Menikah tidak hanya urusan perayaan, tetapi juga menjalani hidup berdua untuk membentuk sebuah keluarga. Oleh karena itu, memutuskan untuk menikah bukanlah perkara yang mudah. Persiapan jasmani dan rohani calon pasutri harus benar-benar matang. Apa saja yang harus dilakukan untuk membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia? Berikut hasil perbincangan Anggun dengan Ibu Sani B. Hermawan, Psi.
Spoiler for Komitmen:
Ketika dua insan memantapkan hati untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan, sebaiknya mereka membuat komitmen atau kesepakan. Komitmen tersebut dapat dijadikan bekal agar perjalanan biduk rumah tangga tidak menemukan hambatan di kemudian hari. Menurut psikolog Sani B. Hermawan, komitmen sebaiknya dibicarakan dengan serius sebelum menikah, “Jangan pembicaraannya yang santai, yang fun-fun, terus begitu terikat bingung.” Komitmen apa saja sih yang harus dibuat?
Spoiler for Komitmen kesetiaan:
Komitmen untuk setia menjadi hal terpenting yang harus dibicarakan. Kedua belah pihak harus berikrar setia untuk tidak selingkuh. Mengingat poligami diperbolehkan dalam Islam, harus dibicarakan juga kemungkinan ke arah itu. Apakah si lelaki akan setia hanya dengan satu istri atau berniat melakukan poligami. Semua itu harus dibicarakan secara serius mengingat tidak semua perempuan bersedia dimadu.
Spoiler for Tujuan keluarga:
Tetapkan tujuan agar jelas kemana akan berjalan. Dalam Islam, tujuannya adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Spoiler for Pembagian peran dan tanggung jawab:
Pembagian ini haruslah jelas dan adil Jangan sampai ada ketimpangan yang menyebabkan salah satu pihak merasa terbebani.
Spoiler for Merencanakan keturunan:
Rencana untuk memiliki keturunan juga harus dibicarakan secara serius. Mulai dari jumlah anak yang diinginkan, sampai pendidikan yang akan diterapkan.
Spoiler for Tempat tinggal:
Kesepakatan tentang di mana akan tinggal setelah menikah juga tak kalah penting untuk menjaga kenyamanan kedua belah pihak. Apakah pasangan suami-istri akan tinggal berbaur di rumah orangtua atau mau mandiri dengan tinggal di rumah sendiri atau mengontrak.
Spoiler for Pengaturan uang:
Kedua belah pihak harus sepakat mengenai siapa yang akan mengatur keuangan keluarga nantinya, istri atau suami.
Karena dalam sebuah pernikahan, ada dua orang yang terlibat, jadi komitmen harus dibuat berdasarkan keingian keduanya. Jangan sampai ada salah satu pihak merasa terpaksa menjalaninya. Menurut ibu dari tiga orang anak ini, kematangan kedua pribadi dalam berkomunikasi dan yakin kalau komitmen yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama sangatlah penting. “Karena mereka berdua yang menjalani, jadi harus berdua juga.” Jangan sampai ada pribadi yang otoriter, ini untuk mencegah terjadinya sikap saling menyalahkan di kemudian hari bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Spoiler for Komunikasi:
Komunikasi adalah hal penting yang harus dijaga agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bermuara pada terjadinya konflik. Dalam sebuah keluarga, komunikasi sebaiknya berjalan dua arah, jangan sampai ada yang agresif dan ada yang pasif. Sikap agresif salah satu pasangan membuat pasangan yang lain cenderung pasif. Ini bisa sangat membahayakan. Tapi kalau sampai itu terjadi, hadapilah dengan bijaksana. Untuk mengatasai hal itu kemampuan komunikasi harus diasah. Kedua belah pihak harus belajar mengungkapkan perasaannya. Orang yang agresif harus mengungkapkan dengan bahasa halus yang tidak menyakiti. Dan orang yang pasif belajar untuk mengungkapkan perasaannya.
Dengan komunikasi dua arah, rumah tangga akan terasa lebih tenteram karena tidak ada yang merasa menindas dan ditindas. Komunikasi yang lancar antara pasutri juga dapat meminimalisir pengaruh eksternal yang bisa berdampak negatif dalam perjalanan rumah tangga.
Spoiler for Konflik:
Konflik bisa terjadi kalau ada kepentingan yang berbenturan. Konflik seringkali tidak dapat dihindari tapi bisa dikurangi agar tidak menjadi lebih besar. “Untuk mengurangi konflik kita bisa mulai dengan pengendalian emosi dulu,” ujar psikolog yang menjabat sebagai Direktur Lembaga Psikilogi Daya Insani ini. Ketika mulai ada bersitegang antara pasutri, mulailah dengan meredam emosi dan temukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Setelah menemukan waktu yang tepat, tentukan bahan diskusi agar pembicaraan dapat mencapai sasarannya.
Kalau konflik sudah menjadi lebih besar serta komunikasi dengan pasangan tidak dapat menemukan jalan keluarnya, disarankan agar pasangan suami-istri melibatkan orang ketiga yang bisa menjadi penengah. Orang tersebut haruslah berkompeten, bijaksana, dan tidak memihak. Namun, menurut psikolog yang memiliki hobi jalan-jalan ini, pasutri harus tetap berhati-hati dalam memilih orang ketiga walaupun itu adalah keluarga sendiri. “Hati-hati juga karena ternyata banyak sekali yang menjadi penengah itu orang yang tidak kompeten di bidangnya bahkan malah jadi memperuncing,” ujar psikolog yang berpraktik di kawasan Kemang, Jakarta ini. Jadi kalau tidak ada orang yang dianggap berkompeten, sebaiknya mintalah bantuan pada psikolog.
Spoiler for Kerja sama:
Pernikahan melibatkan dua orang, oleh karena itulah dibutuhkan kerja sama yang solid untuk mencapai tujuan keluarga yang sudah direncanakan. Kerja sama bisa dilakukan dalam segala hal, mulai dari beban ekonomi, mengasuh dan mendidik anak, bahkan tugas rumah tangga. Jangan terlalu kaku dalam menerapkan aturan siapa yang harus bertanggungjawab atas apa. Dalam tugas mengurus anak misalnya, jangan membebani tugas mengasuh dan mendidik anak hanya pada ibu, tapi ayah juga harus memiliki peranan. Tapi tetap harus ada yang menjadi key person dalam hal ini. Kerja sama yang baik akan menjadikan pasangan lebih kompak dalam menghadapi cobaan.
Nah, bagi Anda yang sedang bersiap melaju ke pelaminan, siapkanlah segala sesuatunya dengan baik agar memiliki keluarga yang bahagia tidak hanya menjadi impian