- Beranda
- The Lounge
Cerita Inspiratif : tentang keadilan dinegara kita Indonesia ( terharu gan )
...
TS
PaperCrafters
Cerita Inspiratif : tentang keadilan dinegara kita Indonesia ( terharu gan )



negara kita Indonesia banyak sekali permasalahan yang datang setiap saat...
banyak sekali ketidak adilan yang terjadi di Indonesia , contoh besarnya saja seperti para pejabat yang korupsi uang rakyat dipenjara lebih sebentar dari maling ayam yang cuma nyolong ayam bisa dicari dimana-mana.
maka dari itu coba petik pelajaran dari kisah inspiratif berikut

Spoiler for cerita:
Keadilan
karya : Nigel Immanuel
Indonesia , negara kaya akan budaya dan sumber daya alam ini masih saja mendapat banyak masalah yang seakan tak ada habis-habisnya kian tahun , banyak orang miskin yang kelaparan padahal dia sendiri tinggal di negara yang dianugrahi Tuhan . Aku hampir setiap hari melihat fakir miskin dipinggir jalan untuk mengemis , jika ada uang lebih terkadang aku sisihkan untuk para pengemis itu , tapi kalau sedang terdesak terkadang aku juga tidak kasih ke para pengemis itu , pasalnya aku juga tengah menabung untuk membantu orang tuaku untuk biaya sekolah SMA yang akan mendatang 1 tahun lagi setelah aku lulus UN , itupun kalau aku lulus. Oh iya bicara tentang orang tuaku , ayahku hanya bekerja sebagai karyawan perusahaan menegah kebawah yang penghasilannya pas-pasan , itupun ia sering berganti-ganti pekerjaan karena banyak yang tidak cocok. Sementara ibuku , dia berjualan kue disekitar rumah kami , meskipun tidak meraup keuntungan yang besar , namun puji syukur itu sudah bisa memenuhi kebutuhan keluargaku sehari-hari beserta adikku satu-satunya yang masih SD. Kakekku yang sedang sakit-sakitan dulunya seorang mantan prawira TNI , sayangnya dia harus rela melepaskan jabatannya sebagai Kapten setelah cacat fisik yang dialami setelah ia kecelakaan dalam menjalankan tugasnya ,padahal Kakekku baru jadi TNI selama 7 tahun,selama sisa hidupnya untuk menghidupi ayahku , Kakek menggunakan tongkat sehari-hari untuk bekerja sebagai pemotong kayu didesaku yang sekarang sudah menjadi kota modern nan canggih ini. Ngomong-ngomong keluargaku yang pas-pasan ini sangat berbanding balik dengan kehidupan para pemimpin Indonesia masa kini , kudengar berita korupsi pejabat dimana-mana dilayar kaca . Rumah , mobil , perhiasan semua serba mahal , sementara kami? Membanting tulang demi makanan dengan masa depan yang tidak jelas , terkadang aku berpikir bagaimana jika aku berada diposisi mereka , menikmati harta-harta haram yang ia dapat dari uang rakyat , melihat ketidak adilan ini membuat aku terus berpikir tanpa memikirkan sisi jahat yang berakibat pada orang-orang lain yang sedang kesusahan , habisnya aku setiap hari melihat godaan harta yang setiap hari muncul dijalanan tempat aku pergi kesekolah yang jaraknya 1km berjalan kaki , itu masih mending daripada teman-temanku yang berjarak 5-10 km lebih jauh dariku, tapi ya sudahlah sudah malam kedua jarum panjang dan pendek sudah menyentuh angka 12 dan besok aku harus bangun pagi untuk mengerjakan ulangan Bahasa Indonesia, kebetulan aku mahir dalam pelajaran itu jadi aku lanjutkan besok saja.
Pagi pun tiba , aku kesiangan dari waktu yang diharuskan dan aku harus berangkat kesekolah secepat mungkin agar tidak terlambat karena perjalanan berjalan kaki yang jauh , ayahku sudah berangkat lebih dulu pukul 5 pagi ke kantornya didekat kelurahan ini , ibuku sudah berkeliling menjajahkan kuenya. Akupun membangunkan adik dan segera mandi bersama-sama dan berangkat kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu , alhasil adikku kelaparan ditengah perjalanan , kulihat disana ada pedagang nasi uduk yang ramai dikerumuni warga . Kebetulan sekali , aku juga merasa lapar yang sengaja kutahan agar tidak telat kesekolah , aku pun memesan 2 nasi uduk dibungkus seharga Rp10.000 untuk aku dan adikku , uang jajan kami tersisa Rp5.000 lumayan buat jajan nanti disekolah. Karena ramai aku harus menunggu sekitar 5-10 menit sampai pesanan kami tiba . Akhirnya pesanan kami tiba , dan kami langsung lari kesekolah , untunglah kami belum terlambat . Sesampainya disana aku memberi Adikku sebungkus nasi uduk bungkus dan sisanya kubawa kekelasku . Karena masih ada waktu 15 menit sebelum bel , maka kusantap nasi udukku itu sebelum bel , tapi anehnya ketika kucari-cari didalam kantong plastik hitam tersebut itu terdapat Gorengan dan 2 nasi uduk , berarti aku mendapat 3 nasi uduk dan sebuah gorengan? aku berpikir sejenak mungkin ini bonus dari penjual nasi uduknya kali , jadi kuambil saja 1 nasi bungkus yang ada dikantong itu dan sisanya buat aku diistirahat nanti ,sambil tertawa dan meraba-raba kantong hitam tersebut kurasakan sesuatu kertas disitu , ternyata setelah kulihat sebuah uang 80 ribuan yang masih baru! Sentak aku kaget , pandanganku kosong beberapa saat , sampai aku menyadari bahwa makanan ini yang tertukar , akupun bingung dan jadi tidak mau makan sampai bel berbunyi , pelajaran pun dimulai , aku kurang fokus dalam ulangan Bahasa Indonesia tersebut karena takut si penjual akan menemuiku dan menuduhku seorang pencuri , dengan keadaan pasrah akupun mengerjakan sebisaku hingga istirahat , karena aku lapar kuambil 1 bungkus nasi uduk itu , dan uangnya tetap kusimpan . Selama pelajaran yang membosankan itu aku tetap bingung atas semua kejadian ini dan berpikir-pikir sampai akhirnya kami pulang bersama adikku lagi. Adik yang melihat bungkusan itu bertanya kepadaku “kok nasi uduknya tidak dimakan?” mungkin dikira kami hanya membeli 2 nasi uduk dan hanya tersisa 1 yang ada di kantong itu , akupun dengan tampang polos berbohong kepadannya “kakak dapat makan dari teman kakak” lalu balas si adik “ buat aku saja nasi uduknya” aku pun memberi kantongnya kepada adik , aku lupa untuk mengambil uang yang ada dikantong itu jadi ia mempergokki aku menyimpan uang didalam kantong itu dan bertanya “uang siapa ini kak 80 ribu?” karena aku sudah tidak tahan kujawab “sudah-sudah uangnya kasih kakak dulu buat disimpan” adikku pun bingung dan memberikan secara pasrah uang itu kepadaku. Selama perjalanan seakan kami berdua tuna wicara yang tidak bisa bicara.
Sesampainya dirumah aku pun tidur siang untuk istirahat dihari yang lelah ini , kulihat ibuku sudah ada didapur memasak untuk makan malam , dan Adikku yang hobi menonton TV sampai malam , aku pun melepaskan semua bebanku dan tidur nyenyak hingga sore hari . Sore hari itu aku bangun ,aku bingung dengan suara orang ramai diluar , kupikir ibu atau ayah sedang kedatangan banyak tamu atau sebagainya , ternyata setelah kucek diluar banyak orang yang menangis , aku tak tau apa yang terjadi , adikku yang masih kecil duduk dipojok dengan pandangan kosong dan tidak berkata apa-apa , sementara aku cari ibuku untuk menanyakan apa yang sudah terjadi , setelah kutemukan dia tanpa basa-basi kutanyakan dia “bu , apa yang terjadi ?” , dengan berat hati dan hati yang tersedu-sedu ibuku menjawab “ kakek sudah tidak ada “ lanjut tangis ibu , aku pun kaget mendengar hal itu lalu kutanya lagi “kakek dimana sekarang!?” ibuku membalas dengan suara terintih-rintih ,”kakek sudah dirumah sakit” saat berdialog dengan ibu , ayahku pulang cepat tidak seperti biasanya dan segera mengantar kami kerumah sakit , sementara saudara-saudaraku menyusul nanti. Di rumah sakit kami duduk menunggu hasil autopsi dokter , ayah bingung mundar-mandir melihat kepergian ayahnya yang sampai sekarang masih kubingungi , aku masih bingung dan penasaran akan apa yang terjadi pada kakek , kemudian aku baru ingat bahwa kemarin kakek berkata bahwa hari ini ia akan pergi memancing disungai dekat kelurahan kami , disana memang banyak ikan dan sering disegani oleh pemancing-pemancing didalam maupun luar kota. Kemudian dengan hati masih penasaran aku bertanya kepada ayahku “ yah , apa yang terjadi pada kakek?” , kemudian ayah pun , duduk disebelahku dengan suara pelan “kamu sudah tahu kan kakek pergi kemana hari ini?” balas aku “tahu kok , dia mancing kan?” sahut ayah “iya , dia pergi memancing hingga sore hari dan mendapatkan ikan yang banyak , ia langsung menjual seluruh ikannya untuk membeli kado ulang tahun adikmu besok , dalam perjalanan pulang , kakek dirampok oleh seseorang , kakek ditodong pisau dan diancam jika tidak mau memberikan uangnya kepada perampok tersebut , tetapi perampok tersebut menusuk kakek hingga sekarat dan tewas ditempat”begitulah yang diceritakan ayahku kepadaku , mungkin ia mendapat informasi dari polisi , soalnya ada beberapa polisi yang sebelumnya bercakap-cakap dengan ayahku . Aku pun tidak bisa berkata apa-apa dan menangis perlahan-lahan , Adikku menjerit ketika dibertahu kakek sudah tiada , aku berusaha tegar didalam hatiku untuk tidak menangis , tapi aku tidak kuat dan menangis sedikit demi sedikit . Sampai dokter meresmikan bahwa kakek benar-benar dibunuh bukan karena sakit atau penyebab apapun. Tak kusangka aku harus berpisah dengan kakek dengan cara seperti ini , padahal selama ini dia baik , membela bangsa Indonesia hingga cacat , dan harus berakhir dengan cara seperti ini , kurasa itu merupakan hal yang tidak Adil. Kami pun segera pulang pada hari itu karena harus melanjutkan aktifitas diesok harinya. Pagi hari ini berbeda dari pagi yang hari yang lainnya , adikku pun ulang tahun , aku memberikan kado yang sudah kubeli dari 1 minggu yang lalu , ayah sudah pergi bekerja dan meninggalkannya kadonya ke ibu yang libur untuk hari ini menghormati kepergian sang kakek. Adik pun senang walaupun aku tahu dilubuk hatinya masih hancur akibat ditinggal kakeknya itu, kami pun kesekolah menjalankan aktifitas seperti biasa dan pulang seperti biasa juga , namun kali ini aku lebih berdiam diri daripada biasanya. Teman-temanku sudah tahu akan kematian kakekku , aku senang mereka menyemangati aku , walaupun aku tidak begitu baik kepada mereka . Aku pun pulang tapi kali ini tidak bersama adikku yang kerumah duluan , aku bertekat untuk mencari pedagang nasi uduk itu dan mengembalikan uangnya kemarin karena aku sudah sengaja membawa uang Rp 80.000 tersebut untuk dikembalikan hari ini, aku berjalan selama hampir 30 menit mencari-cari keberadaan tukang nasi uduk tersebut , aku khawatir tidak pedangang nasi uduk itu tidak ketemu sampai suatu saat rasa khawatirku terbayar dengan ditemukannya tukang nasi uduk tersebut akupun menjelaskan semuanya dan mengembalikan uang Rp80.000 tersebut kepada pedangang itu , pedagang itu berterima kasih atas kejujuranku dan memberikanku Rp50.000 atas kejujuranku , aku sangat senang dan berterima kasih kepadanya dan akupun pulang kerumah . Sampai di Rumah aku melihat Ayah disitu , tak biasanya ia pulang cepat dari biasanya , walaupun wajahnya tampak kusut , aku bertanya pada ibuku karena takut dimarahi jika bertanya langsung pada ayah. “bu ayah kenapa pulang cepat?” tanya aku , ibu pun dengan hati berat berkata “ayahmu kehilangan pekerjaanmu nak” . Sungguh kabar mengejutkan yang kuterima dalam 2 hari berturut-turut! Bagaimana aku bisa makan dan bersekolah jika ayah tidak bekerja , ayah bekerja saja sudah susah payah sekarang ditambah ia tidak bekerja . Kemudian beberapa orang datang bercakap-cakap dengan ayah , kubilang mereka adalah teman rekan kerja ayah . Menurut informasi yang kuperoleh ayah dipecat karena ketua lurah di kelurahan kami sedang melakukan pemecatan massal yang berimbas pada ayahku. Ayah pun ditawari bekerja untuk temannya walapun gajinya setengah lebih kecil daripada gaji dia sebelumnya . Pada malam hari itu aku berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan rezeki yang cukup untuk kedua orang tuaku agar bisa menyekolahkan adikku dan ayahku ini walaupun aku tidak tahu kapan Tuhan akan membalas doaku ,aku percaya suatu saat doaku dibalas oleh Tuhan. Esok hari adalah sabtu jadi aku tidak perlu bangun terlalu pagi , dan Ayahku juga masih libur dan mulai bekerja hari senin ditempat barunya .
Pagi hari itu polisi datang kerumah kami dan menerangkan bahwa perampoknya sudah ditangkap , kemudian polisi pun mengajak ayahku kekantor polisi, kudengar hal itu aku ingin ikut untuk melihat siapa perampok tersebut , sesampainya disana kulihat seorang menggunakan baju tahanan berkacamata namun tampak garang dilihat dari matanya . Polisi mengatakan ini adalah salah satu dari dua perampok yang merampok Kakek, akupun segera memaki-maki perampok tersebut tanpa pandang sekitar , kemudian ayah dan beberapa polisi berusaha melerai aku dan perampok itu , disaat aku ingin dilerai perampok itu berkata “ bukan aku yang membunuh kakekmu nak “ aku teriak “BOHONG!!” kemudian dia lanjut berkata “ terserah kamu bocah , mau percaya atau tidak , pada saat itu aku ingin pulang dari tempat kerjaku memotong yang tak jauh dari tempat kakekmu memancing , aku pusing memikirkan keadaan keluargaku yang terus sakit-sakitan , anakku sekarat dirumah sakit sampai sekarang dan hartaku sudah habis , aku bingung disana berjalan sambil membawa pisauku yang tajam , lalu kulihat seorang kakek berjalan dengan tongkat dengan dompet yang tebal , kuanggap itu sebagai kesempatan emas karena kakekmu pasti tidak bisa melawan , jadi kutodong dia dengan pisau “ sebelum selesai bicara kubalas “ TUHKAN KAMU PEMBUNUHNYA!!” teriak aku , “ diam dulu bocah , ceritaku belum selesai , sesaat kakekmu kutodong dan kuancam jika tidak mau berikan uangnya , iapun dengan tersenyum memberikan uangnya kepadaku dan berkata “hai anak muda , hendaknya kau bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang dan banggakan keluargamu dan bangsamu sendiri” akupun tidak dapat berkata-kata pada saat itu , tapi tiba-tiba rekan kerjaku datang dan menusuk kakek hingga tewas dari belakang , akupun bingung dan segera kabur karena takut ketahuan , tapi akhirnya kau bisa lihat sendiri , aku tertangkap disini , itulah cerita yang kusampaikan , terserah kau mau percaya atau tidak” aku pun tidak dapat berkata-kata. Dan menenangkan diri sejenak sehabis mendengar cerita perampok tersebut , seisi kantor polisi pun ikut sedih mendengar cerita tersebut , kemudian polisi mengabarkan bahwa didalam sakunya ada surat warisan harta-harta kakek yang akan diwariskan ke ayahku , yaitu sebuah emas 5kg dan sebuah permata yang ia dapat sewaktu menjadi TNI , hanya itu yang kakek punya , kakek tidak punya lahan atau tanah atau uang untuk diberikan kepada ayahku karena saat jaman kakekpun ia tetap hidup dalam kesederhanaan .Warisan itu kami jual untuk menjadi modal usaha rumah makan , ibu kami pun berhenti jadi tukang kue dan menjadi juru masak di rumah makan milik kami sendiri .
Beberapa hari kemudian kami mendengar berita bahwa ketua lurah di kelurahan kami ditangkap karena dugaan korupsi , pegawai yang ia pecat secara massal tersebut , gajinya digelapkan oleh ketua lurah tersebut , sampai akhirnya keadilan berkata lain. Aku pun semakin giat belajar dan lulus UN SMP dengan nilai tertinggi ke 6 se-indonesia , aku senang dan mendapat beasiswa gratis sekolah di sebuah SMA ternama , rumah makan keluarga kami sudah maju dan ramai didatangi pelanggan. 10 tahun berlalu aku telah lulus kuliah sementara adikku belum , aku bertekat menjadi wira usahawan dengan membangun beberapa bisnis dari modal yang kutabung sejak SMP tersebut , aku juga sudah menulis beberapa buku berkat bakat bahasa yang sudah terlatih sejak masih kecil, kini rumah makan keluarga kami sudah buka cabang diseluruh pulau jawa dan puji Tuhan ayah juga sudah dapat bekerja dengan gaji yang lumayan , serta keluarga kami jadi keluarga makmur dan berkecukupan . Selama ini aku sadar bahwa hal yang membuat kita jadi seperti ini adalah karena kerja keras dan kebaikkan yang kita lakukan kepada sesama . Kebaikan itu diwariskan oleh Kakekku sementara Kerja Keras diwariskan oleh Ayahku , serta Kasih Sayang ibu takkan kulapakan dalam hatiku. Mungkin dunia memang tidak adil , sampai sekarang saja orang yang membunuh kakekku belum tertangkap , tapi jika ketidak adilan dibalas ketidak adilan tidak akan pernah ada selesainya , apalagi di negeri kita tercinta ini Indonesia yang dihadapi banyak masalah , akan semakin parah jika dari kita sendiri saja belum sadar-sadar untuk berubah menjadi lebih baik lagi ,jadi berbuat baiklah dan tidak pernah ada kata lelah untuk bekerja keras!
karya : Nigel Immanuel
Indonesia , negara kaya akan budaya dan sumber daya alam ini masih saja mendapat banyak masalah yang seakan tak ada habis-habisnya kian tahun , banyak orang miskin yang kelaparan padahal dia sendiri tinggal di negara yang dianugrahi Tuhan . Aku hampir setiap hari melihat fakir miskin dipinggir jalan untuk mengemis , jika ada uang lebih terkadang aku sisihkan untuk para pengemis itu , tapi kalau sedang terdesak terkadang aku juga tidak kasih ke para pengemis itu , pasalnya aku juga tengah menabung untuk membantu orang tuaku untuk biaya sekolah SMA yang akan mendatang 1 tahun lagi setelah aku lulus UN , itupun kalau aku lulus. Oh iya bicara tentang orang tuaku , ayahku hanya bekerja sebagai karyawan perusahaan menegah kebawah yang penghasilannya pas-pasan , itupun ia sering berganti-ganti pekerjaan karena banyak yang tidak cocok. Sementara ibuku , dia berjualan kue disekitar rumah kami , meskipun tidak meraup keuntungan yang besar , namun puji syukur itu sudah bisa memenuhi kebutuhan keluargaku sehari-hari beserta adikku satu-satunya yang masih SD. Kakekku yang sedang sakit-sakitan dulunya seorang mantan prawira TNI , sayangnya dia harus rela melepaskan jabatannya sebagai Kapten setelah cacat fisik yang dialami setelah ia kecelakaan dalam menjalankan tugasnya ,padahal Kakekku baru jadi TNI selama 7 tahun,selama sisa hidupnya untuk menghidupi ayahku , Kakek menggunakan tongkat sehari-hari untuk bekerja sebagai pemotong kayu didesaku yang sekarang sudah menjadi kota modern nan canggih ini. Ngomong-ngomong keluargaku yang pas-pasan ini sangat berbanding balik dengan kehidupan para pemimpin Indonesia masa kini , kudengar berita korupsi pejabat dimana-mana dilayar kaca . Rumah , mobil , perhiasan semua serba mahal , sementara kami? Membanting tulang demi makanan dengan masa depan yang tidak jelas , terkadang aku berpikir bagaimana jika aku berada diposisi mereka , menikmati harta-harta haram yang ia dapat dari uang rakyat , melihat ketidak adilan ini membuat aku terus berpikir tanpa memikirkan sisi jahat yang berakibat pada orang-orang lain yang sedang kesusahan , habisnya aku setiap hari melihat godaan harta yang setiap hari muncul dijalanan tempat aku pergi kesekolah yang jaraknya 1km berjalan kaki , itu masih mending daripada teman-temanku yang berjarak 5-10 km lebih jauh dariku, tapi ya sudahlah sudah malam kedua jarum panjang dan pendek sudah menyentuh angka 12 dan besok aku harus bangun pagi untuk mengerjakan ulangan Bahasa Indonesia, kebetulan aku mahir dalam pelajaran itu jadi aku lanjutkan besok saja.
Pagi pun tiba , aku kesiangan dari waktu yang diharuskan dan aku harus berangkat kesekolah secepat mungkin agar tidak terlambat karena perjalanan berjalan kaki yang jauh , ayahku sudah berangkat lebih dulu pukul 5 pagi ke kantornya didekat kelurahan ini , ibuku sudah berkeliling menjajahkan kuenya. Akupun membangunkan adik dan segera mandi bersama-sama dan berangkat kesekolah tanpa sarapan terlebih dahulu , alhasil adikku kelaparan ditengah perjalanan , kulihat disana ada pedagang nasi uduk yang ramai dikerumuni warga . Kebetulan sekali , aku juga merasa lapar yang sengaja kutahan agar tidak telat kesekolah , aku pun memesan 2 nasi uduk dibungkus seharga Rp10.000 untuk aku dan adikku , uang jajan kami tersisa Rp5.000 lumayan buat jajan nanti disekolah. Karena ramai aku harus menunggu sekitar 5-10 menit sampai pesanan kami tiba . Akhirnya pesanan kami tiba , dan kami langsung lari kesekolah , untunglah kami belum terlambat . Sesampainya disana aku memberi Adikku sebungkus nasi uduk bungkus dan sisanya kubawa kekelasku . Karena masih ada waktu 15 menit sebelum bel , maka kusantap nasi udukku itu sebelum bel , tapi anehnya ketika kucari-cari didalam kantong plastik hitam tersebut itu terdapat Gorengan dan 2 nasi uduk , berarti aku mendapat 3 nasi uduk dan sebuah gorengan? aku berpikir sejenak mungkin ini bonus dari penjual nasi uduknya kali , jadi kuambil saja 1 nasi bungkus yang ada dikantong itu dan sisanya buat aku diistirahat nanti ,sambil tertawa dan meraba-raba kantong hitam tersebut kurasakan sesuatu kertas disitu , ternyata setelah kulihat sebuah uang 80 ribuan yang masih baru! Sentak aku kaget , pandanganku kosong beberapa saat , sampai aku menyadari bahwa makanan ini yang tertukar , akupun bingung dan jadi tidak mau makan sampai bel berbunyi , pelajaran pun dimulai , aku kurang fokus dalam ulangan Bahasa Indonesia tersebut karena takut si penjual akan menemuiku dan menuduhku seorang pencuri , dengan keadaan pasrah akupun mengerjakan sebisaku hingga istirahat , karena aku lapar kuambil 1 bungkus nasi uduk itu , dan uangnya tetap kusimpan . Selama pelajaran yang membosankan itu aku tetap bingung atas semua kejadian ini dan berpikir-pikir sampai akhirnya kami pulang bersama adikku lagi. Adik yang melihat bungkusan itu bertanya kepadaku “kok nasi uduknya tidak dimakan?” mungkin dikira kami hanya membeli 2 nasi uduk dan hanya tersisa 1 yang ada di kantong itu , akupun dengan tampang polos berbohong kepadannya “kakak dapat makan dari teman kakak” lalu balas si adik “ buat aku saja nasi uduknya” aku pun memberi kantongnya kepada adik , aku lupa untuk mengambil uang yang ada dikantong itu jadi ia mempergokki aku menyimpan uang didalam kantong itu dan bertanya “uang siapa ini kak 80 ribu?” karena aku sudah tidak tahan kujawab “sudah-sudah uangnya kasih kakak dulu buat disimpan” adikku pun bingung dan memberikan secara pasrah uang itu kepadaku. Selama perjalanan seakan kami berdua tuna wicara yang tidak bisa bicara.
Sesampainya dirumah aku pun tidur siang untuk istirahat dihari yang lelah ini , kulihat ibuku sudah ada didapur memasak untuk makan malam , dan Adikku yang hobi menonton TV sampai malam , aku pun melepaskan semua bebanku dan tidur nyenyak hingga sore hari . Sore hari itu aku bangun ,aku bingung dengan suara orang ramai diluar , kupikir ibu atau ayah sedang kedatangan banyak tamu atau sebagainya , ternyata setelah kucek diluar banyak orang yang menangis , aku tak tau apa yang terjadi , adikku yang masih kecil duduk dipojok dengan pandangan kosong dan tidak berkata apa-apa , sementara aku cari ibuku untuk menanyakan apa yang sudah terjadi , setelah kutemukan dia tanpa basa-basi kutanyakan dia “bu , apa yang terjadi ?” , dengan berat hati dan hati yang tersedu-sedu ibuku menjawab “ kakek sudah tidak ada “ lanjut tangis ibu , aku pun kaget mendengar hal itu lalu kutanya lagi “kakek dimana sekarang!?” ibuku membalas dengan suara terintih-rintih ,”kakek sudah dirumah sakit” saat berdialog dengan ibu , ayahku pulang cepat tidak seperti biasanya dan segera mengantar kami kerumah sakit , sementara saudara-saudaraku menyusul nanti. Di rumah sakit kami duduk menunggu hasil autopsi dokter , ayah bingung mundar-mandir melihat kepergian ayahnya yang sampai sekarang masih kubingungi , aku masih bingung dan penasaran akan apa yang terjadi pada kakek , kemudian aku baru ingat bahwa kemarin kakek berkata bahwa hari ini ia akan pergi memancing disungai dekat kelurahan kami , disana memang banyak ikan dan sering disegani oleh pemancing-pemancing didalam maupun luar kota. Kemudian dengan hati masih penasaran aku bertanya kepada ayahku “ yah , apa yang terjadi pada kakek?” , kemudian ayah pun , duduk disebelahku dengan suara pelan “kamu sudah tahu kan kakek pergi kemana hari ini?” balas aku “tahu kok , dia mancing kan?” sahut ayah “iya , dia pergi memancing hingga sore hari dan mendapatkan ikan yang banyak , ia langsung menjual seluruh ikannya untuk membeli kado ulang tahun adikmu besok , dalam perjalanan pulang , kakek dirampok oleh seseorang , kakek ditodong pisau dan diancam jika tidak mau memberikan uangnya kepada perampok tersebut , tetapi perampok tersebut menusuk kakek hingga sekarat dan tewas ditempat”begitulah yang diceritakan ayahku kepadaku , mungkin ia mendapat informasi dari polisi , soalnya ada beberapa polisi yang sebelumnya bercakap-cakap dengan ayahku . Aku pun tidak bisa berkata apa-apa dan menangis perlahan-lahan , Adikku menjerit ketika dibertahu kakek sudah tiada , aku berusaha tegar didalam hatiku untuk tidak menangis , tapi aku tidak kuat dan menangis sedikit demi sedikit . Sampai dokter meresmikan bahwa kakek benar-benar dibunuh bukan karena sakit atau penyebab apapun. Tak kusangka aku harus berpisah dengan kakek dengan cara seperti ini , padahal selama ini dia baik , membela bangsa Indonesia hingga cacat , dan harus berakhir dengan cara seperti ini , kurasa itu merupakan hal yang tidak Adil. Kami pun segera pulang pada hari itu karena harus melanjutkan aktifitas diesok harinya. Pagi hari ini berbeda dari pagi yang hari yang lainnya , adikku pun ulang tahun , aku memberikan kado yang sudah kubeli dari 1 minggu yang lalu , ayah sudah pergi bekerja dan meninggalkannya kadonya ke ibu yang libur untuk hari ini menghormati kepergian sang kakek. Adik pun senang walaupun aku tahu dilubuk hatinya masih hancur akibat ditinggal kakeknya itu, kami pun kesekolah menjalankan aktifitas seperti biasa dan pulang seperti biasa juga , namun kali ini aku lebih berdiam diri daripada biasanya. Teman-temanku sudah tahu akan kematian kakekku , aku senang mereka menyemangati aku , walaupun aku tidak begitu baik kepada mereka . Aku pun pulang tapi kali ini tidak bersama adikku yang kerumah duluan , aku bertekat untuk mencari pedagang nasi uduk itu dan mengembalikan uangnya kemarin karena aku sudah sengaja membawa uang Rp 80.000 tersebut untuk dikembalikan hari ini, aku berjalan selama hampir 30 menit mencari-cari keberadaan tukang nasi uduk tersebut , aku khawatir tidak pedangang nasi uduk itu tidak ketemu sampai suatu saat rasa khawatirku terbayar dengan ditemukannya tukang nasi uduk tersebut akupun menjelaskan semuanya dan mengembalikan uang Rp80.000 tersebut kepada pedangang itu , pedagang itu berterima kasih atas kejujuranku dan memberikanku Rp50.000 atas kejujuranku , aku sangat senang dan berterima kasih kepadanya dan akupun pulang kerumah . Sampai di Rumah aku melihat Ayah disitu , tak biasanya ia pulang cepat dari biasanya , walaupun wajahnya tampak kusut , aku bertanya pada ibuku karena takut dimarahi jika bertanya langsung pada ayah. “bu ayah kenapa pulang cepat?” tanya aku , ibu pun dengan hati berat berkata “ayahmu kehilangan pekerjaanmu nak” . Sungguh kabar mengejutkan yang kuterima dalam 2 hari berturut-turut! Bagaimana aku bisa makan dan bersekolah jika ayah tidak bekerja , ayah bekerja saja sudah susah payah sekarang ditambah ia tidak bekerja . Kemudian beberapa orang datang bercakap-cakap dengan ayah , kubilang mereka adalah teman rekan kerja ayah . Menurut informasi yang kuperoleh ayah dipecat karena ketua lurah di kelurahan kami sedang melakukan pemecatan massal yang berimbas pada ayahku. Ayah pun ditawari bekerja untuk temannya walapun gajinya setengah lebih kecil daripada gaji dia sebelumnya . Pada malam hari itu aku berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan rezeki yang cukup untuk kedua orang tuaku agar bisa menyekolahkan adikku dan ayahku ini walaupun aku tidak tahu kapan Tuhan akan membalas doaku ,aku percaya suatu saat doaku dibalas oleh Tuhan. Esok hari adalah sabtu jadi aku tidak perlu bangun terlalu pagi , dan Ayahku juga masih libur dan mulai bekerja hari senin ditempat barunya .
Pagi hari itu polisi datang kerumah kami dan menerangkan bahwa perampoknya sudah ditangkap , kemudian polisi pun mengajak ayahku kekantor polisi, kudengar hal itu aku ingin ikut untuk melihat siapa perampok tersebut , sesampainya disana kulihat seorang menggunakan baju tahanan berkacamata namun tampak garang dilihat dari matanya . Polisi mengatakan ini adalah salah satu dari dua perampok yang merampok Kakek, akupun segera memaki-maki perampok tersebut tanpa pandang sekitar , kemudian ayah dan beberapa polisi berusaha melerai aku dan perampok itu , disaat aku ingin dilerai perampok itu berkata “ bukan aku yang membunuh kakekmu nak “ aku teriak “BOHONG!!” kemudian dia lanjut berkata “ terserah kamu bocah , mau percaya atau tidak , pada saat itu aku ingin pulang dari tempat kerjaku memotong yang tak jauh dari tempat kakekmu memancing , aku pusing memikirkan keadaan keluargaku yang terus sakit-sakitan , anakku sekarat dirumah sakit sampai sekarang dan hartaku sudah habis , aku bingung disana berjalan sambil membawa pisauku yang tajam , lalu kulihat seorang kakek berjalan dengan tongkat dengan dompet yang tebal , kuanggap itu sebagai kesempatan emas karena kakekmu pasti tidak bisa melawan , jadi kutodong dia dengan pisau “ sebelum selesai bicara kubalas “ TUHKAN KAMU PEMBUNUHNYA!!” teriak aku , “ diam dulu bocah , ceritaku belum selesai , sesaat kakekmu kutodong dan kuancam jika tidak mau berikan uangnya , iapun dengan tersenyum memberikan uangnya kepadaku dan berkata “hai anak muda , hendaknya kau bekerja dengan keras untuk mendapatkan uang dan banggakan keluargamu dan bangsamu sendiri” akupun tidak dapat berkata-kata pada saat itu , tapi tiba-tiba rekan kerjaku datang dan menusuk kakek hingga tewas dari belakang , akupun bingung dan segera kabur karena takut ketahuan , tapi akhirnya kau bisa lihat sendiri , aku tertangkap disini , itulah cerita yang kusampaikan , terserah kau mau percaya atau tidak” aku pun tidak dapat berkata-kata. Dan menenangkan diri sejenak sehabis mendengar cerita perampok tersebut , seisi kantor polisi pun ikut sedih mendengar cerita tersebut , kemudian polisi mengabarkan bahwa didalam sakunya ada surat warisan harta-harta kakek yang akan diwariskan ke ayahku , yaitu sebuah emas 5kg dan sebuah permata yang ia dapat sewaktu menjadi TNI , hanya itu yang kakek punya , kakek tidak punya lahan atau tanah atau uang untuk diberikan kepada ayahku karena saat jaman kakekpun ia tetap hidup dalam kesederhanaan .Warisan itu kami jual untuk menjadi modal usaha rumah makan , ibu kami pun berhenti jadi tukang kue dan menjadi juru masak di rumah makan milik kami sendiri .
Beberapa hari kemudian kami mendengar berita bahwa ketua lurah di kelurahan kami ditangkap karena dugaan korupsi , pegawai yang ia pecat secara massal tersebut , gajinya digelapkan oleh ketua lurah tersebut , sampai akhirnya keadilan berkata lain. Aku pun semakin giat belajar dan lulus UN SMP dengan nilai tertinggi ke 6 se-indonesia , aku senang dan mendapat beasiswa gratis sekolah di sebuah SMA ternama , rumah makan keluarga kami sudah maju dan ramai didatangi pelanggan. 10 tahun berlalu aku telah lulus kuliah sementara adikku belum , aku bertekat menjadi wira usahawan dengan membangun beberapa bisnis dari modal yang kutabung sejak SMP tersebut , aku juga sudah menulis beberapa buku berkat bakat bahasa yang sudah terlatih sejak masih kecil, kini rumah makan keluarga kami sudah buka cabang diseluruh pulau jawa dan puji Tuhan ayah juga sudah dapat bekerja dengan gaji yang lumayan , serta keluarga kami jadi keluarga makmur dan berkecukupan . Selama ini aku sadar bahwa hal yang membuat kita jadi seperti ini adalah karena kerja keras dan kebaikkan yang kita lakukan kepada sesama . Kebaikan itu diwariskan oleh Kakekku sementara Kerja Keras diwariskan oleh Ayahku , serta Kasih Sayang ibu takkan kulapakan dalam hatiku. Mungkin dunia memang tidak adil , sampai sekarang saja orang yang membunuh kakekku belum tertangkap , tapi jika ketidak adilan dibalas ketidak adilan tidak akan pernah ada selesainya , apalagi di negeri kita tercinta ini Indonesia yang dihadapi banyak masalah , akan semakin parah jika dari kita sendiri saja belum sadar-sadar untuk berubah menjadi lebih baik lagi ,jadi berbuat baiklah dan tidak pernah ada kata lelah untuk bekerja keras!
semoga pikiran agan terbuka akan cerita diatas !!
berikan komentar yang banyak gan tentang cerita diatas
soalnya akan ane seleksi untuk bisa tampil di pekiwan ( mayan kan mejeng nama
)Diubah oleh PaperCrafters 29-01-2014 05:04
0
4.2K
Kutip
5
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya