- Beranda
- The Lounge
Ibadah Shalat di Bengkulu Berhadiah Mobil? Problem? Let's think outside the box
...
TS
020790
Ibadah Shalat di Bengkulu Berhadiah Mobil? Problem? Let's think outside the box
Baru-baru ini ada isu yang sedikit krusial dan kontroversial. Lebih menarik daripada membahas kasus Ustadz Hariri yang konon katanya menginjak kepala seorang tukang sound system. Lebih mengagetkan daripada membahas peristiwa meletusnya Gunung Kelud. Bahkan, lebih menyeramkan daripada harus mengingat kalau hari ini adalah hari valentine.
Hari ini dan beberapa hari yang telah terlewati, sedang ramai-ramainya diberitakan: Walikota Bengkulu, Bapak Helmi Hasan memberikan hadiah mobil Avanza bagi masyarakat yang shalat berjamah. Gila ini. Bukan walikota normal. Sungguh berani atau memang nekat atau mungkin juga bodoh? Memang antara berani, nekat dan bodoh itu sulit untuk dibedakan.
Niat awalnya sangat mulia, beliau ingin agar tempat ibadah ramai. Lebih ramai daripada pasar. Lebih ramai daripada tempat dugem. Lebih ramai daripada tempat dimana ibu-ibu suka ngegosip. Intinya: memakmurkan mesjid. Baru sehari dicanangkan, programnya sukses besar. Mesjid jadi penuh. Masyarakat berbondong-bondong shalat berjamaah. Tapi, selalu ada 'tapi' dibalik sebuah keputusan. Tidak semua program yang dicanangkan disukai oleh semua orang. Program apa pun itu.
Sukses di Bengkulu dengan program shalat berhadiah tidak menjamin dia penuh pujian. Hinaan dan makian dia dapatkan dari berbagai kubu. Silakan cek di twitter dan koran. Puluhan ribu tweet membahasnya. Alasannya macam-macam. Komersialisasi ibadah lha, musyrik lha, bid'ah lha. Lebih parahnya sampai ada yang mengatakannya sebagai dajjal, agen agama lain bahkan dikatakan sebagai orang tidak waras, lalu kafir. Kejadian ini mengingatkan saya pada waktu yang tidak bisa terulang. Sangat identik sekali, yang membedakan hanyalah masalah ruang dan waktu.
Ketika kelas empat SD saya dan teman-teman sering sekali mencari buah-buahan di tempat saya bermain. Kata lainnya adalah mencuri. Sampai suatu ketika kami berniat untuk mengambil buah mangga seorang warga. Waktu mau mengambil buah tersebut kami ketahuan oleh sang empu. Depresi berat, pasti dimarahi. Tapi si empunya bilang, silakan ambil asal kami ngaji di rumahnya.
Ini perkara gampang, sederhana. Dapat mangga sepuasnya asal ngaji di rumahnya. Kebetulan waktu itu tidak ada tempat ngaji yang deket dari rumah. Tanpa pikir panjang kami pun setuju, deal dengan terms and agreement nya. Ngaji kan cuma dari maghrib sampai jam 20.00.
Sesuai dengan kesepakatan akhirnya kami melaksanakan perjanjian yang telah disetujui. sebagai seorang pria malu juga kalau harus ingkar janji. Akhirnya setiap habis ngaji kami dapat membawa buah mangga sesuai kesepakatan. Tapi detik terus berlalu. Mangganya sudah kering, tidak berbuah, sudah habis musimnya. Harusnya kami bisa membatalkan kesepatakan yang terjadi. Tapi, apa hendak dikata. Kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan tempat ngaji tersebut. Tanpa imbalan pun kami ikhlas mengaji.
Konon begitu juga dengan apa yang terjadi di masa lalu. Untuk mendapatkan pengikut para wali bersedia mengajarkan ilmu beladiri, tapi dengan syarat mereka masuk islam. Bahkan para wali sering menunjukkan ilmu kanuragannya seperti merubah batu menjadi emas hanya agar orang mau mempelajari islam, bukan untuk sombong.
Lalu apakah yang dilakukan Walikota Bengkulu itu salah? Mungkin lebih salah lagi orang yang sibuk memakinya. Walikota Bengkulu jelas bertindak, action terhadap permasalahan yang dihadapi. Sedangkan yang memaki hanya membaca, tahu secara sepintas lalu menghina sepuasnya. Seolah lebih tahu, lebih ngerti, lebih suci dan lebih pintar.
Ini yang dinamakan mental jomblo. Banyak orang yang sudah tahu bagaimana desain yang terbaik tentang kehidupan, tapi mereka tiba-tiba amnesia ketika akan mewujudkannya.
Catatan:
Tulisan pembelaan untuk Walikota Bengkulu yang dihina puluhan ribu orang di dunia maya.
Oleh: Rofa Yulia Azhar
14 Februari 2014

Hari ini dan beberapa hari yang telah terlewati, sedang ramai-ramainya diberitakan: Walikota Bengkulu, Bapak Helmi Hasan memberikan hadiah mobil Avanza bagi masyarakat yang shalat berjamah. Gila ini. Bukan walikota normal. Sungguh berani atau memang nekat atau mungkin juga bodoh? Memang antara berani, nekat dan bodoh itu sulit untuk dibedakan.
Niat awalnya sangat mulia, beliau ingin agar tempat ibadah ramai. Lebih ramai daripada pasar. Lebih ramai daripada tempat dugem. Lebih ramai daripada tempat dimana ibu-ibu suka ngegosip. Intinya: memakmurkan mesjid. Baru sehari dicanangkan, programnya sukses besar. Mesjid jadi penuh. Masyarakat berbondong-bondong shalat berjamaah. Tapi, selalu ada 'tapi' dibalik sebuah keputusan. Tidak semua program yang dicanangkan disukai oleh semua orang. Program apa pun itu.
Sukses di Bengkulu dengan program shalat berhadiah tidak menjamin dia penuh pujian. Hinaan dan makian dia dapatkan dari berbagai kubu. Silakan cek di twitter dan koran. Puluhan ribu tweet membahasnya. Alasannya macam-macam. Komersialisasi ibadah lha, musyrik lha, bid'ah lha. Lebih parahnya sampai ada yang mengatakannya sebagai dajjal, agen agama lain bahkan dikatakan sebagai orang tidak waras, lalu kafir. Kejadian ini mengingatkan saya pada waktu yang tidak bisa terulang. Sangat identik sekali, yang membedakan hanyalah masalah ruang dan waktu.
Ketika kelas empat SD saya dan teman-teman sering sekali mencari buah-buahan di tempat saya bermain. Kata lainnya adalah mencuri. Sampai suatu ketika kami berniat untuk mengambil buah mangga seorang warga. Waktu mau mengambil buah tersebut kami ketahuan oleh sang empu. Depresi berat, pasti dimarahi. Tapi si empunya bilang, silakan ambil asal kami ngaji di rumahnya.
Ini perkara gampang, sederhana. Dapat mangga sepuasnya asal ngaji di rumahnya. Kebetulan waktu itu tidak ada tempat ngaji yang deket dari rumah. Tanpa pikir panjang kami pun setuju, deal dengan terms and agreement nya. Ngaji kan cuma dari maghrib sampai jam 20.00.
Sesuai dengan kesepakatan akhirnya kami melaksanakan perjanjian yang telah disetujui. sebagai seorang pria malu juga kalau harus ingkar janji. Akhirnya setiap habis ngaji kami dapat membawa buah mangga sesuai kesepakatan. Tapi detik terus berlalu. Mangganya sudah kering, tidak berbuah, sudah habis musimnya. Harusnya kami bisa membatalkan kesepatakan yang terjadi. Tapi, apa hendak dikata. Kami sudah terlanjur jatuh cinta dengan tempat ngaji tersebut. Tanpa imbalan pun kami ikhlas mengaji.
Konon begitu juga dengan apa yang terjadi di masa lalu. Untuk mendapatkan pengikut para wali bersedia mengajarkan ilmu beladiri, tapi dengan syarat mereka masuk islam. Bahkan para wali sering menunjukkan ilmu kanuragannya seperti merubah batu menjadi emas hanya agar orang mau mempelajari islam, bukan untuk sombong.
Lalu apakah yang dilakukan Walikota Bengkulu itu salah? Mungkin lebih salah lagi orang yang sibuk memakinya. Walikota Bengkulu jelas bertindak, action terhadap permasalahan yang dihadapi. Sedangkan yang memaki hanya membaca, tahu secara sepintas lalu menghina sepuasnya. Seolah lebih tahu, lebih ngerti, lebih suci dan lebih pintar.
Ini yang dinamakan mental jomblo. Banyak orang yang sudah tahu bagaimana desain yang terbaik tentang kehidupan, tapi mereka tiba-tiba amnesia ketika akan mewujudkannya.
Catatan:
Tulisan pembelaan untuk Walikota Bengkulu yang dihina puluhan ribu orang di dunia maya.
Oleh: Rofa Yulia Azhar
14 Februari 2014

Gambar Bupati Bengkulu dan Wakilnya
Diubah oleh 020790 14-02-2014 17:35
0
1.3K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya