- Beranda
- Berita dan Politik
CHAVEZ DICINTAI RAKYAT KARENA PROGRAMNYA YANG PRO RAKYAT
...
TS
tommyhanura10
CHAVEZ DICINTAI RAKYAT KARENA PROGRAMNYA YANG PRO RAKYAT
Revolusi Venezuela:
8 Agustus,2007 oleh renda-renda revolusi

Rakyat Venezuela, bersama seorang mantan Letnan Kolonel (dari satuan pasukan khusus) populis-kiri, Hugo Chavez Frias, telah membuat sejarah besar, memenangkan demokrasi melawan militerisme, walau dicoba dikandaskan si kalap Amerika Serikat (AS)—dari cara klasik, merencanakan/mendukung kudeta militer; sampai cara terbaru, bersembunyi di balik alasan “perang melawan terorisme”.
Rakyat Venezuela memberontak, memutus jerat-jerat neoliberal di lehernya. Salah satu negeri penghasil minyak terbesar di Amerika Latin ini selalu saja terpuruk akibat rejim-rejim sebelumnya yang menghamba pada dogma lembaga-lembaga keuangan internasional—yang hanya mewariskan kemiskinan dan pengangguran besar-besaran, tak jauh berbeda dengan Indonesia.
Jumlah orang yang berpendapatan di bawah 2 dolar AS per hari meningkat dari 33%, di tahun 1975, menjadi 67% di tahun 1997; yang hidup dengan penghasilan dibawah 1 dolar AS per hari juga meningkat dari 13% menjadi 36% dalam periode yang sama. Sementara itu, kelas menengah harus menghadapi tekanan inflasi sampai 100%, di tahun 1996. Kemenangan el Polo Patriotico (Koalisi Patriotik) pada tahun 1998, yang menghantar Chavez menjadi presiden, mulai mencoba merubah kondisi tersebut dengan serentetan program demokratik kerakyatannya.
Peristiwa dramatik pada hari-hari 10-14 April 2002 merupakan titik didih pertentangan yang memanas di Venezuela, sejak Chavez melancarkan sejumlah reformasi radikal. Kelompok-kelompok kaya yang pernah berkuasa merasa (mulai) disingkirkan, sehingga melakukan reaksi balik. Amerika Serikat, seperti biasanya, punya kepentingan di dalamnya, sehingga masuk dalam persekongkolan jahat sisa-sisa penguasa lama yang korup. AS sangat berkepentingan menguasai Venezuela karena negeri tersebut merupakan negeri penghasil minyak bumi terbesar, penghasil batu bara terbesar, dan pemilik cadangan gas alam terbesar, di Amerika Latin.
Kudeta dan Kontra Kudeta
Permulaannya adalah sebuah pemogokan besar tanggal 10 April, yang diorganisir oleh para birokrat sebuah Serikat Buruh konservatif Venezuelan Labour Confederation (CTV), hasil persekongkolan dengan jendral-jendral militer antek Amerika, Partai Sosial Kristen (COPEI) dan Partai Aksi Demokratik (AD) yang berafiliasi ke Sosial Demokrasi Internasional). Kedua partai tersebut berkuasa di Venezuela sejak tahun 1958, dan baru dikalahkan pada pemilu 1998 oleh aliansi kelompok kiri yang dipimpin Chavez. Pemogokan tersebut memprotes kebijakan Chavez yang mengambilalih perusahaan minyak di bawah kontrol negara. Sebagian besar yang terlibat adalah buruh kelas menengah, dan buruh pertambangan minyak. Mereka juga menuntut Chavez mundur dari jabatan presiden. Dan pemogokannya tak sejati: sejumlah buruh tetap dibayar upahnya oleh seorang konglomerat yang mendukung aksi tersebut.
Setelah dua hari pemogokan, 12 April, kekuasaan berhasil diambil-alih. Tapi kekuasaan tersebut bukan dipegang oleh massa yang melakukan pemogokan, melainkan oleh militer sayap kanan. Dengan kata lain: Kudeta. Chavez ditangkap, dan dibawa ke sebuah Kamp militer. Alasannya, Chavez bertanggungjawab terhadap tewasnya sejumlah orang dalam demonstrasi anti-Chavez—padahal, kemudian diketahui, bahwa polisi dan kelompok anti-Chavez lah yang terlibat dalam penembakan tersebut. Pemerintahan kemudian diserahkan kepada seorang konglomerat, Pedro Carmona Estanga, yang juga adalah ketua Fedecaramas (semacam asosiasi atau organisasi pengusaha). Lewat berbagai media yang telah dikuasai, disiarkan bahwa Chavez telah mengundurkan diri. Media massa yang pro-Chavez dimatikan.
Segera, sesudah itu kemarahan rakyat meledak. Massa pendukung Chavez tak mempercayai kampanye media yang menyatakan Chavez telah mengundurkan diri. Atas desakan militer, Caromona membubarkan Majelis Nasional (semacam DPR), membatalkan sejumlah UU, dan membubarkan Mahkamah Agung. Sesuatu yang tak pernah terjadi dalam tradisi demokrasi politik yang mengakar kuat di Venezuela selama lebih dari 40 tahun.
Ratusan ribu massa membanjiri kota-kota di Venezuela. Kaum tani dari desa-desa memobilisasi diri ke Ibukota, Caracas. Stasiun televisi dan radio, yang selama ini dijadikan corong penguasa lama dalam menentang reformasi pemerintahan Chavez diambil alih massa, menyiarkan dukungan terhadap Chavez, membantah pengunduran diri Chavez, dan menuntut agar Chavez dikembalikan. Pada hari pertama kudeta, secara spontan, ratusan massa heroik mendatangi markas militer Venezuela berhadapan dengan sejumlah tank yang memagari markas tersebut. Massa juga memblokir jalan menuju bandara, untuk mencegah upaya pengasingan Chavez keluar dari Venezuela. Sejumlah sayap militer ‘membangkang’ terhadap komando pimpinan kudeta Jendral Efrain Vasquez Velasco.
Ledakan massa yang begitu besar, dan kekalutan politik di negeri tersebut, membuat pemimpin-pemimpin negara Amerika Latin menolak mengakui pemerintahan Carmona. Ia mengalami delegitimasi habis-habisan, dan mengundurkan diri pada tanggal 13 April malam hari. Tanggal 14 April pagi, Chavez dibebaskan dari tempat penahanan. Sekitar 150 ribu massa rakyat telah menantinya di Istana Miraflores.
Lagi-lagi Amerika Serikat
Chavez adalah ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat. Dianggap musuh seperti Fidel Castro di Kuba, Sadam Hussein di Irak, Qadhafi di Libya, ataupun Salvatore Allende di Chili—yang telah dikudeta Jendral Agusto Pinochet (dibantu operasi intelejen CIA) pada tahun 1973.
Dampak domestik maupun internasional kemenangan Chavez sangat
menggelisahkan Amerika Serikat. Nasionalisasi terhadap beberapa aset swasta, dan penolakan terhadap pasar bebas, membahayakan kebijakan luar negeri AS. Karena pemerintahan baru, dengan Revolusi Bolivar-nya, juga meningkatkan pajak bagi investasi asing di sektor minyak dan gas dari 16,6% menjadi 30%. Dan pemerintah tetap berhak atas 51% saham setiap perusahaan minyak dan gas.
Dalam kebijakan luar negeri, pemerintah Venezuela telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Kuba untuk mengekspor minyak bumi dengan harga murah kepada negeri tersebut. Hubungan akrab juga dijalin dengan pemerintah negeri-negeri yang distempel Amerika Serikat sebagai “Poros Kejahatan”, seperti Irak, Iran, Libya, dan Korea Utara. Negara-negara tersebut lah yang selama ini keras, tegas, menolak dominasi AS. Dalam forum sidang OPEC yang berlangsung di Venezuela, beberapa waktu yang lalu, Venezuela sukses memelopori pengontrolan produksi sehingga bisa meningkatkan harga minyak dunia dari 8, 43 dolar AS per barel, pada bulan Februari, 1999, menjadi 23, 34 dolar AS, pada bulan Januari, 2000. Ancaman paling mengerikan bagi kelas penguasa di AS adalah saat pemerintahan demokratik di negeri terbelakang bersatu dan menentang dominasinya. Yang juga tak kalah menakutkan adalah kecurigaan Amerika Serikat bahwa terjadi hubungan antara Chavez dengan gerilyawan kiri di Kolombia (FARC).
Jadi, Chavez harus dihentikan. Kurang dari dua bulan sebelum kudeta, sebuah pertemuan diadakan di Kedutaan Besar AS di Caracas. Persekongkolan tersebut melibatkan militer sayap kanan Venezuela, pejabat sipil dan militer AS, pejabat serikat buruh CTV, organisasi pengusaha (Fedecaramas) dan lawan-lawan politik Chavez dari Partai Aksi Demokratik dan Partai Sosial Kristen.
Efrain Vasquez dan General Ramirez Poveda, dua jendral yang memimpin kudeta, pernah dilatih oleh AS di Sekolah Angkatan Darat Amerika Serikat (Army’s School of the America). Alumni sekolah tersebut terkenal kekejamannya dalam hal pelanggaran Hak Asasi Manusia di negeri-negeri Amerika Latin. Pengakuan yang lebih ‘mengejutkan’ (sebenarnya tak lagi mengejutkan karena sudah sering dilakukan) keluar dari mulut seorang mantan pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Wayne Madsen, yang mengatakan bahwa AS tidak saja memberikan bantuan keuangan tetapi juga bantuan militer dalam upaya kudeta tersebut. Suplai bantuan berupa, pertama, penyediaan intelejen canggih dan gangguan komunikasi untuk mendukung miltier Venezuela. Bantuan tersebut diberikan dengan selubung latihan militer di wilayah Karibia. Bantuan logistik lain disuplai dari perbatasan timur Kolombia dan, sekali lagi, dengan selubung operasi menumpas perdagangan narkotik. Kedua, karena dianggap belum cukup, AS juga melancarkan operasi intelejen CIA, yang dipimpin oleh seorang Letnan Kolonel, untuk membantu pengorganisasian kudeta. Mereka sudah berada di negeri tersebut sejak musim panas tahun 2001. Ketika Chavez berhasil mereka tahan, dan kekuasaan dipegang oleh militer, Gedung Putih segera dan secara resmi menyatakan dengan senang hati ingin bekerjasama dengan pemerintah baru tersebut.
Tapi upaya kotor yang menelan biaya miliaran dolar tersebut telah digagalkan oleh perlawanan massa rakyat. Keterlibatan AS tersebut kemudian terbongkar di media massa, baik di Venezuela ataupun di AS sendiri. Sungguh, sebuah tindakan yang sangat memalukan bagi AS. Rakyatnya sendiri bisa melihat kemunafikan pemerintah mereka—sebuah negeri yang, dimana-mana, selalu berkotbah tentang demokrasi, ternyata terlibat kudeta terhadap pemerintahan yang dipilih secara demokratis.
http://lmnd.wordpress.com/2007/08/12...usi-venezuela/
KESIMPULAN :
"CHAVEZ HAMPIR PERNAH DIKUDETA OLEH ANTI-CHAVEZ YANG DIBELAKANGNYA TERNYATA ADA AMERIKA SERIKAT..
KARENA CHAVEZ MEMBUAT BERBAGAI PROGRAM RAKYAT YANG MANA PROGRAM2NYA MERUGIKAN AMERIKA SERIKAT DAN ORANG2 YANG ANTI CHAVEZ..
TETAPI RAKYAT MENCINTAI CHAVEZ..
SEHINGGA RAKYATLAHYANG MENGEMBALIKAN CHAVEZ KE KURSI PRESIDEN..
KEKUATAN RAKYAT MENGGAGALKAN KUDETA AMERIKA SERIKAT DAN ANTI-CHAVEZ.."
"RAKYAT VENEZUELA SUDAH BOSAN TERHADAP PEMIMPIN YANG TIDAK PRO-RAKYAT, DAN HANYA MEMENTINGKAN KEPENTINGAN ORANG-ORANG KAYA DAN AS"
"RAKYAT BEGITU MARAH KETIKA ADA PRESIDEN YANG BENAR MEMPERHATIKAN RAKYAT TERNYATA DI JEGAL DAN AKAN DIKUDETA"
8 Agustus,2007 oleh renda-renda revolusi

Rakyat Venezuela, bersama seorang mantan Letnan Kolonel (dari satuan pasukan khusus) populis-kiri, Hugo Chavez Frias, telah membuat sejarah besar, memenangkan demokrasi melawan militerisme, walau dicoba dikandaskan si kalap Amerika Serikat (AS)—dari cara klasik, merencanakan/mendukung kudeta militer; sampai cara terbaru, bersembunyi di balik alasan “perang melawan terorisme”.
Rakyat Venezuela memberontak, memutus jerat-jerat neoliberal di lehernya. Salah satu negeri penghasil minyak terbesar di Amerika Latin ini selalu saja terpuruk akibat rejim-rejim sebelumnya yang menghamba pada dogma lembaga-lembaga keuangan internasional—yang hanya mewariskan kemiskinan dan pengangguran besar-besaran, tak jauh berbeda dengan Indonesia.
Jumlah orang yang berpendapatan di bawah 2 dolar AS per hari meningkat dari 33%, di tahun 1975, menjadi 67% di tahun 1997; yang hidup dengan penghasilan dibawah 1 dolar AS per hari juga meningkat dari 13% menjadi 36% dalam periode yang sama. Sementara itu, kelas menengah harus menghadapi tekanan inflasi sampai 100%, di tahun 1996. Kemenangan el Polo Patriotico (Koalisi Patriotik) pada tahun 1998, yang menghantar Chavez menjadi presiden, mulai mencoba merubah kondisi tersebut dengan serentetan program demokratik kerakyatannya.
Peristiwa dramatik pada hari-hari 10-14 April 2002 merupakan titik didih pertentangan yang memanas di Venezuela, sejak Chavez melancarkan sejumlah reformasi radikal. Kelompok-kelompok kaya yang pernah berkuasa merasa (mulai) disingkirkan, sehingga melakukan reaksi balik. Amerika Serikat, seperti biasanya, punya kepentingan di dalamnya, sehingga masuk dalam persekongkolan jahat sisa-sisa penguasa lama yang korup. AS sangat berkepentingan menguasai Venezuela karena negeri tersebut merupakan negeri penghasil minyak bumi terbesar, penghasil batu bara terbesar, dan pemilik cadangan gas alam terbesar, di Amerika Latin.
Kudeta dan Kontra Kudeta
Permulaannya adalah sebuah pemogokan besar tanggal 10 April, yang diorganisir oleh para birokrat sebuah Serikat Buruh konservatif Venezuelan Labour Confederation (CTV), hasil persekongkolan dengan jendral-jendral militer antek Amerika, Partai Sosial Kristen (COPEI) dan Partai Aksi Demokratik (AD) yang berafiliasi ke Sosial Demokrasi Internasional). Kedua partai tersebut berkuasa di Venezuela sejak tahun 1958, dan baru dikalahkan pada pemilu 1998 oleh aliansi kelompok kiri yang dipimpin Chavez. Pemogokan tersebut memprotes kebijakan Chavez yang mengambilalih perusahaan minyak di bawah kontrol negara. Sebagian besar yang terlibat adalah buruh kelas menengah, dan buruh pertambangan minyak. Mereka juga menuntut Chavez mundur dari jabatan presiden. Dan pemogokannya tak sejati: sejumlah buruh tetap dibayar upahnya oleh seorang konglomerat yang mendukung aksi tersebut.
Setelah dua hari pemogokan, 12 April, kekuasaan berhasil diambil-alih. Tapi kekuasaan tersebut bukan dipegang oleh massa yang melakukan pemogokan, melainkan oleh militer sayap kanan. Dengan kata lain: Kudeta. Chavez ditangkap, dan dibawa ke sebuah Kamp militer. Alasannya, Chavez bertanggungjawab terhadap tewasnya sejumlah orang dalam demonstrasi anti-Chavez—padahal, kemudian diketahui, bahwa polisi dan kelompok anti-Chavez lah yang terlibat dalam penembakan tersebut. Pemerintahan kemudian diserahkan kepada seorang konglomerat, Pedro Carmona Estanga, yang juga adalah ketua Fedecaramas (semacam asosiasi atau organisasi pengusaha). Lewat berbagai media yang telah dikuasai, disiarkan bahwa Chavez telah mengundurkan diri. Media massa yang pro-Chavez dimatikan.
Segera, sesudah itu kemarahan rakyat meledak. Massa pendukung Chavez tak mempercayai kampanye media yang menyatakan Chavez telah mengundurkan diri. Atas desakan militer, Caromona membubarkan Majelis Nasional (semacam DPR), membatalkan sejumlah UU, dan membubarkan Mahkamah Agung. Sesuatu yang tak pernah terjadi dalam tradisi demokrasi politik yang mengakar kuat di Venezuela selama lebih dari 40 tahun.
Ratusan ribu massa membanjiri kota-kota di Venezuela. Kaum tani dari desa-desa memobilisasi diri ke Ibukota, Caracas. Stasiun televisi dan radio, yang selama ini dijadikan corong penguasa lama dalam menentang reformasi pemerintahan Chavez diambil alih massa, menyiarkan dukungan terhadap Chavez, membantah pengunduran diri Chavez, dan menuntut agar Chavez dikembalikan. Pada hari pertama kudeta, secara spontan, ratusan massa heroik mendatangi markas militer Venezuela berhadapan dengan sejumlah tank yang memagari markas tersebut. Massa juga memblokir jalan menuju bandara, untuk mencegah upaya pengasingan Chavez keluar dari Venezuela. Sejumlah sayap militer ‘membangkang’ terhadap komando pimpinan kudeta Jendral Efrain Vasquez Velasco.
Ledakan massa yang begitu besar, dan kekalutan politik di negeri tersebut, membuat pemimpin-pemimpin negara Amerika Latin menolak mengakui pemerintahan Carmona. Ia mengalami delegitimasi habis-habisan, dan mengundurkan diri pada tanggal 13 April malam hari. Tanggal 14 April pagi, Chavez dibebaskan dari tempat penahanan. Sekitar 150 ribu massa rakyat telah menantinya di Istana Miraflores.
Lagi-lagi Amerika Serikat
Chavez adalah ancaman bagi kepentingan Amerika Serikat. Dianggap musuh seperti Fidel Castro di Kuba, Sadam Hussein di Irak, Qadhafi di Libya, ataupun Salvatore Allende di Chili—yang telah dikudeta Jendral Agusto Pinochet (dibantu operasi intelejen CIA) pada tahun 1973.
Dampak domestik maupun internasional kemenangan Chavez sangat
menggelisahkan Amerika Serikat. Nasionalisasi terhadap beberapa aset swasta, dan penolakan terhadap pasar bebas, membahayakan kebijakan luar negeri AS. Karena pemerintahan baru, dengan Revolusi Bolivar-nya, juga meningkatkan pajak bagi investasi asing di sektor minyak dan gas dari 16,6% menjadi 30%. Dan pemerintah tetap berhak atas 51% saham setiap perusahaan minyak dan gas.
Dalam kebijakan luar negeri, pemerintah Venezuela telah menandatangani perjanjian dengan pemerintah Kuba untuk mengekspor minyak bumi dengan harga murah kepada negeri tersebut. Hubungan akrab juga dijalin dengan pemerintah negeri-negeri yang distempel Amerika Serikat sebagai “Poros Kejahatan”, seperti Irak, Iran, Libya, dan Korea Utara. Negara-negara tersebut lah yang selama ini keras, tegas, menolak dominasi AS. Dalam forum sidang OPEC yang berlangsung di Venezuela, beberapa waktu yang lalu, Venezuela sukses memelopori pengontrolan produksi sehingga bisa meningkatkan harga minyak dunia dari 8, 43 dolar AS per barel, pada bulan Februari, 1999, menjadi 23, 34 dolar AS, pada bulan Januari, 2000. Ancaman paling mengerikan bagi kelas penguasa di AS adalah saat pemerintahan demokratik di negeri terbelakang bersatu dan menentang dominasinya. Yang juga tak kalah menakutkan adalah kecurigaan Amerika Serikat bahwa terjadi hubungan antara Chavez dengan gerilyawan kiri di Kolombia (FARC).
Jadi, Chavez harus dihentikan. Kurang dari dua bulan sebelum kudeta, sebuah pertemuan diadakan di Kedutaan Besar AS di Caracas. Persekongkolan tersebut melibatkan militer sayap kanan Venezuela, pejabat sipil dan militer AS, pejabat serikat buruh CTV, organisasi pengusaha (Fedecaramas) dan lawan-lawan politik Chavez dari Partai Aksi Demokratik dan Partai Sosial Kristen.
Efrain Vasquez dan General Ramirez Poveda, dua jendral yang memimpin kudeta, pernah dilatih oleh AS di Sekolah Angkatan Darat Amerika Serikat (Army’s School of the America). Alumni sekolah tersebut terkenal kekejamannya dalam hal pelanggaran Hak Asasi Manusia di negeri-negeri Amerika Latin. Pengakuan yang lebih ‘mengejutkan’ (sebenarnya tak lagi mengejutkan karena sudah sering dilakukan) keluar dari mulut seorang mantan pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Wayne Madsen, yang mengatakan bahwa AS tidak saja memberikan bantuan keuangan tetapi juga bantuan militer dalam upaya kudeta tersebut. Suplai bantuan berupa, pertama, penyediaan intelejen canggih dan gangguan komunikasi untuk mendukung miltier Venezuela. Bantuan tersebut diberikan dengan selubung latihan militer di wilayah Karibia. Bantuan logistik lain disuplai dari perbatasan timur Kolombia dan, sekali lagi, dengan selubung operasi menumpas perdagangan narkotik. Kedua, karena dianggap belum cukup, AS juga melancarkan operasi intelejen CIA, yang dipimpin oleh seorang Letnan Kolonel, untuk membantu pengorganisasian kudeta. Mereka sudah berada di negeri tersebut sejak musim panas tahun 2001. Ketika Chavez berhasil mereka tahan, dan kekuasaan dipegang oleh militer, Gedung Putih segera dan secara resmi menyatakan dengan senang hati ingin bekerjasama dengan pemerintah baru tersebut.
Tapi upaya kotor yang menelan biaya miliaran dolar tersebut telah digagalkan oleh perlawanan massa rakyat. Keterlibatan AS tersebut kemudian terbongkar di media massa, baik di Venezuela ataupun di AS sendiri. Sungguh, sebuah tindakan yang sangat memalukan bagi AS. Rakyatnya sendiri bisa melihat kemunafikan pemerintah mereka—sebuah negeri yang, dimana-mana, selalu berkotbah tentang demokrasi, ternyata terlibat kudeta terhadap pemerintahan yang dipilih secara demokratis.
http://lmnd.wordpress.com/2007/08/12...usi-venezuela/
KESIMPULAN :
"CHAVEZ HAMPIR PERNAH DIKUDETA OLEH ANTI-CHAVEZ YANG DIBELAKANGNYA TERNYATA ADA AMERIKA SERIKAT..
KARENA CHAVEZ MEMBUAT BERBAGAI PROGRAM RAKYAT YANG MANA PROGRAM2NYA MERUGIKAN AMERIKA SERIKAT DAN ORANG2 YANG ANTI CHAVEZ..
TETAPI RAKYAT MENCINTAI CHAVEZ..
SEHINGGA RAKYATLAHYANG MENGEMBALIKAN CHAVEZ KE KURSI PRESIDEN..
KEKUATAN RAKYAT MENGGAGALKAN KUDETA AMERIKA SERIKAT DAN ANTI-CHAVEZ.."
"RAKYAT VENEZUELA SUDAH BOSAN TERHADAP PEMIMPIN YANG TIDAK PRO-RAKYAT, DAN HANYA MEMENTINGKAN KEPENTINGAN ORANG-ORANG KAYA DAN AS"
"RAKYAT BEGITU MARAH KETIKA ADA PRESIDEN YANG BENAR MEMPERHATIKAN RAKYAT TERNYATA DI JEGAL DAN AKAN DIKUDETA"
0
2.1K
16
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.7KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya