Kaskus

News

vichaksanaAvatar border
TS
vichaksana
Revolusi Saintifik Iran
BERBEKAL pujian 99% kritikus film dan dukungan 100% juri Academy Awards, film Iran berjudul A Separation (Persia: Jodai-e Nader az Simin) memenangkan Piala Oscar 2012, sebuah penghargaan paling bergengsi untuk dunia perfilman. Asghar Farhadi, sutradara dan penulis skenario film itu, dalam sambutan penganugerahan Piala Oscar tersebut berkata, "Kejayaan budaya Iran yang kaya dan bersejarah panjang selama ini terkubur oleh debu politik yang gaduh tentang perang, intimidasi, dan agresi." Dia berharap dunia bisa melihat Iran secara lebih utuh dan, tentunya, lebih tepat.

Ungkapan Farhadi itu menginspirasi sebuah media massa nasional (Kompas, 28 Februari 2012) untuk menuliskan sebuah liputan di halaman utama dengan judul "kejayaan di balik debu prasangka". Debu prasangka merupakan sebuah istilah yang sangat mengena, menggambarkan bagaimana dunia umumnya mempersepsi Iran. Hari-hari ini, mesin-mesin media massa internasional yang didominasi oleh CNN, AP, AFP, Reuters, BBC, Fox News, Washington Post, hingga VOA bersama-sama dengan outlet-outlet media lokal yang menjiplak mereka, termasuk di Indonesia, memproduksi "debu prasangka" itu selama 33 tahun sejak Republik Islam Iran berdiri pada 1979. Distorsi pemberitaan, opini yang bias dan narrow-minded, aneka propaganda, serta beragam stigma dan stereotip dilekatkan kepada Republik Islam negeri Persia ini oleh jaringan media massa mainstream Barat.

Salah satu propaganda Barat itu mengesankan Iran sebagai negara terbelakang, miskin, pariah, dan tidak berkebudayaan. Padahal, faktanya menunjukkan Iran berhasil mengurangi drastis angka buta huruf rakyat dari 50 persen menjadi 10 persen. Perguruan tinggi tumbuh pesat dengan kenaikan jumlah mahasiswa yang 20 kali lipat dari 100 ribu pada 1979 menjadi 2 juta pada 2006, lalu 4 juta pada 2011. Menurut laporan IMF, perekonomian Iran berada di peringkat ke-17 di dunia pada akhir 2011, dengan penghasilan Produk Nasional Bruto (GNP) yang mencapai 930 miliar dolar Amerika.

Kesuksesan Iran yang paling menonjol dan membanggakan adalah inovasi dan prestasi ilmiah. Hanya dalam tiga dekade, Iran telah menempatkan dirinya sebagai negara maju dalam penguasaan sains dan teknologi. Sepuluh tahun pertama, Iran membangun infrastruktur pendidikan jenjang dasar, menengah, dan tinggi sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan. Lalu, sejak 1990 dan terutama melalui pencanangan Visi 2025, para ilmuwan Iran mulai menoreh prestasi ilmiah di dunia internasional melalui kegiatan riset, mulai ilmu kedokteran, bioteknologi, nanoteknologi, sains dan teknologi nuklir, elektronika, komputer, teknologi bahan dan komposit, hingga ilmu antariksa.

Secara kuantitatif, dalam pengertian produktivitas ilmiah, Iran tercatat sebagai negara yang tercepat pertumbuhannya. Berbagai pusat riset data dan statistik perkembangan sains internasional seperti Science-Metrix, Royal Society, Thomas Reuters' Science Citation Index (SCI), The Institute for Scientific Information (ISI), dan Dutch Scopus Database, semuanya melaporkan tentang melesatnya perkembangan saintifik yang dilakukan oleh para ilmuwan Iran. Output ilmiah Iran 11 kali lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan saintifik dunia; hanya dalam 12 tahun (1996-2008), produktivitas karya ilmiah Iran tumbuh 18 kali lipat; dan posisi ilmiah Iran melesat terbang, dari tak masuk hitungan pada awal revolusi, menjadi peringkat ke-16 dunia hanya dalam kurun waktu 30 tahun.

Eric Archambault, penulis laporan Science-Metrix 2010, menjelaskan bahwa publikasi Iran sangat melimpah pada bidang-bidang sains dan teknologi nuklir, fisika partikel, dan kimia anorganik dengan kecepatan 250 kali dari pertumbuhan rata-rata dunia. Capaian ilmiah Iran juga berkembang pesat dalam kedokteran, pertanian, dirgantara (aerospace), komputer, nanoteknologi, rekayasa genetika, sel punca (stem cell), dan teknologi kloning. Dipaparkan dalam laporan itu bahwa salah satu prestasi ilmiah mutakhir Iran, yang memperoleh perhatian dunia, adalah peluncuran biokapsul dengan roket Kavoshgar-3 (Explorer-3) ke ruang angkasa yang membawa hewan untuk percobaan, yaitu seekor tikus, dua kura-kura dan berbagai cacing. Iran juga adalah negara Timur Tengah pertama yang memproduksi hewan transgenik dan telah menjadi salah satu dari sedikit negara di dunia yang menguasai teknologi kloning sebagai bagian dari riset kedokteran dan penggunaan hewan klon untuk memproduksi antibodi manusia terhadap penyakit. Iran telah sukses mengklon seekor kambing bernama 'Royana', seekor domba bernama 'Hanna', dan dua ekor sapi dengan nama 'Bonyana' dan 'Tamina'.

Berdasarkan penelitian The Institute for Scientific Information (ISI), terjadi lompatan produktivitas ilmiah yang tajam dari para peneliti dan saintis Iran setelah memasuki 2009. Jika pada periode 1990–2008 saintis Iran menerbitkan total 60.979 paper ilmiah pada jurnal-jurnal internasional utama, maka tahun-tahun sesudah itu Iran dengan sangat cepat melipatgandakan penerbitan karya-karya ilmiahnya:


Jumlah artikel ilmiah saintis Iran pada jurnal-jurnal internasional utama (ISI)
Tahun 1990–2008 2009 2010 2011
Total Artikel 60.979 15.000 18.600 33.000


Pencapaian gemilang para saintis dan peneliti Iran juga dilaporkan oleh Royal Society Inggris (2011). Dengan tajuk Knowledge, Networks and Nations: Global Scientific Collaboration in the 21st Century, laporan itu mengungkap hasil penelitian Royal Society terhadap produktivitas negara-negara dunia sejak 1993 hingga 2008 dalam publikasi ilmiah dan anggaran belanja untuk riset dan pengembangan sains. Hasilnya menunjukkan bahwa Iran ternyata adalah negara yang paling cepat perkembangannya dalam sains.

Perkembangan pesat inovasi dan produktivitas saintifik Iran di muka merupakan sebuah lompatan besar. Persis seperti revolusi saintifik di Eropa pada abad 17-18, perkembangan saintifik di Iran mengalami kemajuan pesat dan pendalaman yang tajam untuk hampir seluruh disiplin. Lompatan besar saintifik Iran itu tidak pernah terjadi sebelumnya pada negara mana pun selama era modern. Atas pertimbangan inilah dapat dikatakan bahwa perkembangan saintifik Iran yang cepat melesat sebagai sebuah revolusi saintifik.

Secara kualitatif, lompatan besar saintifik Iran berlangsung dalam situasi yang penuh kesulitan dan kontra-zaman. "Situasi yang penuh kesulitan" itu adalah kondisi ekonomi dan sosial politik global yang menghadang dan menentang kemajuan Iran. Sedangkan "situasi yang kontra-zaman" menggambarkan posisi Iran sebagai pemutar balik jarum sejarah modern untuk kembali merengkuh agama dan spiritualitas dalam kehidupan sosial politik. Jika sains modern berkembang dalam paradigma sekulerisme dan tak jarang ateisme, maka perkembangan sains di Iran justru sebaliknya, yakni terintegrasi dalam pandangan-dunia Tauhid dan sistem sosial politik Islam.

______________________________________________________


Anjing menggongong kafilah berlalu... Pantes saja banyak yang dengki hingga tebar beragam propaganda hitam melawan mantan negeri adidaya di dunio kuno ini....

ember
Diubah oleh vichaksana 15-05-2014 09:51
0
2.6K
23
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
Berita Luar Negeri
KASKUS Official
82.2KThread•21.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.