- Beranda
- Pilih Capres & Caleg
JK “Manfaatkan” Pihak Asing Untuk Rebut Kursi Cawapres Jokowi (JGN DIBACA!!)
...
TS
donitauna
JK “Manfaatkan” Pihak Asing Untuk Rebut Kursi Cawapres Jokowi (JGN DIBACA!!)

Capres PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) santer kabarnya bakal menggandeng Jusuf Kalla (JK) untuk berduet dalam Pilpres Juli 2014 mendatang. Namun, terdapat beberapa hal yang harusnya kita cermati bersama sebelum kita membahas lebih dalam tentang motif JK untuk kembali mengincar tahta menjadi RI 2 di 2014 kali ini.
Ada beberapa pertemuan yang tak lazim terjadi beberapa waktu lalu, yaitu Pada Senin malam 13 April 2014 lalu di kediaman Jacob Soetoyo, publik Indonesia dikejutkan acara pertemuan sejumlah dubes asing dengan ketum PDIP. Pertemuan dubes AS, Meksiko, Turki, Vatikan, Nowergia, Denmark dst itu dalam rangka bertemu dengan Ketum PDIP Megawati dan Jokowi. Saat itu sulit untuk beri tanggapan atau komentar karena butuh waktu untuk mencari tahu motif, maksud dan tujuan dari pertemuan yang tidak lazim itu. Kenapa tdk lazim ? Karena Seorang pengusaha non politisi menjadi tuan rumah perhelatan besar bernuansa sangat politis adalah tidak biasa. (http://bit.ly/RNT8Gs)
Ada 2 penyebab utama yang mendorong pertemuan 7 dubes di rumah Jacob Soetoyo di kompleks perumahan elit permata hijau jaksel itu, yakni Pertama, Kegelisahan Jusuf Kalla dan kedua adalah Kegelisahan Umat Katolik Indonesia Terhadap konstelasi politik terkait rencana Jokowi jadi capres PDIP. Kegelisahan JK terkait penolakan Megawati terhadap usulan Surya Paloh dan Partai Nasdem, yang mengusulkan JK sebagai calon capres Jokowi. Kegelisahan umat Katolik, Jokowi sebagai capres terpopuler tidak beri akses kepada elit Katolik RI untuk turut mendeterminasi agenda Jokowi. Di lain pihak, JK ditolak Megawati karena ada yang lebih baik daripada JK, yaitu Ryamizard Ryacudu. Yang dianggap lebih bersih, lebih NKRI, tidak nepotisme dan tdk KKN. Sebelumnya, Mega berkali-kali menolak sinyal JK untuk mengajukan diri sebagai cawapres Jokowi. Meski sebagai mantan wapres, JK rela jadi cawapres Jokowi. Usia tua jelang 72 tahun di bulan depan tidak menghalangi ambisi JK dan mencegahnya untuk menepati janji dan sumpahnya yang ingin pensiun di hari tua. JK ngotot tetap ingin jadi cawapres Jokowi meski sudah ditolak berkali-kali. JK merasa sudah melakukan semua persiapan untuk dapat berkuasa kembali. Di Golkar, JK sebagai mantan ketum dan wapres punya kader dan jaringan yang terus mengkonsolidasi diri menunggu saat yang tepat utk kudeta ARB. Namun, satu - satunya harapan JK hanya ada pada Partai Nasdem yang pemilu legislatif kemarin berhasil meraih sekitar 6% suara dan bertekad bisa koalisi dgn PDIP.
Penolakan Megawati terhadap JK dan kuatnya cengkraman kubu James Riady CS menghasilkan kristalisasi persekutuan JK dengan kelompok katolik. Meski persekutuan JK - Katolik hanya kebetulan dan JK sudah lama punya hubungan istimewa dgn Keluarga Wanandi, tapi publik dapat menilai lain.
Hubungan JK - Keluarga Wanandi yg notabene adalah stakeholder utama di CSIS & elit katolik Indonesia melahirkan aliansi yang lebih besar dan strategis. Kebuntuan JK menembus pertahanan Mega dan kebuntuan elit Katolik menembus Jokowi karena faktor James Riady, menghasilkan resolusi jitu. Momentum Obama ke Ukraina dimanfaatkan degan cerdik oleh Vatikan untuk mengundang Obama ke Tahta Suci itu, sekaligus menyampaikan aspirasi. Pertemuan Paus - Obama di Vatikan 27 Maret 2014 lalu, mungkin saja belum menyinggung konstelasi politik RI yang terkait nasib umat katolik. Tetapi pertemuan Obama - Paus. Fransiskus bisa menjadi pintu dan langkah awal keterlibatan Vatikan dlm suksesi kepemimpinan di Indonesia. Hegemoni katolik di Indonesia selama masa orde baru hampir 32 tahun dengan peran strategis CSIS menempatkan katolik di pusat kekuasaan. Dapat disimpulkan selama 32 thn Suharto berkuasa, elit penguasa RI didominasi Katolik dan Kejawen, dengan determinasi Ibu Tien Suharto. Peran politik Islam dan umat Islam termarginalkan selama masa orde baru, kecuali setelah thn 1990 dengan mualafnya Suharto dan Tien Suharto.
Secara politis dapat dikatakan, Islam Indonesia baru “merdeka” pada akhir 1990 ditandai lahirnya ICMI dan mesranya hubungan Suharto – Islam. Bulan madu islam - Orba berakhir dengan jatuhnya Orba. Hanya 7 tahun dan tidak pernah terjadi lagi hingga kini. Setelah reformasi datang, liberalisme pun menang. Katolik ingin kembali mengambil peran strategis seperti masa orba, walaupun terganjal oleh manuver hegemoni kubu james riady dan antony salim. James riady CS dengan kekuatan koneksi Gedung Putih dan jaringan arkansas connectionnya mampu menyulap Jokowi menjadi tokoh terpopuler. Buntutnya adalah pencapresan tak resmi oleh mega untuk Jokowi melalui perintah harian bukan SK DPP PDIP. Meski disebut2 ada mahar US$ 50 juta
Kubu Katolik mulai tertinggal jauh.
Disinilah peran Bapa Suci di Vatikan. Lobi pun dimainkan. Hasilnya, Obama perintahkan Robert Blake temui dubes Vatikan dan Jokowi-Mega 13 April lalu.Tidak hanya itu, selain akses kendali Joko “boneka” Widodo, katolik juga memimpin dengan endorsement Paus terhadap JK untuk didukung Obama. Skor 2 : 1 untuk kubu CSIS. Apakah James Riady CS diam? Tentu tidak. Dia adalah maestro politik dunia, agen intelijen cina. He shall return !
Pertemuan yang membahas soal cawapres itu menunjukkan besarnya kepentingan AS. Dengan pertemuan terlebih dahulu bersama calon pemimpin seperti Jokowi bukan tidak mungkin AS akan bisa mendikte yang bersangkutan, jika nantinya terpilih menjadi pemimpin Indonesia yang baru, AS biasanya akan mendukung figur pemimpin yang memberikan pengaruh terhadap arah kebijakannya, melalui JK yang lebih berpengalaman di dunia politik, tentunya membawa angin segar bagi AS. Sebab Indonesia bagi AS memiliki posisi strategis terhadap dinamika masa depan kawasan Asia Tenggara.
anasabila memberi reputasi
1
3.4K
26
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Pilih Capres & Caleg
22.5KThread•3.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok