- Beranda
- The Lounge
RIMBA LARANG: Gerbang Kesatria
...
TS
tauvik.tauvik
RIMBA LARANG: Gerbang Kesatria

Quote:
Mulai sekarang setiap seminggu sekali, ane bakalan posting tentang cerita ane. Kalo ternyata salah kamar, mohon maaf dan mohon bantuan Mimin atau Momod utk memindahkan di tempat yg seharusnya berada. Terimakasih..
RIMBA LARANG: Gerbang Kesatria
Quote:
PROLOG
Hutan Larangan, kematian di hutan kegelapan seperti ini, dapat terjadi kapan pun dangan berbagai cara yang tak terduga. Sebagai seorang Palupian terakhir, Rambalangi mampu hidup di hutan kegelapan liar yang menawan ini selama bertahun-tahun dan melahirkan seorang anak lelaki yang kelak menjadi penerus klan Palupian. Rambalangi telah menggenapi ramalan Onigama. Namun hari ini, dia tidak mampu mempersiapkan dirinya untuk menghadapi takdir kejam yang sebentar lagi menimpanya.
Ketika Rambalangi mengajari putranya menunggangi naga di antara tebing dan perbukitan, tiba-tiba saja naga tersebut menukik ke arah danau dan menatap langit.
"Nogha soka gameh?" Ada apa naga-nagaku? tanya Rambalangi sambil menukik turunkan naganya dan memberi komando pada naga yang ditunggangi putranya untuk mendarat di tepi danau.
Di antara kumpulan awan badai yang tiba-tiba gelap, tiga ekor naga hitam muncul dan menurunkan ketinggiannya. Naga-naga itu kemudian menyusuri tepian danau mendekati Rambalangi dan putranya dengan ketangkasan naga pembunuh.
Ini aneh, pikir Rambalangi. Dia tidak pernah melihat naga hitam di kawasan Hutan Larangan yang penuh aura kegelapan ini. Naga Rambalangi dan putranya meraung-raung dan tampak waspada. Rambalangi merasa ini bukan pertanda baik.
"Halingka!" Rambalangi mengucap mantra. Dalam sekejap mata, putranya dan sang naga menghilang dari tempat. Tak terlihat, tak terdeteksi.
Ketika sang penunggang naga hitam membuka topeng, Rambalangi mengenali sosok itu. Sosok yang delapan tahun lalu menyelamatkan hidupnya dari kejaran bangsa Samoa, bangsa yang sangat menginginkan para Palupian musnah.
"Rambalangi..." serunya.
Palupian itu masih merasa ada bahaya yang mengancam bersamanya. Meskipun sosok itu adalah orang yang sangat dia kenal.
"Bagaimana kau tahu aku masih hidup? Apakah Palupian sudah benar-benar musnah di luar sana?" Namun bukan jawaban yang diterimanya.
"Silakan keluarkan pedangmu."
"Maaf? Aku tidak mengerti."
"Lakukan sajalah."
Dengan kebingungan, Rambalangi mengeluarkan pedangnya dari sarung yang membalutnya.
"Aku ingin kau mengirimkan pesan darurat. Satukan pedang kita dibawah sinar matahari."
Menyatukan pedang Onigama dan pedang Dayasora? Saat itu Palupi betul-betul merasa bingung. Tidak ada yang dapat menerima pesan dari kedua pedang itu selain Palupian dan musuh besar mereka, Sang Mata. Menyatukan kedua pedang ini dibawah sinar matahari bukan hanya mengantarkan sebuah pesan darurat, tetapi merupakan peta kunci untuk membuka rahasia lain yang lama terkubur.
Penunggang naga hitam kedua mengucap mantra kepada Rambalangi. "Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Kerjakan saja!"
Dalam kuasa mantra itu, Rambalangi hanya bisa menuruti perintahnya.
Lelaki pertama menyerahkan pedang Dayasora. "Lakukan. Sekarang."
Rambalangi mulai mengayunkan kedua pedang itu. Menyilangkan dibawah terik matahari.
Kedua pedang terlihat bergetar. Seketika cahaya menyilaukan memancar ke langit, membebaskan seekor elang cantik yang langsung menuju ke langit. Disana dia berteriak.
"Bagus," kata lelaki pertama. "Sekarang naik ke nagaku.
Di bawah pengaruh mantra, Rambalangi menurut tak berdaya. Begitu mereka sudah berada di punggung naga, naga tersebut langsung mengudara dan membelok ke arah barat. Kawasan tergelap di hutan Larangan.
Ketika naga itu naik hingga ketinggian gunung Tungara, naga tersebut membelok tajam melewati serangkaian jurang dan celah-celah curam. Tiba-tiba, ketiga lelaki penunggang naga hitam itu berdiri pada masing-masing naganya. Tanpa banyak bicara, lelaki pertama mencengkeram kepala Rambalangi lalu mengayunkan pedang ke leher Palupian itu. Badan tanpa kepala itu terlempar dari ketinggian menuju kawah gunung Tungara dibawahnya. Naga Rambalangi yang mengikuti mereka turut terjun mengikuti tubuh tuannya.
Sementara itu, dalam jarak tak terlihat dan tak terdeteksi, putra Rambalangi menyaksikan pembunuhan kejam Ibunya. Dia tak mengenal siapa sosok lelaki sang pembunuh. Tapi kelak dia akan mengenali tato naga yang terlukis di punggung lelaki itu. Tato sama yang juga terlukis di punggungnya.
Quote:
bersambung....
Diubah oleh tauvik.tauvik 14-06-2015 19:47
0
2K
Kutip
21
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya