- Beranda
- Berita Luar Negeri
Menelusuri Jalan Munirpad di Belanda
...
TS
keeperdunia
Menelusuri Jalan Munirpad di Belanda
Quote:
Menelusuri Jalan Munirpad di Belanda

Nama pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib akan diabadikan di satu jalan di Den Haag, Belanda. Pemerintah Kota Den Haag memberikan penghormatan untuk pejuang HAM asal Indonesia ini.
Tempo menelusuri jalan yang peresmiannya akan dilakukan pada 14 April ini. Berangkat dari Deventer menuju Den Haag memakan waktu 1 jam 45 menit perjalanan dengan kereta api. Dilanjutkan dengan trem nomor dua jurusan Kraayenstein selama 25 menit. Tempo kemudian turun di halte Walnootstraat.
Mengikuti petunjuk dari Google map, tampak plang bertuliskan MUNIRPAD dengan tulisan kecil di bawahnya: aktivis Indonesia untuk hak asasi manusia.
Munirpad merupakan jalan kecil khusus untuk pengguna sepeda. Menurut Rouling, penduduk setempat, plang Munirpad berdiri sejak tiga minggu lalu. Hampir setiap hari ia melintasi jalan ini bersama anjingnya.
Ia mengaku agak kaget dengan plang baru bertuliskan Munir. Dia sendiri tidak tahu siapa itu Munir. "Saya tidak tahu siapa Munir," kata Rouling kepada Tempo. Dia hanya mendapat informasi tentang Munir ya dari plang itu tadi.
Saat Tempo mengambil foto sekitar jalan, Rouling sempat mengira Tempo adalah famili dari Munir.
Rouling mengatakan bahwa kawasan sekitar memang memiliki nama jalan pejuang-pejuang hak asasi manusia. Paling tidak ada jalan Martin Luther King, Folke Bernadotte, dan Hendrik Petrus Berlage yang diabadikan sebagai nama jalan.
Hanya, plang Munirpad sebenarnya bukan nama jalan umum, melainkan sebuah jalan kecil khusus untuk pengguna sepeda. Panjang jalan ini sekitar 500 langkah kaki orang dewasa.
Jalan khusus sepeda di Belanda selalu berwarna merah bata untuk membedakan antara jalan untuk mobil dan kendaraan lain. Sebutan jalan untuk sepeda ini adalah fiedspad. Biasanya memang tidak ada namanya. Namun entah kenapa, nama Munir dipakai untuk sebuah nama jalan khusus sepeda.
Kawasan sekitar Munirpad adalah kawasan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota besar. Kalau menurut keterangan Adi, warga Indonesia yang tinggal dekat Munirpad, plang itu sudah terpasang sekitar dua bulan lalu. Di kawasan tempat ia tinggal hanya dua rumah yang dihuni oleh warga Indonesia.
Munirpad adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan dua ruas jalan besar, sehingga jalan ini selalu ramai. Kecuali hari Minggu dan udara dingin, jalan ini sepi dari lalu lalang orang.
Namun paling tidak, menurut Adi, jalan Munirpad selalu menjadi lintasan orang-orang tua yang berjalan dengan anjing atau orang yang berjalan bersama anak-anak mereka untuk bermain dan menikmati alam terbuka.
Adi mengaku tahu tentang sosok Munir sebagai aktivis HAM. Dia mengikuti perkembangan berita Indonesia meski sudah hampir 30 tahun dia bermukim di Belanda dan berprofesi sebagai fotografer. "Ya bangga plang Munirpad ada di sini," kata Adi.
SUMBER

Nama pejuang hak asasi manusia Munir Said Thalib akan diabadikan di satu jalan di Den Haag, Belanda. Pemerintah Kota Den Haag memberikan penghormatan untuk pejuang HAM asal Indonesia ini.
Tempo menelusuri jalan yang peresmiannya akan dilakukan pada 14 April ini. Berangkat dari Deventer menuju Den Haag memakan waktu 1 jam 45 menit perjalanan dengan kereta api. Dilanjutkan dengan trem nomor dua jurusan Kraayenstein selama 25 menit. Tempo kemudian turun di halte Walnootstraat.
Mengikuti petunjuk dari Google map, tampak plang bertuliskan MUNIRPAD dengan tulisan kecil di bawahnya: aktivis Indonesia untuk hak asasi manusia.
Munirpad merupakan jalan kecil khusus untuk pengguna sepeda. Menurut Rouling, penduduk setempat, plang Munirpad berdiri sejak tiga minggu lalu. Hampir setiap hari ia melintasi jalan ini bersama anjingnya.
Ia mengaku agak kaget dengan plang baru bertuliskan Munir. Dia sendiri tidak tahu siapa itu Munir. "Saya tidak tahu siapa Munir," kata Rouling kepada Tempo. Dia hanya mendapat informasi tentang Munir ya dari plang itu tadi.
Saat Tempo mengambil foto sekitar jalan, Rouling sempat mengira Tempo adalah famili dari Munir.
Rouling mengatakan bahwa kawasan sekitar memang memiliki nama jalan pejuang-pejuang hak asasi manusia. Paling tidak ada jalan Martin Luther King, Folke Bernadotte, dan Hendrik Petrus Berlage yang diabadikan sebagai nama jalan.
Hanya, plang Munirpad sebenarnya bukan nama jalan umum, melainkan sebuah jalan kecil khusus untuk pengguna sepeda. Panjang jalan ini sekitar 500 langkah kaki orang dewasa.
Jalan khusus sepeda di Belanda selalu berwarna merah bata untuk membedakan antara jalan untuk mobil dan kendaraan lain. Sebutan jalan untuk sepeda ini adalah fiedspad. Biasanya memang tidak ada namanya. Namun entah kenapa, nama Munir dipakai untuk sebuah nama jalan khusus sepeda.
Kawasan sekitar Munirpad adalah kawasan yang tenang, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota besar. Kalau menurut keterangan Adi, warga Indonesia yang tinggal dekat Munirpad, plang itu sudah terpasang sekitar dua bulan lalu. Di kawasan tempat ia tinggal hanya dua rumah yang dihuni oleh warga Indonesia.
Munirpad adalah satu-satunya jalan yang menghubungkan dua ruas jalan besar, sehingga jalan ini selalu ramai. Kecuali hari Minggu dan udara dingin, jalan ini sepi dari lalu lalang orang.
Namun paling tidak, menurut Adi, jalan Munirpad selalu menjadi lintasan orang-orang tua yang berjalan dengan anjing atau orang yang berjalan bersama anak-anak mereka untuk bermain dan menikmati alam terbuka.
Adi mengaku tahu tentang sosok Munir sebagai aktivis HAM. Dia mengikuti perkembangan berita Indonesia meski sudah hampir 30 tahun dia bermukim di Belanda dan berprofesi sebagai fotografer. "Ya bangga plang Munirpad ada di sini," kata Adi.
SUMBER
tanggapannya agan dan mbaknya gimana nih ?
0
1K
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.1KThread•1Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya