- Beranda
- The Lounge
Mengenal Sosok Kiai Sahal, Tokoh Teladan Berintegritas
...
TS
bayoneta
Mengenal Sosok Kiai Sahal, Tokoh Teladan Berintegritas
Jika Berkenan Monggo di

... Pagi agan-agan sekalian, udah pertengahan februari juga nih akhirnya

... Ane bakal mengangkat seorang tokoh intelektual bangsa yang mungkin sebagian dari kita masih belum mengenal beliau, beliau adalah KH. Sahal Mahfudz. Berikut ane kutip dari tulisan dan mas Anies Baswedan dari Blog nya.

Quote:
Sungguh, tak hanya warga NU yang sedih atas sedho-nya KH Sahal Mahfudz. Ia salah satu putra terbaik negeri ini, sebuah kepulangan yang membuat rasa kehilangan bagi bangsa. Pengaruh dan keilmuannya sangat bermanfaat bagi Indonesia. Ia mewakafkan hidupnya untuk santri, keilmuan dan bangsa. Namun, di atas itu semua, ia pelajaran teladan tentang seorang berintegritas.
Hampir di setiap pertemuan, wajahnya mencerminkan aura, karisma alami seorang alim, seorang ulama. Ia hemat dalam berkata, namun setiap tindak-tanduknya mencerminkan sikap dan keilmuannya yang luas. Tak aneh bila ia dicintai umat.
Keseharianya dipenuhi beragam aktivitas sosial dan tetap luangkan waktu untuk mengajar dan menulis. Bersama KH Ali Yafie, Mbah Sahal mengembangkan wacana fiqih sosial. Tulisan-tulisannya dikumpulkan dan diberi judul Nuansa Fiqih Sosial. Dalam buku itu ia mencoba mencari alternatif dalam menyatukan fikih dan amal-amal sosial. Bahwa selama ini fikih selalu dikaitkan dengan ibadah mahdhah, Mbah Sahal justru mengingatkan kita bahwa fikih juga bertalian dengan ihwal-ihwal sosial. Berkat kegigihannya dalam mengaji dan menyebarluaskan gagasannya ini ia dianugerahi gelar Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta pada 2003.
Penghargaan ini menandakan keistimewaan beliau. Pendidikan formalnya hanya sampai tingkat Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP).
Quote:
Sekolah formalnya bisa rendah, tapi ilmunya tinggi, dalam dan luas. Sejak muda, ia haus mencari ilmu. Berpindah-pindah pesantren, sampai akhirnya mengaji di Madinah. Bacaan Mbah Sahal luas. Selain kitab-kitab kuning, ia juga membaca buku-buku psikologi sampai novel detektif. Ia tak hanya menulis dalam bahasa Indonesia, tapi juga bahasa Arab. Konon, salah satu bukunya berjudul Thariqatal-Hushul ilaGhayahal-Ushul dikaji di Timur Tengah. Ini tentu kualitas tersendiri.
Lahir dengan nama Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd Salam Alhajaini, Mbah Sahal merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Beliau lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, pada 17 Desember 1937. Sejak 1963 beliau mengasuh Pesantren Maslakul Huda Putra. Pondok Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Kehidupan sehari-harinya yang bergulat di dalam pengajaran tak melupakan dirinya sebagai salah satu anggota masyarakat. Melalui kegiatan-kegiatan pesantrennya, ia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantren melalui pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.
Karirnya dalam organisasi kemasyarakatan NU ia mulai sejak era 60-an sampai akhir hayat.Tak hanya di NU, ia juga berkecimpung di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Selain mengajar di pesantrennya, ia juga menjadi Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama sejak 1989-sekarang. Meski memiliki segudang jabatan di organisasi sosial kemasyarakatan dan memiliki pengaruh, ia tak tergiur menyalahgunakan amanah yang ia pegang.
Quote:
Suaranya didengar semua kalangan. Ia berpengaruh. Namun, ia menggunakan pengaruhnya untuk kebaikan, untuk kemaslahatan umat. Dan, meski menyandang berbagai jabatan, ia tetap tampil sederhana. Tak ada yang berubah dalam penampilan dan sikapnya. Ini contoh luar biasa dalam soal keikhlasan; dipuji tidak terbang, dikritik tidak tumbang.
Ia juga mengupayakan dan berada di garis depan dalam isu-isu bangsa ini, seperti isu kerukunan agama. Dalam konteks wacana Islam dan negara, pendapat Mbah Sahal jelas: menjadi seorang Indonesia sekaligus menjadi seorang muslim salih. Sebagaimana Gus Dur, ia tak melihat pertentangan antara Islam dan negara.
Nabi bersabda, ada tiga hal yang akan terus mengalir setelah seseorang wafat: sedekah jariyah, ilmu bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya. Saya kira, Mbah Sahal mendapatkan ketiganya. Selain menyedekahkan kehidupannya untuk Islam, ia menyebarkan ilmunya untuk masyarakat luas, dan kini tentu bukan hanya anak biologisnya yang akan mendoakannya.
Quote:
Semoga semua ini menjadi sumur pahala yang tak pernah kering baginya. Allahumma ighfir lahu wa irhamhu wa afihi wa a’fu ‘anhu. Lahu al-fatihah.
tien212700 memberi reputasi
1
1.6K
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya