Kaskus

Entertainment

kurniadihusengoAvatar border
TS
kurniadihusengo
MENGENAL MINI STROKE PEMBAWA PERINGATAN TANDA BAHAYA
KITA SERING MENDENGAR TENTANG STROKE, PENYAKIT YANG PREVALENSINYA TERUS MENINGKAT DAN MERUPAKAN PENYEBAB KEMATIAN UTAMA DI NEGARA KITA. BAGAIMANA DENGAN MINI STROKE? SUDAHKAH ANDA MEMAHAMI KONDISI INI?

Mendengar istilah stroke, kita biasanya langsung terbayang kondisi cacat fisik permanen yang melumpuhkan tubuh, sebagai akibat dari rusaknya sistem saraf pada organ tubuh yang diserang.

Meski cukup familiar dengan dampaknya, minimnya kesadaran untuk mencegah terjadinya serangan stroke diyakini sebagai penyebab utama banyaknya prevalensi penderita stroke di Indonesia. Padahal, sejatinya serangan stroke bisa dicegah. Apalagi, jika serangan tersebut baru berupa mini stroke.

Jenis stroke terbagi menjadi dua. Pertama adalah yang dikenal dengan istilah mini stroke atau Transient Ischemic Attack (TIA), dan kedua adalah major stroke atau stroke komplet, papar Dr. Fritz Sumantri Usman Sr., Sp.S, FINS, dari RSUP Fatmawati.

Mini stroke adalah kondisi di mana terjadi gejala stroke yang membaik dalam waktu kurang dari 24 jam. Bahkan, ada literatur yang menyatakan kurang dari 1 jam, ujar Dr. Fritz. Gejalanya sama dengan stroke komplet, yakni ada kelemahan satu sisi tubuh dan kelemahan bicara.

Penjelasan senada disampaikan oleh Dr. Jofizal Jannis, Sp.S(K), dari RS Pusat Otak Nasional. Transient Ischemic Attack, atau sering disebut serangan otak sepintas, biasanya akan hilang dalam waktu 24 jam, kata Dr. Jofizal.

Jika prevalensi stroke saat ini di Indonesia cukup besar, seperti ditegaskan Riset Kesehatan Dasar 2013 oleh Kementerian Kesehatan RI, maka begitu pula besar prevalensi mini stroke. Sayangnya, pasien mini stroke tidak tercatat secara statistik di Indonesia ini, padahal jumlahnya banyak sekali, tutur Dr. Jofizal.

Sebenarnya, tidak banyak perbedaan antara stroke dan mini stroke. Perbedaan utama terletak pada cepatnya waktu pemulihan. Mini stroke bisa membaik dalam 24 jam tanpa gejala sisa. Kok, bisa? Menurut Dr. Jofizal, ini karena penyebab mini stroke bukan perdarahan maupun penyumbatan seperti pada stroke komplet.

Kemungkinan pemicunya adalah karena spasme atau berkerutnya pembuluh darah. Penyebabnya masih belum diketahui. Yang jelas, tak lama setelah terjadi serangan mini stroke, penderita bisa pulih seperti sedia kala, ungkap Dr. Jofizal.

Informasi serupa diberikan oleh Dr. Fritz. Artinya , jika gejala stroke timbul sampai lebih dari 24 jam, maka itu disebut stroke komplet. Pada mini stroke tidak ada gejala sisa. Kalau ada gejala sisa, bukan mini stroke lagi namanya, tapi stroke komplet.

Meski begitu, bukan berarti mini stroke tidak berbahaya. Menurut Dr. Fritz, mini stroke menjadi prediktor terhadap risiko terjadinya stroke komplet. Di kedokteran ada rumus untuk menghitung, dari mini stroke bisa diprediksi berapa persen akan terjadi stroke komplet dalam 1 minggu atau beberapa bulan ke depan, ungkap pakar neuro intervensi ini.

Waspadalah setelah serangan mini stroke, karena bisa terjadi serangan ulang yang berupa stroke komplet. Hal ini tergantung faktor yang mendasari serangan. Kalau faktor yang mendasari tidak bisa dikendalikan, maka serangan stroke bisa terjadi lagi, Dr. Jofizal menimpali.

Apa saja faktor-faktor risiko yang mendasari serangan stroke maupun mini stroke? Menurut Dr. Fritz, terdapat 2 kategori besar faktor risiko stroke, yaitu faktor yang tidak bisa dimodifikasi dan faktor yang bisa dimodifikasi.

Ada beberapa hal yang termasuk dalam faktor risiko stroke yang tidak bisa dimodifikasi. Pertama adalah usia. Semakin lanjut usia seseorang, maka semakin besar risikonya.

Faktor risiko selanjutnya terkait dengan genetik. Mereka yang orangtuanya pernah kena stroke memiliki risiko 2x lebih besar terhadap serangan stroke dibandingkan mereka yang orangtuanya tidak terkena stroke.

Sementara itu, faktor risiko yang bisa dimodifikasi atau dikendalikan adalah darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, penyakit pembuluh darah besar yang menuju otak, merokok, hiperkolesterolemia, obesitas, minimnya olahraga, stres, dan konsumsi alkohol.

Sesungguhnya, serangan stroke bisa diprediksi, terutama jika seseorang memiliki satu atau lebih latar belakang kondisi tersebut. Inilah yang disebut faktor risiko, namun bukan faktor penyebab, kata Dr. Jofizal.

Seperti diketahui, penyebab stroke hanya ada 2, yakni gangguan aliran darah karena ada sumbatan di pembuluh darah otak, atau gangguan aliran darah karena terjadi perdarahan di pembuluh darah otak. Tindakan pertama yang harus dillakukan ketika terjadi serangan mini stroke, menurut Dr. Fritz, adalah segera membawa pasien ke spesialis saraf. Dokter kemudian akan memeriksa lebih lanjut, termasuk menghitung kemungkinan terjadinya stroke komplet. Kalau risikonya cukup besar, sebaiknya pasien menjalani rawat inap.

Ketika terjadi serangan mini stroke, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit, dan pihak rumah sakit akan mencari apa yang mendasari penyakitnya, kata Dr. Jofizal. Walaupun kemudian gejala hilang dan pasien sembuh, penyebabnya tetap harus dicari, apakah karena ada penyakit jantung atau penyakit lain yang mendasari.

Menurut Dr. Jofizal, hal ini dilakukan guna mencegah terjadinya serangan berulang. Biasanya, pasien juga akan diberikan sejumlah obat, seperti obat anti kekentalan darah dan obat antikolesterol. Obat antikolesterol tidak hanya bermanfaat menurunkan kolesterol, tetapi juga memperbaiki dinding pembuluh darah.

Obat yang diberikan tergantung pada penyakit yang mendasari. Jika pasien memiliki hipertensi, maka akan diberikan obat anti hipertensi. Kalau pasien punya diabetes, maka diberikan obat untuk menstabilkan kadar gulanya. Begitu juga kalau ada asam urat, harus distabilkan level asam uratnya, papar Dr. Jofizal.

Kedua pakar ini menyatakan bahwa serangan mini stroke harus dianggap sebagai peringatan penting.

Mini stroke adalah alarm yang sangat serius. Apabila seseorang sudah kena mini stroke, berarti yang bersangkutan merupakan individu yang cenderung untuk terkena gejala stroke komplet, Dr. Fritz mengingatkan.

Benar, mini stroke merupakan alarm peringatan bahwa ada sesuatu yang terjadi pada tubuh kita. Karena itu, setelah pulih dari mini stroke, segera lakukan langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi stroke yang komplet, timpal Dr. Jofizal.

Dr. Fritz menegaskan bahwa langkah pencegahan yang paling efektif adalah mengendalikan faktor-faktor risiko yang bisa dimodifikasi. Kita tidak bisa berbuat banyak terhadap faktor-faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi.

Tetapi, kita bisa mengubah gaya hidup tidak sehat, seperti berhenti merokok, kelola stres dengan baik, serta kendalikan gula darah dan kadar kolesterol, tandas Dr. Fritz.

Sumber : Dr. Fritz Sumantri Usman Sr., Sp.S, FINS dan Dr. Jofizal Jannis, Sp.S(K)
0
3.8K
6
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread•109.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.