- Beranda
- Pilih Capres & Caleg
Darmawan, Fadli Zon, dan Otak Obor Rakyat
...
TS
remember27
Darmawan, Fadli Zon, dan Otak Obor Rakyat

INDONESIA2014 - Ketika bicara di Subang, Prabowo Subianto meminta rakyat Indonesia tidak saling menghujat dan menjelekkan pihak lain. “Bangsa Indonesia jangan memfitnah, jangan menghina, … Saya minta pendukung kami jangan menghina,” katanya di depan para pendukungnya (13/6/2014).
Masalahnya, di lapangan, apa yang dikumandangkan Prabowo seperti tak berarti apa-apa. Proaganda hitam anti Jokowi terus dikobarkan dengan intensitas tinggi. Perkembangan terakhir yang penting adalah terbongkarnya kasus Obor Rakyat yang ternyata dibuat oleh orang yang memiliki kedekatan dengan lingkaran Prabowo.
Tabloid Obor Rakyat adalah bentuk propaganda hitam yang serius, terorganisir dan berbiaya besar.
Tabloid berwarna 16 halaman itu sudah dua kali terbit dengan pola distribusi langsung dan gratis ke masjid-masjid dan pesantren-pesantren di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Jawa Barat. Setiap pesantren atau masjid dikirimi 20-30 eksemplar tabloid yang dibungkus rapih melalui pos dari pengirim tanpa identitas.
Yang menerima lazimnya adalah pengurus pesantren atau masjid yang rupanya diharapkan kemudian akan membagikannya kepada jemaat atau murid-murid.
Isinya sepenuhnya menyerang kubu Jokowi. Dan bukan hanya Jokowi yang diserang, melainkan juga umat Kristen atau pihak-pihak lain yang dianggap sebagai pihak yang menunggangi PDIP untuk menghancurkan umat Islam dengan memanfaatkan Jokowi.
Pada edisi pertama (5-11 Mei 2014), termuat laporan utama berjudul ‘Capres Boneka’, dengan gambar Jokowi sedang mencium tangan Megawati di halaman muka. Pada edisi itu juga hadir beragam artikel, dengan judul-judul yang provokatif dan mendorong kebencian terhadap umat Kristen seperti: “184 Caleg Non muslim PDIP untuk Kursi DPR” dan “Ibu-ibu, Belum Jadi Presiden Udah Bohongin Rakyat.”
Edisi kedua terbit di awal Juni dengan halaman depan menampilkan laporan utama berjudul: 1001 Topeng Jokowi. Di dalamnya juga bertebaran rangkaian artikel yang memojokkan Jokowi, PDIP, umat Kristen dan kaum Tionghoa, dengan judul-judul antara lain: “PDIP Partai Salib”, “Jejak Hitam di Era Mega” dan “Pria Berdarah Tionghoa Itu Kini Capres”.
Tujuan pembuat tabloid itu jelas. Media ini bukan saja media yang berpihak pada salah satu kandidat, namun juga dengan gamblang berusaha mendelegitimasi Jokowi dengan menggunakan tuduhan-tuduhan berbasis agama dan ras.
Obor Rakyat secara jelas berusaha mengarahkan pembaca di kalangan pesantren dan masjid untuk menolak Jokowi, bukan karena ketiadaan kualitas sang capres, melainkan karena tuduhan bahwa ‘Jokowi adalah bagian dari konspirasi Kristen-Cina untuk menghancurkan Islam’.
Metode propagandanya pun cenderung hitam. Nama-nama asli para pengelolanya tak tercantum di dalam tabloid, yang ada cuma nama samaran. Alamat redaksinya pun palsu. Di setiap paket kiriman tabloid, tidak tertera nama jelas pengirim.
Penyebaran agresif itu dengan segera memicu reaksi pihak-pihak yang tak mendukung Prabowo. Sebagian dari pimpinan pesantren mengadukan pengiriman tabloid tersebut ke pengurus PDIP, yang pada gilirannya mempersoalkannya ke Bawaslu dan pihak kepolisian.
Aksi propaganda hitam ini bisa jadi akan segera berlanjut kalau saja nama pembuatnya tidak terbongkar.
Walau sempat terbit dua edisi, kini nama orang di belakang propaganda hitam ini sudah diidentifikasi. Dia adalah Darmawan Sepriyossa, yang dikenal memang memiliki kedekatan dengan Prabowo dan dengan salah satu petinggi Gerindra, Fadli Zon.
Terbongkarnya nama Darmawan terjadi karena blunder. Pada akhir April 2014, Darmawan sempat menghubungi Gun Gun Heryanto, Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah untuk menulis tentang PDIP buat tabloid Obor Rakyat.
Gun Gun menyanggupi dan mengirimkan tulisannya karena tak menyangka bahwa karyanya itu akan dimuat di sebuah tabloid propaganda anti Jokowi.
Begitu Obor Rakyat terbit, dengan segera Gun Gun pun dipersoalkan oleh kenalan-kenalannya yang menganggap dia sudah menjadi tim sukses Prabowo. Tak terima dituduh begitu, Gun Gun pun bercerita pada publik tentang sejarah kelahiran artikelnya.
Dari sanalah diketahui bahwa orang yang berada di belakang Obor Rakyat adalah Darmawan.
Pria ini bukan orang baru di media massa. Karier kewartawanannya panjang. Ia mulai menjadi wartawan di harian Republika (1996), sebelum kemudian pindah ke majalah Panji Masyarakat (1997-98), majalah Tempo (1998-2005), harian Suara Karya (2005), kembali ke Republika (2006-2012), serta menjadi produser program di Alif Tv (Januari 2012-akhir 2013) yang berafiliasi dengan Republika.
Saat ini dia juga menjadi redaktur di media online inilah..com. Media online ini diketahui sebagai media propaganda yang memang sangat pro Prabowo dan anti-Jokowi.
Secara publik, Darmawan akhirnya mengaku secara implisit bahwa ia adalah orang yang berada di belakang Obor Rakyat. Ia berdalih, Obor Rakyat dibuat dengan semangat menegakkan kebenaran, sebagaimana para jurnalis di Indonesia di masa lalu -- dari masa pergerakan nasional sampai masa penumbangan rezim Soeharto – mempublikasikan media bukan sekadar untuk memberitakan peristiwa, namun untuk memperjuangkan kebenaran.
Sebagaimana terbaca dalam tulisannya yang dimuat inilah..com, Darmawan menyatakan tidak menyukai Jokowi karena dia mengkhianati kepercayaan rakyat Jakarta yang telah memilihnya sebagai gubernur. Di sisi lain, ia melihat bahwa media mainstream tidak menjalankan kewajibannya sebagai watchdog terhadap Jokowi yang sekarang ditinggal sendirian. Karena itu ia bertekad menerbitkan tabloid untuk mengingatkan Jokowi dan membuka mata masyarakat.
Ia mengaku Obor Rakyat berposisi sebagai media partisan, karena itu memang pilihan yang tidak tabu. “Tuhan saja tidak netral,” tulis Darmawan mengutip konglomeret dunia Rupert Murdoch, “apalagi media massa.”
Ia menjelaskan, namanya tidak dicantumkan secara jelas dalam boks redaksi Obor Rakyat karena dia tidak mungkin diketahui menjadi redaktur di dunia media yang berbeda (inilah..com dan Obor Rakyat).
Tentu saja ada banyak persoalan dalam penjelasan Darmawan. Yang terpenting adalah keberpihakan para jurnalis senior di berbagai masa perjuangan Indonesia tidaklah dalam bentuk melakukan propaganda hitam, dengan menyebarkan kebohongan dan fitnah. Halnya Obor Rakyat, sebagaimana diakui Darmawan sendiri, media ini hanya mengkompilasi berbagai gossip, isu, kabar burung yang beredar di media sosial yang memojokkan Jokowi.
Para jurnalis di masa lalu juga kerap menyebarkan media dengan cara distribusi di bawah tanah karena yang dihadapi adalah rezim otoriter. Dalam era demokratis saat ini, tak ada relevansinya bagi penyebaran dengan cara diam-diam seperti yang dilakukan Obor Rakyat.
Satu hal lagi: kalaupun Darmawan perlu menyamarkan namanya karena alasan ‘jangan sampai diketahui bekerja di dunia media’, tak ada alasan yang bisa diterima mengapa alamat redaksinya pun disamarkan.
Bahkan kalau Darmawan khawatir dengan reaksi inilah..com terhadap keterlibatannya di Obor Rakyat, tentu terasa janggal bahwa penjelasan Darmawan terhadap publik justru diterbitkan di inlah.com.
Karena itu, hampir tidak mungkin Obor Rakyat dikenali sebagai sekadar produk yang lahir dari inisiatif seorang wartawan idealis yang ingin menegakkan kebenaran.
Obor Rakyat adalah bagian dari strategi besar propaganda hitam untuk menghancurkan Jokowi di basis-basis umat Islam. Karena itu yang perlu diidentifikasi bukanlah Darmawan semata, melainkan siapa yang berada di belakang propaganda hitam ini.
Penyandang dana Darmawan diperkirakan bukan donatur individual. Menurut estimasi moderat, pembuatan dan penyebaran Obor Rakyat yang dibagikan secara cuma-cuma diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah setiap edisi. Bila biaya pembuatan dan pengiriman per eksemplar mencapai Rp 5.000, dan Obor Rakyat disebarkan ke 50.000 orang jemaah masjid dan warga pesantren, dana yang dikeluarkan per edisi adalah Rp. 250 juta. Ini belum mencakup pengeluaran lainnya, termasuk gaji Darmawan dan kawan-kawannya.
Format Obor Rakyat ini juga sejalan dengan rangkaian propaganda hitam yang terus ditujukan kepada Jokowi selama ini. Sang capres terus dikumandangkan sebagai tokoh ‘anti Islam’. Tak kurang dari Amien Rais, dalam kampanyenya, menggambarkan perang melawan Jokowi sebagai ‘Perang Badar’ – sebuah perang yang memiliki makna penting dalam sejarah Islam dalam rangkaian perang untuk mengalahkan kaum kafir.
Siapa sponsor Darmawan memang masih harus dicari. Namun sejumlah fakta penting mengenai sejarah hidup Darmawan mungkin penting untuk diketahui.
Darmawan memang aktivis yang dekat dengan pergerakan Islam politik. Di masa mahasiswanya pada 1990an, dia sempat menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Padjajaran Bandung.
Dalam masa-masa aktivisme itulah, Darmawan menjadi dekat dengan Fadli Zon, yang di masa itu adalah aktivis mahasiswa dari Universitas Indonesia. Melalui hubungan dengan Fadli, Darmawan menjadi dekat dengan Prabowo yang ketika itu sedang membangun jaringan di kalangan mahasiswa Islam.
Dikabarkan, Darmawan bahkan sempat diberangkatkan naik haji – bersama Fadli Zon dan Teguh Juwarno (politisi PAN, dulu aktivis Institut Pertanian Bogor) – bersama-sama rombongan Tim Kopassus.
Ketika menjalani karier kewartawanannya, Darmawan hampir selalu bekerja di media yang memiliki semangat keislaman kuat. Dia sempat bekerja di Tempo beberapa tahun setelah Tempo dihidupkan kembali di masa reformasi, namun di sebagian besar kariernya, ia bekerja di Republika, Panji Masyarakat dan juga Alif-TV. Ia juga dikenal memiliki kedekatan dengan komunitas masjid kampus di Bandung.
Di sisi lain, ia juga dikenal sebagai penulis yang bersedia menjadi ‘ghost writer’ untuk para politisi yang ingin dikenal sebagai penulis di depan publik. Darmawan misalnya dikabarkan menjadi penulis hantu untuk politisi Golongan Karya, Bambang Soesatyo, di buku ‘Skandal Century di Tikungan Terakhir Pemerintah SBY-Boediono’.
Informasi-informasi lain yang kemudian terkuak juga semakin menunjukkan bahwa Darmawan tidak bisa dilihat sebagai seorang pejuang sendirian. Tempat Darmawan resmi bekerja, inilah..com, kini dikabarkan adalah portal berita yang didanai oleh Hatta Rajasa.
Mungkin merasa terdesak, Darmawan juga sudah menyebut bahwa kelahiran Obor Rakyat dilakukannya bersama tokoh kunci lain, Setiyardi. Pria ini adalah kawan dekat Darmawan dan merupakan sesama jurnalis jebolan Tempo, yang kini menjadi salah seorang Komisaris PTPN XIII -- -- sebuah BUMN perkebunan yang mengelola perkebunan dan pabrik pengolahan kelapa sawit dan karet di Pulau Kalimantan.
Bisa jadi yang berperan kunci dalam penerbitan ini memang adalah Setiyardi yang juga sangat membenci Jokowi. Ia adalah mantan tim sukses Fauzi Bowo yang dikalahkan Jokowi dalam pemilihan Gubernbur DKI 2012, dan kini menjadi asisten Velix Wanggai, staf khusus Presiden RI bidang otonomi daerah.
Informasi demi informasi sudah terkuak. Darmawan jelas adalah aktor yang berperan sebagai operator. Pertanyaannya: siapa otak yang berada di belakang propaganda hitam ini?
SUMUR
0
3.8K
17
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Pilih Capres & Caleg
22.5KThread•3.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok