- Beranda
- Berita dan Politik
Mantan Tim Sukses Jadi Makelar, Jokowi Salahkan Proses Lelang
...
TS
boomtrack0099
Mantan Tim Sukses Jadi Makelar, Jokowi Salahkan Proses Lelang

Spoiler for News:
JAKARTA, KOMPAS.com - Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan, kelemahan pengadaan barang dan jasa melalui proses lelang adalah kemunculan makelar. Salah satunya yang terjadi pada pengadaan ratusan bus Transjakarta dan Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) pada APBD tahun 2013.
"Lelang itu risikonya banyak. Yang menang bisa tetangga, bisa kawan, bisa juga musuh saya," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (10/3/2014) siang.
Jokowi menegaskan, sejak awal menjabat sebagai gubernur DKI, ia telah mewanti-wanti kepada Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) untuk berhati-hati jika ada seseorang yang mengaku kenal dan dekat dengannya datang untuk meminta mengurus proyek tertentu.
"Kan banyak yang bilang, saya orang dekat Jokowi, saya keluarga dekat Jokowi, temannya Jokowi, ada juga yang bawa nama tim sukses Jokowi. Hati-hati itu," lanjut Jokowi.
Jokowi mengaku kewalahan akan aktivitas oknum itu. Pasalnya, Jokowi mengaku tidak mungkin dirinya memantau satu per satu kenalannya, keluarganya atau bahkan mantan tim suksesnya. Apalagi, jumlah tim suksesnya, baik di Surakarta atau pun di DKI Jakarta berjumlah ribuan sehingga jelas tidak dapat terkontrol.
Solusinya, Jokowi menegaskan untuk menyerahkan kasus itu ke ranah hukum. "Kalau ada yang melanggar, kita gebug," ujarnya.
Munculnya nama seorang mantan anggota tim sukses Jokowi ketika dia masih menjabat sebagai Wali Kota Surakarta tersebut berawal dari pemberitaan salah satu media masa nasional. Di dalam artikel itu disebutkan sang oknum ditengarai menjadi makelar dalam pengadaan bus.
Sebanyak 5 dari 90 bus Transjakarta dan 10 dari 18 BKTB yang didatangkan Pemprov DKI, terbukti mengalami kerusakan di beberapa komponennya. Misalnya, banyak komponen berkarat, berjamur dan beberapa instalasi tampak tidak dibaut. Bahkan, ada bus yang tidak dilengkapi dengan fanbelt mesin dan AC.
Akibat kondisi tersebut, beberapa unit bus tidak dioperasikan meskipun sudah diluncurkan Jokowi beberapa waktu lalu. Banyak mesin bus yang cepat panas, mesin sulit dinyalakan, proses kelistrikan sulit karena korosi di kepala aki. Bahkan, ada bus yang tabung apar pendingin mesin tiba-tiba meledak dan persoalan lain.
Setelah diusut ditemukan juga kejanggalan dalam proses pengadaan bus. Pihak yang mendatangkan bus, yakni PT San Abadi, bukan pemenang tender. Terungkap bahwa PT San Abadi merupakan subkontrak PT Saptaguna Dayaprima, satu dari lima pemenang tender.
Hal ini dipertanyakan, mengingat situasi demikian memungkinkan adanya mark up anggaran tender. Kasus tersebut telah ditangani Inspektorat Pemprov DKI Jakarta. Beberapa pejabat yang terlibat pengadaan bus telah diperiksa, antara lain mantan Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono dan Sekretaris Dinas Perhubungan Drajat Adhyaksa.
News
"Lelang itu risikonya banyak. Yang menang bisa tetangga, bisa kawan, bisa juga musuh saya," ujar Jokowi di Balaikota Jakarta, Senin (10/3/2014) siang.
Jokowi menegaskan, sejak awal menjabat sebagai gubernur DKI, ia telah mewanti-wanti kepada Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) untuk berhati-hati jika ada seseorang yang mengaku kenal dan dekat dengannya datang untuk meminta mengurus proyek tertentu.
"Kan banyak yang bilang, saya orang dekat Jokowi, saya keluarga dekat Jokowi, temannya Jokowi, ada juga yang bawa nama tim sukses Jokowi. Hati-hati itu," lanjut Jokowi.
Jokowi mengaku kewalahan akan aktivitas oknum itu. Pasalnya, Jokowi mengaku tidak mungkin dirinya memantau satu per satu kenalannya, keluarganya atau bahkan mantan tim suksesnya. Apalagi, jumlah tim suksesnya, baik di Surakarta atau pun di DKI Jakarta berjumlah ribuan sehingga jelas tidak dapat terkontrol.
Solusinya, Jokowi menegaskan untuk menyerahkan kasus itu ke ranah hukum. "Kalau ada yang melanggar, kita gebug," ujarnya.
Munculnya nama seorang mantan anggota tim sukses Jokowi ketika dia masih menjabat sebagai Wali Kota Surakarta tersebut berawal dari pemberitaan salah satu media masa nasional. Di dalam artikel itu disebutkan sang oknum ditengarai menjadi makelar dalam pengadaan bus.
Sebanyak 5 dari 90 bus Transjakarta dan 10 dari 18 BKTB yang didatangkan Pemprov DKI, terbukti mengalami kerusakan di beberapa komponennya. Misalnya, banyak komponen berkarat, berjamur dan beberapa instalasi tampak tidak dibaut. Bahkan, ada bus yang tidak dilengkapi dengan fanbelt mesin dan AC.
Akibat kondisi tersebut, beberapa unit bus tidak dioperasikan meskipun sudah diluncurkan Jokowi beberapa waktu lalu. Banyak mesin bus yang cepat panas, mesin sulit dinyalakan, proses kelistrikan sulit karena korosi di kepala aki. Bahkan, ada bus yang tabung apar pendingin mesin tiba-tiba meledak dan persoalan lain.
Setelah diusut ditemukan juga kejanggalan dalam proses pengadaan bus. Pihak yang mendatangkan bus, yakni PT San Abadi, bukan pemenang tender. Terungkap bahwa PT San Abadi merupakan subkontrak PT Saptaguna Dayaprima, satu dari lima pemenang tender.
Hal ini dipertanyakan, mengingat situasi demikian memungkinkan adanya mark up anggaran tender. Kasus tersebut telah ditangani Inspektorat Pemprov DKI Jakarta. Beberapa pejabat yang terlibat pengadaan bus telah diperiksa, antara lain mantan Kepala Dinas Perhubungan Udar Pristono dan Sekretaris Dinas Perhubungan Drajat Adhyaksa.
News
Udah Pak Jok Lapolirin aja ke KPK..!!
0
1.9K
Kutip
32
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.9KThread•58.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya