- Beranda
- Berita dan Politik
Ternyata Masyarakat Indonesia Dukung Prilaku Paedofilia
...
TS
palala.palalok
Ternyata Masyarakat Indonesia Dukung Prilaku Paedofilia
Spoiler for awas muntah:
Spoiler for Baca:
Kasus paedofil yang terjadi di JIS (Jakarta International School) dan Sukabumi dengan korban mencapai puluhan anak-anak saat ini telah menjadi potret besar kebebasan prilaku seks di Indonesia. Para korban paedofil kebanyakan adalah bocah-bocah lelaki yang tak mengerti apa-apa. Secara bersamaan dan tanpa kenal ampun, tubuh, masa depan, dan psikologi mereka dengan keji telah dirusak oleh para predator yang mengidap kelainan seks menyimpang tersebut.
Ketika kasus tersebut menyeruak ke ranah publik spontan semua pihak ramai-ramai mengutuk pelaku. Tak ketinggalan, sejumlah LSM ‘full charge’ pun menjadi buas lalu ‘menghardik’ agar hukum yang berlaku dipecut untuk segera ditegakkan. Namun tanpa kita sadari kasus paedofil yang menjijikkan sekaligus menggidikkan bulu roma tersebut terjadi justru atas bantuan dan dukungan masyarakat Indonesia sendiri. Loh kok bisa?
Negeri ini dengan pejabatnya yang korup terlalu banyak disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting hingga melalaikan hal-hal yang sangat penting. Perkembangan gaya hidup para generasi muda saat ini sudah begitu sangat mengkuatirkan, namun pejabatnya masih sempat cengar-cengir di hadapan publik, seolah negeri ini tidak sedang bermasalah.
Kasus paedofil yang kini tengah marak di Indonesia merupakan dampak dari perkembangan gaya hidup regenerasi bangsa yang seolah sengaja dibiarkan oleh pemerintah dan seluruh pejabat. Sudah sangat jelas bahwa tipe kejahatan paedofil di JIS dan Sukabumi merupakan kasus paedofil yang kebanyakan dilakukan oleh pria dewasa terhadap para bocah lelaki. Jelas pula bahwa para predator paedofil di JIS dan Sukabumi orientasi seksnya tidak kepada perempuan tapi kepada yang berjenis kelamin lelaki. Tubuh anak-anak lelaki yang diincar para paedofil itu adalah anus alias dubur. Seperti disebutkan diatas, bahwa pelakunya tak lain adalah para pria yang mengidap kelainan seks. Penyuka sesama jenis. Dunia seksologi mengenalnya dengan kaum homoseksual. Jika mereka perempuan maka dikenal dengan sebutan lesbian.
Pengidap homoseksual dikenal juga dengan istilah gay, waria, atau banci. Lucunya, Indonesia ternyata bukanlah sebuah negara yang tabu terhadap para pria atau wanita yang mengidap kelainan seksual sesama jenis. Justru secara transparan kita saksikan langsung bagaimana negeri ini telah memelihara bahkan meninakbobokkan mereka. Lihatlah pula, bagaimana dunia hiburan di negeri ini kompak beramai-ramai mempopulerkan mereka hampir di setiap program acara. Sebut saja seperti program acara musik, sinetron, reality show, komedi, bahkan reliji.
Saat kita tersadar bahwa saat ini keberadaan mereka tak lagi dapat ditolerir karena mereka adalah ancaman serius bagi regenerasi muda bangsa seharusnya kita juga tersadar bahwa sebetulnya kita juga pernah men-support mereka meski hanya untuk sebuah sunggingan tawa.
Selama ini diamnya kita terhadap prilaku mereka bisa disebut sebagai dukungan bangsa secara keseluruhan yang sangat berharga bagi mereka. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga memperoleh dukungan biaya dari sejumlah perusahaan. Dimana dukungan biaya mereka peroleh dari pihak broadcast maupun PH (Production House) yang siap membayar mereka untuk mengekspresikan prilaku homoseksualnya.
Luar biasanya lagi, sejumlah entertainer penampil gaya homoseksual atau gay mampu menduduki peringkat selebriti papan atas Indonesia, mengalahkan peringkat selebriti pria yang berprilaku seks ‘normal’. Kondisi pun semakin diperparah dengan angka bayaran bernilai cukup tinggi yang diterima entertainer penampil gaya homoseksual tersebut.
Sebuah logika sederhana akan bertanya, mengapa aksi predator paedofil mereka ditolak padahal sebelumnya gaya mereka didukung oleh masyarakat? Jika masyarakat Indonesia mendukung penampilan mereka seharusnya masyarakat juga menerima mereka secara keseluruhan, termasuk prilaku paedofil mereka. Namun jika masyarakat Indonesia tidak menghendaki predator paedofil merajalela seharusnya seluruh elemen bangsa tidak perlu mendukung habitat mereka atau apapun aktifitas mereka
Ketika kasus tersebut menyeruak ke ranah publik spontan semua pihak ramai-ramai mengutuk pelaku. Tak ketinggalan, sejumlah LSM ‘full charge’ pun menjadi buas lalu ‘menghardik’ agar hukum yang berlaku dipecut untuk segera ditegakkan. Namun tanpa kita sadari kasus paedofil yang menjijikkan sekaligus menggidikkan bulu roma tersebut terjadi justru atas bantuan dan dukungan masyarakat Indonesia sendiri. Loh kok bisa?
Negeri ini dengan pejabatnya yang korup terlalu banyak disibukkan oleh hal-hal yang tidak penting hingga melalaikan hal-hal yang sangat penting. Perkembangan gaya hidup para generasi muda saat ini sudah begitu sangat mengkuatirkan, namun pejabatnya masih sempat cengar-cengir di hadapan publik, seolah negeri ini tidak sedang bermasalah.
Kasus paedofil yang kini tengah marak di Indonesia merupakan dampak dari perkembangan gaya hidup regenerasi bangsa yang seolah sengaja dibiarkan oleh pemerintah dan seluruh pejabat. Sudah sangat jelas bahwa tipe kejahatan paedofil di JIS dan Sukabumi merupakan kasus paedofil yang kebanyakan dilakukan oleh pria dewasa terhadap para bocah lelaki. Jelas pula bahwa para predator paedofil di JIS dan Sukabumi orientasi seksnya tidak kepada perempuan tapi kepada yang berjenis kelamin lelaki. Tubuh anak-anak lelaki yang diincar para paedofil itu adalah anus alias dubur. Seperti disebutkan diatas, bahwa pelakunya tak lain adalah para pria yang mengidap kelainan seks. Penyuka sesama jenis. Dunia seksologi mengenalnya dengan kaum homoseksual. Jika mereka perempuan maka dikenal dengan sebutan lesbian.
Pengidap homoseksual dikenal juga dengan istilah gay, waria, atau banci. Lucunya, Indonesia ternyata bukanlah sebuah negara yang tabu terhadap para pria atau wanita yang mengidap kelainan seksual sesama jenis. Justru secara transparan kita saksikan langsung bagaimana negeri ini telah memelihara bahkan meninakbobokkan mereka. Lihatlah pula, bagaimana dunia hiburan di negeri ini kompak beramai-ramai mempopulerkan mereka hampir di setiap program acara. Sebut saja seperti program acara musik, sinetron, reality show, komedi, bahkan reliji.
Saat kita tersadar bahwa saat ini keberadaan mereka tak lagi dapat ditolerir karena mereka adalah ancaman serius bagi regenerasi muda bangsa seharusnya kita juga tersadar bahwa sebetulnya kita juga pernah men-support mereka meski hanya untuk sebuah sunggingan tawa.
Selama ini diamnya kita terhadap prilaku mereka bisa disebut sebagai dukungan bangsa secara keseluruhan yang sangat berharga bagi mereka. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga memperoleh dukungan biaya dari sejumlah perusahaan. Dimana dukungan biaya mereka peroleh dari pihak broadcast maupun PH (Production House) yang siap membayar mereka untuk mengekspresikan prilaku homoseksualnya.
Luar biasanya lagi, sejumlah entertainer penampil gaya homoseksual atau gay mampu menduduki peringkat selebriti papan atas Indonesia, mengalahkan peringkat selebriti pria yang berprilaku seks ‘normal’. Kondisi pun semakin diperparah dengan angka bayaran bernilai cukup tinggi yang diterima entertainer penampil gaya homoseksual tersebut.
Sebuah logika sederhana akan bertanya, mengapa aksi predator paedofil mereka ditolak padahal sebelumnya gaya mereka didukung oleh masyarakat? Jika masyarakat Indonesia mendukung penampilan mereka seharusnya masyarakat juga menerima mereka secara keseluruhan, termasuk prilaku paedofil mereka. Namun jika masyarakat Indonesia tidak menghendaki predator paedofil merajalela seharusnya seluruh elemen bangsa tidak perlu mendukung habitat mereka atau apapun aktifitas mereka
Spoiler for ember:
http://www.spektanews.com/2014/05/ternyata-masyarakat-indonesia-dukung.html
Spoiler for TS:
Kayaknya ada bener nya juga, masyarakat kita terbiasa melihat tontonan banci sekarang di TV, hampir sepanjang hari
0
4.1K
Kutip
71
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.7KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya
