- Beranda
- Stories from the Heart
Dialog antara selembar KTP dan status beragama
...
TS
neaaar
Dialog antara selembar KTP dan status beragama
Gesekan mesin roda dua dan roda empat di ruas jalan memulai polusi. Kendaraan berlalu-lalang padat merayap. Jalanan lumpuh. Tak lagi dapat dibedakan, mana ruang transportasi dan mana ruang pejalan kaki. Trotoar beralih fungsi menjadi pangkalan pedagang kaki lima. Kepulan-kepulan asap knalpot berdansa diudara, bergabung dan membuat pesta bersama asap-asap pabrik. Matahari hanya mengamati semua dari jauh, dari jarak pandang yang diatur dengan kecepatan cahaya. Sebuah bus kota berhenti, menurunkan seseorang bertampang preman dan mengangkut beberapa anak berseragam. Transaksi usai, bus kota melaju lagi. Si tampang preman berjalan gontai. Ia mengambil dompet disaku celananya. Mengamati helai-helai rupiah dan selembar KTP (kartu identitas penduduk) yang kemudian ia cabut secara paksa. Sejenak ia amati lekat-lekat KTP tersebut, kemudian tersenyum abstrak. Dilemparnya dompet ke tong sampah dan membuang KTP begitu saja. Langkah gontainya diteruskan hingga ia tenggelam di persimpangan. Selembar KTP keluaran lama itupun terombang-ambing oleh angin, sedang nasib si dompet biarlah nanti petugas berseragam kuning yang mengurusnya. Angin membawa terbang KTP hingga terkapar dibawah lampu jalanan. Setelah lama, samar-samar sebuah percakapan kecil mulai terdengar. Ya, sebuah dialog yang sepertinya bersumber dari KTP dan isinya..
KTP : “hai komponenku, apa kabar ? masih lelah ? yah sudahlah, lanjutkan lelapmu.”
Status Beragama : “aku tak bisa terlelap. Bisakah kau dongengkan aku ?”
KTP : “tentang apa ? tragedi pencurian dompet milik si empunya KTP ini ?”
Status Beragama : “ya. Tapi kurasa itu bukan sebuah dongeng. Jadi, mengapa si tampang preman tersenyum kala membaca mu ?”
KTP : “entahlah, mungkin ia mengejekku karena aku bukan elektrik KTP melainkan hanya selembar laminating.”
Status Beragama : “aku tadi mendengar ia bergumam. Begini “agamanya sama denganku”. Apa aku salah ?”
KTP : “bukan, dia yang salah.”
Status Beragama : “apa yang salah ? karena ia mencuri dompet pemilik KTP ini ?”
KTP : ”benar sekali.”
Status Beragama : “mungkin helai-helai rupiah terlalu menggodanya.”
KTP : “harusnya, jika statusnya beragama pasti ia tahu bahwa mencuri itu berdosa. Bukankah semua agama mengajarkan kebaikan ? Bisa saja ia juga akan di tangkap jika ketahuan.”
Status Beragama : “status hanya sebagai formalitas. Dosa tak lagi menjadi hantu yang menakutkan. Karena ketakutan yang sebenarnya adalah kehidupan. Peduli apa soal dosa? Urusan yang abstrak terlalu rumit untuk diperbincangkan. Ketahuan ? tak kau tengok rampok berdasi yang duduk di teras TV ? apa mereka di tangkap ? sudahlah, agama tak lagi dipusingkan di abad ini.”
KTP : “mengapa begitu ?”
Status Beragama : “kau tahu? Dari seratus sekian juta penduduk Indonesia semuanya mencantumkanku pada KTP-nya. Tapi apa ? ini hanya pencitraan dan teks. Bukan lagi soal agama. Mungkin agama tlah menjelma rupiah dan menina bobokan kesadaran moral pada kegelapan materi yang bersahaja.“
KTP : “jadi intinya ?”
Status Beragama : “beberapa oknum menganggapku hanya bias tanpa kontribusi pasti pada Tuhannya. Hanya pemenuh ayat pertama pada pancasila yang berbunyi Ketuhanan yang Maha Esa tapi tak mengerti siapa yang dituhankan. Entah Tuhan entah uang. Aku kecewa, tapi aku bisa apa ?”
KTP : “kita bisa berdo’a. Selebihnya apa kita punya kuasa ?”
Status Beragama : “entahlah, mungkin hadirku tak lagi penting untuk dicantumkan dalam selembar KTP. Bukan begitu?”
Keheningan menyeruak. Langit sore tak lagi menjadi kanvas berwarna jingga. Mendung mendominasi kekeruhan mayapada. Tetes-tetes air mengalir dari atas. Perlahan dan kemudian menderas. Orang-orang berlarian dan selalu begini setiap hujan. Mungkin karena hujan tak pernah datang sendiri, selalu bersama. Parit-parit kecil mulai disesaki oleh air dan sampah plastik. Genangan air mulai terbentuk tanpa perlu proses yang panjang. KTP malang tadi turut hanyut dan kemudian pergi mengikuti arus air. Tanpa ia sadari, percakapan yang tadi tlah terekam oleh alam. Alam menuai protes dan mendukung gagasan tadi lewat banjir di sore ini. Dialog usai tapi pembahasan diakhiri dengan tanda tanya.
anasabila memberi reputasi
1
1.5K
5
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok