- Beranda
- Berita dan Politik
Piyungan Penuh Sapi Pemakan Sampah
...
TS
besijaro1
Piyungan Penuh Sapi Pemakan Sampah
Melambungnya harga sapi menjelang Hari Raya Kurban membuat pemilik sapi mulai tergerak menjual hewan peliharaannya. Salah satunya adalah pemilik- pemilik sapi di kawasan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Piyungan.
Sapi-sapi di lokasi pembuangan sampah tersebut laku keras, pasalnya harga sapi dari daerah tersebut cenderung lebih murah karena diduga sapi mereka memakan sampah. Muhadi, 40, salah seorang pemilik sapi mengungkapkan setiap ekor sapi pemakan sampah dihargai Rp7–8 juta. Harga ini jauh lebih murah, karena untuk sapi peternak biasa bisa mencapai Rp12 juta per ekor. Hal inilah yang membuat sapisapi di lokasi tersebut laku keras di pasaran. “Di sini ada ratusan sapi yang makan sampah. Permintaan sapi di sini terus meningkat menjelang lebaran ini,” kata Muhadi.
Meski memakan sampah, Muhadi membantah sapi peliharaan mereka tidak sehat. Karena sapi mereka tidak pernah sakit, bahkan kondisinya lebih gemuk dibanding sapi lainnya. Beberapa kali warga di TPA juga pernah merasakan daging sapi yang mereka pelihara namun tidak pernah mengeluhkan sakit. Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Feteriner (Kesmafet) Witanta, menjelaskan pihaknya sampai saat ini terus mengawasi jangan sampai peredaran daging sapi pemakan sampah beredar di pasaran.
Setiap bulan dari Dinas Pertanian dan Peternakan melakukan sosialisasi kepada masyarakat lewat Kecamatan maupun pedukuhan. Tentang bagaimana memilih daging yang sehat, menurutnya daging yang sehat mempunyai syarat aman, sesat, utuh, dan halal (ASUH). “Saya imbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih daging, jangan sampai daging tidak sehat dikonsumsi,” kata Winanta.
Ia menjelaskan bahwa larangan mengonsumsi daging sapi pemakan sampah karena dagingnya banyak mengandung besi tinggi dan pembawa penyakit, akibat memakan berbagai jenis sampah. Sehingga jika sampai di konsumsi oleh manusia sangat tidak baik untuk kesehatan. “Meskipun keadaan sapi sehat, tetap tidak boleh dikonsumsi,” ucapnya. Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul mengimbau kepada masyarakat terkait adanya penyakit Tubbercholosis (TBC) pada hewan kurban.
Meski belum ada kasus yang ditemukan, namun masyarakat diimbau untuk waspada pasalnya TBC hewan dapat menular ke manusia. Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Dispertahut Bantul Agus Riyatmadi MSi menuturkan, TBC pada hewan merupakan penyakit radang paru-paru. Ketika kontak dengan manusia bisa menular karena TBC ini merupakan bakteri. Hewan yang terinfeksi TBC tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun harus melalui uji khusus laboratorium.
“Kami berharap pada Idul Adha saat ini juga bebas dari TBC hewan dan antraks,” katanya didampingi Kepala Seksi P4H (Pengamatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan) Drh Wisnu Sukmono. Meski demikian, gejala luar hampir sama seperti gejala TBC manusia seperti batuk-batuk bahkan disertai keluar darah, sering keluar ingus, nafsu makan turun, dan mata berair. Dikhawatirkan akan menular ke manusia meskipun belum ditemukan di Bantul.
“Kami imbau kepada warga untuk tidak perlu membeli hewan dengan kondisi seperti ini. Sebaiknya jika menjumpai hewan kurban dengan gejala ini, segera laporkan ke dinas untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.
http://www.koran-sindo.com/node/334181


Piyungan memang penuh sapi pemakan sampah
Sapi-sapi di lokasi pembuangan sampah tersebut laku keras, pasalnya harga sapi dari daerah tersebut cenderung lebih murah karena diduga sapi mereka memakan sampah. Muhadi, 40, salah seorang pemilik sapi mengungkapkan setiap ekor sapi pemakan sampah dihargai Rp7–8 juta. Harga ini jauh lebih murah, karena untuk sapi peternak biasa bisa mencapai Rp12 juta per ekor. Hal inilah yang membuat sapisapi di lokasi tersebut laku keras di pasaran. “Di sini ada ratusan sapi yang makan sampah. Permintaan sapi di sini terus meningkat menjelang lebaran ini,” kata Muhadi.
Meski memakan sampah, Muhadi membantah sapi peliharaan mereka tidak sehat. Karena sapi mereka tidak pernah sakit, bahkan kondisinya lebih gemuk dibanding sapi lainnya. Beberapa kali warga di TPA juga pernah merasakan daging sapi yang mereka pelihara namun tidak pernah mengeluhkan sakit. Sementara itu Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Feteriner (Kesmafet) Witanta, menjelaskan pihaknya sampai saat ini terus mengawasi jangan sampai peredaran daging sapi pemakan sampah beredar di pasaran.
Setiap bulan dari Dinas Pertanian dan Peternakan melakukan sosialisasi kepada masyarakat lewat Kecamatan maupun pedukuhan. Tentang bagaimana memilih daging yang sehat, menurutnya daging yang sehat mempunyai syarat aman, sesat, utuh, dan halal (ASUH). “Saya imbau kepada masyarakat untuk berhati-hati dalam memilih daging, jangan sampai daging tidak sehat dikonsumsi,” kata Winanta.
Ia menjelaskan bahwa larangan mengonsumsi daging sapi pemakan sampah karena dagingnya banyak mengandung besi tinggi dan pembawa penyakit, akibat memakan berbagai jenis sampah. Sehingga jika sampai di konsumsi oleh manusia sangat tidak baik untuk kesehatan. “Meskipun keadaan sapi sehat, tetap tidak boleh dikonsumsi,” ucapnya. Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dispertahut) Bantul mengimbau kepada masyarakat terkait adanya penyakit Tubbercholosis (TBC) pada hewan kurban.
Meski belum ada kasus yang ditemukan, namun masyarakat diimbau untuk waspada pasalnya TBC hewan dapat menular ke manusia. Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Dispertahut Bantul Agus Riyatmadi MSi menuturkan, TBC pada hewan merupakan penyakit radang paru-paru. Ketika kontak dengan manusia bisa menular karena TBC ini merupakan bakteri. Hewan yang terinfeksi TBC tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, namun harus melalui uji khusus laboratorium.
“Kami berharap pada Idul Adha saat ini juga bebas dari TBC hewan dan antraks,” katanya didampingi Kepala Seksi P4H (Pengamatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan) Drh Wisnu Sukmono. Meski demikian, gejala luar hampir sama seperti gejala TBC manusia seperti batuk-batuk bahkan disertai keluar darah, sering keluar ingus, nafsu makan turun, dan mata berair. Dikhawatirkan akan menular ke manusia meskipun belum ditemukan di Bantul.
“Kami imbau kepada warga untuk tidak perlu membeli hewan dengan kondisi seperti ini. Sebaiknya jika menjumpai hewan kurban dengan gejala ini, segera laporkan ke dinas untuk ditindaklanjuti,” tandasnya.
http://www.koran-sindo.com/node/334181


Piyungan memang penuh sapi pemakan sampah

0
5.5K
51
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695KThread•58.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya