JK Sindir Setya di Konferensi Korupsi: Dia Sudah Hilang
KAMIS, 03 DESEMBER 2015 | 11:01 WIB
![[Sungguh TER LA LU] JK Sindir Setya di Konferensi Korupsi: Dia Sudah Hilang](https://dl.kaskus.id/cdn.tmpo.co/data/2015/08/14/id_427586/427586_620.jpg)
Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 2015 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 14 Agustus 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto
TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyindir ketidakhadiran Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto dalam Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi hari ini. Setya diwakili oleh Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.
"Jadi ketua lembaga tinggi yang hadir tinggal dua, yaitu MPR dan DPD. Yang satu sudah hilang," kata Kalla saat membuka Konferensi Nasional Pemberantasan Korupsi di kompleks gedung Parlemen, Jakarta, Kamis, 3 Desember 2015.
Selain Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Ketua DPD Irman Gusman, acara itu juga dihadiri beberapa pejabat tinggi lain, seperti Ketua KPK sementara Taufiequrrachman Ruki, Kepala Kepolisian Jenderal Badrodin Haiti, Ketua KPU Husni Kamil Manik, serta beberapa menteri Kabinet Kerja.
Nama Ketua DPR Setya Novanto memang sedang menjadi perbincangan hangat publik. Politikus Golkar ini diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Pencatutan itu pun dilaporkan oleh Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Sudirman Said kepada Mahkamah Kehormatan Dewan.
MKD akhirnya menyidangkan dugaan pelanggaran etik itu. Dalam sidangnya semalam, MKD mengundang Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said sebagai pengadu.
Pada kesempatan itu, Mahkamah memperdengarkan rekaman suara pertemuan antara Novanto, Direktur Utama PT Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin, serta pengusaha Riza Chalid.
Kalla mengatakan bahwa rekaman itu membuktikan adanya sebuah kekuatan besar yang ingin merugikan negara. Bahkan, dia menilai kelompok tersebut congkak karena sesumbar untuk menguasai banyak hal di Indonesia.
"Kenapa seperti ada dua hal di Indonesia, kelompok pemberani dan penakut. Tragis semalam kita lihat keberanian luar biasa. Dengan congkak semua dapat dikuasai. Semalam kita sama-sama melihat adanya sebuah keserakahan. Bukan sekadar alasan cari makan, tapi memperkaya diri," kata Kalla.
FAIZ NASHRILLAH