- Beranda
- Berita dan Politik
Wacana Koalisi "Demokrat-PKS-Hanura" ajukan Capres Sultan semakin Rasional & Menguat
...
TS
sophieshield
Wacana Koalisi "Demokrat-PKS-Hanura" ajukan Capres Sultan semakin Rasional & Menguat
Capres Demokrat:
Demokrat lirik Sultan Hamengkubuwono jadi capres
Rabu, 14 Mei 2014 | 10:31 WIB

JAKARTA. Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin mengatakan, partainya membidik salah satu tokoh Partai Golkar, Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai kandidat calon presiden yang akan diusung pada Pemilu Presiden 2014. Hal itu disampaikan Amir saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/5/2014).
Menurut Amir, alasan memilih Sultan karena elektabilitasnya bisa bersaing dengan dua kandidat bakal capres lainnya, yaitu Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Amir menyebutkan, berdasarkan survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Jokowi berada di kisaran 5-26 persen, sementara Prabowo 17-18 persen. Di posisi ketiga, ada Sultan dengan 15 persen.
“Nah, kemudian di posisi ketiga adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang coba dipasangkan dengan salah satu peserta konvensi, hasilnya ternyata 15 persen. Tidak jauh berbeda. Apalagi masih ada massa mengambang 41 persen,” kata Amir.
Menteri Hukum dan HAM itu menilai, Partai Demokrat masih memiliki peluang untuk memberikan pilihan lain kepada rakyat di luar Jokowi dan Prabowo. Akan tetapi, ia mengakui, untuk mengusung Sultan, Demokrat harus realistis terkait upaya membangun koalisi dengan partai lain untuk memenuhi presidential threshold.
“Yang jelas, kalau lihat di sini, tidak ada maksud apa pun juga untuk mencoba mengganggu dua calon yang sudah ada. Saya kira ini untuk alternatif, bisa memberikan pilihan demokrasi yang lebih baik juga untuk bangsa,” kata Amir.
Sementara ketika ditanya siapa peserta konvensi yang disiapkan untuk berpasangan dengan Sultan, Amir tak mau menyebutkan. Sebelumnya, Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, Pramono Edhie Wibowo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga adik ipar Presiden SBY, memiliki peluang berduet dengan Sultan. Komposisi duet sipil militer dianggap akan menjadi kekuatan duet pasangan itu.
Saat ditanya lebih lanjut kemungkinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Umum Partai Demokrat akan berbicara soal wacana pengusungan Sultan kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal “Ical” Bakrie dalam pertemuan hari ini, Amir tak menampiknya.
“Ada kemungkinan hal itu akan dibahas,” katanya.
Hingga saat ini, Partai Demokrat memang belum menunjukkan sinyal arah koalisinya setelah keinginan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk melakukan rekonsiliasi dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menemui jalan buntu. Apabila Demokrat akan mengusung Sultan, maka Demokrat akan membuat poros baru. Peluang paling memungkinkan membangun koalisi bersama partai-partai yang belum menentukan arah koalisinya, seperti Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Hanura.
http://nasional.kontan.co.id/news/de...o-jadi-capres/
Poros Ketiga, SBY akan Mainkan Kartu Truf
Rabu, 14 Mei 2014 11:55 WIB

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
JAKARTA, Jaringnews.com - Poros ketiga bisa saja terbentuk, dan segala sesuatu memungkinkan untuk terbentuknya Poros Ketiga, setelah Poros Jokowi dan Poros Prabowo. Istilahnya, janur kuning belum berdiri di depan rumah, masih ada kesempatan untuk meminang calon lain. Bisa saja arah perahu beralih, dengan berbagai strategi Ketua Umum Partai Demokrat untuk membentuk Poros Ketiga dengan berkoalisi dengan Partai Golkar.
Hingga saat ini, Partai Golkar belum secara resmi berkoalisi dengan Partai PDIP dengan mendukung Calon Presiden Joko Widodo. Sebelum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) digelar pada 18 Mei maka ada upaya dan langkah-langkah Ketua Umum Partai Demokrat mengajak partai pemenang Pemilu 2014 untuk berkoalisi.
Pengamat Politik Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, langkah manuver Partai Demokrat diperkirakan akan mengajak Partai Golkar untuk berkoalisi. Karena denagn dipaketkannya kedua partai itu cukup 25 persen sebagai syarat mengusung Capres dalam Pilpres pada 9 Juli 2014 mendatang. Pasalnya, Golkar meraih sekitar 14,75 persen, dan Partai Demokrat 10,19 persen. "Dalam detik terakhir pak SBY akan bermanuver, dan tinggal menunggu akhir survei Partai Demokrat," kata Karyono, di Jakarta, Rabu (14/5).
Arie berpendapat SBY akan memainkan kegalauan Partai Golkar dengan tidak adanya parpol yang ingin meminang Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai cawapres. "Peluang SBY dalam membentuk Poros ketiga masih ada dengan berbagai upaya mendekati Partai Golkar," kata Karyono.
Sementara, Pengamat Politik Charta Politika Yuniarto Wijaya mengatakan, meski terwujud Poros Tengah secara elektoral sulit untuk mengejar pasangan Capres Jokowi dan Prabowo. "Buat saya SBY akan lebih mahal, dan SBY itu suara solid, dan suara ARB (Aburizal Bakrie) suara gak solid, dan masih menunggu Rapimnas.
Poros ketiga tidak menguntungkan Golkar, dan posisisi SBY yang menguntungkan," ujarnya dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, kemarin.
http://jaringnews.com/politik-perist...kan-kartu-truf
Ini Hasil Akhir dan Resmi Perolehan Suara Pileg 2014
Sat,10 May 2014 | 00:25

KBR, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyelesaikan perhitungan suara pemilihan anggota legislatif 2014. Hasilnya PDI Perjuangan lah juaranya. Ketua KPU, Husni Kamil Manik memimpin rapat pleno terbuka itu, Jumat (9/5) sampai tengah malam. Akhirnya, PDI Perjuangan menempati posisi pertama dengan raihan suara sebesar 23.681.471 atau sekira 18,95 persen suara. Posisi kedua, Partai Golkar, 18.432.312 suara (14,75 persen).
Partai Gerindra di posisi ketiga dengan jumlah suara 14.760.371 atau sekira 11,81 persen. Posisi 3 besar ini sama persis dalam prediksi hitung cepat. Berikut hasil lengkap rekapitulasi nasional Pemilihan Legislatif 2014:
1. Partai NasDem (8.402.812 suara)/ 6,72 persen
2. Partai Kebangkitan Bangsa (11.298.957 suara)/ 9,04 persen
3. Partai Keadilan Sejahtera (8.480.204 suara)/ 6,79 persen
4. PDI Perjuangan (23.681.471 suara)/ 18,95 persen
5. Partai Golkar (18.432.312 suara)/ 14,75 persen
6. Partai Gerindra (14.760.371 suara)/ 11,81 persen
7. Partai Demokrat (12.728.913 suara)/ 10,19 persen
8. Partai Amanat Nasional (9.481.621 suara)/ 7,59 persen
9. Partai Persatuan Pembangunan (8.157.488 suara)/ 6,53 persen
10. Partai Hanura (6.579.498 suara)/ 5,26 persen
11. Partai Bulan Bintang (1.825.750)/ 1,46 persen
12. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (1.143.094 suara)/ 0,91 persen
http://www.portalkbr.com/berita/beri...0620_6033.html
PKS menarik dukungan dari Prabowo karena tak jadi cawapres?
Rabu, 14 Mei 2014 15:56
Merdeka.com - Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto menghadiri Rakernas Partai Amanat Nasional ( PAN ). Kedua partai ini sepakat berkoalisi.
Prabowo menyampaikan proses koalisi antara PAN dan Gerindra butuh waktu 18 bulan. Lalu bagaimana dengan PKS? Benarkan PKS mundur karena kader mereka tak dijadikan cawapres? "Enggak. Jadi saya kira tidak seperti itu, karena semua berfikir semua kepentingan bangsa," kata Prabowo menepis isu tersebut, Rabu (14/5).
Walau sudah resmi berkoalisi dengan PAN , Prabowo mengaku belum mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres. Dia masih menunggu PPP. "Ini buka deklarasi, deklarasi masih ada proses kita ingin merajut koalisi lebih kuat. PPP akan undang saya hari Jumat setelah selesai Salat Jumat. Akan memberikan hasil Rapimnas ke saya," kata Prabowo.
http://www.merdeka.com/politik/pks-m...-cawapres.html
Gara-gara Harry Tanoe, Koalisi Hanura-PDIP Sulit Terwujud
Jumat, 09 Mei 2014 , 10:15:00
JAKARTA - Masa lalu Ketua Bappilu Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo diprediksi sebagai ganjalan terbesar dalam rencana koalisi dengan PDIP. Pasalnya, Hary Tanoe pernah berkonflik saat masih bergabung dengan Partai NasDem.
Hal tersebut tak ditampik oleh Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier. Apalagi, sambung Fuad, saat ini PDIP sudah membangun koalisi dengan Partai NasDem yang diketuai oleh Surya Paloh. "Itu bagaimana dengan PDIP dan NasDem, memang ini menjadikan Ketua Umum Pak Wiranto menanggung beban berat setelah menerima mandat (arah koalisi) seperti ini. Pak Wiranto harus aspiratif masih ada ganjalan seperti ini," kata Fuad saat dihubungi wartawan, Jumat (9/5).
Fuad mengungkapkan, Wiranto tidak hanya menjalin komunikasi dengan PDIP. Tetapi juga membangun komunikasi politik untuk menenentukan arah koalisi ke Partai Gerindra dan Golkar.
Menurutnya, koalisi Hanura dengan Gerindra dan Golkar sangat terbuka. Terlebih lagi, Wiranto dulunya adalah kader Partai Golkar bersama Aburizal Bakrie serta Prabowo Subianto. "Kalau asal usul Pak Wiranto dengan Golkar, pernah jadi capres dan cawapres Golkar. Dengan adanya HT belum tentu juga PDIP dan NasDem menerima," ungkap mantan Menteri Keuangan RI ini.
Fuad mengisyaratkan bahwa Gerindra atau Golkar berpeluang menjadi rekan koalisi Hanura. Mengingat, Wiranto juga sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan kedua pimpinan partai tersebut. "Karena dengan Prabowo sudah dua kali, dengan Pak Ical juga beberapa kali," tandasnya.
http://www.jpnn.com/read/2014/05/09/...ulit-Terwujud-
Golkar: Mungkin saja koalisi dengan Demokrat usung Sultan HB X
Rabu, 14 Mei 2014 13:21

Sri Sultan HB X.©2012 Merdeka.com
Figure terkait
Merdeka.com - Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya mengaku bangga salah satu kader Golkar disebut-sebut bakal digandeng oleh Partai Demokrat sebagai capres. Orang yang dimaksud adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. "Kita bangga salah satu kader kita diusung Demokrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X ," kata Tantowi di Gedung DPR , Jakarta, Rabu (14/5).
Namun, hal tersebut tidak serta merta membuka peluang Golkar berkoalisi dengan Demokrat, meski peluang tetap terbuka menyusul pertemuan Ical dengan SBY hari ini. "Kesempatan tetap ada tapi kita harus kalkulasi dari segi suara, dan opportunity nya seperti apa," ungkap Tantowi.
Membuka koalisi dua partai, yakni Demokrat dan Golkar diakui masih terbuka, meski Golkar mulai mengarah ke PDIP. Dia melihat, wacana koalisi dengan Demokrat menjadi daya tarik tersendiri bagi partai menengah yang belum resmi menentukan pilihan koalisi. "Bisa saja. Itu mungkin saja terjadi. Kalau Golkar jadi dengan Demokrat, partai menengah yang belum menentukan mitra koalisi akan melihat ini sebagai daya tarik baru," tutup Tantowi.
Wacana koalisi antara Golkar dan Demokrat semakin menguat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini memanggil Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie ( Ical ) ke Kantor Kepresidenan, Jakarta.
http://www.merdeka.com/politik/golka...ltan-hb-x.html
Ramadhan Pohan: Sultan X opsi lawan Jokowi & Prabowo
Rabu, 14 Mei 2014 12:45
Merdeka.com - Wasekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengatakan, dorongan kader meminta agar Sri Sultan Hamengkubuwono X dicapreskan oleh Demokrat. Menurut dia, Sultan sangat layak dan mampu bersaing dengan Prabowo Subianto serta Jokowi di pilpres.
"Sultan figur yang sangat layak dijadikan opsi untuk melawan Prabowo dan Jokowi . Beliau kan ketokohannya sudah menasional seluruh rakyat kenal. Siapa yang enggak kenal? Semua rakyat kenal, belum lagi track record Sri Sultan Hamengkubuwono IX (pendahulu Sultan X)," ujar Ramadhan kepada merdeka.com, Rabu (14/5).
Dia pun menunggu keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat yang akan memutuskan arah koalisi dan wacana mencapreskan Sultan. Dia yakin majelis tinggi bakal mempertimbangkan suara kader untuk mencapreskan Sultan. "Saya kira itu tergantung majelis tinggi sebagai opsi yang berkembang di masyarakat. Pilihan ini menarik, kita tunggu majelis tinggi mengambil keputusan sangat mendengarkan suara dari kader, media, pengamat maupun survei," terang dia.
Ramadhan yakin sosok Sultan mampu mengobati kejenuhan masyarakat, di tengah pertarungan dua tokoh Prabowo dan Jokowi sebagai capres. Karena itu dia ingin Sultan maju sebagai capres dari Demokrat. "Menurut saya, itu opsi yang menarik di tengah kebuntuan orang terhadap Jokowi dan Prabowo, dan di tengah kesulitan mengangkat salah satu peserta konvensi," ungkap dia.
Ihwal parpol yang mau bergabung mengusung Sultan, Ramadhan optimis Demokrat masih bisa mencari kawan koalisi. "Makanya yang seperti ini kita lihat bagaimana PKS merespons ini, Hanura, Golkar merespons ini. Kita tahu bahwa Golkar tanggal 18 Rapimnas, Demokrat tanggal 18 Rapimnas, PKS , PPP masih memungkinkan," ujar dia. "Ketika koalisi diramu, kalau cocok dengan Sri Sultan oke, terus pasangannya siapa? silakan ada Dahlan, Gita ada Pramono Edhie atau dari parpol lain kan bisa," pungkas Wakil Ketua Komisi I DPR ini.
http://www.merdeka.com/politik/ramad...i-prabowo.html
Ternyata PDIP-Golkar Belum Tentu Berkoalisi?
Rabu, 14 Mei 2014, 13:55 WIB
Bisnis.com, JAKARTA – Pertemuan antara Ketua Umum partai Golkar Aburizal Bakrie dan bakal Capres PDIP Joko Widodo di Pasar Gembrong kemarin, Selasa (13/5/2014) belum pasti dinyatakan sebagai mitra koalisi.
Seperti yang diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin. Menurutnya, pertemuan tersebut masih berupa penjajakan dari partai Golkar terhadap PDIP dan belum bisa dinyatakan secara resmi karena harus melalui mekanisme Rapimnas. “Masih penjajakan, jika hasilnya nanti positif akan diberitahukan kepada seluruh anggota DPP Daerah dan Pusat,”ujar Nurul Arifin saat dihubungi Bisnis, (14/5/2014).
Menurutnya, bergabungnya Partai Golkar dengan PDIP merupakan langkah yang baik, mengingat persentase total poros Jokowi akan lebih besar. “Kami senang karena jika bergabung, jumlah presentase kami akan lebih besar. Namun dengan dinamika politik kini tentu kita masih menunggu keputusan resmi Rapimnas,” kata Nurul.
Maka, semua keputusan resmi mengenai berkoalisi dengan parpol lain, termasuk hasil Rapimnas sebelumnya mengenai penunjukkan ARB sebagai Capres akan diproses pada rapimnas yang rencananya dilaksanakan tiga hari lagi, pada 17 Mei 2014, kata Nurul. “Kita lihat saja hasil Rapimnas nanti, apapun masih bisa terjadi,” tuturnya.
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20...ntu-berkoalisi
LSI: Bukan "Jokowi effect" tapi 'Swing Votters' yang Capai 40%, Bisa Jadi Penentu Pilpres
Tuesday, 13 May 2014 14:06
Jakarta, GATRAnews - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis survei tentang perananan massa mengambang (swing votters) yang dinilai akan menentukan siapa pemenang pilpres. Peneliti LSI, Adjie Alfarabie mengungkapkan swing votters pada Pilpres nanti bisa mencapai 40 persen.
"Melalui survei yang kami lakukan pada tanggal 1 sampai 9 Mei lalu kami menemukan dari 2.400 orang responden, 40 persen diantaranya belum menentukan pilihannya. Mereka mengaku belum tahu program para capres yang bertarung," katanya dalam konferensi pers di kantor LSI di Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (13/5).
Ia juga menjelaskan bila Pilpres dilakukan hari ini dengan dua pasangan capres dan cawapres maka diperoleh hasil pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla atau Joko Widodo-Abraham Samad memperoleh hasil sekitar 35 persen. Sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan suara sekitar 22 persen.
"Dengan hasil disebut diatas maka angka pemilih mengambang masih sangat tinggi mencapai sekitar 42 persen. Kedua pasang capres dan cawapres masih bisa saling mengalahkan," tambahnya.
Survei LSI juga mengungkapkan bahwa massa parpol masih banyak yang belum menentukan pilihan capres dan cawapres yang akan dipilihnya.
"Angka pemilih mengambang di parpol masih sangat tinggi. Di Golkar ada sekitar 60,8 persen, Demokrat mencapai 58 persen, dan PKB angakanya mencapai 60 persen. Swing votters yang berasal dari parpol ini nanti dalam pilpres yang akan memilih figur tanpa melihat parpolnya
http://www.gatra.com/politik-1/52642...0-pilpres.html
-------------------------------
Kalau ada 3 Capres yang maju yaitu itu Prabowo vs Jokowi vs Sultan ... pasti seru pilpres kali ini!

Demokrat lirik Sultan Hamengkubuwono jadi capres
Rabu, 14 Mei 2014 | 10:31 WIB

JAKARTA. Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin mengatakan, partainya membidik salah satu tokoh Partai Golkar, Sri Sultan Hamengku Buwono X, sebagai kandidat calon presiden yang akan diusung pada Pemilu Presiden 2014. Hal itu disampaikan Amir saat dihubungi Kompas.com, Rabu (14/5/2014).
Menurut Amir, alasan memilih Sultan karena elektabilitasnya bisa bersaing dengan dua kandidat bakal capres lainnya, yaitu Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Amir menyebutkan, berdasarkan survei yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), elektabilitas Jokowi berada di kisaran 5-26 persen, sementara Prabowo 17-18 persen. Di posisi ketiga, ada Sultan dengan 15 persen.
“Nah, kemudian di posisi ketiga adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang coba dipasangkan dengan salah satu peserta konvensi, hasilnya ternyata 15 persen. Tidak jauh berbeda. Apalagi masih ada massa mengambang 41 persen,” kata Amir.
Menteri Hukum dan HAM itu menilai, Partai Demokrat masih memiliki peluang untuk memberikan pilihan lain kepada rakyat di luar Jokowi dan Prabowo. Akan tetapi, ia mengakui, untuk mengusung Sultan, Demokrat harus realistis terkait upaya membangun koalisi dengan partai lain untuk memenuhi presidential threshold.
“Yang jelas, kalau lihat di sini, tidak ada maksud apa pun juga untuk mencoba mengganggu dua calon yang sudah ada. Saya kira ini untuk alternatif, bisa memberikan pilihan demokrasi yang lebih baik juga untuk bangsa,” kata Amir.
Sementara ketika ditanya siapa peserta konvensi yang disiapkan untuk berpasangan dengan Sultan, Amir tak mau menyebutkan. Sebelumnya, Juru Bicara Partai Demokrat Ruhut Sitompul mengatakan, Pramono Edhie Wibowo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat yang juga adik ipar Presiden SBY, memiliki peluang berduet dengan Sultan. Komposisi duet sipil militer dianggap akan menjadi kekuatan duet pasangan itu.
Saat ditanya lebih lanjut kemungkinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang juga Ketua Umum Partai Demokrat akan berbicara soal wacana pengusungan Sultan kepada Ketua Umum Partai Golkar Aburizal “Ical” Bakrie dalam pertemuan hari ini, Amir tak menampiknya.
“Ada kemungkinan hal itu akan dibahas,” katanya.
Hingga saat ini, Partai Demokrat memang belum menunjukkan sinyal arah koalisinya setelah keinginan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono untuk melakukan rekonsiliasi dengan Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri menemui jalan buntu. Apabila Demokrat akan mengusung Sultan, maka Demokrat akan membuat poros baru. Peluang paling memungkinkan membangun koalisi bersama partai-partai yang belum menentukan arah koalisinya, seperti Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Hanura.
http://nasional.kontan.co.id/news/de...o-jadi-capres/
Poros Ketiga, SBY akan Mainkan Kartu Truf
Rabu, 14 Mei 2014 11:55 WIB

Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono
JAKARTA, Jaringnews.com - Poros ketiga bisa saja terbentuk, dan segala sesuatu memungkinkan untuk terbentuknya Poros Ketiga, setelah Poros Jokowi dan Poros Prabowo. Istilahnya, janur kuning belum berdiri di depan rumah, masih ada kesempatan untuk meminang calon lain. Bisa saja arah perahu beralih, dengan berbagai strategi Ketua Umum Partai Demokrat untuk membentuk Poros Ketiga dengan berkoalisi dengan Partai Golkar.
Hingga saat ini, Partai Golkar belum secara resmi berkoalisi dengan Partai PDIP dengan mendukung Calon Presiden Joko Widodo. Sebelum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) digelar pada 18 Mei maka ada upaya dan langkah-langkah Ketua Umum Partai Demokrat mengajak partai pemenang Pemilu 2014 untuk berkoalisi.
Pengamat Politik Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo mengatakan, langkah manuver Partai Demokrat diperkirakan akan mengajak Partai Golkar untuk berkoalisi. Karena denagn dipaketkannya kedua partai itu cukup 25 persen sebagai syarat mengusung Capres dalam Pilpres pada 9 Juli 2014 mendatang. Pasalnya, Golkar meraih sekitar 14,75 persen, dan Partai Demokrat 10,19 persen. "Dalam detik terakhir pak SBY akan bermanuver, dan tinggal menunggu akhir survei Partai Demokrat," kata Karyono, di Jakarta, Rabu (14/5).
Arie berpendapat SBY akan memainkan kegalauan Partai Golkar dengan tidak adanya parpol yang ingin meminang Ketua Umum Aburizal Bakrie sebagai cawapres. "Peluang SBY dalam membentuk Poros ketiga masih ada dengan berbagai upaya mendekati Partai Golkar," kata Karyono.
Sementara, Pengamat Politik Charta Politika Yuniarto Wijaya mengatakan, meski terwujud Poros Tengah secara elektoral sulit untuk mengejar pasangan Capres Jokowi dan Prabowo. "Buat saya SBY akan lebih mahal, dan SBY itu suara solid, dan suara ARB (Aburizal Bakrie) suara gak solid, dan masih menunggu Rapimnas.
Poros ketiga tidak menguntungkan Golkar, dan posisisi SBY yang menguntungkan," ujarnya dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, kemarin.
http://jaringnews.com/politik-perist...kan-kartu-truf
Ini Hasil Akhir dan Resmi Perolehan Suara Pileg 2014
Sat,10 May 2014 | 00:25

KBR, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah menyelesaikan perhitungan suara pemilihan anggota legislatif 2014. Hasilnya PDI Perjuangan lah juaranya. Ketua KPU, Husni Kamil Manik memimpin rapat pleno terbuka itu, Jumat (9/5) sampai tengah malam. Akhirnya, PDI Perjuangan menempati posisi pertama dengan raihan suara sebesar 23.681.471 atau sekira 18,95 persen suara. Posisi kedua, Partai Golkar, 18.432.312 suara (14,75 persen).
Partai Gerindra di posisi ketiga dengan jumlah suara 14.760.371 atau sekira 11,81 persen. Posisi 3 besar ini sama persis dalam prediksi hitung cepat. Berikut hasil lengkap rekapitulasi nasional Pemilihan Legislatif 2014:
1. Partai NasDem (8.402.812 suara)/ 6,72 persen
2. Partai Kebangkitan Bangsa (11.298.957 suara)/ 9,04 persen
3. Partai Keadilan Sejahtera (8.480.204 suara)/ 6,79 persen
4. PDI Perjuangan (23.681.471 suara)/ 18,95 persen
5. Partai Golkar (18.432.312 suara)/ 14,75 persen
6. Partai Gerindra (14.760.371 suara)/ 11,81 persen
7. Partai Demokrat (12.728.913 suara)/ 10,19 persen
8. Partai Amanat Nasional (9.481.621 suara)/ 7,59 persen
9. Partai Persatuan Pembangunan (8.157.488 suara)/ 6,53 persen
10. Partai Hanura (6.579.498 suara)/ 5,26 persen
11. Partai Bulan Bintang (1.825.750)/ 1,46 persen
12. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (1.143.094 suara)/ 0,91 persen
http://www.portalkbr.com/berita/beri...0620_6033.html
Quote:
PKS menarik dukungan dari Prabowo karena tak jadi cawapres?
Rabu, 14 Mei 2014 15:56
Merdeka.com - Capres Partai Gerindra Prabowo Subianto menghadiri Rakernas Partai Amanat Nasional ( PAN ). Kedua partai ini sepakat berkoalisi.
Prabowo menyampaikan proses koalisi antara PAN dan Gerindra butuh waktu 18 bulan. Lalu bagaimana dengan PKS? Benarkan PKS mundur karena kader mereka tak dijadikan cawapres? "Enggak. Jadi saya kira tidak seperti itu, karena semua berfikir semua kepentingan bangsa," kata Prabowo menepis isu tersebut, Rabu (14/5).
Walau sudah resmi berkoalisi dengan PAN , Prabowo mengaku belum mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres. Dia masih menunggu PPP. "Ini buka deklarasi, deklarasi masih ada proses kita ingin merajut koalisi lebih kuat. PPP akan undang saya hari Jumat setelah selesai Salat Jumat. Akan memberikan hasil Rapimnas ke saya," kata Prabowo.
http://www.merdeka.com/politik/pks-m...-cawapres.html
Gara-gara Harry Tanoe, Koalisi Hanura-PDIP Sulit Terwujud
Jumat, 09 Mei 2014 , 10:15:00
JAKARTA - Masa lalu Ketua Bappilu Partai Hanura Hary Tanoesoedibjo diprediksi sebagai ganjalan terbesar dalam rencana koalisi dengan PDIP. Pasalnya, Hary Tanoe pernah berkonflik saat masih bergabung dengan Partai NasDem.
Hal tersebut tak ditampik oleh Ketua DPP Partai Hanura Fuad Bawazier. Apalagi, sambung Fuad, saat ini PDIP sudah membangun koalisi dengan Partai NasDem yang diketuai oleh Surya Paloh. "Itu bagaimana dengan PDIP dan NasDem, memang ini menjadikan Ketua Umum Pak Wiranto menanggung beban berat setelah menerima mandat (arah koalisi) seperti ini. Pak Wiranto harus aspiratif masih ada ganjalan seperti ini," kata Fuad saat dihubungi wartawan, Jumat (9/5).
Fuad mengungkapkan, Wiranto tidak hanya menjalin komunikasi dengan PDIP. Tetapi juga membangun komunikasi politik untuk menenentukan arah koalisi ke Partai Gerindra dan Golkar.
Menurutnya, koalisi Hanura dengan Gerindra dan Golkar sangat terbuka. Terlebih lagi, Wiranto dulunya adalah kader Partai Golkar bersama Aburizal Bakrie serta Prabowo Subianto. "Kalau asal usul Pak Wiranto dengan Golkar, pernah jadi capres dan cawapres Golkar. Dengan adanya HT belum tentu juga PDIP dan NasDem menerima," ungkap mantan Menteri Keuangan RI ini.
Fuad mengisyaratkan bahwa Gerindra atau Golkar berpeluang menjadi rekan koalisi Hanura. Mengingat, Wiranto juga sudah beberapa kali melakukan pertemuan dengan kedua pimpinan partai tersebut. "Karena dengan Prabowo sudah dua kali, dengan Pak Ical juga beberapa kali," tandasnya.
http://www.jpnn.com/read/2014/05/09/...ulit-Terwujud-
Golkar: Mungkin saja koalisi dengan Demokrat usung Sultan HB X
Rabu, 14 Mei 2014 13:21

Sri Sultan HB X.©2012 Merdeka.com
Figure terkait
Merdeka.com - Politisi Partai Golkar Tantowi Yahya mengaku bangga salah satu kader Golkar disebut-sebut bakal digandeng oleh Partai Demokrat sebagai capres. Orang yang dimaksud adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X. "Kita bangga salah satu kader kita diusung Demokrat, Sri Sultan Hamengkubuwono X ," kata Tantowi di Gedung DPR , Jakarta, Rabu (14/5).
Namun, hal tersebut tidak serta merta membuka peluang Golkar berkoalisi dengan Demokrat, meski peluang tetap terbuka menyusul pertemuan Ical dengan SBY hari ini. "Kesempatan tetap ada tapi kita harus kalkulasi dari segi suara, dan opportunity nya seperti apa," ungkap Tantowi.
Membuka koalisi dua partai, yakni Demokrat dan Golkar diakui masih terbuka, meski Golkar mulai mengarah ke PDIP. Dia melihat, wacana koalisi dengan Demokrat menjadi daya tarik tersendiri bagi partai menengah yang belum resmi menentukan pilihan koalisi. "Bisa saja. Itu mungkin saja terjadi. Kalau Golkar jadi dengan Demokrat, partai menengah yang belum menentukan mitra koalisi akan melihat ini sebagai daya tarik baru," tutup Tantowi.
Wacana koalisi antara Golkar dan Demokrat semakin menguat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari ini memanggil Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie ( Ical ) ke Kantor Kepresidenan, Jakarta.
http://www.merdeka.com/politik/golka...ltan-hb-x.html
Ramadhan Pohan: Sultan X opsi lawan Jokowi & Prabowo
Rabu, 14 Mei 2014 12:45
Merdeka.com - Wasekjen Partai Demokrat Ramadhan Pohan mengatakan, dorongan kader meminta agar Sri Sultan Hamengkubuwono X dicapreskan oleh Demokrat. Menurut dia, Sultan sangat layak dan mampu bersaing dengan Prabowo Subianto serta Jokowi di pilpres.
"Sultan figur yang sangat layak dijadikan opsi untuk melawan Prabowo dan Jokowi . Beliau kan ketokohannya sudah menasional seluruh rakyat kenal. Siapa yang enggak kenal? Semua rakyat kenal, belum lagi track record Sri Sultan Hamengkubuwono IX (pendahulu Sultan X)," ujar Ramadhan kepada merdeka.com, Rabu (14/5).
Dia pun menunggu keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat yang akan memutuskan arah koalisi dan wacana mencapreskan Sultan. Dia yakin majelis tinggi bakal mempertimbangkan suara kader untuk mencapreskan Sultan. "Saya kira itu tergantung majelis tinggi sebagai opsi yang berkembang di masyarakat. Pilihan ini menarik, kita tunggu majelis tinggi mengambil keputusan sangat mendengarkan suara dari kader, media, pengamat maupun survei," terang dia.
Ramadhan yakin sosok Sultan mampu mengobati kejenuhan masyarakat, di tengah pertarungan dua tokoh Prabowo dan Jokowi sebagai capres. Karena itu dia ingin Sultan maju sebagai capres dari Demokrat. "Menurut saya, itu opsi yang menarik di tengah kebuntuan orang terhadap Jokowi dan Prabowo, dan di tengah kesulitan mengangkat salah satu peserta konvensi," ungkap dia.
Ihwal parpol yang mau bergabung mengusung Sultan, Ramadhan optimis Demokrat masih bisa mencari kawan koalisi. "Makanya yang seperti ini kita lihat bagaimana PKS merespons ini, Hanura, Golkar merespons ini. Kita tahu bahwa Golkar tanggal 18 Rapimnas, Demokrat tanggal 18 Rapimnas, PKS , PPP masih memungkinkan," ujar dia. "Ketika koalisi diramu, kalau cocok dengan Sri Sultan oke, terus pasangannya siapa? silakan ada Dahlan, Gita ada Pramono Edhie atau dari parpol lain kan bisa," pungkas Wakil Ketua Komisi I DPR ini.
http://www.merdeka.com/politik/ramad...i-prabowo.html
Ternyata PDIP-Golkar Belum Tentu Berkoalisi?
Rabu, 14 Mei 2014, 13:55 WIB
Bisnis.com, JAKARTA – Pertemuan antara Ketua Umum partai Golkar Aburizal Bakrie dan bakal Capres PDIP Joko Widodo di Pasar Gembrong kemarin, Selasa (13/5/2014) belum pasti dinyatakan sebagai mitra koalisi.
Seperti yang diungkapkan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Nurul Arifin. Menurutnya, pertemuan tersebut masih berupa penjajakan dari partai Golkar terhadap PDIP dan belum bisa dinyatakan secara resmi karena harus melalui mekanisme Rapimnas. “Masih penjajakan, jika hasilnya nanti positif akan diberitahukan kepada seluruh anggota DPP Daerah dan Pusat,”ujar Nurul Arifin saat dihubungi Bisnis, (14/5/2014).
Menurutnya, bergabungnya Partai Golkar dengan PDIP merupakan langkah yang baik, mengingat persentase total poros Jokowi akan lebih besar. “Kami senang karena jika bergabung, jumlah presentase kami akan lebih besar. Namun dengan dinamika politik kini tentu kita masih menunggu keputusan resmi Rapimnas,” kata Nurul.
Maka, semua keputusan resmi mengenai berkoalisi dengan parpol lain, termasuk hasil Rapimnas sebelumnya mengenai penunjukkan ARB sebagai Capres akan diproses pada rapimnas yang rencananya dilaksanakan tiga hari lagi, pada 17 Mei 2014, kata Nurul. “Kita lihat saja hasil Rapimnas nanti, apapun masih bisa terjadi,” tuturnya.
http://surabaya.bisnis.com/m/read/20...ntu-berkoalisi
LSI: Bukan "Jokowi effect" tapi 'Swing Votters' yang Capai 40%, Bisa Jadi Penentu Pilpres
Tuesday, 13 May 2014 14:06
Jakarta, GATRAnews - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) merilis survei tentang perananan massa mengambang (swing votters) yang dinilai akan menentukan siapa pemenang pilpres. Peneliti LSI, Adjie Alfarabie mengungkapkan swing votters pada Pilpres nanti bisa mencapai 40 persen.
"Melalui survei yang kami lakukan pada tanggal 1 sampai 9 Mei lalu kami menemukan dari 2.400 orang responden, 40 persen diantaranya belum menentukan pilihannya. Mereka mengaku belum tahu program para capres yang bertarung," katanya dalam konferensi pers di kantor LSI di Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (13/5).
Ia juga menjelaskan bila Pilpres dilakukan hari ini dengan dua pasangan capres dan cawapres maka diperoleh hasil pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla atau Joko Widodo-Abraham Samad memperoleh hasil sekitar 35 persen. Sedangkan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapatkan suara sekitar 22 persen.
"Dengan hasil disebut diatas maka angka pemilih mengambang masih sangat tinggi mencapai sekitar 42 persen. Kedua pasang capres dan cawapres masih bisa saling mengalahkan," tambahnya.
Survei LSI juga mengungkapkan bahwa massa parpol masih banyak yang belum menentukan pilihan capres dan cawapres yang akan dipilihnya.
"Angka pemilih mengambang di parpol masih sangat tinggi. Di Golkar ada sekitar 60,8 persen, Demokrat mencapai 58 persen, dan PKB angakanya mencapai 60 persen. Swing votters yang berasal dari parpol ini nanti dalam pilpres yang akan memilih figur tanpa melihat parpolnya
http://www.gatra.com/politik-1/52642...0-pilpres.html
-------------------------------
Kalau ada 3 Capres yang maju yaitu itu Prabowo vs Jokowi vs Sultan ... pasti seru pilpres kali ini!

Diubah oleh sophieshield 14-05-2014 18:20
0
3.5K
22
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
696.1KThread•59.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya