Mengenal Seluk Beluk Quick Count, Real Count, dan Exit Poll
TS
OdeRabbanie
Mengenal Seluk Beluk Quick Count, Real Count, dan Exit Poll
Mudah-mudahanNO
Spoiler for CEK DULU:
Hola agan-agan, gimana 9 Juli kemarin udah pada nyoblos kan? Nah biasanya sih agan abis nyoblos langsung mantengin TV buat liat hasil QUICK COUNTbuat liat jagoan presiden agan menang apa kagak . Tapi waktu nyalain TV ternyata kita malah dibuat bingung sama hasil quick count yangg ditayanggin di TV ternyata beda-beda Yang di Metromini TV menangin pasangan Nomor urut 2, sedangkan di TV Wan menangin pasangan nomor urut 1
Spoiler for BERITA:
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Guru besar Ilmu Politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf mengimbau masyarakat untuk menunggu penetapan resmi perolehan suara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) dengan tenang.
"Kedua capres sebaiknya juga memberikan pemahaman yang baik ke pendukung masing-masing untuk lebih tenang menunggu keputusan resmi KPU," kata Maswadi di Depok, Kamis (10/7).
Sebelumnya, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla saling klaim kemenangan. Setelah sebelumnya, berbagai lembaga survei mengumumkan hasil hitung cepat (quick count) yang beragam.
Maswadi menegaskan, hasil hitung cepat lembaga survei bukan hasil akhir. Melainkan hanya patokan untuk menilai.
Menurutnya, perbedaan hasil hitung cepat itu memang membingungkan masyarakat. Karenanya, salah bila ada yang merasa menang hanya karena melihat hasil hitung cepat itu. Karena hasil hitung cepat itu bukan hasil resmi.
"Kalau menang hitung cepat lalu mereka beranggapan sudah menjadi presiden. Nah, ini yang berbahaya. Karena berlebihan dan bisa menghasut para pendukung di tingkat bawah," katanya.
Karenanya, kata Maswadi, masyarakat sebaiknya menunggu hasil resmi perolehan suara dari KPU yang akan diumumkan pada 22 Juli 2014.
Karena, kata dia, bisa saja hasil resmi dari KPU itu berbeda dengan hasil hitung cepat. Untuk itu perlu kebesaran hati serta lapang dada menerimanya.
"Jangan sampai mengorbankan rakyat sebagai tumbal dari ambisi kekuasaan. Bagi yang menganggap menang sebaiknya menahan diri dan tidak euforia yang dapat memicu konflik," katanya.
Maswadi menambahkan, jadwal pengumuman resmi perolehan suara KPU pada 22 Juli 2014 sebenarnya terlalu lama.
"Seharusnya penghitungan suara bisa dilakukan paling tidak seminggu. Kalau perlu lima hari, karena kalau isunya semakin lama maka semakin tidak menentu dan semakin panas," katanya.
Ia mengatakan perkembangan teknologi informasi sudah canggih dan semakin mudah menyelesaikan penghitungan suara.
Mungkin agan-agan ada yang bingung kenapa quick count bisa sangat cepat menunjukan hasil pemilu, ibarat kita baru pulang abis nyoblos, di TV langsung keluar hasil pemilunya. Nih gan penjelasannya seputar quick count daripada ribut-ribut debatin siapa pemenang pilpres
APA ITU QUICK COUNT?
Spoiler for APA ITU QUICK COUNT?:
Quick count adalah prediksi hasil pemilu berdasarkan fakta bukan berdasarkan opini. Karena itu ia tidak sama dengan jajak pendapat terhadap pemilih yang baru saja mencoblos atau yang biasa disebut exit poll. Untuk kepentingan quick count ribuan relawan diturunkan untuk mengamati pemilu secara langsung demi memperoleh informasi yang diperlukan. Mereka mencatat ke dalam formulir yang telah disediakan mengenai informasi proses pencoblosan dan penghitungan suara di TPS yang diamati, termasuk perolehan suara masing-masing kandidat. Setelah selesai mereka akan menyampaikan temuan-temuannya ke pusat data (data center).
Meski hasil quick count lebih presisi ketimbang survei pra-pemungutan suara, biasanya, paling besar selisihnya 1 persen. Namun, pengambilan sampel suara di TPS yang dipilih secara acak untuk memproyeksi hasil perolehan suara sebenarnya, seringkali menimbulkan kesalahan (error).
Batas kesalahan (margin of error) bisa ditetapkan oleh masing-masing peneliti/lembaga, tergantung dari seberapa banyak sampel TPS yang akan diambil. Semakin banyak sampel TPS yang diambil, semakin kecil margin of error sebuah hasil quick count.
Prediksi quick count akan akurat apabila berdasarkan metodologi statistik dan penarikan sampel yang ketat. Multistage random sampling merupakan teknik penarikan sampel yang sering digunakan dalam melakukan quick count.
Spoiler for SEJARAH QUICK COUNT:
Quick count atau penghitungan cepat atau sebagian kalangan menyebutnya exit poll pertama dilakukan pada tahun 1986 di Pemilu Philipina. Sebuah LSM yang bernama NAMFREL melaksanakan PVT (parallel vote tabulation) yaitu pencatatan atau penabulasian secara paralel hasil penghitungan suara pemilu.
Spoiler for SEJARAH QUICK COUNT DI INDONESIA:
Sejarah
Di Indonesia, metode quick count sebenarnya sudah dilaksanakan sejak pemilu 1997 dan pemilu 1999 oleh LP3ES. Namun waktu itu LP3ES tidak terlalu mempublikasikan secara besar-besaran hasilnya. Seiring berjalannya waktu, teknik yang digunakan dalam quick count semakin berkembang. Dengan menggunakan prinnsip dasar statistika, penyelenggara quick count tidak perlu menempatkan orang di setiap TPS. LP3ES menyebutkan quick count atau penghitungan suara cepat adalah proses pencatatan hasil perolehan suara di ribuan TPS yang dipilih secara acak.
Quick Count 2004
Jakarta - Tim kampanye Mega-Hasyim membuat perhitungan cepat (quick count) 'tandingan'. Menurut quick count yang diadakan TVRI bekerja sama dengan Institute for Social Empowerment and Democracy, Mega menang tipis atas SBY. Hasil perhitungan cepat ini disampaikan Sekretaris Tim Kampanye Mega-Hasyim Heri Akhmadi dalam jumpa pers di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Senin (20/9/2004) pukul 16.00 WIB. Menurut Heri Akhmadi, berdasarkan perhitungan suara di 1.264 TPS yang jadi sampel duet Mega-Hasyim meraih 131.421 suara atau 50,07% dan SBY-Kalla meraih 131.051 suara atau 49,93% Sebelumnya menurut quick count The National Democratic Institute (NDI) dan LP3ES, yang telah merampungkan perhitungan 40% dari 2.000 TPS yang disurvei, SBY unggul relatif besar dengan perolehan suara 62%, sedangkan Mega 38%.
SKEMA QUICK COUNT
Quote:
PERBEDAAN QUICK COUNT, REAL COUNT DAN EXIT POLL
Quote:
Quick Count :
TIdak semua TPS dihitung, hanya sebagian aja sebagai sampel data. misal dari 2000 TPS yang diambil hanya dari 200 TPS
penyenggara biasanya lengkap dengan tim yang disebarkan ke semua sample TPS
harga sangat mahal berkisar ratusan juta sampai miliaran, karena sudah termasuk jasa honor utk SDM.
Hasil cepat diketahui sekitar jam 2 siang, karena hanya sedikit data
Hasil tentu tidak akurat 100% bahkan dibeberapa kejadian seperti di pilkada sumsel dan jatim, data hasil quick count pilkada jawa timur berbeda 180 derajat.
penyelenggara hanya melaporkan data total, tidak bisa data detail per TPS.
lebih cocok utk media massa seperti TV dan calon2 peserta pilkada.
Real Count:
target semua TPS dihitung, artinya data adalah 100% dari semua TPS, bukan sample
penyelenggara quick count hanya menyediakan software dan tim untuk jaga sistem, sedangkan tim untuk pengiriman data dikirim oleh saksi yang telah ada
harga jauh lebih murah karena penyelenggara tdk perlu menyiapkan dan membayar relawan di TPS-TPS
hasil 100% biasanya selesai malam hari, ini karena tidak semua saksi bisa kirim sms, ada yang telepon atau masalah sinyal hp di desa2.
hasil lebih akurat karena data dari semua TPS.
Bisa dicetak data per TPS, per kelurahan dan per kecamatan
lebih cocok utk calon2 peserta pilkada atau KPU atau Help Desk pemerintah kabupaten/kota atau bisa juga dari kepolisian.
Exit Poll:
Sementara, Exit poll adalah metode mengetahui opini publik yang dilakukan sesaat setelah keluar dari bilik suara. Exit poll dapat dilakukan tanpa harus menunggu TPS tutup. Sehingga, riset jenis ini bisa lebih cepat diketahui hasilnya dibandingkan quick count.
Namun, meski punya kelebihan mengetahui hasil lebih cepat, hasil exit poll cenderung kalah presisi ketimbang quick count. Hal ini karena exit poll menjadikan pemilih sebagai sampel, sedangkan sampel quick count adalah suara riil di TPS. Artinya, pemilih bisa saja tidak jujur atau merahasiakan jawabannya kepada peneliti.
Nah, semoga thread ini bermanfaat menambah wawawasn agan tentang pemilu ini, jangan sampai kita mudah terprovokasi oleh info-info yang tidak sesuai fakta, marilah kita lebih arif dengan menunggu tanggal 22 saat KPU menyatakan siapa pemenang sebenarnya dari pertarungan pilpres ini. Siapapun yang terpilih itulah presiden kita, tanpa perlu kita menghujat dan meledek atau mengeluarkan perkataan2 yang hanya untuk menutupi rasa tidak pede bahwa belum tentu calon yang kita dukung adalah pemenangnya.