eksis di pangung politik nasional. Setelah jadi Menko di era Megawati, bisa jadi Wapres rezim SBY dan kini di era Jokowi.
"Secara pribadi, hubungan saya dengan JK lumayan baik. Bahkan secara terbuka saya mendukung gagasan JK saat mendorong Pindad untuk membuat panser (kendaraan lapis baja) bagi TNI. Jadi sangat jauh panggang dari api kalau saya (dan Mas Rizal Ramli) menyerang JK karena dendam masa lalu, seperti ditulis Tomi Lebang. Karena saya tidak tahu siapa sesungguhnya master mind perekayasa kasus Buloggate sebelum ini." katanya.
"Apalagi faktanya, saya (dan Mas Rizal) kan tidak pernah menyerang pribadi Pak JK. Kami hanya tetap konsisten melawan pejabat KKN, benalu bagi bangsa ini. Cuma entah kenapa, setiap kali meneriakkan soal KKN, reaksi keras selalu datang dari Pak JK," tambahnya.
Sekarang, setelah baca catatan Tomi Lebang soal kasus Bulog, Adhie merasa mendapat kehormatan dituduh sebagai pembela Gus Dur yang militan.
"Membela orang baik sekaliber Gus Dur pasti tidak ada salahnya," pungkas Adhie. [ald]
http://politik.rmol.co/read/2016/01/...rtanggungjawab
JUSUF

Tomi Lebang, eks wartawan majalah Tempo
Di palagan politik Indonesia yang berpusat di tanah Jawa, ada tiga Jusuf dari Makassar dengan posisi dan sepak terjang yang menentukan.
Jusuf pertama adalah Presiden ketiga RI, Baharuddin Jusuf Habibie. Jusuf kedua adalah bekas Panglima ABRI dan Menteri Perindustrian, Jenderal Muhammad Jusuf. Dan yang ketiga adalah Jusuf Kalla.
Dan saya hendak bercerita tentang dua Jusuf yang terakhir.
Jenderal M Jusuf, satu dari tiga pelaku sejarah Supersemar yang menjadi tonggak peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Lelaki ini, yang berbicara dengan dialek Bugis nan kental di mana pun berada, tetap setia dengan prinsip leluhurnya: "Sekali engkau mengecap rasa asin garam dari nampan orang lain, seumur hidup engkau menutupi aibnya".
Dengan itulah, ia mendekap erat selubung cerita naskah Supersemar yang asli, sampai kematian memanggilnya. M Jusuf adalah keping misteri yang hilang dari peristiwa itu karena kebungkamannya.
Ia juga seorang legenda di militer. Namanya sungguh populer di kalangan prajurit karena di masanya sebagai panglima, tentara dan polisi berpangkat rendah sampai tinggi, sejahtera di semua lini. Ia rajin mengunjungi prajurit, bertanya sampai ke urusan sekolah anak dan usia kandungan istri.
Secara besar-besaran ia menghabiskan belanja militer untuk rumah dan barak, negara membagi susu sampai pakaian dalam yang berlimpah-limpah, sampai-sampai ada yang menjualnya ke pasar umum secara diam-diam. Bahkan di masa itu, ada rokok bikinan Gudang Garam yang mereknya ABRI, khusus untuk tentara dan polisi. Soeharto nyaris kalah populer, dan kabar yang beredar, M Jusuf terjungkal karena telah menjadi matahari yang sama terangnya dengan sang presiden.
M Jusuf juga lama menjadi menteri urusan sipil: Menteri Perindustrian. Di sini juga ia moncer. Di masanya, hubungan Indonesia dan Jepang sungguh erat. Jusuf-lah yang memulai program mobil rakyat yang terjangkau, bekerja sama dengan Toyota dalam bentuk produksi mobil Toyota Kijang. Jika kini Kijang Innova terbaru tak lagi terjangkau, itu sepenuhnya salah pedagang mobil Jepang dan juga kian melesetnya arah zaman... hehe.
Dan Jusuf ketiga -- Wakil Presiden Jusuf Kalla -- orang Makassar dengan jabatan paling tinggi di tampuk kekuasaan negeri ini.
Perjalanan Jusuf Kalla dan Jenderal Jusuf sesungguhnya bertautan. Beriringan dan bersambung. Semasa menjadi Menteri Perindustrian, Jenderal Jusuf membantu JK melancarkan bisnis dengan Jepang. NV Hadji Kalla jadi penyalur besar mobil buatan Toyota Sulawesi Selatan dan kini meluas ke kawasan timur. Kalla satu-satunya pengusaha pribumi di antara dealer besar Toyota di bawah Astra International.
Percaya atau tidak, Jokowi dan JK pernah melangkah ke ibukota dengan diantar oleh mobil buatan sendiri. Jokowi populer ketika mengganti mobil dinasnya dengan Esemka, mobil rakitan anak-anak SMK di Solo. Sementara JK dikenal luas saat memproduksi mobil bermerek Mitax dan SRI. Sebanyak 10 unit mobil itu bahkan dibeli Ibu Tien, sebagian jadi kendaraan operasional Taman Mini Indonesia Indah, dua unit jadi mobil untuk belanja dapur di Cendana.
Tapi impian JK untuk merintis mobil nasional kandas setelah dua putra Soeharto tergiur pula dengan bisnis itu. Keduanya menggandeng produsen otomotif Korea Selatan, Tommy Soeharto dengan mobil Timor yang sesungguhnya buatan KIA, dan Bambang Tri dengan mobil merek Cakra dan Nenggala yang bikinan Hyundai. Untuk bisnis dua putra kesayangan ini, Soeharto mengeluarkan Keppres khusus, surat perlindungan untuk anak-anak tersayang. Tamat sudah riwayat Mitax dan SRI. Dan JK pun kembali jadi pedagang di kampung halaman.
Jenderal Jusuf pensiun dari gelanggang politik dan kekuasaan tapi tetap bergandengan dengan JK. Ia merintis pembangunan masjid besar dan megah di Makassar, Al Markaz Al Islami di atas lahan bekas kampus Universitas Hasanuddin di pinggir kanal yang indah. Lantai dan dindingnya dari granit dan pualam, atapnya dari sirap tembaga berwarna hijau torquise dari Italia, lampu gantung raksasa dari Cekoslowakia, semuanya mahal dan berkelas. Anda tahu siapa yang mengurusi pembangunan dan keberlangsungan masjid itu? Jusuf Kalla, sampai saat ini.
Di panggung politik, sang jenderal mengantar JK ke ibukota dengan merekomendasikan namanya kepada Presiden Abdurrahman Wahid. JK menempati posisi yang lama diduduki M Jusuf: Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Lalu kemudian ia merangkap pula menjadi Kepala Badan Urusan Logistik. Kepala Bulog.
Di jabatan Kabulog inilah JK nyaris terseret dalam kisruh besar skandal Bulog. Di belakangnya, Wakil Kabulog, Sapuan, bekerja sama dengan pengusaha dekat Gus Dur, Soewondo menggasak uang milik yayasan karyawan sebesar Rp 35 Miliar!
Tapi urusannya menjadi rumit ketika terungkap bahwa duit itu cair atas perintah Gus Dur. Jusuf Kalla mengungkapkan kebenarannya ke media. Ia berbicara terang benderang. Oh ya, dan saya sendiri turut mewawancarainya saat itu, di kediamannya di Jalan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat ...
Sapuan masuk penjara di tahun 2000. Soewondo yang belakangan diakui sebagai "tukang pijat" oleh Gus Dur juga ikut diterungku.
Dan Gus Dur, sang presiden, kemudian terjungkal. Ia jatuh dari tahta oleh skandal duit senilai tiga puluh lima miliar. Rizal Ramli, saat itu Menko Perekonomian dan Adhi Massardi yang juru bicara presiden, ikut terlempar keluar dari lingkaran kekuasaan.
Semua diawali dengan blak-blakan Jusuf Kalla -- Jusuf ketiga dalam blantika politik Indonesia asal Makassar.
Jika sekarang Rizal Ramli dan Adhi Massardi seperti tak henti-hentinya "menyerang" Jusuf Kalla, Anda sudah tahu asal muasalnya: sebuah cerita yang dipicu kejadian pahit di masa silam. Bukan urusan kecintaan kepada negara.
-- Hong Kong, 2 Januari 2016
Polling
0 suara
Setujukah jika kasus ini benar maka Gus Dur sudah layak jadi Pahlawan Nasional?
0
12.2K
35
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.4KThread•59.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya