- Beranda
- The Lounge
Cara Kerja Modifikasi Cuaca Dengan Garam
...
TS
nameng
Cara Kerja Modifikasi Cuaca Dengan Garam
maap gan kalo
Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu :
1. Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI).
2. Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir atmosphere di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.
Di Indonesia, upaya “hujan buatan” ini diperlukan untuk :
1. Antisipasi Ketersediaan Air, misal pengisian waduk, danau, untuk keperluan atmosphere bersih, irigasi, pembangkit listrik (PLTA).
2. Antisipasi Kebakaran hutan/lahan, kabut asap
1. Proses Hujan Buatan :
Sifat awan yang menyebabkan hujan oleh manusia digunakan untuk membuat hujan buatan. Dalam mempercepat hujan, orang memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (perak dioksida, kristal es, es kering atau CO2 padat). Zat-zat tersebut ditaburkan ke udara dengan menggunakan pesawat terbang. Pembuatan hujan buatan disebut sebagai suatu proses pemodifikasian awan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, terutama NaCl (garam dapur).
Tantangan iklim berupa kelangkaan hujan akibat kemarau panjang dapat dilakukan dengan teknologi tinggi berupa hujan buatan. Cara ini tak bisa terus dilakukan sembarangan karena biayanya terlalu mahal. Hujan buatan hanya ditempuh bila keadaan memang keadaan demikian kritis. Apalagi usaha untuk melakukan hujan buatan ini terkadang hasilnya tepat dan terkadang meleset atau tak sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam pembuatan hujan buatan mereka hanya melakukan usaha untuk mendorong dan mempercepat turunnya hujan atau berusaha agar uap atmosphere yang telah ada di udara berkondensasi dengan cepat sehingga pembentukan butir-butir atmosphere dapat segera berlangsung di awan. Pembentukan butir-butir atmosphere tersebut merupakan titik awalnya terjadi hujan.
Usaha ini dilakukan dengan menyebarkan zat kimia atau garam halus ke udara dengan bantuan pesawat terbang. Untuk tahap ini hujan yang diharapkan belum tentu akan turun, karena dilakukan proses lanjutan dengan menyebarkan butir-butiran besar di awan. Butiran tersebut akan bertumbukan dan bergantung dengan butir-butir atmosphere ini akan menjadi berat dan akan meninggalkan awan jatuh sebagai hujan.
Di daerah yang beriklim tropis, awannya dapat digolongkan dalam awan panas. Untuk mempercepat timbulnya hujan hanya dapat dilakukan melalui proses pembentukan awan panas secara alami.
2. Bahan-bahan kimia yang diperlukan
Untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi. Garam-garaman seperti NaCl dan CaCl2 dalam bentuk bubuk dengan hole 10-50 mikron, ternyata cukup higroskopis jika disebarkan di udara. Garam-garam itu di udara akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap atmosphere pada awan. Pembentukan butir-butir atmosphere juga dapat dilakukan dengan penyebaran garam-garaman tersebut.
Tindakan selanjutnya dapat digunakan bubuk urea. Penyebaran bubuk urea dilakukan beberapa jam setelah penyebaran garam-garaman tadi atau setelah tumbuh awan-awan kecil secara berkelompok pada beberapa beberapa tempat. Bubuk urea selain dapat membentuk awan lebih lanjut, juga bersifat endotermi (menyerap panas) yang sangat baik bila bereaksi dengan atmosphere atau uap air. Penyebaran bubuk urea di siang hari dapat mendinginkan lingkungan sekitarnya sehingga kelompok-kelompok kecil awan segera bergabung menjadi kelompok-kelompok besar.
Kelompok awan besar biasanya segera terlihat agak kehitam-hitaman artinya awan hujan telah terbentuk. Tindakan berikutnya adalah penyebaran larutan yang berkomposisi air, urea serta amonium nitrat dengan perbandingan 4 : 3 : 1 ke dalam kelompok-kelompok besar awan yang tampaknya hitam. Besarnya larutan yang disebarkan antara 50 u – 100 u dengan menggunakan peralatan mikron atmosphere yang dipasang di pesawat. Larutan ini cukup dingin yaitu sekitar 4° C, yang akan mengikat awan dan mudah meresap ke dalam awan, sehingga dapat mendorong pembentukan butir-butir atmosphere yang lebih besar karena berat butir-butir atmosphere tersebut akan turun dan menimbulkan hujan.
Garam-garaman yang telah disebarkan di udara punya sifat-sifat fisis tertentu, seperti NaCl dan CaCl2 bila bereaksi dengan atmosphere dapat mengeluarkan panas, sedangkan urea dapat menyerap panas. Karena itu waktu disebar di udara akan timbul reaksi sebagai berikut:
NaCl + H2O —- ion-ion + 910 K Cal (eksoterm)
CaCl2 + H2O — ion-ion + 915 K Cal (eksoterm)
Urea + H2O —- ion-ion – 425 K Cal (endoterm
Modifikasi cuaca untuk wilayah Jakarta dilakukan dengan menurunkan hujan lebih cepat sebelum sampai daerah target (metode melompat/jumping process). Caranya, menaburkan garam dapur (natrium klorida/NaCl) ke awan bakal hujan yang terbawa angin menuju daerah target.

”Ada daerah prioritas menurunkan hujan. Pertama, di danau atau daerah yang membutuhkan. Kedua, di laut, sedangkan paling pahit di daratan yang masih mampu menerima curahan hujan,” kata Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT Tri Handoko Seto di posko modifikasi cuaca di Pelabuhan Udara Halim Perdanakusuma.
pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) diluncurkan resmi untuk mengurangi potensi banjir di Ibu Kota. Modifikasi cuaca merupakan bentuk intervensi manusia untuk mengendalikan sumber daya air di atmosfer. Itu untuk menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu dengan tujuan meminimalkan bencana alam karena cuaca dan iklim.
Selain menambah atau mengurangi intensitas hujan, teknologi modifikasi cuaca juga untuk penipisan asap kebakaran lahan dan hutan. Di Indonesia, itu biasanya dilakukan pada pertengahan tahun.
Cara kerja
Garam dapur untuk menyemai awan hujan tak sama persis dengan garam bumbu dapur meskipun sama-sama layak konsumsi (food grade). Secara ukuran, butirannya jauh lebih kecil dengan kadar kering tinggi.
Garam lembut ditaburkan menggunakan alat khusus dari pesawat pada kumpulan awan siap matang. Garam kering itu akan mengikat butiran-butiran air bakal hujan sehingga matang lebih cepat. ”Dosis garam yang disemai harus tepat. Terlalu sedikit atau terlalu banyak bisa gagal,” kata Seto.
Untuk itu, dalam setiap sorti penerbangan pesawat penyemai awan turut serta 1-2 peneliti (flight scientist) berlatar belakang ilmu meteorologi atau fisika atmosfer. Merekalah yang akan menentukan awan yang hendak disemai. Adapun informasi posisi kumpulan awan sasaran dan gerakan angin disuplai radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang berkoordinasi dengan pilot/kopilot pesawat pengangkut bahan semai.
ternyata repot ya gann
sumber
sumber2

Bahan untuk “mempengaruhi” proses yang terjadi di awan terdiri dari dua jenis yaitu :
1. Bahan untuk “membentuk” es, dikenal dengan glasiogenik, berupa Perak Iodida (AgI).
2. Bahan untuk “menggabungkan” butir-butir atmosphere di awan, dikenal dengan higroskopis, berupa garam dapur atau Natrium Chlorida (NaCl), atau CaCl2 dan Urea.
Di Indonesia, upaya “hujan buatan” ini diperlukan untuk :
1. Antisipasi Ketersediaan Air, misal pengisian waduk, danau, untuk keperluan atmosphere bersih, irigasi, pembangkit listrik (PLTA).
2. Antisipasi Kebakaran hutan/lahan, kabut asap
1. Proses Hujan Buatan :
Sifat awan yang menyebabkan hujan oleh manusia digunakan untuk membuat hujan buatan. Dalam mempercepat hujan, orang memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi (perak dioksida, kristal es, es kering atau CO2 padat). Zat-zat tersebut ditaburkan ke udara dengan menggunakan pesawat terbang. Pembuatan hujan buatan disebut sebagai suatu proses pemodifikasian awan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, terutama NaCl (garam dapur).
Tantangan iklim berupa kelangkaan hujan akibat kemarau panjang dapat dilakukan dengan teknologi tinggi berupa hujan buatan. Cara ini tak bisa terus dilakukan sembarangan karena biayanya terlalu mahal. Hujan buatan hanya ditempuh bila keadaan memang keadaan demikian kritis. Apalagi usaha untuk melakukan hujan buatan ini terkadang hasilnya tepat dan terkadang meleset atau tak sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam pembuatan hujan buatan mereka hanya melakukan usaha untuk mendorong dan mempercepat turunnya hujan atau berusaha agar uap atmosphere yang telah ada di udara berkondensasi dengan cepat sehingga pembentukan butir-butir atmosphere dapat segera berlangsung di awan. Pembentukan butir-butir atmosphere tersebut merupakan titik awalnya terjadi hujan.
Usaha ini dilakukan dengan menyebarkan zat kimia atau garam halus ke udara dengan bantuan pesawat terbang. Untuk tahap ini hujan yang diharapkan belum tentu akan turun, karena dilakukan proses lanjutan dengan menyebarkan butir-butiran besar di awan. Butiran tersebut akan bertumbukan dan bergantung dengan butir-butir atmosphere ini akan menjadi berat dan akan meninggalkan awan jatuh sebagai hujan.
Di daerah yang beriklim tropis, awannya dapat digolongkan dalam awan panas. Untuk mempercepat timbulnya hujan hanya dapat dilakukan melalui proses pembentukan awan panas secara alami.
2. Bahan-bahan kimia yang diperlukan
Untuk mempercepat turunnya hujan buatan dengan memberi zat higroskopis sebagai inti kondensasi. Garam-garaman seperti NaCl dan CaCl2 dalam bentuk bubuk dengan hole 10-50 mikron, ternyata cukup higroskopis jika disebarkan di udara. Garam-garam itu di udara akan berperan sebagai titik pangkal pembentukan uap-uap atmosphere pada awan. Pembentukan butir-butir atmosphere juga dapat dilakukan dengan penyebaran garam-garaman tersebut.
Tindakan selanjutnya dapat digunakan bubuk urea. Penyebaran bubuk urea dilakukan beberapa jam setelah penyebaran garam-garaman tadi atau setelah tumbuh awan-awan kecil secara berkelompok pada beberapa beberapa tempat. Bubuk urea selain dapat membentuk awan lebih lanjut, juga bersifat endotermi (menyerap panas) yang sangat baik bila bereaksi dengan atmosphere atau uap air. Penyebaran bubuk urea di siang hari dapat mendinginkan lingkungan sekitarnya sehingga kelompok-kelompok kecil awan segera bergabung menjadi kelompok-kelompok besar.
Kelompok awan besar biasanya segera terlihat agak kehitam-hitaman artinya awan hujan telah terbentuk. Tindakan berikutnya adalah penyebaran larutan yang berkomposisi air, urea serta amonium nitrat dengan perbandingan 4 : 3 : 1 ke dalam kelompok-kelompok besar awan yang tampaknya hitam. Besarnya larutan yang disebarkan antara 50 u – 100 u dengan menggunakan peralatan mikron atmosphere yang dipasang di pesawat. Larutan ini cukup dingin yaitu sekitar 4° C, yang akan mengikat awan dan mudah meresap ke dalam awan, sehingga dapat mendorong pembentukan butir-butir atmosphere yang lebih besar karena berat butir-butir atmosphere tersebut akan turun dan menimbulkan hujan.
Garam-garaman yang telah disebarkan di udara punya sifat-sifat fisis tertentu, seperti NaCl dan CaCl2 bila bereaksi dengan atmosphere dapat mengeluarkan panas, sedangkan urea dapat menyerap panas. Karena itu waktu disebar di udara akan timbul reaksi sebagai berikut:
NaCl + H2O —- ion-ion + 910 K Cal (eksoterm)
CaCl2 + H2O — ion-ion + 915 K Cal (eksoterm)
Urea + H2O —- ion-ion – 425 K Cal (endoterm
Quote:
Modifikasi cuaca untuk wilayah Jakarta dilakukan dengan menurunkan hujan lebih cepat sebelum sampai daerah target (metode melompat/jumping process). Caranya, menaburkan garam dapur (natrium klorida/NaCl) ke awan bakal hujan yang terbawa angin menuju daerah target.

”Ada daerah prioritas menurunkan hujan. Pertama, di danau atau daerah yang membutuhkan. Kedua, di laut, sedangkan paling pahit di daratan yang masih mampu menerima curahan hujan,” kata Kepala Bidang Pengkajian dan Penerapan Teknologi Pembuatan Hujan BPPT Tri Handoko Seto di posko modifikasi cuaca di Pelabuhan Udara Halim Perdanakusuma.
pemanfaatan teknologi modifikasi cuaca (TMC) diluncurkan resmi untuk mengurangi potensi banjir di Ibu Kota. Modifikasi cuaca merupakan bentuk intervensi manusia untuk mengendalikan sumber daya air di atmosfer. Itu untuk menambah atau mengurangi intensitas curah hujan di daerah tertentu dengan tujuan meminimalkan bencana alam karena cuaca dan iklim.
Selain menambah atau mengurangi intensitas hujan, teknologi modifikasi cuaca juga untuk penipisan asap kebakaran lahan dan hutan. Di Indonesia, itu biasanya dilakukan pada pertengahan tahun.
Cara kerja
Garam dapur untuk menyemai awan hujan tak sama persis dengan garam bumbu dapur meskipun sama-sama layak konsumsi (food grade). Secara ukuran, butirannya jauh lebih kecil dengan kadar kering tinggi.
Garam lembut ditaburkan menggunakan alat khusus dari pesawat pada kumpulan awan siap matang. Garam kering itu akan mengikat butiran-butiran air bakal hujan sehingga matang lebih cepat. ”Dosis garam yang disemai harus tepat. Terlalu sedikit atau terlalu banyak bisa gagal,” kata Seto.
Untuk itu, dalam setiap sorti penerbangan pesawat penyemai awan turut serta 1-2 peneliti (flight scientist) berlatar belakang ilmu meteorologi atau fisika atmosfer. Merekalah yang akan menentukan awan yang hendak disemai. Adapun informasi posisi kumpulan awan sasaran dan gerakan angin disuplai radar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang berkoordinasi dengan pilot/kopilot pesawat pengangkut bahan semai.
ternyata repot ya gann

sumber
sumber2
0
3.1K
13
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya