Modal populer doang mah jangan harap gan bisa menang, pasti tetep butuh yang namanya dukungan dari teman. Nih salah satu contoh kasusnya, Jokowi sama Prabowo emang dari kemarin itu diberitain terus, pasti orang anggap mereka ini polpuler karena masuk berita terus kan, tapi kan mereka ini sama sekali belum teruji gan buat memimpin, kecuali mereka ini dipasangkan dengan orang yang memang punya kemampuan untuk memimpin gan. Bagusnya si Prabowo udah mau dipasangin sama ARB yang udah punya pengalaman gan, pas deh menurut ane itu. Tinggal Jokowi nih bikin ane penasaran sama siapa nantinya.
Quote:
Liputan6.com, Jakarta - Menjelang pemilihan presiden Juli 2014, publik disuguhkan 2 nama kandidat calon presiden, yaitu Joko Widodo atau Jokowi dan Prabowo Subianto. Mereka populer namun belum teruji.
Menurut Direktur Freedom Institute, Luthfi Assyaukanie, kedua capres yang sama-sama belum menentukan calon wakil presidennya itu, dianggap pilihan yang berdasar pada tingkat popularitas, dan belum teruji bisa memimpin Indonesia.
"Kita punya harapan tinggi tapi disuguhkan dengan politik yang pahit. Stok capres, nama-nama yang beredar dan yang elektabilitasnya tinggi tidak pernah berubah," kata Luthfi dalam sebuah diskusi, di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu 7 Mei 2014).
Luthfi berujar, pada pilpres mendatang publik suka tidak suka harus menerima pilihan capres yang sudah tersedia. Padahal, masih banyak tokoh lain yang lebih berkompeten. Alhasil, kondisi politik memaksa masyarakat harus memilih stok capres yang terbilang sedikit.
"Orangnya itu-itu lagi. Jokowi tertinggi meramaikan survei sejak tahun lalu. Tapi walaupun harapan kita tinggi tapi stok yang kita punya itu saja," ujarnya.
Bagi Luthfi, menyoroti politik pilpres 2014 tak bisa dilepaskan dari kepentingan global. Menurutnya, 2 figur capres itu dianggap sebuah keraguan bisa lepas dari kepentingan global.
Dia menambahkan, 10 tahun pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai mampu menstabilkan sistem ekonomi Indonesia. "Tetapi, kondisi itu pun masih belum bisa keluar dari kepentingan asing," tandas Luthfi.