- Beranda
- The Lounge
Esensi Puasa Yang Sebenarnya
...
TS
yaudahsih
Esensi Puasa Yang Sebenarnya
Spoiler for nope:
LANGSUNG AJA GAN!
Idul Fitri sebentar lagi tiba, dan umat Islam seluruh dunia akan merayakannya dengan penuh sukacita. Apakah kedatangannya akan memperkuat mental keberagamaan dan membangkitkan energi spiritual kita, tergantung bagaimana kita dalam menyikapi esensi puasa sebulan penuh itu.
Secara umum, para ulama menyimpulkan definisi puasa dengan ‘al-imsak’, yakni menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, seperti makan, minum, dan hubungan biologis sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Pengertian tersebut sebenarnya masih mengandung banyak kelemahan, terutama jika dihubungkan dengan orientasi berpuasa itu sendiri, yaitu mengupayakan pelakunya menjadi orang yang bertakwa. Akan tetapi, sebagaimana dapat kita saksikan dimana-mana, realitanya masih banyak orang ber-imsak atau berpuasa yang tidak bisa mencapai predikat takwa sebagaimana yang diharapkan Allah.
Seseorang yang menunaikan puasa Ramadan tak akan secara otomatis dapat mencapai derajat ketakwaan yang dimaksud Quran, bilamana mereka yang berpuasa tersebut di bulan-bulan berikutnya tetap menjalankan praktik maksiat, seperti berdusta, korupsi, zalim dan hal-hal kotor (munkarat) lainnya.
Idealnya, korelasi antara puasa dengan takwa bukanlah kausalitas, melainkan harus berupa hubungan sinergis. Artinya, mereka yang secara lahiriah berhasil “ber-imsak” akan dianggap sah puasanya jika senantiasa memelihara proporsionalitas serta kualitas individu-vertikal dan sosial-horizontalnya, melalui pengendalian diri yang ketat dan bersifat kontinuitas.
Tanpa sikap tersebut, tentunya kita masih akan terus menyaksikan umat Islam yang oleh Rasulullah disinyalir sebagai “orang-orang yang menjalankan puasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa, terkecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata”. Sinyalemen ini tentunya sangat wajar jika mereka yang berpuasa tidak dapat melakukan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs).
Makna Spiritual
Selama ini, nilai spiritual puasa yang dijanjikan dalam malam kemuliaan (lailatu al-qadar) sering berbenturan dengan realitas sosial, apalagi menjelang Idul Fitri, karena kekhusyukan i’tikaf (spiritual retreat) di sepuluh malam hari terakhir Ramadhan justru dinodai persiapan untuk memenuhi kebutuhan Lebaran. Padahal, ibarat seorang pelari di putaran akhir, orang puasa harus meningkatkan ibadahnya agar dapat meraih kemenangan Idul Fitri.
Yang dimaksud dengan hari kemenangan pada dasarnya adalah kemenangan nurani melalui manifestasi spiritualitas yang terwujud dalam upaya transformasi pengendalian diri yang sempurna, bukan dengan balas dendam untuk melampiaskan nafsunya kembali. Puasa akan mubazir bila dimensi spiritualnya tidak mampu mencerahkan problem sosial.
Seperti halnya meditasi, ibadah malam (qiyamu al-lail) saat Ramadhan sejatinya pengalaman spiritual yang ditempuh untuk membebaskan rohani dalam memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. Karena itu, jika puasa seseorang tidak diimbangi dengan olah batin guna memasuki wilayah realitas spiritual, maka puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja.
Secara psikologis, dimensi spiritualitas puasa memiliki keadaan kesadaran yang berubah (an altered state of consciousness). Kondisi ini diharapkan akan membuat persepsi seseorang terhadap regulasi dunia menjadi berubah.
Puasa merupakan ibadah yang melibatkan kesadaran, baik itu kesadaran lahir maupun bathin. Pada saat menahan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, maka kesadaran kita dituntut lebih peka terhadap kondisi sekitar.
Ketika bertarawih dan beri’tikaf, sekeliling kita adalah masjid yang sering digunakan untuk menghamba, sehingga memiliki vibrasi positif terhadap siapapun yang melakukan ritual di dalamnya. Getaran ini akan memudahkan kita untuk berkomunikasi langsung kepada Allah (ma’rifatullah).
Pada hakikatnya, puasa bukan semata-mata ibadah yang melibatkan jasmani, tetapi sekaligus ibadah rohani. Selain jasad, kita juga mengendalikan jiwa, yaitu berupa hawa nafsu kita.
Melalui terkurungnya hawa nafsu, maka akan memudahkan ruh untuk berserah diri (tawakkal) kepada Allah. Sehingga jiwa menjadi leluasa menstimulasi potensi spiritual untuk kembali kepada Allah. Kekuatan inilah yang akan mampu menangkap lailatul qadar. Sebab tidak mungkin memburu lailatul qadar dengan nafsu.
Dengan demikian, umat Islam harus menjaga mentalitas dan spiritualitas yang terbentuk selama Ramadan, karena keduanya termasuk esensi disyari’atkan ibadah puasa. “Laisa al-‘id liman libasa al-jadid, wa lakinna al-‘idu liman taqwa hu yazid” (Idul Fitri bukanlah bagi orang-orang yang mengenakan baju baru, tetapi bagi orang-orang yang taqwanya bertambah), yakni bagi mereka yang mempunyai semangat (ghirah) untuk terus menerus menjadi manusia yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih takwa. Semoga.
Bantu Share dan minta
sama 
Semoga kita semua bisa menikmati Ibadah Puasa ditahun depan nanti. Amin.

0
1.8K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•1Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya