Kaskus

News

rottencorpseAvatar border
TS
rottencorpse
Mitos Sesat Seputar Imigran dan Pengungsi
5 Mitos Besar tentang Pengungsi dan Krisis Migran di Eropa terbukti tidak benar.

Sudah waktunya untuk menghentikan kebohongan ini.

Nick Robins-EarlyWorld Reporter, The Huffington Post

Ratusan ribu orang berbondong-bondong menuju Eropa akibat tindakan represif dan konflik yang berlarut-larut di Negara asal mereka di tahun ini menjadikan sebuah krisis pengungsi terbesar sejak Perang Dunia II. Gelombang pengungsi ini telah memicu diskusi yang mendesak di antara bangsa-bangsa Uni Eropa megenai respon apa saja yang perlu diambil demi menanggulangi krisis. Tak bisa dipungkiri, kita menyaksikan aksi solidaritas dan bantuan luar biasa yang telah diupayakan namun diskusi tersebut juga membicarakan poin-poin dan narasi yang berakar pada mitos daripada fakta.
Banyak klaim palsu tentang pengungsi dan krisis migran ini yang berulang-kali diutarakan sehingga mencapai taraf yang cukup menjengkelkan baik di media dan komentar online juga oleh politisi terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. Penyebaran mitos ini tidak hanya mengkaburkan kenyataan krisis ini dan siapapun yang terlibat di dalamnya, namun juga dapat mempengaruhi bagaimana negara dan masyarakat bergerak untuk membantu mereka yang membutuhkan.
"Kebanyakan politik relatif merupakan retorika kosong di arena ini, dan kita perlu pemahaman yang jauh lebih baik tentang apa yang mendorong migrasi ini sebelum kita dapat menelurkan kebijakan yang tepat," kata pakar migrasi Hein de Haas kepada The WorldPost dalam sebuah wawancara subjek ini bulan lalu.
The WorldPost berusaha mengulas lima mitos besar yang beredar berkenaan dengqn pengungsi dan krisis migran.

Mitos # 1: Mayoritas Para Migran ini adalah Migran Ekonomi
Bagi para penentang imigrasi pendapat yang menyatakan bahwa mayoritas orang yang masuk ke Eropa melalui jalur-jalur tak resmi selama krisis ini tidak bisa disebut sebagai pengungsi melainkan para migran ekonomi yang berupaya mencari peluang ekonomi, ini adalah klaim utama mereka.
Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban mengklaim bahwa migran ekonomi merupakan "mayoritas besar" dari gelombang migrasi yang berjuang untuk masuk blok, dalam pada itu ia juga menyebut “krisis yang terjadi sekarang ini” sebagai "satu upaya pemberontakan oleh para migran ilegal." Sentimen Orban ini juga didengungkan oleh politisi konservatif garis keras lainnya, termasuk Nigel Farage di Inggris dan Robert Fico di Slovakia.
Faktanya pendapat yang menyatakan bahwa mayoritas dari mereka yang mencapai Uni Eropa - 95 persen menurut perhitungan Fico ini - merupakan migran ekonomi tidak berdasar kenyataan. Meskipun tidak ada bukti definitif dari latar belakang dan asal setiap migran dan pengungsi yang memasuki Eropa, UNHCR memperkirakan bahwa sebanyak 50 persen lebih dari orang-orang yang mencapai Eropa melalui laut sejauh ini di tahun 2015 berasal dari Suriah, negara yang dilanda perang saudara di mana pemboman dan aksi kekerasan adalah ancaman sehari-hari.
Sementara sejumlah lain dari gelombang para pencari suaka lain yang tiba di Eropa adalah juga sama-sama berasal dari dari negara-negara yang tercabik perang seperti Afghanistan dan Irak. Selain itu ada juga yang melarikan diri akibat tindak represi dan paksaan wajib militer di bawah rezim di Eritrea dan Gambia.
Dalam analisis kedatangan migran dan pengungsi, The Economist menghitung sebanyak 75 persen dari orang-orang yang mengambil rute laut yang tidak biasa untuk menuju Eropa ini berasal dari negara-negara yang warganya memang pada umumnya dikualifikasian masuk dalam perlindungan Uni Eropa dalam beberapa bentuk.

Mitos # 2: Migran Dan Pengungsi Cukup Menetap Di Turki Saja
Mitos lain yang terkait dengan klaim yang menyatakan bahwa kebanyakan dari mereka yang mencapai Eropa adalah migran ekonomi adalah anggapan bahwa para pengungsi, terutama dari Suriah, cukup diakomodir oleh negara-negara tetangga. Beberapa mengatakan bahwa ketika orang-orang ini memilih untuk menuju Eropa, mereka tidak melakukannya karena rasa takut – melainkan karena dorongan untuk hidup layak di Negara yang sejahtera.
"Turki negara aman. Tinggal saja di sana. Datang ke sini beresiko," demikian kata Orban awal bulan ini.
Tapi para penentang migrasi ini lupa bahwasanya para pengungsi yang tinggal di Turki dan Negara-negara tetangga lainnya tidak memiliki status hukum dan seiring waktu berjalan kondisi kemanusiaan para pengungsi ini semakin memburuk di sana.
Turki sendiri telah menampung sebanyak 1.9 juta pengungsi Suriah. Para Pengungsi ini tidak diberikan status sebagai pengungsi sebagaimana tercantum dalam Konvensi dan Protokol Jenewa terkait Status Pengungsi. . Turki tidak menandatangani perjanjian kesepakatan ini dengan demikian Turki tidak sepenuhnya terikat oleh perjanjian tersebut.
Sebaliknya, Ankara menawarkan perlindungan sementara kepada para pengungsi Suriah ini dengan harapan bahwa mereka suatu hari nanti akan pergi. Selain itu, kondisi para pengungsi di Turki menunjukkan grafis menurun akibat bantuan kemanusiaan yang semakin menyusut, ketegangan dengan penduduk lokal meningkat dan populasi kamp pengungsian yang jauh melebihi kapasitas.
Di Lebanon, Para pengungsi Suriah kini mencapai seperlima dari populasi. Lebih dari setengah dari jumlah 1.1 juta lebih pengungsi ini tinggal di tempat yang tidak aman, menurut Badan Pengungsi PBB.
Kondisi di Yordania, yang memiliki lebih dari 600.000 pengungsi Suriah, sama buruknya. Dua pertiga dari populasi pengungsi Suriah hidup dalam kemiskinan, menurut PBB, sementara 1-dari-6 hidup dalam kemiskinan yang ekstrim.
Adanya Pembatasan yang berdampak para pengungsi ini tidak bisa dipekerjakan akibat ketiadaan status hukum membuat mereka terpaksa bekerja di sektor ekonomi informal dimana terdapat kurangnya jaminan hak pekerja ataupun jaminina upah minimum.
Program Pangan Dunia telah menyediakan bantuan pangan untuk pengungsi Suriah, tapi kurangnya dana telah memaksa pemotongan yang cukup besar. Sekarang, mereka yang menerima bantuan dari program ini hanya mendapatkan sekitar 50 sen sehari untuk mencukupi kebutuhan makan mereka., Abeer Etefa dari Program Pangan Dunia PBB untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan kepada NPR.
"Setelah bertahun-tahun di pengasingan, tabungan para pengungsi ini sudah lama habis dan semakin banyak tidak memiliki pilihan dan terpaksa mengemis, menajajkan seks dan mempekerjakan anak-anak demi bertahan hidup. Keluarga kelas menegah yang memiliki anak-anak hampir tidak akan bertahan hidup di jalanan," Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi António Guterres menyatakan di bulan Maret tentang kondisi pengungsi di negara tetangga Suriah.

Mitos # 3: Mereka Tidak Terlihat Butuh Bantuan
Kritik lain yang diutarakan oleh kelompok anti-imigran adalah bahwa banyak orang yang masuk Eropa memiliki ponsel pintar, mengenakan pakaian mahal atau umumnya terlihat sehat dan bugar.
Persepsi salah kaprah bahwasanya mereka yang tidak terlihat sakit atau kumal tidak berhak diberikan suaka menunjukkan kurangnya pemahaman mendasar tentang apa definisi pengungsi itu sendiri. Orang-orang yang menuju ke Eropa ini datang dari berbagai latar belakang, termasuk diantaranya kelas menengah atau keluarga kaya dan berpendidikan, tetapi mereka terpaksa melarikan diri akibat konflik yang mengerikan.
Dari catatan The Washington Post, sebuah studi di tahun 2013 para pengungsi Suriah di Lebanon ini setengahnya adalah para pekerja terampil dan semi-terampil.
Suriah juga merupakan negara di mana terdapat angka di antara 75 dan 87 dari 100 orang, merupakan pelanggan telepon seluler, CBC Kanada melaporkan.
Ponsel pintar juga menyediakan sarana vital komunikasi dan navigasi di sepanjang rute menuju Eropa. Pengungsi dan migran menggunakan perangkat ini sebagai GPS, juga untuk menghubungi anggota keluarga dan migran lain. Mereka juga dapat menelpon atau mengirim pesan permintaan bantuan kepada pihak berwenang saat menghadapi kesulitan dalam perjalanan yang membahayakan ini.

Mitos # 4: Militan Daulah Islamiyah (IS) menyusup sebagai Pengungsi
Di salah satu foto yang diklaim memperlihatkan seorang pejuang IS memegang senapan di Suriah awal tahun ini, kemudian tersenyum dalam foto kedua saat ia memasuki Eropa mengenakan T-shirt yang bertuliskan "terima kasih." Foto lain mengklaim menunjukkan pengungsi memegang bendera Negara Islam dan menyerang polisi Jerman.
Pada kenyataannya, kedua foto tersebut tidak benar-benar menunjukkan sesuatu yang mendekati klaim dari orang-orang yang menyebarkannya di dunia maya.

Mitos Sesat Seputar Imigran dan Pengungsi
Foto sebelum dan sesudah dari profil seorang pria oleh Associated Press ini adalah seorang komandan FSA sebelum ia melarikan diri dari konflik. Sekarang, ia berharap untuk membawa keluarganya ke Belanda. Foto bendera tersebut diambil bertahun-tahun yang lalu dan tidak terkait dengan pengungsi, atau bahkan Negara Islam.

Sirkulasi Foto foto ini merupakan cerminan dari rasa takut yang dilampiaskan oleh para pejabat Eropa dan outlet media bahwasanya para militant IS bisa saja bersembunyi di antara kelompok-kelompok migran ini untuk menyelinap ke Eropa dan melakukan serangan teror. Seorang agen intelijen IS yang tak disebutkan namanya mengatakan kepada BuzzFeed di bulan Januari bahwa ia membantu penyelundupan militan ke Eropa.
Namun demikian, dengan apa yang terjadi sampai sekarang, pengkonfirmasian klaim ini amatlah susah. Lembaga kontrol perbatasan Eropa menyatakan bahwa tidak ada bukti konkret untuk mendukung gagasan bahwa militan Negara Islam ada diantaram para migran, dan para ahli mengatakan rencana tersebut terdengar menarik namun tidak benar.
"Saya tidak melihat pentingnya ISIS untuk menjalankan skema berbelit-belit untuk melakukan serangan atau menjadi ancaman di Barat," Reinoud Leenders, profesor hubungan internasional dan studi Timur Tengah di King College London, mengatakan kepada The Los Angeles Times. Di lain pihak, ada banyak anggota Negara Islam adalah para pejuang asing yang memang sudah memiliki kewarganegaraan Eropa, Leenders menunjukkan.
Respon terhadap keprihatinan ini, pelbagai kelompok bantuan mengatakan kepada LA Times, bukan dengan jalan menutup migran dan malah menciptakan peningkatan jalur migrasi tak terdeteksiyang sulit untuk didokumentasikan. Sebaliknya, mereka mengatakan, negara-negara harus membuat jalur aman, legal dan terdokumentasi untuk mendata para pendatang dengan baik.

Mitos # 5: Pengungsi Dan Migran Akan Merusak Ekonomi
Di balik alasan kritik keamanan dan kemanusiaan, keluhan yang menonjol dari kamp anti-imigrasi ini adalah bahwasanya upaya menampung pengungsi akan ditebus dengan biaya ekonomi yang luar biasa. Mereka mengatakan para pendatang baru ini akan mengambil pekerjaan dari penduduk asli dan menciptakan kemiskinan.
Argumen pribumi ini bahkan tidak layak untuk diteliti, para ahli mengatakan, dan beberapa ekonom berpendapat bahwa jika ditangani dengan benar, masuknya pengungsi bahkan benar-benar bisa ber efek positif pada perekonomian.
Studi di sejumlah negara menunjukkan bahwa ketika Gelombanga pengungsi masuk ke sebuah populasi, ia akan menghasilkan efek jangka panjang yang positif atau netral pada perekonomian negara, The Washington Post melaporkan. Ahli migrasi Hein de Haas juga mengatakan kepada The WorldPost bahwa secara umum, migrasi memiliki efek relatif kecil - - bukan radikal atau negatif - pada perekonomian

" sungguh keterlaluan yang menyatakan bahwa migrasi adalah faktor penyebab pengangguran struktural, satu contoh saja, atau kelangkaan pekerjaan," kata de Haas.

Sebagaimana The Washington Post menjelaskan, negara-negara akan menghabiskan banyak pada awalnya untuk menerima jumlah pengungsi yang tiba saat ini. Tapi dalam jangka panjang, ini harus dilihat sebagai investasi dengan potensi amat menguntungkan.


Wah Ternyata...

Ah mana bisa begitu ..refugees, asylum seekers, pengungsi, pencari suaka = calon teroris, parasit, itu sudah,ga ada untungnya ditolong..mereka lebih hina daripada binatang langka sekalipunemoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S) emoticon-Mad (S)

BID FAREWELL TO FAITH IN HUMANITYemoticon-Berduka (S)
0
7K
54
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar Negeri
KASKUS Official
82.1KThread21.1KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.