Kaskus

Hobby

bawakaraeng88Avatar border
TS
bawakaraeng88
JEJAK MERAH DI GUNUNG BAWAKARAENG ( Bagian 1 )
JEJAK MERAH DI GUNUNG BAWAKARAENG

( Bagian 1 )

Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibanding tempat-tempat disekitarnya. Siapapun akan terpukau dan merasa takjub dengan keindahan pemandangannya. Teringat bagaimana tanganku sewaktu kecil dulu, menggambar diatas kertas gunung di bawah langit biru. Dua lengkungan besar, matahari, air terjun, jalanan dan sawah terlukis disekitar kaki gunung.

Di Indonesia sendiri terdapat gunung-gunung yang biasa jadi target wisata. Beberapa turis dari berbagai mancanegara bahkan membayar mahal hanya untuk koleksi foto saja. Tidak tanggung-tanggung, mereka biasanya membentuk tim ekspedisi untuk melakukan pendakian ekstrim demi mendapatkan yang mereka sering katakan “Kepuasan”. Namun bukan rahasia lagi, untuk keindahan semahal itu, sering juga harus dibayar mahal pula, bahkan resiko kehilangan nyawa sekalipun. Ironis memang, ketika keindahan berujung malapetaka.

19 November 2011 silam, merupakan kenangan yang selalu kuingat, saat pertama kali kutantang nyali ini untuk mendaki gunung. Adalah Gunung Bawakaraeng yang menjadi lawan dari kedua kaki dan tanganku bersama ketiga sahabatku yaitu Bashir (30 th), Enal (25 th) dan Bahar (29 th). Gunung Bawakaraeng adalah gunung yang terletak di kampung Lembanna yang masih masuk dalam kawasan wisata puncak Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Sehari sebelum kami berangkat mendaki, Bahar sudah mempersiapkan semuanya dan menyuruh kami berkumpul dirumahnya. Ia mengatakan, perjalanan ke Bawakaraeng bukan perjalanan biasa. Sedikit ragu dan suasana kaku tercipta seketika. Seperti biasa, pemuda yang bertubuh mungil itu hanya tersenyum dengan senyuman khasnya. Memang ini adalah rencana yang sudah lama tertunda dan rasa penasaran, akhirnya kami sepakat untuk berangkat besoknya.

“Saya sudah bertanya ke orang yang paham tentang kondisi gunung disana, kita bisa berangkat besok,” kata Bahar. Namun tetap saja terlihat ada keraguan diwajahnya seakan menyimpan sesuatu. “Kita Cuma berempat, apa tidak ada teman lain yang ingin ikut?” tanya Bashir.
“ Terus, yang memandu kita mendaki siapa?”tanyaku. Tenang saja, di Lembanna ada orang yang bisa memandu kita. Lagian disetiap rute jalan ada tandanya, jawab Bahar.
”Ooohh..” saya dan Bashir ngangguk-ngangguk. Enal dari tadi hanya diam dan mendengar “Nal,..kamu jadi ikut juga kan?” tanyaku. “Kalau saya iya..iya saja” jawabnya dengan kaget.
“Oke..sipp, besok pagi kita cari perlengkapan yang dibutuhkan lalu kita berangkat sore,” tegas Bahar.

Keesokan harinya kami pun bergegas mempersiapkan barang perlengkapan pendakian mulai dari makanan, selimut, tenda, kompor dan sebagainya. Kami masing-masing mempunyai perlengkapan khusus. Bashir dengan jaket tebal dan sepatu gunungnya, Bahar dengan kompas dan senter tuanya, Enal dan tas ransel yang lebih besar dari badannya. Lain juga dengan saya, selain jaket tebal karena tidak tahan kedinginan, saya lebih mendahulukan untuk mencari pakaian dalam yang ketat, semacam legging. Saya pernah mendengar cerita dari para pendaki bahwa di gunung terdapat binatang air yang namanya pacet (sejenis ulat yang mirip lintah biasanya berada didalam air dan tempat-tempat yang lembab). Pacet ini biasanya menempel dikaki menghisap darah kita tanpa disadari bahkan di Pulau Jawa sana ada jenis Pacet yang bisa menembus kain jeans sekalipun.

Setelah berjam-jam berkemas mengepak barang dan perlengkapan, kamipun bersiap berangkat. Sedikit menenangkan fikiran dan berdoa lalu kami pun membayangkan puncak gunung yang tingginya 2845 meter dari permukaan laut itu. Sore itu kami pun berangkat dengan hanya mengendarai motor meskipun sedikit gerimis. Butuh 4 jam lebih bagi kami untuk sampai di Desa Lembanna kaki gunung Bawakaraeng. Angin yang lumayan kencang menyambut kami setiba disana. Cuaca yang dingin mulai menusuk sampai ketulang rasanya. Ini sesuatu yang baru buat saya berada ditempat yang orang katakan “Mulut Tuhan” itu. Di desa itu terlihat ramai pengunjung baik itu dari kelompok mahasiswa pecinta alam maupun pendaki-pendaki yang sudah profesional. Hari sudah mulai gelap saat kami tiba, jadi kami pun mencari tempat penginapan. Sebagai penghasilan tambahan, warga di Desa Lembanna membiarkan rumah mereka dijadikan sebagai tempat istirahat dan juga penitipan kendaraan para pendaki. Setelah mendapatkan rumah warga yang menjadi tempat untuk menginap, kami memutuskan untuk berbaur dan saling sapa dengan kelompok pendaki lain di rumah Tata Rasyid (57 th).

“Tata”, begitu panggilan akrab yang kudengar untuk pemilik rumah penginapan terkenal itu. Sosok Tata Rasyid sangatlah melekat bagi para pendaki gunung Bawakaraeng dan bukan bualan jika diumurnya yang sudah tidak muda lagi itu masih sanggup untuk naik turun puncak.
Cerita lain yang membuatku terkejut malam itu adalah pemuda yang menanyakan keberadaan saudaranya di atas gunung ke Tata’.

“Bagaimana keadaan kakak ku diatas..Tata?". Matanya terlihat sayu dan wajahnya murung. “Apakah Tata’ pernah bertemu dengannya..?” tanya pemuda itu. “Mmm”-Tata memejamkan matanya sejenak. “Yah..dia baik-baik saja, saya bertemu dengannya pagi ini,” jawab Tata.

Disekitar kerumunan nampak mulai heboh, rebut, lalu saling bertanya karena penasaran dengan apa maksud pertanyaan pemuda itu, ke Tata Rasyid. Sayapun turut penasaran lalu melihat Bahar yang dari tadi juga mendengar percakapan itu dibelakangku. Bukannya terjawab, malah saya tambah penasaran dan ketakutan dengan penjelasan Tata’ yang hanya singkat mengatakan kalau kakak dari pemuda itu sebenarnya sudah bertahun-tahun hilang di atas gunung setelah terjadi insiden sebelumnya dan tim SAR tidak berhasil menemukannya.
Sosok yang dimaksud Tata’ ke pemuda tadi itu, sebenarnya adalah arwah kakak nya yang gentayangan dan sering datang menemui Tata’ untuk titip pesan kepada adiknya.

“Bagaimana Tim?” Bahar memegang pundakku pelan, tanya nya dengan senyum menantang.
“Jangan ditanya lagi, kita kan sudah sampai disini,lagian kita kan berempat dan lagian, kan ada Tata’ yang juga mau ikut mendaki besok” jawabku berusaha meyakinkan diri.

Melihat semua semakin tegang, Tata’ mulai mencairkan suasana dengan cerita-cerita ringannya yang lucu dan cukup bisa membuat yang lain melupakan cerita horror tadi tapi tidak denganku. Kepalaku tiba-tiba terasa berat dan bumi terasa perputar sangat kencang.

“Nal..kamu tidak ngantuk,” tanyaku ke Enal yang serius mendengar Tata’ cerita. “Balik yuk..kesebelah..kita kan mau berangkat besok pagi”. Enal pun lalu memanggil Bashir dan Bahar untuk ikut balik kerumah sebelah. Kami pun meninggalkan tempat Tata’ dan beristirahat mengumpulkan tenaga untuk esoknya.

Udara sejuk dan matahari pagi yang menembus sela-sela jendela kamar membangunkanku dari tidur. Diluar jalan terlihat beberapa pendaki sudah berangkat lebih awal. Semangat yang begitu besar membuatku bergegas juga mempersiapkan barang, fisik dan mental. Setidaknya, semangat itu tetap ada sampai saat Bahar mengatakan kalau Tata’ tidak bisa memandu perjalanan kami untuk mendaki karna mendadak sakit perut. Tak lama, semua sudah siap, keputusan telah dibuat, kami harus berangkat tanpa pemandu. /BK 124 (Bersambung ke Tabloid BawaKaraeng Edisi 106)

JEJAK MERAH DI GUNUNG BAWAKARAENG ( Bagian 1 )
Diubah oleh bawakaraeng88 13-03-2015 22:43
0
3.3K
13
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Supranatural
Supranatural
KASKUS Official
15.9KThread14.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.