- Beranda
- The Lounge
The Destroyer Wall
...
TS
ruprayo
The Destroyer Wall
Quote:
Liburan panjang bagi beberapa anak mungkin hal yang sangat luar biasa dan menyenangkan. Terutama anak-anak yang tinggal di tengah kota Learsi, mereka biasanya ke taman kota, tempat karaoke, dunia bermain dengan wahana-wahana ekstrim, atau pun mancing di danau belakang kantor walikota. Keadaan ini berbanding terbalik dengan anak-anak yang tinggal di balik 'tembok pembatas'. Tak ada waktu bermain, tak ada waktu sia-sia, tak ada hal yang tak berguna, mereka semua sibuk mengangkut kotoran-kotoran hewan peliharaan maupun dari peternakan untuk dijadikan pupuk kandang. Keadaan anak-anak di balik tembok pembatas berbeda jauh dari anak-anak di kota Learsi. Waktu libur mereka dihabiskan untuk bekerja di pembuangan kotoran hewan. Mengubah kotoran hewan menjadi pupuk kandang kemudian diambil kembali oleh petani di kota Learsi. Upah mereka tak sebanding dengan pekerjaan yang bisa dibilang menjijikan dan hina bagi warga Learsi, tapi tidak untuk mereka suku Egaz karena inilah cara mereka untuk bertahan hidup.
Pupuk yang telah 'jadi' dimasukan kembali ke dalam truk pengangkut, sesuai dengan bobot pupuk yang mereka buat, misal 1 kg pupuk maka 1 Sero uang yang mereka terima. 1 Sero hanya dapat ditukar dengan 1 cangkir air minum mineral. Bayangkan berapa banyak pupuk kandang yang harus mereka buat dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kaum Egaz, bau kotoran hewan yang datang adalah bau uang untuk menyambung hidup mereka.
Suku Egaz menukarkan uang tersebut di mesin makanan otomatis yang menempel disepanjang tembok sebelah barat, ibarat pasar modern ditengah keadaan yang memperhatinkan di balik tembok pembatas.
Baju-baju lusuh dengan bau tak sedap, bercampur keringat, serta terik matahari membakar kulit adalah hal yang biasa bagi mereka. Anak-anak suku Egaz, itulah sebutan mereka dengan usia 6 sampai 12 tahun, bermata biru, badan kurus dan mereka mengenakan gelang metalik di tangan sebelah kanan. Ada simbol '€' di tengah gelang.
Wilayah suku Egaz dikelilingi tembok pembatas dengan tinggi 4 meter, terbuat dari baja yang kuat, dan dialiri arus listrik di atasnya. Tembok pembatas hanya dapat terbuka ketika truk-truk kotoran hewan datang dengan muatan bertonase. Selain itu, tembok pemisah juga dapat terbuka ketika pagi dan siang hari yakni ketika anak dari suku Egaz pergi dan pulang menuntut ilmu di sekolah keterampilan kota Learsi yang letaknya 100 meter dari tembok sebelah barat. Selebihnya Tembok pemisah tersebut tertutup. jika suku Egaz keluar bukan pada waktu tertentu,, maka gelang yang mereka pakai akan terasa panas bagai api yang membara dan dapat memutuskan urat nadi mereka. Sungguh penindasan diluar akal sehat yang terus ditutupi oleh pemerintahan kota Learsi. Ini semua dilakukan agar suku Egaz tidak melakukan pemberontakan terhadap dewan kota. Semua kondisi ini akan berubah ketika anak-anak suku Egaz bertekad menjadi Penghancur Tembok, sesuai ramalan para leluhur mereka. Berikut kisahnya.
*****
*bersambung*
Penasaran? Tunggu kelanjutannya di Novel karya saya.
Pupuk yang telah 'jadi' dimasukan kembali ke dalam truk pengangkut, sesuai dengan bobot pupuk yang mereka buat, misal 1 kg pupuk maka 1 Sero uang yang mereka terima. 1 Sero hanya dapat ditukar dengan 1 cangkir air minum mineral. Bayangkan berapa banyak pupuk kandang yang harus mereka buat dalam sehari untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kaum Egaz, bau kotoran hewan yang datang adalah bau uang untuk menyambung hidup mereka.
Suku Egaz menukarkan uang tersebut di mesin makanan otomatis yang menempel disepanjang tembok sebelah barat, ibarat pasar modern ditengah keadaan yang memperhatinkan di balik tembok pembatas.
Baju-baju lusuh dengan bau tak sedap, bercampur keringat, serta terik matahari membakar kulit adalah hal yang biasa bagi mereka. Anak-anak suku Egaz, itulah sebutan mereka dengan usia 6 sampai 12 tahun, bermata biru, badan kurus dan mereka mengenakan gelang metalik di tangan sebelah kanan. Ada simbol '€' di tengah gelang.
Wilayah suku Egaz dikelilingi tembok pembatas dengan tinggi 4 meter, terbuat dari baja yang kuat, dan dialiri arus listrik di atasnya. Tembok pembatas hanya dapat terbuka ketika truk-truk kotoran hewan datang dengan muatan bertonase. Selain itu, tembok pemisah juga dapat terbuka ketika pagi dan siang hari yakni ketika anak dari suku Egaz pergi dan pulang menuntut ilmu di sekolah keterampilan kota Learsi yang letaknya 100 meter dari tembok sebelah barat. Selebihnya Tembok pemisah tersebut tertutup. jika suku Egaz keluar bukan pada waktu tertentu,, maka gelang yang mereka pakai akan terasa panas bagai api yang membara dan dapat memutuskan urat nadi mereka. Sungguh penindasan diluar akal sehat yang terus ditutupi oleh pemerintahan kota Learsi. Ini semua dilakukan agar suku Egaz tidak melakukan pemberontakan terhadap dewan kota. Semua kondisi ini akan berubah ketika anak-anak suku Egaz bertekad menjadi Penghancur Tembok, sesuai ramalan para leluhur mereka. Berikut kisahnya.
*****
*bersambung*
Penasaran? Tunggu kelanjutannya di Novel karya saya.
Diubah oleh ruprayo 06-11-2014 20:27
0
805
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya