- Beranda
- Stories from the Heart
Sayang...
...


TS
fairyofmay
Sayang...
Kadang hati hanya tak ingin melupa, karena terlalu banyak mengingat dan menyimpan, apa itu yang dinamakan kenangan.
Dan saat otak menginginkan semuanya hilang, kenangan itu semakin tajam memutar nada, berganti satu per satu agar kamu tidak akan pernah melupa.
Ingatan itu seperti pisau. Semakin dalam kamu menancapkannya semakin sakit pula saat kamu mencoba melepaskannya...
“Jangan pergi.. Aku hanya butuh kamu disini”
Lalu apa kabar dengan miras yang tak pernah coba kamu tinggalkan? Apa kabar dengan teman-temanmu yang tak pernah gagal mengajakmu berbuat dosa? Apa kabar dengan hingar bingar lampu disko beserta wanita malam yang tak pernah sekalipun bisa kamu hempaskan?
“Apa yang akan aku lakukan saat kamu tak ada?”
Apa kamu lupa, setiap hari aku mengais bayangmu sendiri. Kita bersama tanpa pernah tatap muka lebih lama. Aku hanya sadar kamu ada saat pukul 5 aku terbangun dan melihatmu tidur di sisi kananku. Dengan nafas bau alcohol, dengan baju yang tergeletak rapi di atas kursi. Berbau asap rokok menyengat, keringat bahkan entah parfum siapa. Aku tak pernah tau kamu pulang. Pukul delapan kita berangkat bersama, namun saat aku kembali pukul enam sore kamu tak pernah ada di tempat. Hanya baju kerjamu yang tergantung di belakang pintu, dan aromamu yang samar-samar tercium. Aku menunggu dengan sabar kapan pintu akan terbuka dan kamu datang dengan senyuman seperti biasa. Namun penantianku selalu sia-sia saat panggilanku tak kamu jawab dan pesanku kamu abaikan. Sayang, kapan kamu pulang?
“Aku janji akan berubah asal kamu memaafkanku”
Sayang, sebutkan kapan saat aku tidak memaafkanmu. Sebutkan saat amarahku bisa melebihi rinduku. Aku mencoba menjadi pasangan yang baik untukmu. Selalu tersenyum saat bersamamu. Namun sekarang aku lupa bagaimana rasanya tersenyum, saat aku tak bisa lagi menemukanmu dimanapun. Bahkan di hatiku.
Sayang, tidakkah kamu lelah seharian tak beristirahat? Rebahlah dipelukanku seperti dulu, berceritalah tentang aktifitasmu kepadaku, mengeluhlah tentang betapa kerasnya kerjamu, dan betapa besarnya kamu merindukanku. Aku akan mendengar semuanya tanpa banyak bicara, menjamumu dengan sepiring kue cinta dan secangkir kopi kasih. Sayang, berpalinglah kepadaku.
Entah kapan terakhir kali kita bercanda berdua, menertawakan kekonyolan masing-masing, berebut tissue saat menonton film melankolis. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kamu menungguku pulang. Duduk di sofa dengan remote tv di tanganmu, dengan celana pendek dan kaos kasual yang membuatmu terlihat sangat santai, namun tetap menawan. Atau saat kamu berteriak dari dalam kamar mandi meminta handuk, kebiasaan lama yang tidak pernah kamu perbaiki. Sayang, tolong kembalilah merepotkanku. Kembalilah merengek meminta kasih sayangku, kembalilah menjadi milikku yang dulu.
Sayang, kapan kamu pulang?
Dan saat otak menginginkan semuanya hilang, kenangan itu semakin tajam memutar nada, berganti satu per satu agar kamu tidak akan pernah melupa.
Ingatan itu seperti pisau. Semakin dalam kamu menancapkannya semakin sakit pula saat kamu mencoba melepaskannya...
“Jangan pergi.. Aku hanya butuh kamu disini”
Lalu apa kabar dengan miras yang tak pernah coba kamu tinggalkan? Apa kabar dengan teman-temanmu yang tak pernah gagal mengajakmu berbuat dosa? Apa kabar dengan hingar bingar lampu disko beserta wanita malam yang tak pernah sekalipun bisa kamu hempaskan?
“Apa yang akan aku lakukan saat kamu tak ada?”
Apa kamu lupa, setiap hari aku mengais bayangmu sendiri. Kita bersama tanpa pernah tatap muka lebih lama. Aku hanya sadar kamu ada saat pukul 5 aku terbangun dan melihatmu tidur di sisi kananku. Dengan nafas bau alcohol, dengan baju yang tergeletak rapi di atas kursi. Berbau asap rokok menyengat, keringat bahkan entah parfum siapa. Aku tak pernah tau kamu pulang. Pukul delapan kita berangkat bersama, namun saat aku kembali pukul enam sore kamu tak pernah ada di tempat. Hanya baju kerjamu yang tergantung di belakang pintu, dan aromamu yang samar-samar tercium. Aku menunggu dengan sabar kapan pintu akan terbuka dan kamu datang dengan senyuman seperti biasa. Namun penantianku selalu sia-sia saat panggilanku tak kamu jawab dan pesanku kamu abaikan. Sayang, kapan kamu pulang?
“Aku janji akan berubah asal kamu memaafkanku”
Sayang, sebutkan kapan saat aku tidak memaafkanmu. Sebutkan saat amarahku bisa melebihi rinduku. Aku mencoba menjadi pasangan yang baik untukmu. Selalu tersenyum saat bersamamu. Namun sekarang aku lupa bagaimana rasanya tersenyum, saat aku tak bisa lagi menemukanmu dimanapun. Bahkan di hatiku.
Sayang, tidakkah kamu lelah seharian tak beristirahat? Rebahlah dipelukanku seperti dulu, berceritalah tentang aktifitasmu kepadaku, mengeluhlah tentang betapa kerasnya kerjamu, dan betapa besarnya kamu merindukanku. Aku akan mendengar semuanya tanpa banyak bicara, menjamumu dengan sepiring kue cinta dan secangkir kopi kasih. Sayang, berpalinglah kepadaku.
Entah kapan terakhir kali kita bercanda berdua, menertawakan kekonyolan masing-masing, berebut tissue saat menonton film melankolis. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kamu menungguku pulang. Duduk di sofa dengan remote tv di tanganmu, dengan celana pendek dan kaos kasual yang membuatmu terlihat sangat santai, namun tetap menawan. Atau saat kamu berteriak dari dalam kamar mandi meminta handuk, kebiasaan lama yang tidak pernah kamu perbaiki. Sayang, tolong kembalilah merepotkanku. Kembalilah merengek meminta kasih sayangku, kembalilah menjadi milikku yang dulu.
Sayang, kapan kamu pulang?


anasabila memberi reputasi
1
848
7


Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!

Stories from the Heart
32.3KThread•47.9KAnggota
Urutkan
Terlama


Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru