Jakarta - Hasil survei dari Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) menjelang Pilpres 9 Juli menunjukkan, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto- Hatta Rajasa mencapai 44,64 persen, sedangkan duet Joko Widodo-Jusuf Kalla 42,79 persen.
"Prabowo-Hatta unggul sekitar 1,67 persen. Data ini menunjukkan duet Prabowo-Hatta memasuki fase tren positif (naik) sekitar 5,36 persen. Sedangkan Jokowi-JK mulai stagnan dan cenderung masuk fase tren negatif (turun) sekitar 1,75 persen," kata Direktur Puskaptis, Husin Yazid di Jakarta, Minggu.
Husin menyebutkan, dari hari ke hari, tingkat elektabilitas Prabowo-Hatta terus meningkat, sementara pasangan Jokowi-JK cenderung menurun.
Menurut hasil survei yang diadakan sejak 6-12 Juni, Prabowo unggul di Jawa, Sumatera, Bali dan NTT. Sedangkan Jokowi-JK unggul di Sulawesi, Kalimantan dan Papua-Maluku.
Survei juga memperlihatkan Prabowo unggul di tiga daerah yakni Banten, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sedangkan Jokowi unggul di Jakarta, Jawa Barat dan Yogyakarta
"Kita mengerti, pemilih terbanyak itu di Jawa di mana elektabilitas Prabowo-Hatta terus mengalami kenaikkan alias tren positif yakni 5,65 persen. Sebaliknya, elektabilitas Jokowo-JK di Jawa menurun alias tren negatif sebesar 2,75 persen. Tim Prabowo mesti mewaspadai pemilih di Jawa Barat yang terbanyak," tambah Husin.
Soal alasan warga memilih Prabowo, menurut survei, publik menilai sosok Prabowo adalah figur pemimpin berkarakter tegas, berwibawa, berani, pekerja keras, berpengalaman, dan figur militer masih menjadi harapan ke depan untuk membawa Indonesia maju.
Sementara warga yang menyatakan mendukung Jokowi dengan alasan kepribadian Jokowi-JK yang merakyat, bijaksana, sederhana, rendah hati, punya prestasi, didukung visi-misi yang dianggap jelas.
"Tidak bisa dibantah, sentuhan pribadi capres/cawapres ikut memengaruhi warga memilih," kata Husni.
Survei Puskaptis bersumber dari pendapat masyarakat. Populasi survei yakni WNI di 33 Provinsi, 115 kabupaten-kota yang punya hak pilih pada 9 Juli 2014, yang diambil secara proporsional pada tingkat provinsi.
Penentuan responden dilakukan secara random sistematis dengan sampel 2.400 responden. Sampling error kurang lebih 1,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Penarikan sampel dilakukan dengan metode Multistage Random Sampling. Responden yang terpilih diwawancarai lewat tatap muka oleh pewawancara yang telah dilatih.
Setiap pewawancara bertugas untuk satu kelurahan yang hanya terdiri dari 10 responden. Kendali kualitas terhadap hasil survei dilakukan secara acak sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor.
115 Kabupaten dengan cuma 2400 responden punya error 1.8%
Quote:
Foke-Nara Populer di Survei Puskaptis Bowo-Ramli 47%, Jokowi-Ahok 15%
Liputan6.com, Jakarta: Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) melakukan survei menjelang pemilihan gubernur DKI Jakarta. Hasil survei menunjukkan pasangan bakal calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli masih menjadi yang terpopuler.
Direktur Puskaptis Husin Yazid, baru-baru ini, menjelaskan, survei melibatkan 1.250 responden. Puskaptis melakukan survei mulai 2 April hingga 7 April silam.
Pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dipilih 47,22 persen pemilih. Di posisi kedua, pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama dengan 15,16 persen. Selanjutnya diikuti pasangan Hidayat Nur Wahid dan Didik J. Rachbini yang memperoleh suara sebesar 10,28 persen.
Faisal Basri dan Biem Benjamin menempati posisi keempat dengan 3,17 persen. Baru disusul pasangan Alex Noerdin dan Nono Sampono. Sedangkan pasangan Hendardji Supanji dan Ahmad Riza Patria di posisi terakhir.
Hasil ini tak beda jauh dengan surve LSI, 26 Maret hingga 1 April lalu. Hampir 49,1 persen respondennya memilih Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli. Tempat kedua juga diduduki pasangan Jokowi dan hok dengan 14,4 persen. Lalu diikuti Hidayat Nurwahid dan Didik J. Rachbini.
Puskaptis memprediksi, pemilihan gubernur DKI Jakarta akan berlangsung sengit dan berlangsung dua putaran.(ULF)
Diserbu Timses Herman Deru, Ketua Puskaptis Diamankan Polisi
Spoiler for berita:
Palembang, GATRAnews - Ini langka terjadi. Rusuh melanda tempat perhitungan cepat karena salah satu tim sukses tidak puas dan menganggap ada manipulasi data pada proses perhitungan cepat Pilkada ulang Sumatera Selatan itu.
Kapolresta Palembang Kombes (Pol) Sabaruddin Ginting di Palembang, Rabu malam mengatakan, terpaksa mengamankan semua pihak yang ada di hotel tempat hitung cepat itu guna menghindari hal yang tidak diingini.
"Jadi, kita amankan semua pihak yang ada di sini," katanya.
Sebelumnya pihak Pusat Kajian Pengembangan dan Kajian Strategis (Puskaptis) melakukan penghitungan cepat pada lima daerah yang melaksanakan pemungutan suara ulang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan pada 4 September 2013.
Direktur Puskaptis Husin Yazid mengumumkan hasil penghitungan cepat yang mereka lakukan dengan menyebut dan mengunggulkan salah satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumsel.
Namun, belum selesai menyampaikan hasil penghitungan cepat tiba-tiba tim pasangan Herman Deru-Maphilinda Boer datang ke lokasi meminta Direktur Puskaptis tersebut mengklarifikasi apa yang sudah disampaikan kepada media massa.
Kemudian Direktur Puskaptis menyampaikan kalau hasil hitung cepat itu belum mencapai 100 persen, sehingga dengan demikian belum bisa diumumkan hasilnya.
Direktur Puskaptis itu juga meminta maaf kepada masyarakat Sumsel bila terjadi kesalahan penghitungan, karena pengiriman data dan sebagainya.
Selanjutnya pihak keamanan sudah ramai datang untuk mengamankan lokasi penghitungan cepat tersebut.
Selain itu, juga mengamankan Direktur Puskaptis Husin Yazid dari lokasi hitung cepat dan informasinya dibawa ke Polresta Palembang dengan menggunakan kendaraan roda empat.
Sementara Ketua Tim Pemenangan pasangan Herman Deru-Maphilinda Boer, Suparman Roman menyatakan, pasangan Herman Deru-Maphilinda Boer unggul sekitar dua persen setelah diakumulasi dari pilkada 6 Juni dengan hasil pemungutan suara ulang yang dilaksanakan pada hari ini.
"Kami akan mengamankan seluruh wilayah yang melaksanakan pemungutan suara ulang di semua tingkatan mulai TPS, PPK sampai ke KPU kabupaten/kota dan provinsi," ujarnya.
Mereka meyakini terdapat manipulasi dan penyesatan informasi karena Puskaptis memiliki agenda politik tertentu," kata perwakilan Tim Pemenangan Derma, Alfrezi dan Suparman Roman dalam keterangan pers menanggapi hasil penghitungan cepat lembaga survei tersebut.
Ia mengemukakan, terdapat kejanggalan dalam penghitungan cepat yang dilakukan karena sempat melansir 41,55 persen untuk pasangan Derma dan 38,70 persen bagi pasangan Alex Noerdin Ishak Mekki (Alim) saat data telah masuk sebanyak 92 persen.
"Hampir tidak mungkin ada pergeseran suara saat data sudah masuk 80 persen, tapi kenyataannya saat data sudah 92 persen malah berbalik arah dan memenangkan Alex Noerdin-Ishak Mekki," katanya.
Tim Derma tidak mau mengulang kesalahan terdahulu sehingga sejak awal mengantisipasi, salah satunya yang terjadi di penghitungan cepat Puskaptis ini karena kami juga memiliki data lapangan yakni menang telak di Kabupaten OKU Timur, Prabumulih dan Palembang," ujarnya.
Sementara, Suparman Roman menambahkan pihaknya akan menuntut pertanggungjawaban Puskaptis sebagai suatu lembaga survei secara moral dan hukum.
"Ketua Puskaptis Husin Yazid harus bertanggung jawab atas pemutarbalikan fakta ini," katanya.
Alex Noerdin Minta Sabar
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin meminta masyarakat untuk tetap tenang sambil menunggu keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) walaupun ia mengklaim unggul dalam pemungutan suara ulang.
"Setelah ditotal keseluruhan hasil hitung cepat maka kemenangan bisa mencapai empat hingga tujuh persen," kata Alex Noerdin kepada wartawan.
"Jadi ketidakpastian selama ini sudah terjawab karena sudah ada pilihan rakyat," kata dia.
Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumsel yang mengikuti pemungutan suara ulang yakni nomor urut 1 Eddy Santana Putra-Hj Anisja D Supriyanto, nomor urut 2 Iskandar Hasan-Hafisz Tohir, nomor urut 3 Herman Deru-Maphilinda Boer dan nomor 4 Alex Noerdin-Ishak Mekki.
Sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada 11 Juli 2013, KPU Provinsi Sumatera Selatan diperintahkan untuk melaksanakan pemungutan suara ulang di seluruh tempat pemungutan suara di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kota Palembang, Kota Prabumulih, dan seluruh TPS di Kecamatan Warkuk Ranau Selatan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.
MK juga membatalkan Keputusan KPU Sumatera Selatan tentang Penetapan Hasil Rekapitulasi Penghitungan Perolehan Suara Pemilihan Umum Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan pada 13 Juni 2013.