- Beranda
- The Lounge
MARI CARI TAHU TENTANG USUS BUNTU
...
TS
kurniadihusengo
MARI CARI TAHU TENTANG USUS BUNTU
Dari sekian banyak problem saluran cerna, salah satu yang terbilang unik adalah radang usus buntu. Peradangan ini sesungguhnya bisa dicegah dengan pola makan sehat. Pahami risiko dan gejalanya.
Sesuai namanya , usus buntu terisolasi di dalam tubuh kita. Menurut Dr. Agus Sudiro Waspodo , Sp.PD , KGEH , konsultan Gastroenterolog dari RS Dharmais , secara anatomi usus buntu adalah bagian dari usus besar yang fungsi sebenarnya tidak diketahui dalam sistem cerna kita.
Posisi usus buntu terletak di pertemuan usus halus dan usus besar. Muara/pangkalnya ada di usus besar , dan ujungnya memang buntu. Itu sebabnya , ia disebut usus buntu , jelas Dr. Agus.
Dr. Agi Satria Putranto , Sp.B , KBD , staf pengajar Departemen Bedah FKUI/RSCM , memberi pemaparan lebih detail. Menurutnya , usus buntu/Appendix adalah bagian dari usus besar , letaknya di permulaan usus besar dan ukuran panjangnya bervariasi , antara 15 cm.
Usus buntu sesungguhnya merupakan bagian pencernaan yang dibutuhkan oleh hewan pemamah biak , seperti sapi , kerbau , dan kambing. Pada hewan-hewan tersebut , usus buntu berukuran besar karena aktif digunakan. Namun , pada manusia , usus buntu tidak berguna sehingga ukurannya mengecil , papar Dr. Agi.
Meski tidak digunakan , usus buntu terhubung dengan usus besar , sehingga sisa makanan , kotoran yang keras/biji-bijian yang berukuran kecil bisa masuk ke sana.
Jika sudah masuk dan tak bisa keluar lagi , maka ia akan tersumbat. Pada bagian yang tersumbat ini , bakteri akan bertambah. Awalnya masih bakteri yang baik , tapi lama-kelamaan menjadi bakteri Patogen/merusak , kata Dr. Agi.
Sumbatan di usus buntu juga bisa terjadi pada anak-anak yang mengalami ISPA/Asma. Saat kambuh , semua kelenjar di tubuh akan membesar , termasuk kelenjar di usus buntu. Pembesaran kelenjar ini bisa menutup separuh , bisa juga total. Namun , ketika Influenza/ISPA sembuh , kelenjar akan mengempes dan sirkulasi di usus kembali lancar.
Tapi , jika penyebab sumbatan adalah biji-bijian , makanan/kotoran keras , maka tidak bisa keluar dengan sendirinya. Apalagi bila letak sumbatan cukup dalam dan menyebabkan peradangan. Mau tidak mau , sumbatan harus dikeluarkan lewat proses bedah , yang tak lain adalah dengan cara memotong/membuang si usus buntu tersebut.
Pendapat ini diamini oleh Dr. Agus. Radang usus buntu adalah radang akut di daerah usus buntu yang perlu penanganan segera. Jika tidak , komplikasinya bisa terjadi Perforasi/pecah , dan terbentuk Abses sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Tidak diketahui apa faktor spesifik sebagai pemicunya , hanya ada infeksi bakteri yang berperan terhadap terjadinya peradangan. Proses peradangan terjadi karena infeksi mengenai bagian dari usus buntu/Appendix , dan infeksi itulah yang menimbulkan reaksi peradangan , tambah Dr. Agus.
Soal gejala , kedua pakar ini sepakat bahwa radang usus buntu memiliki gejala khas dibandingkan gangguan cerna lain.
Pertama kali terasa nyeri di perut bagian atas , tepatnya di bawah ulu hati. Dari situ , nyeri pindah ke kanan bawah. Nyeri semakin terasa bila menggerakkan kaki/bila perut disentuh. Biasanya disertai demam yang tidak terlalu tinggi , ungkap Dr. Agi. Kadang , ada juga yang sampai mual , muntah , dan diare.
Kalau sudah begini , tak ada pilihan lain selain menjalani tindakan pembedahan. Jika tidak dibedah , maka komplikasinya akan sama seperti bisul : kalau dibiarkan terlalu lama , pasti akan pecah.
Jika dibiarkan , radang usus buntu bisa menyebabkan perlengketan antara usus dan dinding usus , karena tubuh punya mekanisme khusus untuk mengatasi setiap proses radang yang ada di dalam rongga perut , kata Dr. Agus.
Pembedahan dilakukan kalau diagnosis pasien sudah jelas , yakni kalau sudah ada Peritonitis lokal/peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut. Tidak bisa dengan obat saja , ujar Dr. Agi, Tindakan utama pembedahan adalah membuang usus buntu karena sudah menjelma jadi sumber infeksi di dalam tubuh.
Namun , bagi usus buntu kronis , terapi dengan obat umumnya masih efektif. Diharapkan , obat bisa mengecilkan pembesaran kelenjar yang sedang terjadi. Meski demikian , pembedahan tetap harus direncanakan , sebab saat obat tidak dikonsumsi , nyeri akan muncul lagi karena sumber infeksi masih ada.
Pascaoperasi, penyembuhan akan relatif lebih cepat , apalagi untuk usus buntu akut. Dengan teknik Laparoskopi yang minimal infasif dengan bius lokal , pasien bahkan bisa langsung pulang dan tak perlu rawat inap , cukup berobat jalan , jelas Dr. Agi.
Sebetulnya , semua orang memiliki potensi yang sama untuk terkena radang usus buntu , terlebih mereka yang berada pada usia produktif , lanjut Dr. Agi. Di atas usia 50 tahun , umumnya lebih sedikit karena mereka cenderung lebih selektif soal makanan.
Demikian pada anak-anak. Risiko radang usus buntu bagi mereka lebih kecil karena pada bentuk usus buntu mereka seperti botol yang mukanya lebih sempit/lebih kecil. Kelenjarnya juga belum sebanyak orang dewasa , sehingga potensi terjebaknya benda asing ke dalam usus buntu masih lebih kecil.
Berapa pun usia Anda, masalah saluran cerna tak lepas dari asupan makanan yang kita santap. Begitu pula dalam kasus usus buntu. Dalam hal ini , makanan berserat sangat penting untuk membantu melindungi usus buntu dari kemungkinan terjebaknya sisa makanan/kotoran yang mengeras.
Di sinilah fungsi pengunyahan menjadi sangat penting , agar proses cerna berjalan lancar tanpa ada yang tersisa. Jadi , jika Anda ingin menyantap biji-bijian seperti jambu biji , tomat , dan cabai , pastikan agar Anda mengunyah mereka dengan baik terlebih dahulu. Jangan langsung ditelan dalam kondisi yang masih utuh , Dr. Agi mengingatkan.
ANTIBIOTIK UNTUK USUS BUNTU
Pembedahan segera telah lama dianggap satu-satunya perawatan usus buntu pada anak-anak. Kini, studi terbaru menunjukkan bahwa antibiotik bisa menjadi alternatif.
Studi yang diterbitkan dalam The Journal of the American College of Surgeons tersebut mencakup 77 kasus usus buntu akut dengan kriteria spesifik : pasien berusia 7 - 17 tahun , mereka sudah mengalami nyeri selama 48 jam/kurang , jumlah sel darah putih mereka hanya sedikit meningkat , hasil CT Scan/USG menunjukkan bahwa bagian usus buntu mereka tidak meradang , dan feses mereka tidak terpengaruh.
Dari 77 pasien , 30 orang memilih untuk tidak melakukan bedah langsung dan menjalani pengobatan dengan antibiotik melalui infus selama minimal 24 jam, diikuti dengan konsumsi antibiotik minum selama 1 minggu. Setiap anak yang tidak membaik dalam 24 jam setelah antibiotik harus langsung menjalani operasi.
Dari 30 pasien , hanya 3 yang membutuhkan operasi dalam waktu 24 jam. Sisanya , sebanyak 27 anak , ternyata tidak perlu menjalani operasi dan bisa bersekolah kembali setelah beberapa hari pemulihan.
Menurut Dr. Katherine J. Deans , assisstant professor pembedahan di Nationwide Children's Hospital in Columbus , Ohio , mengoperasi usus buntu sudah menjadi terapi pengobatan yang paling lazim , sehingga dibutuhkan perubahan paradigma yang besar jika kita ingin mengubahnya.
Sementara itu , untuk memastikan efektivitas antibiotik dibandingkan pembedahan bagi radang usus buntu , kita tunggu saja hasil studi lebih lanjut.
Sumber : Dr. Agus Sudiro Waspodo , Sp.PD dan Dr. Agi Satria Putranto , Sp.B , KBD
Sesuai namanya , usus buntu terisolasi di dalam tubuh kita. Menurut Dr. Agus Sudiro Waspodo , Sp.PD , KGEH , konsultan Gastroenterolog dari RS Dharmais , secara anatomi usus buntu adalah bagian dari usus besar yang fungsi sebenarnya tidak diketahui dalam sistem cerna kita.
Posisi usus buntu terletak di pertemuan usus halus dan usus besar. Muara/pangkalnya ada di usus besar , dan ujungnya memang buntu. Itu sebabnya , ia disebut usus buntu , jelas Dr. Agus.
Dr. Agi Satria Putranto , Sp.B , KBD , staf pengajar Departemen Bedah FKUI/RSCM , memberi pemaparan lebih detail. Menurutnya , usus buntu/Appendix adalah bagian dari usus besar , letaknya di permulaan usus besar dan ukuran panjangnya bervariasi , antara 15 cm.
Usus buntu sesungguhnya merupakan bagian pencernaan yang dibutuhkan oleh hewan pemamah biak , seperti sapi , kerbau , dan kambing. Pada hewan-hewan tersebut , usus buntu berukuran besar karena aktif digunakan. Namun , pada manusia , usus buntu tidak berguna sehingga ukurannya mengecil , papar Dr. Agi.
Meski tidak digunakan , usus buntu terhubung dengan usus besar , sehingga sisa makanan , kotoran yang keras/biji-bijian yang berukuran kecil bisa masuk ke sana.
Jika sudah masuk dan tak bisa keluar lagi , maka ia akan tersumbat. Pada bagian yang tersumbat ini , bakteri akan bertambah. Awalnya masih bakteri yang baik , tapi lama-kelamaan menjadi bakteri Patogen/merusak , kata Dr. Agi.
Sumbatan di usus buntu juga bisa terjadi pada anak-anak yang mengalami ISPA/Asma. Saat kambuh , semua kelenjar di tubuh akan membesar , termasuk kelenjar di usus buntu. Pembesaran kelenjar ini bisa menutup separuh , bisa juga total. Namun , ketika Influenza/ISPA sembuh , kelenjar akan mengempes dan sirkulasi di usus kembali lancar.
Tapi , jika penyebab sumbatan adalah biji-bijian , makanan/kotoran keras , maka tidak bisa keluar dengan sendirinya. Apalagi bila letak sumbatan cukup dalam dan menyebabkan peradangan. Mau tidak mau , sumbatan harus dikeluarkan lewat proses bedah , yang tak lain adalah dengan cara memotong/membuang si usus buntu tersebut.
Pendapat ini diamini oleh Dr. Agus. Radang usus buntu adalah radang akut di daerah usus buntu yang perlu penanganan segera. Jika tidak , komplikasinya bisa terjadi Perforasi/pecah , dan terbentuk Abses sehingga penanganannya menjadi lebih sulit.
Tidak diketahui apa faktor spesifik sebagai pemicunya , hanya ada infeksi bakteri yang berperan terhadap terjadinya peradangan. Proses peradangan terjadi karena infeksi mengenai bagian dari usus buntu/Appendix , dan infeksi itulah yang menimbulkan reaksi peradangan , tambah Dr. Agus.
Soal gejala , kedua pakar ini sepakat bahwa radang usus buntu memiliki gejala khas dibandingkan gangguan cerna lain.
Pertama kali terasa nyeri di perut bagian atas , tepatnya di bawah ulu hati. Dari situ , nyeri pindah ke kanan bawah. Nyeri semakin terasa bila menggerakkan kaki/bila perut disentuh. Biasanya disertai demam yang tidak terlalu tinggi , ungkap Dr. Agi. Kadang , ada juga yang sampai mual , muntah , dan diare.
Kalau sudah begini , tak ada pilihan lain selain menjalani tindakan pembedahan. Jika tidak dibedah , maka komplikasinya akan sama seperti bisul : kalau dibiarkan terlalu lama , pasti akan pecah.
Jika dibiarkan , radang usus buntu bisa menyebabkan perlengketan antara usus dan dinding usus , karena tubuh punya mekanisme khusus untuk mengatasi setiap proses radang yang ada di dalam rongga perut , kata Dr. Agus.
Pembedahan dilakukan kalau diagnosis pasien sudah jelas , yakni kalau sudah ada Peritonitis lokal/peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut. Tidak bisa dengan obat saja , ujar Dr. Agi, Tindakan utama pembedahan adalah membuang usus buntu karena sudah menjelma jadi sumber infeksi di dalam tubuh.
Namun , bagi usus buntu kronis , terapi dengan obat umumnya masih efektif. Diharapkan , obat bisa mengecilkan pembesaran kelenjar yang sedang terjadi. Meski demikian , pembedahan tetap harus direncanakan , sebab saat obat tidak dikonsumsi , nyeri akan muncul lagi karena sumber infeksi masih ada.
Pascaoperasi, penyembuhan akan relatif lebih cepat , apalagi untuk usus buntu akut. Dengan teknik Laparoskopi yang minimal infasif dengan bius lokal , pasien bahkan bisa langsung pulang dan tak perlu rawat inap , cukup berobat jalan , jelas Dr. Agi.
Sebetulnya , semua orang memiliki potensi yang sama untuk terkena radang usus buntu , terlebih mereka yang berada pada usia produktif , lanjut Dr. Agi. Di atas usia 50 tahun , umumnya lebih sedikit karena mereka cenderung lebih selektif soal makanan.
Demikian pada anak-anak. Risiko radang usus buntu bagi mereka lebih kecil karena pada bentuk usus buntu mereka seperti botol yang mukanya lebih sempit/lebih kecil. Kelenjarnya juga belum sebanyak orang dewasa , sehingga potensi terjebaknya benda asing ke dalam usus buntu masih lebih kecil.
Berapa pun usia Anda, masalah saluran cerna tak lepas dari asupan makanan yang kita santap. Begitu pula dalam kasus usus buntu. Dalam hal ini , makanan berserat sangat penting untuk membantu melindungi usus buntu dari kemungkinan terjebaknya sisa makanan/kotoran yang mengeras.
Di sinilah fungsi pengunyahan menjadi sangat penting , agar proses cerna berjalan lancar tanpa ada yang tersisa. Jadi , jika Anda ingin menyantap biji-bijian seperti jambu biji , tomat , dan cabai , pastikan agar Anda mengunyah mereka dengan baik terlebih dahulu. Jangan langsung ditelan dalam kondisi yang masih utuh , Dr. Agi mengingatkan.
ANTIBIOTIK UNTUK USUS BUNTU
Pembedahan segera telah lama dianggap satu-satunya perawatan usus buntu pada anak-anak. Kini, studi terbaru menunjukkan bahwa antibiotik bisa menjadi alternatif.
Studi yang diterbitkan dalam The Journal of the American College of Surgeons tersebut mencakup 77 kasus usus buntu akut dengan kriteria spesifik : pasien berusia 7 - 17 tahun , mereka sudah mengalami nyeri selama 48 jam/kurang , jumlah sel darah putih mereka hanya sedikit meningkat , hasil CT Scan/USG menunjukkan bahwa bagian usus buntu mereka tidak meradang , dan feses mereka tidak terpengaruh.
Dari 77 pasien , 30 orang memilih untuk tidak melakukan bedah langsung dan menjalani pengobatan dengan antibiotik melalui infus selama minimal 24 jam, diikuti dengan konsumsi antibiotik minum selama 1 minggu. Setiap anak yang tidak membaik dalam 24 jam setelah antibiotik harus langsung menjalani operasi.
Dari 30 pasien , hanya 3 yang membutuhkan operasi dalam waktu 24 jam. Sisanya , sebanyak 27 anak , ternyata tidak perlu menjalani operasi dan bisa bersekolah kembali setelah beberapa hari pemulihan.
Menurut Dr. Katherine J. Deans , assisstant professor pembedahan di Nationwide Children's Hospital in Columbus , Ohio , mengoperasi usus buntu sudah menjadi terapi pengobatan yang paling lazim , sehingga dibutuhkan perubahan paradigma yang besar jika kita ingin mengubahnya.
Sementara itu , untuk memastikan efektivitas antibiotik dibandingkan pembedahan bagi radang usus buntu , kita tunggu saja hasil studi lebih lanjut.
Sumber : Dr. Agus Sudiro Waspodo , Sp.PD dan Dr. Agi Satria Putranto , Sp.B , KBD
0
1.9K
6
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok