- Beranda
- The Lounge
Kisah PRT yang kuliah dan lulus dengan predikat cumlaude
...
TS
galamaizee
Kisah PRT yang kuliah dan lulus dengan predikat cumlaude
Apapun bisa diraih dengan tekat kuat dan mental baja.
Semoga kisah berikut bisa menjadi inspirasi bagi agan dan aganwati yang akan menjadi mahasiswa

Memiliki profesi sebagai pembantu rumah tangga tak menyurutkan tekad Darwati (23) untuk kuliah dan meraih gelar sarjana. Bahkan dia berhasil lulus dengan predikat cumlaude atau tertinggi.
Prestasi yang dicapainya ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan untuk mencapai tujuan atau cita-cita, bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi.
Pada Kamis (21/5), Darwati dan ratusan mahasiswa lainnya di Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang telah diwisuda. Ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi dia karena untuk mendapatkan gelar sarjana baginya tidaklah mudah. Jalan yang harus ditempuh penuh rintangan dan ujian mental.
Dilansir oleh Merdeka pada Sabtu (23/5), ketika dirinya lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan, orang tuanya tidak memiliki uang untuk membiayai kuliahnya, sehingga dia harus menunda keinginan tersebut dan memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Namun di ibukota itu dia hanya bertahan seminggu dan memutuskan untuk kembali pulang ke kampungnya.
Masih belum memiliki pekerjaan yang layak, Darwati pun ikut orang berjualan es campur selama 3 minggu.
"Setelah itu, saya sempat ikut kerja berjualan es campur di kampung. Ya, kira-kira tiga minggu saya kerja di sana, namun belum sempat gajian karena saya keburu pindah kerja," katanya.
Meski sudah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan keluarga berpendidikan, Darwati masih belum terbayang akan bisa meneruskan pendidikan sampai sarjana.
"Suatu waktu, saya `nggremeng` (bergumam) ingin kuliah. Mungkin didengar sama Bapak (majikan). Beberapa hari setelah itu, Bapak tiba-tiba bilang saya boleh `nyambi` kuliah," ungkapnya.
Keinginan Darwati untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi didukung oleh sang ayah. Darwati mengatakan, majikannya kala itu mengatakan jika ayahnya dari desa baru saja menemui sang majikan dan menyampaikan keinginan Darwati berkuliah. Tak disangka, majikannya ternyata mengizinkan.
"Saya langsung semangat mencari informasi perguruan tinggi sampai akhirnya memilih di Semarang. Saya sisihkan sebagian gaji. Ternyata, bapak saya tidak pernah menemui beliau (majikan)," kenangnya.
Untuk berangkat kuliah, Darwati harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer menumpang bus, meski terkadang menumpang kawannya yang kebetulan berasal dari Grobogan.
"Kadang, saya diminta menemani anaknya Bapak (majikan) yang tinggal di Semarang. Jadi, sekalian menginap di sini. Ya, begitu. Saya ke Semarang, ya, kalau ada jadwal kuliah," katanya.
Selama menjalani kuliah, dia mengaku kerap diejek kawannya lantaran pekerjaannya sebagai PRT. Meski demikian, Darwati tetap menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa dan menjadikan ejekan tersebut sebagai pendorong semangatnya membuktikan kemampuannya.
Darwati pun membiayai kuliahnya dari gaji yang diterimanya sebagai PRT. "Yang mengejek, ya, pasti ada, namun saya anggap angin lalu. Untuk dana, saya sisihkan uang gaji, kadang saya pinjam teman, kadang juga diberi uang saku sama Bapak (majikan)," katanya.
Kini, Darwati berhasil mewujudkan mimpinya meraih gelar sarjana dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya, bahkan sanggup meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,68 atau cumlaude.(merdeka/vani)
Sumber: andalas.co
Semoga kisah berikut bisa menjadi inspirasi bagi agan dan aganwati yang akan menjadi mahasiswa
Spoiler for darmawati:

Quote:
Memiliki profesi sebagai pembantu rumah tangga tak menyurutkan tekad Darwati (23) untuk kuliah dan meraih gelar sarjana. Bahkan dia berhasil lulus dengan predikat cumlaude atau tertinggi.
Prestasi yang dicapainya ini dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk tidak mudah menyerah dengan keadaan untuk mencapai tujuan atau cita-cita, bagaimanapun berat tantangan yang dihadapi.
Pada Kamis (21/5), Darwati dan ratusan mahasiswa lainnya di Universitas 17 Agustus (Untag) Semarang telah diwisuda. Ini merupakan momen yang sangat istimewa bagi dia karena untuk mendapatkan gelar sarjana baginya tidaklah mudah. Jalan yang harus ditempuh penuh rintangan dan ujian mental.
Dilansir oleh Merdeka pada Sabtu (23/5), ketika dirinya lulus dari SMA Muhammadiyah 5 Todanan, orang tuanya tidak memiliki uang untuk membiayai kuliahnya, sehingga dia harus menunda keinginan tersebut dan memutuskan untuk bekerja di Jakarta. Namun di ibukota itu dia hanya bertahan seminggu dan memutuskan untuk kembali pulang ke kampungnya.
Masih belum memiliki pekerjaan yang layak, Darwati pun ikut orang berjualan es campur selama 3 minggu.
"Setelah itu, saya sempat ikut kerja berjualan es campur di kampung. Ya, kira-kira tiga minggu saya kerja di sana, namun belum sempat gajian karena saya keburu pindah kerja," katanya.
Meski sudah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di lingkungan keluarga berpendidikan, Darwati masih belum terbayang akan bisa meneruskan pendidikan sampai sarjana.
"Suatu waktu, saya `nggremeng` (bergumam) ingin kuliah. Mungkin didengar sama Bapak (majikan). Beberapa hari setelah itu, Bapak tiba-tiba bilang saya boleh `nyambi` kuliah," ungkapnya.
Keinginan Darwati untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi didukung oleh sang ayah. Darwati mengatakan, majikannya kala itu mengatakan jika ayahnya dari desa baru saja menemui sang majikan dan menyampaikan keinginan Darwati berkuliah. Tak disangka, majikannya ternyata mengizinkan.
"Saya langsung semangat mencari informasi perguruan tinggi sampai akhirnya memilih di Semarang. Saya sisihkan sebagian gaji. Ternyata, bapak saya tidak pernah menemui beliau (majikan)," kenangnya.
Untuk berangkat kuliah, Darwati harus menempuh jarak sekitar 50 kilometer menumpang bus, meski terkadang menumpang kawannya yang kebetulan berasal dari Grobogan.
"Kadang, saya diminta menemani anaknya Bapak (majikan) yang tinggal di Semarang. Jadi, sekalian menginap di sini. Ya, begitu. Saya ke Semarang, ya, kalau ada jadwal kuliah," katanya.
Selama menjalani kuliah, dia mengaku kerap diejek kawannya lantaran pekerjaannya sebagai PRT. Meski demikian, Darwati tetap menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa dan menjadikan ejekan tersebut sebagai pendorong semangatnya membuktikan kemampuannya.
Darwati pun membiayai kuliahnya dari gaji yang diterimanya sebagai PRT. "Yang mengejek, ya, pasti ada, namun saya anggap angin lalu. Untuk dana, saya sisihkan uang gaji, kadang saya pinjam teman, kadang juga diberi uang saku sama Bapak (majikan)," katanya.
Kini, Darwati berhasil mewujudkan mimpinya meraih gelar sarjana dan menjadi kebanggaan kedua orang tuanya, bahkan sanggup meraih indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,68 atau cumlaude.(merdeka/vani)
Sumber: andalas.co
0
2.6K
Kutip
22
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya