prd0000Avatar border
TS
prd0000
[GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?
Thread ini benernya ga ada hubungan sama pilpres, tapi hari terakhir, ane pengen bagi cara cara bagaimana kita menyikapi tindakan tindakan prabowo dan jokowi, supaya tidak tertipu yang namanya black campaign, janji palsu, omong kosong, fitnah, dan seterusnya.

Ane udah sering urusan sama orang, baik pegawai, anak buah, atasan, client, supplier, dan seterusnya. Ane udah biasa denger janji janji muluk, yang tiba tiba bodong, maupun janji yang ditepati. Atau client yang bohong bohong soal tawar menawar, supaya mendapatkan fasilitas lebih, atau atasan yang ngotot bilang si A bisa begini, si B bisa, atau anak buah yang ngumpet ngumpetin kerjaan. Karena itu, ane disini pengen bagi, bagaimana cara membaca kedua capres tersebut.
  1. Rule pertama disini, adalah apa yang didengar, diilihat, dan dibaca, anggap sebagai angin lalu. Yang perlu dilihat, adalah konteksnya. Ini adalah rule terpenting, karena inilah yang banyak tersebar sekarang. Contoh pada waktu debat kemarin, ada perbedaan mendasar dari cara menjawab jokowi dan Prabowo. Ane ambil bagian pertanian saja ya.. lainnya, agan interpretasikan sendiri.
    • Prabowo: Saya akan membuka 2 juta hektar lahan. Apakah pak Jokowi sependapat?
      Apa konteksnya?
      1. Dia mencari pengakuan, dia tidak percaya diri, dan orang yang tidak percaya diri biasanya selalu mengambang, tidak tegas. Ane tahu, kampanye dia adalah orang yang tegas, tetapi dari kalimat itu, Prabowo adalah orang yang keras, bukan tegas. Dia otoriter, bukan tegas. Sebaliknya, dia tidak bisa tegas.
      2. Dia ambisius. Mimpinya tinggi. Dia memikirkan hal hal yang besar.
      3. Apakah Prabowo akan memberikan 2 juta lahan? emoticon-Ngakak (S) omong kosong.
    • Jokowi: Kita ga bisa asal buka buka 2 juta hektar aja, harus realistis, irigasinya mana? lahannya mana? Seperti Papua juga sudah membuka lahan, tetapi ga bisa dipake. Akhirnya sia sia
      Kalimat itu, banyak yang bisa ditangkap.
      1. Dia penuh perhitungan. jangan harap dia mau melangkah kalau perhitungannya tidak matang. Karena itu ane juga ga yakin yang pas dia salah omong di Indramayu. Bukan jokowi kalau dia salah omong. Antara dia sengaja memancing, atau dia memang tidak pernah ngomong. Tidak sesuai dengan trait dia.
      2. Pesimis? Ada kemungkinan. Tetapi belum pasti.
      3. Dia memperhatikan situasi dan kondisi. Ini sebetulnya berhubungan trait dengan nomor satu. Orang yang penuh perhitungan, biasa mencari tahu dulu situasi dan kondisi sebelum menentukan keputusan. Terbukti dia mau melihat ke Papua untuk memperhitungkan kondisi di sana.
      4. Dia tidak mudah percaya dengan omongan orang. Trait ini lah yang membuat trademark "blusukan" dia. Karena dia tidak percaya pada apa yang dilakukan anak buahnya. Kalau dari track record, dia percaya setelah melihat beberapa lama, tetapi itu tidak bisa dilihat dari statement ini. Maksudnya, statement diatas tidak menunjukkan apakah dia bakal percaya atau tidak, tetapi jelas, bahwa awalnya dia tidak percaya pada anak buahnya.
      5. Apakah itu berarti Jokowi mau membuat 1 juta hektar plus irigasinya? Hahahaha... Preeettttt

    Lalu, mengenai janji keduanya untuk tidak bagi bagi kursi? emoticon-Ngakak (S) Dunia tidak seindah kakus di WC gan. Karena itu kita sampai pada rule nomor 2.

  2. Jangan pernah percaya pada tulisan dan omongan dari tim mereka. Anggap saja omong kosong. Saring semua tulisan tulisan, dan baca hal hal yang pasti konkrit. Contoh hal konkrit, misalnya: Perjanjian yang sudah ditandatangani, Kontrak, dan kepentingan kepentingan yang bermain. Mereka jelas mengatakan segala sesuatu demi tokoh yang didukung karena mereka punya kepentingan disana. Jadi omongan mereka juga omong kosong.

    Ingat gan, kemungkinan terburuk adalah manusia manusia tersebut egois. Pada waktu itu terjadi, mereka akan mengutamakan kepentingan mereka masing masing. Itu sudah habitat manusia. Self Preservation.
    Karena itu jangan percaya kalau mereka berdua tidak bagi bagi kursi. Ada 2 macam kontrak politik yang bisa dibuat. Pertama, menguntungkan rakyat Indonesia. Kontrak ini adalah kontrak imaginary. Dalam artian, menguntungkan bukan bagi penanda tangan kontrak. Ini adalah jenis kontrak yang paling sulit dipegang pelaksanaannya. Contoh, kontrak CSR yang ada di Jakarta. Kontrak pajak. Kalau ngga diuber uber, siapa yang mau kasih gratis? Jenis kontrak yang kedua adalah kontrak yang mutual, artinya menguntungkan kedua pihak. Dalam hal ini, pihak capres dan pihak kedua. Dalam hal ini, ada kepentingan pihak kedua yang bermain, yang sejalan dengan kepentingan pihak pertama. Nah, kalau ada 2 kepentingan seperti ini, percayalah bahwa kontrak yang menguntungkan diri mereka sendiri, PASTI akan dilakukan oleh pihak lain tersebut, dan belum tentu demikian halnya dengan kontrak yang menguntungkan rakyat Indonesia. 100% pasti untuk kontrak kepentingan pribadi, dan 50-50 untuk kepentingan rakyat.

    Nah, bagaimana mengimplementasikan rule ini?
    Pertama kita lihat kontrak kontrak politik apa yang diambil, dan siapa yang ikut kontrak tersebut. Apa kepentingan mereka dalam kontrak politik tersebut? Ane kasih contoh satu saja.
    • Prabowo: Kontrak dengan FPI, Ical, dll. FPI jelas, punya kepentingan yang mereka tidak ragu ragu menutupi, adalah mengganti UUD45/Pancasila dengan Syariat Islam di Indonesia. Ical, jelas.. bisnis dia. Uang sesedikit mungkin, dan hasil semaksimal mungkin. Dan melihat Lapindo, bisa kita tambahkan "dengan cara apapun" disana.
    • Jokowi: Anies Baswedan, Adian Napitupulu, dll. Anies tentu saja kepentingannya adalah Indonesia Mengajar, dan Adian Napitupulu jelas dia ingin Mei 1998 dibuka kembali untuk membalas dendamnya pada siapapun yang sudah mengusik dia karena dia korban.

    Itu baru 2 anggota koalisi. Silahkan diteruskan sendiri. Demi kepentingan mereka, kadang kadang motivasinya sedemikian kuat, sehingga mereka melakukan fitnah, merubah fakta, menyebarkan berita bohong, dsb. Kita sampai pada rule berikut

  3. Sekali lagi, jangan percaya pada media. Apapun yang disiarkan media. Percayalah pada video kejadian, bukan dari liputan wartawan, melainkan omongan dan tindakan dari capres/cawapres itu sendiri. Itupun, perlakukan sesuai rule nomor 1. Jangan percayai omongannya, melainkan perhatikan substansinya.

    Contoh, misalnya, pada waktu anda melihat orang timpuk timpukan di belakang, dan wartawan berkata bahwa pendukung Prabowo melempari pendukung Jokowi-JK dengan batu, yang ada di benak agan semua haruslah "ada timpuk timpukan antara pendukung prabowo dan jokowi" dan bukan "pendukung prabowo menimpuki pendukung jokowi" walaupun penyiar mengatakan demikian. Mengapa? Karena ada kepentingan media disini.

    Yang agak sulit untuk disaring adalah apa yang dilakukan oleh TVOne. Menyewa orang sebagai saksi palsu. Dalam hal ini, kita harus melihat track record lain dari TV tersebut. Beberapa yang tahu kondisi lapangan mungkin bisa tahu bahwa itu saksi palsu, seperti yang mengatakan Ical pahlawan orang miskin, ane tahu jelas dari sodara sodara ane yang rumahnya hancur di Sidoarjo, bahwa siaran yang menguntungkan prabowo tersebut hoax. Tetapi bagi yang tidak tahu, memang agak sulit diverifikasi, selain datang sendiri ke tempat. Kalau perlu, kedua TV yang mendukung penuh calon, hapuskan dari daftar. MetroTV dan TVOne.

    Kalau ada pidato capres/cawapres di belakang yang disiarkan, pada waktu diputus, jangan percaya begitu saja. Tutup omongan penyiar, dan kemudian cari video kelanjutan pidato tersebut, sehingga kita mendengarkan secara utuh, kemudian perlakukan sesuai rule nomor 1.

    Setelah rule rule yang tidak boleh dipercaya, kita akan lihat, bagaimana rule rule yang bisa dipercaya

  4. Perhatikan tindakan keduanya, dan bandingkan kebiasaannya. Segala sesuatu yang spontan, dan lancar, itulah habitat mereka yang sebenarnyaContoh Prabowo yang kaku sewaktu bertemu massa, vs jokowi yang spontan. Atau Prabowo yang fasih berurusan dengan diplomasi, vs jokowi yang terbata bata dalam bahasa inggris.

    Kalau mereka kaku, artinya mereka tidak terbiasa, terlepas pemikiran jokowi yang briliant, tetapi dia tidak bisa mengkomunikasikan hal itu terhadap asing, vs Prabowo yang lancar menjelaskan plan plannya kepada pihak asing.

    Atau prabowo yang jogetnya rada kikuk, vs Jokowi sewaktu di konser 2 jari yang spontan. Itu artinya, Prabowo tidak terbiasa berjoget joget bersama rakyat, sedangkan Jokowi memang terlihat biasa berbaur dengan rakyat. Artinya, prabowo melakukan pencitraan, dan jokowi adalah kebiasaan.

    Contoh lain yang ramai dibahas, adalah waktu Jokowi memberikan kursi diam diam kepada orang lain, dan baru ketahuan waktu diceritakan oleh orang gerindra sendiri yang membelot. Atau seseorang yang bercerita di twitter dia kalau dia melihat Pak Jokowi melihat pengerukan malam hari sendirian. Ane sendiri melihat dia jongkok di pinggiran jalan sudirman otak atik acian MRT, tanpa ada yang menggubris dia. Ga ada yang berhenti, ga ada yang lihat kalau ga diperhatikan. Dan Prabowo yang tertangkap kamera tidak mau cipika cipiki sama Jokowi. Itulah sikap asli mereka. Itu adalah tindakan spontan mereka, dan itulah memang habitat dan sifat mereka.

    Ingat, hal hal yang kecil, yang tidak banyak diperhatikan, akan bercerita lebih jujur daripada hal hal yang besar yang diexpose media.

  5. Percayalah pada gambar dan video, walaupun hoax, mereka akan menceritakan sesuatu.
    Hoax mudah dibuat di gambar, tetapi lebih sulit untuk video. Karena itu, ane akan ajarin cara untuk melihat, gambar mana yang hoax, dan bagian mana yang hoax
    Tool: http://fotoforensics.com/
    Penjelasan lengkap bisa dilihat di Infosec Institute

    Tetapi untuk gampangnya, coba perhatikan foto ini:

    [GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?
    [GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?

    ini adalah foto asli:
    [GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?

    Nah, lihat dimana bedanya? Ada sebuah bagian yang berwarna beda pada ELA. Dengan demikian, kita bisa ambil kesimpulan bahwa tumpukan di kanan tersebut adalah hasil penambahan.

    Atau yang lebih subtle, seperti ini:

    [GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?
    [GUIDE] Myth and Fact, Truth and Lies, bagaimana membedakannya?

    Tahukah dimana bedanya? Kelihatannya merata, tetapi ELA yang berubah tersebut melakukan outlining. Ini adalah kebiasaan Photoshop, yang akan melakukan sharpening tanpa disengaja.

    Dengan demikian, kita bisa melihat, bagian mana yang ditambahkan dan dirubah dari sebuah foto. Jadi kita bisa melihat, apabila bagian tersebut dihapus, apa yang ditutupi? Atau apa yang bisa didapat dengan menambahkan bagian bagian tersebut?


Semoga guide ini bisa membantu memilah mana yang black campaign, mana yang benar, mana yang hoax, dan mana yang bukan.
0
3.5K
55
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Pilih Capres & Caleg
Pilih Capres & Caleg
KASKUS Official
22.5KThread3.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.