- Beranda
- Pilih Capres & Caleg
Pemimpin adalah Cermin Rakyatnya (Antitesa Penghianat)
...
TS
rickyjoo85
Pemimpin adalah Cermin Rakyatnya (Antitesa Penghianat)
Dua poros yang selama ini menghiasi hari-hari penuh praduga segenap hati rakyat Indonesia tentang siapa yang akan bertarung di pilpres edisi kali ini, menjadi kenyataan. Prabowo, sang jenderal, akhirnya menjawab teka teki siapa calon pendampingnya dengan memilih Hatta Rajasa, politisi kawakan dari PAN. Memang selama ini yang menjadi pertanyaan bagi masyarakat Indonesia adalah sosok cawapres Prabowo, penuh teka teki. Berbeda dengan Jokowi, yang meski coba mengangkat beberapa nama tokoh ke permukaan, hingga timbul kesan memberi harapan palsu, seperti yang sudah di duga sebelumnya, akhirnya memilih JK, mantan capres yang gagal pada pilpres edisi 2009 silam.
Prabowo, beserta partai koalisi ‘tenda besar’ yang digagasnya, memilih tempat deklarasi yang sarat pesan historis, yaitu rumah Polonia. Pesan historis yang dimaksud adalah semangat Bung Karno, founding father kita, sebab disanalah tempat tinggal Presiden pertama Republik Indonesia. Nuansa putih-putih mendominasi suasana deklarasi. Prabowo melakukan orasi politik serta menyampaikan visi misinya saat memimpin Indonesia kedepan dengan mantab, nampak bahwa ia kuasai betul langkah-langkah yang akan diambil sebagai pemimpin bangsa. Orasi berapi-api Prabowo akan membawa ingatan kita pada sosok Soekarno, tegas, lugas, berkarakter.
Bagaimana dengan deklarasi Jokowi?
Sosok yang satu ini justru berbalik 360 derajat dibanding Prabowo. Nyaris tak ada suatu pesan berarti dalam deklarasinya. Tak ada penyampaian visi-misi sebagaimana dinanti calon pemilih. Bahkan Jokowi nampak tenggelam dalam kharisma Jusuf yang memang lebih senior dan mapan dalam perpolitikan. Sekilas nampak yang menjadi capres adalah Jusuf, bukan Jokowi. Tapi apa lacur, survey mengatakan bahwa popularitas Jokowi lebih mentereng dibanding Jusuf.
Survey
Memang, hitung-hitungan diatas kertas, Jokowi unggul tipis dibanding Prabowo. Tapi politik, apalagi pemilu, bukanlah matematika. Ratusan juta rakyat Indonesia tak bisa disimpulkan oleh beberapa ribu responden dengan tingkat kepercayaan 95%, alias masih terdapat plus minus 5% margin of error dalam sebuah survey. Terlalu naif dan lucu, bila kemudian logika berpikir kita sepenuhnya disandarkan pada hasil survey.
Tapi inilah dunia, berikut lelucon yang sedang dimainkan.
Hasil survey yang hanya melibatkan beberapa ribu orang sampel, disuarakan masif, sehingga membentuk sebuah persepsi bahwa calon yang diunggulkan itulah yang akan menjadi pemimpin Indonesia kedepan, bahwa pemimpin yang diunggulkan itulah yang diidamkan masyarakat Indonesia. Permainan persepsi.
Kalau mau jujur dan terbuka, tentu masyarakat Indonesia harusnya mampu menelaan lebih dalam tentang kandidat yang menurut survey unggul itu. Seperti dengan cara menanyakan pada diri kita sendiri: ‘benarkah tokoh itu sehebat yang dibilang?’ atau ‘prestasi apa yang sudah dihasilkan tokoh unggulan lembaga survey itu?’atau bisa juga dengan bertanya pada diri sendiri mengenai ‘tokoh itu bisa pegang janji ngga sih?’
Manakala diri dilatih dengan pertanyaan-pertanyaan retoris, kritis, semacam itu, maka (insya Allah) kita tak akan terjebak kedalam sebuah euforia semu tentang datangnya pemimpin idaman rakyat. Sebab bisa jadi, pemimpin yang tak diunggulkan, dijahati banyak orang dengan ditebarkannya fitnah terhadapnya, adalah pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih bermartabat.
Logika sederhana
Kita coba berlogika dengan sederhana, jika pemimpin yang tak diunggulkan oleh lembaga survey, macam Prabowo Subianto, tak mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dengan visi misinya, kenapa dia selalu ‘ditempeli’ predikat-predikat buruk untuk menjatuhkannya? Seorang calon pemimpin diukur kapasitas dan kapabilitasnya melalui visi misi yang diuraikan. Sebab visi misi itu akan diuji oleh publik, ditelanjangi, realistis apa tidak.
Kita harus meletakkan tanda tanya besar apabila ada calon pemimpin, diunggulkan oleh lembaga survey, meski ia tak memiliki visi misi, memiliki rekam jejak buruk dengan menanggalkan jabatan sebelumnya demi mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, dengan sebuah pertanyaan sederhana: ‘apa iya orang macam ini idola rakyat Indonesia?’.
Pemimpin adalah cermin rakyatnya
Jika benar bahwa pemimpin adalah cermin rakyatnya, dan calon pemimpin yang memiliki elektabilitas tinggi (menurut survey) adalah representasi rakyat Indonesia, maka izinkan saya bertanya : apakah anda orang yang suka lari dari tanggung jawab? Jika mayoritas jawaban adalah ‘iya’, maka seyogyanya di tiap bandara diberi spanduk bertuliskan ‘selamat datang di negeri para pengkhianat’.
Prabowo, beserta partai koalisi ‘tenda besar’ yang digagasnya, memilih tempat deklarasi yang sarat pesan historis, yaitu rumah Polonia. Pesan historis yang dimaksud adalah semangat Bung Karno, founding father kita, sebab disanalah tempat tinggal Presiden pertama Republik Indonesia. Nuansa putih-putih mendominasi suasana deklarasi. Prabowo melakukan orasi politik serta menyampaikan visi misinya saat memimpin Indonesia kedepan dengan mantab, nampak bahwa ia kuasai betul langkah-langkah yang akan diambil sebagai pemimpin bangsa. Orasi berapi-api Prabowo akan membawa ingatan kita pada sosok Soekarno, tegas, lugas, berkarakter.
Bagaimana dengan deklarasi Jokowi?
Sosok yang satu ini justru berbalik 360 derajat dibanding Prabowo. Nyaris tak ada suatu pesan berarti dalam deklarasinya. Tak ada penyampaian visi-misi sebagaimana dinanti calon pemilih. Bahkan Jokowi nampak tenggelam dalam kharisma Jusuf yang memang lebih senior dan mapan dalam perpolitikan. Sekilas nampak yang menjadi capres adalah Jusuf, bukan Jokowi. Tapi apa lacur, survey mengatakan bahwa popularitas Jokowi lebih mentereng dibanding Jusuf.
Survey
Memang, hitung-hitungan diatas kertas, Jokowi unggul tipis dibanding Prabowo. Tapi politik, apalagi pemilu, bukanlah matematika. Ratusan juta rakyat Indonesia tak bisa disimpulkan oleh beberapa ribu responden dengan tingkat kepercayaan 95%, alias masih terdapat plus minus 5% margin of error dalam sebuah survey. Terlalu naif dan lucu, bila kemudian logika berpikir kita sepenuhnya disandarkan pada hasil survey.
Tapi inilah dunia, berikut lelucon yang sedang dimainkan.
Hasil survey yang hanya melibatkan beberapa ribu orang sampel, disuarakan masif, sehingga membentuk sebuah persepsi bahwa calon yang diunggulkan itulah yang akan menjadi pemimpin Indonesia kedepan, bahwa pemimpin yang diunggulkan itulah yang diidamkan masyarakat Indonesia. Permainan persepsi.
Kalau mau jujur dan terbuka, tentu masyarakat Indonesia harusnya mampu menelaan lebih dalam tentang kandidat yang menurut survey unggul itu. Seperti dengan cara menanyakan pada diri kita sendiri: ‘benarkah tokoh itu sehebat yang dibilang?’ atau ‘prestasi apa yang sudah dihasilkan tokoh unggulan lembaga survey itu?’atau bisa juga dengan bertanya pada diri sendiri mengenai ‘tokoh itu bisa pegang janji ngga sih?’
Manakala diri dilatih dengan pertanyaan-pertanyaan retoris, kritis, semacam itu, maka (insya Allah) kita tak akan terjebak kedalam sebuah euforia semu tentang datangnya pemimpin idaman rakyat. Sebab bisa jadi, pemimpin yang tak diunggulkan, dijahati banyak orang dengan ditebarkannya fitnah terhadapnya, adalah pemimpin yang bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih bermartabat.
Logika sederhana
Kita coba berlogika dengan sederhana, jika pemimpin yang tak diunggulkan oleh lembaga survey, macam Prabowo Subianto, tak mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik dengan visi misinya, kenapa dia selalu ‘ditempeli’ predikat-predikat buruk untuk menjatuhkannya? Seorang calon pemimpin diukur kapasitas dan kapabilitasnya melalui visi misi yang diuraikan. Sebab visi misi itu akan diuji oleh publik, ditelanjangi, realistis apa tidak.
Kita harus meletakkan tanda tanya besar apabila ada calon pemimpin, diunggulkan oleh lembaga survey, meski ia tak memiliki visi misi, memiliki rekam jejak buruk dengan menanggalkan jabatan sebelumnya demi mendapatkan jabatan yang lebih tinggi, dengan sebuah pertanyaan sederhana: ‘apa iya orang macam ini idola rakyat Indonesia?’.
Pemimpin adalah cermin rakyatnya
Jika benar bahwa pemimpin adalah cermin rakyatnya, dan calon pemimpin yang memiliki elektabilitas tinggi (menurut survey) adalah representasi rakyat Indonesia, maka izinkan saya bertanya : apakah anda orang yang suka lari dari tanggung jawab? Jika mayoritas jawaban adalah ‘iya’, maka seyogyanya di tiap bandara diberi spanduk bertuliskan ‘selamat datang di negeri para pengkhianat’.
Quote:
0
3.4K
13
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Pilih Capres & Caleg
22.5KThread•3.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok