- Beranda
- Berita dan Politik
(NON-COPRAS CAPRES) Satu lagi pemuda Indonesia berprestasi di LN
...
TS
slurppy
(NON-COPRAS CAPRES) Satu lagi pemuda Indonesia berprestasi di LN
Satu lagi pemuda Indonesia berprestasi di LN
sumber:
http://australiaplus.com/indonesian/...aputra/1329890
Dari Australia Menuju Dunia – Pengalaman Alexander Senaputra
Diperbaharui 24 June 2014, 10:42 AEST
Sumbangan Tulisan Alexander Senaputra
Kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Bagi Alexander Senaputra, negeri itu adalah Australia. Menyelesaikan studi dan master dan doktoral di Universitas Curtin di Perth, alumni ITB ini membagi pengalamannya yang beda tak biasa selama belajar di Australia.
Setelah menamatkan studi sarjana teknik pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB), saya mendapatkan kesempatan beasiswa magister (Master by Research) di bidang ilmu pengolahan mineral di Murdoch University, bekerja paruh waktu sebagai asisten riset.
Inilah saat-sulit karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan pada saat bersamaan harus bisa menguasai hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Salah satu kelemahan dalam sistem pengajaran ilmu teknik di Indonesia adalah minimnya kesempatan mahasiswa menggunakan alat-alat riset untuk aplikasi industri. Akibatnya, banyak waktu yang mesti saya luangkan untuk mengejar ketertinggalan Namun kesempatan itulah yang mengubah hidup saya.
Saat hampir menyelesaikan studi magister, saya mendapat dua tawaran: yang pertama, meng-upgrade studi dari magister langsung menjadi doktoral atau bekerja untuk industri.
Waktu itu saya tidak berpikir opsi pertama karena mendapat tawaran untuk bekerja di pabrik pengolahan nikel kedua terbesar di dunia. Saya tentu tidak bisa menolaknya. Tidak lama kemudian, terjadi krisis finansial global tahun 2008 dan pabrik nikel tersebut terpaksa dihentikan operasinya.
Karena ingin mendapatkan pengalaman industri, opsi yang tersisa hanyalah pulang dan mencari kerja di Indonesia. Satu-satunya tawaran bekerja yang saya dapatkan adalah dengan perusahaan konsultan batubara lokal dan itu pun saya terima tanpa berpikir apa peran serta berapa pendapatan saya.
Bergabung dengan status lulusan Australia tidak banyak membantu pada saat itu. Awalnya, saya juga memulainya seperti orang lain, termasuk menjadi sampler dan preparator batubara dimana berjam-jam setiap harinya tugas saya adalah menyekopi batubara dari tumpukannya untuk kemudian dianalisa sifat fisika dan kimianya.
Pada saat itu, yang ada di pikiran saya adalah untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin serta belajar sebanyak mungkin. Dalam waktu 6 bulan, saya diangkat menjadi staf pribadi presiden direktur dan dalam kurang dari 1,5 tahun, saya sudah pernah ditempatkan di 3 divisi: batubara, mineral dan logistik serta mengetahui hampir seluruh aspek operasional perusahaan tersebut.
Di saat itulah datang tawaran beasiswa untuk studi doktoral di bidang pengolahan bauksit dari Curtin University. Dalam studi doktoral ini, temanya adalah aplikasi bahan kimia dalam pemisahan residu hasil pengolahan bauksit dan proyeknya sendiri merupakan kerja sama antara Curtin University dan CSIRO.
CSIRO merupakan lembaga penelitian terbesar di Australia karena didanai pemerintah dan juga terkenal akan kualitas risetnya, seperti teknologi Wi-Fi tawaran yang tentu saja terlalu bagus untuk ditolak.
Pilihan itu tidaklah salah karena dengan keterlibatan di sana, saya mendapat banyak penghargaan. Beberapa yang paling prestisius adalah: saya menjadi satu-satunya kandidat doktor asal Australia yang pernah diundang ke Kursus Musim Panas BASF di Jerman (International PhD Summer Course di Jerman,). Selain itu juga saya mendapatkan beasiswa MERIWA yang diserahterimakan langsung oleh Menteri Pertambangan dan Energi Australia Barat serta memenangi penghargaan riset terbaik dalam kategori alumina dan bauksit pada konferensi TMS Annual Meeting 2013 di Amerika Serikat.
BASF International PhD Summer Course merupakan kegiatan tahunan dimana BASF sebagai perusahaan kimia terbesar di dunia mengundang 100 kandidat doktor yang dianggap paling potensial di bidang kimia dan fisika. Selain saya, belum pernah ada kandidat doktor dari Australia yang pernah diundang.
Pengalaman menghadiri serah terima beasiswa langsung dari seorang menteri juga tidak terlupakan. Khusus untuk penghargaan dari TMS, tahun sebelumnya penghargaan tersebut dianugerahkan kepada wakil direktur divisi riset perusahaan aluminium terbesar di dunia dan sangat kecil sekali kemungkinan seorang pelajar dianugerahi penghargaan tersebut.
Banyak yang tidak tahu bahwa selain berusaha menyelesaikan kuliah doktoral, saya masih mengisi waktu luang dengan bekerja paruh waktu serta belajar subyek lainnya, mineral ekonomik. Saya bekerja freelance untuk 2 perusahaan tambang dan konsultan di Indonesia untuk mengumpulkan uang untuk membiayai studi semester terakhir.
Studi saya membutuhkan bahan kimia serta alat yang khusus dan dibutuhkan waktu 6 bulan bagi saya untuk mendapatkan keduanya. Hal inilah yang membuat studi saya terlambat dan keterlambatan ini tidak dibiayai oleh beasiswa saya. Tanpa bekerja paruh waktu dan ditolong oleh beberapa perusahaan, saya tidak akan pernah menyelesaikan studi doktoral saya.
Ketika sepi pekerjaan, saya menghabiskan waktu luang dengan meminjam buku untuk belajar mineral ekonomik secara otodidak. Australia adalah salah satu negara dimana kita bisa pergi ke perpustakaan umum dan menggunakan segala fasilitasnya untuk mempelajari apa yang kita mau.
Ketika bekerja di Indonesia sebagai staf pribadi presiden direktur, saya belajar bahwa memahami hal-hal teknikal saja tidak cukup dalam industri pertambangan. Pengetahuan yang luas akan aspek bisnis dan regulasi menjadi kunci dalam melihat peluang dan beradaptasi atas perubahan. Hasil pemikiran di bidang ini, acapkali diterbitkan di surat kabar seperti Jakarta Post, Bisnis Indonesia, dan yang lainnya.
Di luar semua itu, saya pun aktif berorganisasi untuk mengembangkan personal network termasuk di organisasi profesi maupun di organisasi kepemudaan. Saya pernah menjadi orang termuda yang menjadi pembicara tunggal di forum ahli pertambangan Australia. Sebagai wakil ketua negara bagian PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia), saya berkesempatan berkenalan dan belajar dari orang-orang hebat, seperti saat mengundang Prof. Yohanes Surya.
Saat ini disertasi saya sedang diperiksa sebagai syarat kelulusan, sementara itu ia bekerja di salah satu perusahaan kimia di Connecticut, Amerika Serikat. Saya menjadi satu dari sedikit researcher yang mendapat visa O-1 (talenta luar biasa yang dianggap sebagai 2 persen yang terbaik di bidangnya). Saya ditawari pekerjaan ini sebelum saya lulus.
Tapi saya berharap, suatu hari kelak saya bisa membawa ilmu saya ini kembali ke tanah air yang saya cintai.
sumber:
http://australiaplus.com/indonesian/...aputra/1329890
Dari Australia Menuju Dunia – Pengalaman Alexander Senaputra
Diperbaharui 24 June 2014, 10:42 AEST
Sumbangan Tulisan Alexander Senaputra
Kata pepatah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Bagi Alexander Senaputra, negeri itu adalah Australia. Menyelesaikan studi dan master dan doktoral di Universitas Curtin di Perth, alumni ITB ini membagi pengalamannya yang beda tak biasa selama belajar di Australia.
Setelah menamatkan studi sarjana teknik pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB), saya mendapatkan kesempatan beasiswa magister (Master by Research) di bidang ilmu pengolahan mineral di Murdoch University, bekerja paruh waktu sebagai asisten riset.
Inilah saat-sulit karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan baru dan pada saat bersamaan harus bisa menguasai hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.
Salah satu kelemahan dalam sistem pengajaran ilmu teknik di Indonesia adalah minimnya kesempatan mahasiswa menggunakan alat-alat riset untuk aplikasi industri. Akibatnya, banyak waktu yang mesti saya luangkan untuk mengejar ketertinggalan Namun kesempatan itulah yang mengubah hidup saya.
Saat hampir menyelesaikan studi magister, saya mendapat dua tawaran: yang pertama, meng-upgrade studi dari magister langsung menjadi doktoral atau bekerja untuk industri.
Waktu itu saya tidak berpikir opsi pertama karena mendapat tawaran untuk bekerja di pabrik pengolahan nikel kedua terbesar di dunia. Saya tentu tidak bisa menolaknya. Tidak lama kemudian, terjadi krisis finansial global tahun 2008 dan pabrik nikel tersebut terpaksa dihentikan operasinya.
Karena ingin mendapatkan pengalaman industri, opsi yang tersisa hanyalah pulang dan mencari kerja di Indonesia. Satu-satunya tawaran bekerja yang saya dapatkan adalah dengan perusahaan konsultan batubara lokal dan itu pun saya terima tanpa berpikir apa peran serta berapa pendapatan saya.
Bergabung dengan status lulusan Australia tidak banyak membantu pada saat itu. Awalnya, saya juga memulainya seperti orang lain, termasuk menjadi sampler dan preparator batubara dimana berjam-jam setiap harinya tugas saya adalah menyekopi batubara dari tumpukannya untuk kemudian dianalisa sifat fisika dan kimianya.
Pada saat itu, yang ada di pikiran saya adalah untuk menyelesaikan pekerjaan sebaik mungkin serta belajar sebanyak mungkin. Dalam waktu 6 bulan, saya diangkat menjadi staf pribadi presiden direktur dan dalam kurang dari 1,5 tahun, saya sudah pernah ditempatkan di 3 divisi: batubara, mineral dan logistik serta mengetahui hampir seluruh aspek operasional perusahaan tersebut.
Di saat itulah datang tawaran beasiswa untuk studi doktoral di bidang pengolahan bauksit dari Curtin University. Dalam studi doktoral ini, temanya adalah aplikasi bahan kimia dalam pemisahan residu hasil pengolahan bauksit dan proyeknya sendiri merupakan kerja sama antara Curtin University dan CSIRO.
CSIRO merupakan lembaga penelitian terbesar di Australia karena didanai pemerintah dan juga terkenal akan kualitas risetnya, seperti teknologi Wi-Fi tawaran yang tentu saja terlalu bagus untuk ditolak.
Pilihan itu tidaklah salah karena dengan keterlibatan di sana, saya mendapat banyak penghargaan. Beberapa yang paling prestisius adalah: saya menjadi satu-satunya kandidat doktor asal Australia yang pernah diundang ke Kursus Musim Panas BASF di Jerman (International PhD Summer Course di Jerman,). Selain itu juga saya mendapatkan beasiswa MERIWA yang diserahterimakan langsung oleh Menteri Pertambangan dan Energi Australia Barat serta memenangi penghargaan riset terbaik dalam kategori alumina dan bauksit pada konferensi TMS Annual Meeting 2013 di Amerika Serikat.
BASF International PhD Summer Course merupakan kegiatan tahunan dimana BASF sebagai perusahaan kimia terbesar di dunia mengundang 100 kandidat doktor yang dianggap paling potensial di bidang kimia dan fisika. Selain saya, belum pernah ada kandidat doktor dari Australia yang pernah diundang.
Pengalaman menghadiri serah terima beasiswa langsung dari seorang menteri juga tidak terlupakan. Khusus untuk penghargaan dari TMS, tahun sebelumnya penghargaan tersebut dianugerahkan kepada wakil direktur divisi riset perusahaan aluminium terbesar di dunia dan sangat kecil sekali kemungkinan seorang pelajar dianugerahi penghargaan tersebut.
Banyak yang tidak tahu bahwa selain berusaha menyelesaikan kuliah doktoral, saya masih mengisi waktu luang dengan bekerja paruh waktu serta belajar subyek lainnya, mineral ekonomik. Saya bekerja freelance untuk 2 perusahaan tambang dan konsultan di Indonesia untuk mengumpulkan uang untuk membiayai studi semester terakhir.
Studi saya membutuhkan bahan kimia serta alat yang khusus dan dibutuhkan waktu 6 bulan bagi saya untuk mendapatkan keduanya. Hal inilah yang membuat studi saya terlambat dan keterlambatan ini tidak dibiayai oleh beasiswa saya. Tanpa bekerja paruh waktu dan ditolong oleh beberapa perusahaan, saya tidak akan pernah menyelesaikan studi doktoral saya.
Ketika sepi pekerjaan, saya menghabiskan waktu luang dengan meminjam buku untuk belajar mineral ekonomik secara otodidak. Australia adalah salah satu negara dimana kita bisa pergi ke perpustakaan umum dan menggunakan segala fasilitasnya untuk mempelajari apa yang kita mau.
Ketika bekerja di Indonesia sebagai staf pribadi presiden direktur, saya belajar bahwa memahami hal-hal teknikal saja tidak cukup dalam industri pertambangan. Pengetahuan yang luas akan aspek bisnis dan regulasi menjadi kunci dalam melihat peluang dan beradaptasi atas perubahan. Hasil pemikiran di bidang ini, acapkali diterbitkan di surat kabar seperti Jakarta Post, Bisnis Indonesia, dan yang lainnya.
Di luar semua itu, saya pun aktif berorganisasi untuk mengembangkan personal network termasuk di organisasi profesi maupun di organisasi kepemudaan. Saya pernah menjadi orang termuda yang menjadi pembicara tunggal di forum ahli pertambangan Australia. Sebagai wakil ketua negara bagian PPIA (Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia), saya berkesempatan berkenalan dan belajar dari orang-orang hebat, seperti saat mengundang Prof. Yohanes Surya.
Saat ini disertasi saya sedang diperiksa sebagai syarat kelulusan, sementara itu ia bekerja di salah satu perusahaan kimia di Connecticut, Amerika Serikat. Saya menjadi satu dari sedikit researcher yang mendapat visa O-1 (talenta luar biasa yang dianggap sebagai 2 persen yang terbaik di bidangnya). Saya ditawari pekerjaan ini sebelum saya lulus.
Tapi saya berharap, suatu hari kelak saya bisa membawa ilmu saya ini kembali ke tanah air yang saya cintai.
0
1.1K
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696KThread•59.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya