Kaskus

Entertainment

humaediAvatar border
TS
humaedi
Kelapa Sawit di Lahan Gambut
emoticon-MatabeloHallo kaskusker ketemu lagi sama ane pemerhati kaskusemoticon-Matabelo

Sebagai negara tropis, Indonesia termasuk negara yang kaya akan hutan. Luas hutan Indonesia mencapai 132,5 juta hektare (ha). Dari luas hutan itu, 17–21 juta ha adalah hutan lahan gambut yang tersebar di 14 provinsi, di antaranya 7 juta ha di Papua, 4 juta ha di Riau, dan 3 juta ha di Kalimantan Tengah.

Spoiler for penampakan:


Kementerian Kehutanan (Kemenhut) RI mencatat hutan gambut di seluruh dunia meliputi 3 persen dari luas daratan, dan mampu menyimpan 550 gigaton karbon.Jumlah tersebut setara dengan 30 persen karbon tanah dan 75 persen dari seluruh karbon di atmosfer.

Sementara hutan dan rawa gambut Indonesia rata-rata menyimpan sekitar 2.650 ton karbon per hektare. Jika diakumulasi total karbon yang ditampung sekitar 46 gigaton.

Kondisi geografis seperti itu membuat Indonesia sering kali dituduh sebagai salah satu negara penyumbang emisi karbon tersebsar di dunia.Pasalnya, Indonesia dianggap tidak mampu memelihara hutan gambut dengan benar dan sering melakukan perusakan atau pembakaran hutan dan lahan gambut.

Basuki Sumawinata, pakar kehutanan dari Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI) menjelaskan, kebakaran hutan gambut disebabkan oleh pengelolaan hutan gambut yang tidak benar. Sebagai contoh, pembukaan lahan yang serampangan sehingga menyebabkan hutan gambut terbakar.

Dalam penyimpanan karbon, kata Basuki, hutan gambut mempunyai ciri sendiri.Hutan gambut menyimpan karbon pada biomassa tanaman.Penyimpanan karbon pada biomassa tanaman membuat hutan gambut mampu menyimpan karbon dalam jumlah lebih banyak.Tingginya cadangan karbon dalam lahan gambut memperlihatkan potensi lahan gambut sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca.

Berdasarkan penelitian dan pendalaman yang dilakukannya, Basuki Sumawinata berpendapat, pembukaan lahan gambut untuk HTI menghasilkan subsidensi tetapi tidak linier. Bila tinggi muka air dipertahankan tetap tinggi (40-80 cm) subsidensi berlangsung lambat. Hal itu terjadi karena pada awal pembukaan subsidensi yang terjadi berupa subsidensi fisik akibat kehilangan air dari ruang pori tanah.

Selain itu, berdasarkan data primer hasil penelitian selama satu tahun dinyatakan bahwa dekomposisi yang ditunjukkan dengan ukuran partikel tanah hanya berlangsung di bagian tanah permukaan. Sedangkan bagian yang dekat dengan permukaan air tidak berlangsung dekomposisi yang dicirikan oleh ukuran partikel tanahnya kasar.

Dengan demikian, Basuki Sumawinata menyimpulkan bahwa bila permukaan air
tanah dipertahankan tetap tinggi (40-80 cm) subsidensi bisa dijaga sangat rendah. Bahkan, bila serasah (daun dan ranting) tanaman kebun yang jatuh ke permukaan diperhitungkan subsidensi itu bisa sangat kecil (tidak terjadi)

Basuki juga menyatakan, tidak masalah (bahkan lebih disukai) lahan gambut dalam (> 3 m) dimanfaatkan untuk pertanian dan perkebunan termasuk kelapa sawit dan HTI Akasia Crassicarfa, asal melakukan pengelolaan air ketat. Artinya, mampu mempertahankan tinggi muka air yang rendah sekalipun di musim kemarau.

emoticon-Blue RepostCegah Kebakaran Gambutemoticon-Blue Repost

Spoiler for penampakan:


emoticon-NgakakKetebalan Gambutemoticon-Ngakak

Spoiler for HOT:


*) Catatan : Dikutip dari berbagai sumber.

http://agrolovers.wordpress.com/2014...-lahan-gambut/
Diubah oleh humaedi 16-08-2014 00:19
coffeaddict88Avatar border
coffeaddict88 memberi reputasi
-1
9.8K
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread•109.3KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.