- Beranda
- Berita dan Politik
Malari, perlawanan terhebat pertama terhadap Orde Baru!!
...
TS
bubs
Malari, perlawanan terhebat pertama terhadap Orde Baru!!
Quote:
Original Posted By

Merdeka.com - Kepemimpinan Orde Baru dibuat geger pada 15 Januari 1974, persis 40 tahun lalu. Timbul perlawanan pertama digalang mahasiswa berujung kerusuhan massa. Ini titik monumental represi sistematis rezim Soeharto .
Peristiwa 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan Malari (Malapetaka lima Belas Januari) merupakan suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Para Mahasiswa menganggap kebijakan Pemerintah kala itu sudah menyimpang dan tidak berhaluan kepada pembangunan yang mementingkan rakyat. Mahasiswa menilai malah dengan kerja sama ini semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.
Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk, dijadikan momentum awal untuk demonstrasi antimodal asing ini. Jan P Pronk tiba di Jakarta pada Minggu, 11 November 1973. Ketika tiba di Bandara Kemayoran, mahasiswa menyambutnya dengan berdemonstrasi melalui gambar-gambar poster sebagai bentuk kritik karena kedatangannya.
Selain melakukan aksi, kelompok mahasiswa juga mengatur strategi supaya dapat melakukan pertemuan dengan mahasiswa. Perwakilan salah satu mahasiswi melakukan pendekatan dengan memberikan karangan bunga kepada Jan P Pronk. Tidak hanya memberikan karangan bunga, diam-diam mahasiswi tersebut memberikan surat yang isinya memorandum penolakan kedatangannya.
Bukan hanya Jan P Pronk yang didemo massa yang tergabung dari berbagai elemen seperti mahasiswa dan masyarakat sipil. Kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, pada 14-17 Januari juga disambut dengan demonstrasi.
Rencananya massa mau menyambut kedatangan Tanaka Kakuei di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun rencana ini gagal, karena aparat keamanan sudah memblokade bandara ini dari hadangan massa. Akibat penjagaan ketat itu sebagian massa mengalihkan aksinya di sekitar Jakarta Pusat.
Berbarengan dengan itu kelompok massa dari mahasiswa sedang melakukan diskusi yang berpusat di salah satu Universitas tetapi dikagetkan oleh info yang menyebutkan di kawasan pusat Jakarta terjadi kerusuhan. Massa dari mahasiswa banyak yang bertanya bagaimana kejadian anarkis tersebut bisa terjadi.
Kerusuhan itu sendiri meliputi pengerusakan beberapa fasilitas di umum dan bangunan toko di kawasan Ibukota seperti pertokoan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat. Selama dua hari daerah sekitar ibu kota diselimuti asap. Pembakaran dan Penjarahan menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan saat itu.
Wilayah pertokoan Senen menjadi titik perhatian kala itu, mengingat pembangunan pertokoan yang memakan biaya senilai Rp 2,7 miliar ludes dilalap si jago merah.
Menteri Pertahanan dan Keamanan kala itu, Maraden Panggabean mengatakan, dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut tercatat kerugian materi yang diakibatkan dalam kejadian ini cukup banyak.
"Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan," kata Maraden dalam rapat sidang pleno DPR pada 21 Januari 1974.
Selain mengalami kerugian secara materi yang cukup banyak juga terdaat korban jiwa dalam kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut. "11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap."
Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin juga membeberkan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran saat kerusuhan massa. Angkanya berbeda dengan yang dilansir Maraden Panggabean .
"522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes, termasuk 2 blok proyek pasar Senen bertingkat 4. Serta gedung milik PT Astra di Jalan Sudirman, dan 113 buah bangunan lainnya dirusak," kata Ali.
Dari peristiwa ini, terlahir seorang sosok aktivis mahasiswa yang menjadi simbol Malari hingga saat ini, Hariman Siregar. Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya dituding menjadi otak pelaku kerusuhan tersebut. Hariman Siregar menolak jika disebut sebagai penyebab dalam kerusuhan tersebut
Menurutnya, insiden kerusuhan itu sudah di luar kendali mahasiswa. Bisa jadi di balik kerusuhan ini ada pihak yang sengaja membuat situasi waktu itu semakin tidak kondusif.
"Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah berpikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.
Hingga saat ini sebagian orang masih mempertanyakan siapa dalang di balik peristiwa kerusuhan tersebut. Mengingat setelah sempat ditahan dan dilakukan persidangan, Hariman Siregar dan kelompok Mahasiswa lainnya tidak terbukti dalam peristiwa kerusuhan itu.
Hariman sendiri menyebut Malari sebagai puncak dari gerakan kritis terhadap konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.

Merdeka.com - Kepemimpinan Orde Baru dibuat geger pada 15 Januari 1974, persis 40 tahun lalu. Timbul perlawanan pertama digalang mahasiswa berujung kerusuhan massa. Ini titik monumental represi sistematis rezim Soeharto .
Peristiwa 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan Malari (Malapetaka lima Belas Januari) merupakan suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Para Mahasiswa menganggap kebijakan Pemerintah kala itu sudah menyimpang dan tidak berhaluan kepada pembangunan yang mementingkan rakyat. Mahasiswa menilai malah dengan kerja sama ini semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.
Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk, dijadikan momentum awal untuk demonstrasi antimodal asing ini. Jan P Pronk tiba di Jakarta pada Minggu, 11 November 1973. Ketika tiba di Bandara Kemayoran, mahasiswa menyambutnya dengan berdemonstrasi melalui gambar-gambar poster sebagai bentuk kritik karena kedatangannya.
Selain melakukan aksi, kelompok mahasiswa juga mengatur strategi supaya dapat melakukan pertemuan dengan mahasiswa. Perwakilan salah satu mahasiswi melakukan pendekatan dengan memberikan karangan bunga kepada Jan P Pronk. Tidak hanya memberikan karangan bunga, diam-diam mahasiswi tersebut memberikan surat yang isinya memorandum penolakan kedatangannya.
Bukan hanya Jan P Pronk yang didemo massa yang tergabung dari berbagai elemen seperti mahasiswa dan masyarakat sipil. Kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei, pada 14-17 Januari juga disambut dengan demonstrasi.
Rencananya massa mau menyambut kedatangan Tanaka Kakuei di Bandara Halim Perdanakusuma. Namun rencana ini gagal, karena aparat keamanan sudah memblokade bandara ini dari hadangan massa. Akibat penjagaan ketat itu sebagian massa mengalihkan aksinya di sekitar Jakarta Pusat.
Berbarengan dengan itu kelompok massa dari mahasiswa sedang melakukan diskusi yang berpusat di salah satu Universitas tetapi dikagetkan oleh info yang menyebutkan di kawasan pusat Jakarta terjadi kerusuhan. Massa dari mahasiswa banyak yang bertanya bagaimana kejadian anarkis tersebut bisa terjadi.
Kerusuhan itu sendiri meliputi pengerusakan beberapa fasilitas di umum dan bangunan toko di kawasan Ibukota seperti pertokoan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat. Selama dua hari daerah sekitar ibu kota diselimuti asap. Pembakaran dan Penjarahan menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan saat itu.
Wilayah pertokoan Senen menjadi titik perhatian kala itu, mengingat pembangunan pertokoan yang memakan biaya senilai Rp 2,7 miliar ludes dilalap si jago merah.
Menteri Pertahanan dan Keamanan kala itu, Maraden Panggabean mengatakan, dalam peristiwa kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut tercatat kerugian materi yang diakibatkan dalam kejadian ini cukup banyak.
"Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan," kata Maraden dalam rapat sidang pleno DPR pada 21 Januari 1974.
Selain mengalami kerugian secara materi yang cukup banyak juga terdaat korban jiwa dalam kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut. "11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap."
Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin juga membeberkan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran saat kerusuhan massa. Angkanya berbeda dengan yang dilansir Maraden Panggabean .
"522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes, termasuk 2 blok proyek pasar Senen bertingkat 4. Serta gedung milik PT Astra di Jalan Sudirman, dan 113 buah bangunan lainnya dirusak," kata Ali.
Dari peristiwa ini, terlahir seorang sosok aktivis mahasiswa yang menjadi simbol Malari hingga saat ini, Hariman Siregar. Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) itu bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya dituding menjadi otak pelaku kerusuhan tersebut. Hariman Siregar menolak jika disebut sebagai penyebab dalam kerusuhan tersebut
Menurutnya, insiden kerusuhan itu sudah di luar kendali mahasiswa. Bisa jadi di balik kerusuhan ini ada pihak yang sengaja membuat situasi waktu itu semakin tidak kondusif.
"Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah berpikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.
Hingga saat ini sebagian orang masih mempertanyakan siapa dalang di balik peristiwa kerusuhan tersebut. Mengingat setelah sempat ditahan dan dilakukan persidangan, Hariman Siregar dan kelompok Mahasiswa lainnya tidak terbukti dalam peristiwa kerusuhan itu.
Hariman sendiri menyebut Malari sebagai puncak dari gerakan kritis terhadap konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.
Sumur
Quote:
Original Posted By

Merdeka.com - Hariman Siregar, aktivis yang dikenal sebagai Macan Malari merupakan pribadi yang unik. Hariman dikenal sangat cerdas dan pemberani. Satu lagi sifatnya yang diakrabi para sahabatnya adalah nakal dan sering iseng.
Menurut salah satu sahabatnya di SD dan juga saat kuliah di Fakultas Kedokteran UI, Amir Hamzah, Hariman memang sangat pintar dan cepat menangkap pelajaran. "Kalau ngomong dia suka melompat-lompat. Orang pintar memang kalau ngomong melompat dari A langsung D. Kalau kita tak mengerti 'b-c-d', kita pasti menyangka dia orang gila," ujar Amir Hamzah.
Di kelas, Hariman juga nakal. Amir Hamzah mengaku dulu sering ditunjuk guru untuk mencatat siapa saja yang ribut di kelas. "Posisi duduk saya di belakang. Nah, Hariman terus yang masuk dalam catatan saya. Akibatnya, kaki dia dipukul terus pakai rotan. Lama-lama mungkin dia berpikir, siapa yang suka melaporkan. Akhirnya setelah tahu bahwa saya yang disuruh membuat laporan, dia mendekati saya. Dari situ kami dekat," cerita Amir Hamzah.
Kedekatan mereka terus berlanjut saat kuliah. Bahkan saat Hariman menikah, Amir Hamzah yang menjadi walinya. Kecerdasan Hariman diakui Amir Hamzah terus bertahan hingga keduanya kuliah di FK UI. Kecerdasan Hariman dipengaruhi kemampuannya membaca yang cepat.
"Misalnya kalau baca novel, dia membaca belakangnya dulu. Dia tak mau ditipu di depan. Dari sini saja sudah ketahuan mentalnya seperti apa. Dia tak mau ada rahasia di depan. Dia cepat membaca intisari buku-buku dan juga bisa menghapal dengan cepat. Saat kuliah, ketika besok dosen mau memberi materi apa, malamnya sudah dia baca dulu. Memang, dia tidak terlampau rajin, tapi karena kemampuan membacanya cepat, dia pintar. Jadi, ketika dosen bicara, kami baru dengar, sedangkan dia sudah pelajari," kata Amir Hamzah dalam buku Hariman dan Malari.
Karena sudah belajar, jeleknya Hariman menurut Amir Hamzah adalah suka iseng terhadap temannya. "Saking isengnya, saat di kelas anatomi, membedah mayat, dia taruh potongan alat vital mayat lelaki di tas Nila Moeloek (pernah kandidat Menkes). Menjeritlah dia, ngomel-ngomel ke Hariman," ujar Amir Hamzah.
Amir mengaku kagum kepada Hariman. Dia menyebut Hariman sosok yang berani. Bicaranya berani, walau susunan kata-katanya kurang bagus. "Pergaulannya sangat luas. Solidaritasnya tinggi. Rugilah kalau tak berteman dengan dia," kata Amir.
Hariman Siregar membenarkan semua cerita soal sifat-sifatnya itu. "Kesetiaan dan keberanian jadi dua kunci gua bertahan sampai saat ini," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.

Merdeka.com - Hariman Siregar, aktivis yang dikenal sebagai Macan Malari merupakan pribadi yang unik. Hariman dikenal sangat cerdas dan pemberani. Satu lagi sifatnya yang diakrabi para sahabatnya adalah nakal dan sering iseng.
Menurut salah satu sahabatnya di SD dan juga saat kuliah di Fakultas Kedokteran UI, Amir Hamzah, Hariman memang sangat pintar dan cepat menangkap pelajaran. "Kalau ngomong dia suka melompat-lompat. Orang pintar memang kalau ngomong melompat dari A langsung D. Kalau kita tak mengerti 'b-c-d', kita pasti menyangka dia orang gila," ujar Amir Hamzah.
Di kelas, Hariman juga nakal. Amir Hamzah mengaku dulu sering ditunjuk guru untuk mencatat siapa saja yang ribut di kelas. "Posisi duduk saya di belakang. Nah, Hariman terus yang masuk dalam catatan saya. Akibatnya, kaki dia dipukul terus pakai rotan. Lama-lama mungkin dia berpikir, siapa yang suka melaporkan. Akhirnya setelah tahu bahwa saya yang disuruh membuat laporan, dia mendekati saya. Dari situ kami dekat," cerita Amir Hamzah.
Kedekatan mereka terus berlanjut saat kuliah. Bahkan saat Hariman menikah, Amir Hamzah yang menjadi walinya. Kecerdasan Hariman diakui Amir Hamzah terus bertahan hingga keduanya kuliah di FK UI. Kecerdasan Hariman dipengaruhi kemampuannya membaca yang cepat.
"Misalnya kalau baca novel, dia membaca belakangnya dulu. Dia tak mau ditipu di depan. Dari sini saja sudah ketahuan mentalnya seperti apa. Dia tak mau ada rahasia di depan. Dia cepat membaca intisari buku-buku dan juga bisa menghapal dengan cepat. Saat kuliah, ketika besok dosen mau memberi materi apa, malamnya sudah dia baca dulu. Memang, dia tidak terlampau rajin, tapi karena kemampuan membacanya cepat, dia pintar. Jadi, ketika dosen bicara, kami baru dengar, sedangkan dia sudah pelajari," kata Amir Hamzah dalam buku Hariman dan Malari.
Karena sudah belajar, jeleknya Hariman menurut Amir Hamzah adalah suka iseng terhadap temannya. "Saking isengnya, saat di kelas anatomi, membedah mayat, dia taruh potongan alat vital mayat lelaki di tas Nila Moeloek (pernah kandidat Menkes). Menjeritlah dia, ngomel-ngomel ke Hariman," ujar Amir Hamzah.
Amir mengaku kagum kepada Hariman. Dia menyebut Hariman sosok yang berani. Bicaranya berani, walau susunan kata-katanya kurang bagus. "Pergaulannya sangat luas. Solidaritasnya tinggi. Rugilah kalau tak berteman dengan dia," kata Amir.
Hariman Siregar membenarkan semua cerita soal sifat-sifatnya itu. "Kesetiaan dan keberanian jadi dua kunci gua bertahan sampai saat ini," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.
Sumur
Anak muda sekarang kurang bergerak
Quote:
Original Posted By
Merdeka.com - Peristiwa Malari menjadi tonggak perlawanan mahasiswa terhadap rezom Orde Baru. Selama beberapa hari, Soeharto tak berbicara saking kesal dan malunya karena peristiwa itu terjadi persis ketika tamu negara datang berkunjung.
Peristiwa Malari sangat melekat dengan nama Hariman siregar. Tidak bisa dipungkiri peran sentral orang ini dalam pergerakan mahasiswa ketika itu sangatlah penting. Banyak kalangan yang mengakui peran tokoh ini dalam perjuangannya untuk mementingkan kepentingan kehidupan yang merata di masyarakat kala itu.
Dalam perbincangan dengan merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu di kediamannya kawasan Kalibata, Hariman kecewa dengan banyaknya anak muda sekarang yang tidak paham tentang Malari.
"Gue bingung anak muda sekarang kurang tahu sejarah. Padahal sejarah bisa menjadi acuan mereka nantinya," kata Hariman.
"Apa pengenalan sejarahnya di sekolah kurang. Atau apa ini yang salah sebenarnya," tambahnya.
Menurutnya, dengan mengenal sejarah sebenarnya anak muda akan lebih banyak tahu bagaimana proses kehidupan ini terjadi sehingga bisa menggambarkan pula kehidupan nantinya akan seperti apa. Dia menambahkan, perjuangan anak muda saat ini kurang begitu semangat ketika dibandingkan dengan era dirinya dulu.
"Anak sekarang kurang bergerak. Harusnya mereka bisa lebih pintar dari gue. Sekarang ini dengan dulu beda, gue yang dulu aja bisa pinter," ujarnya.
Meski secara fisik sudah mulai tidak seperti dulu lagi, dia mengaku masih memiliki semangat untuk mendorong anak muda mau demi perubahan bangsanya. Dia menyadari, dalam setiap perubahan suatu bangsa akan lebih baik jika diteruskan kepada penerusnya yang memang lebih muda.
Hariman mengaku akan selalu tetap mendukung setiap pergerakan anak muda yang dianggap bisa membawa perubahan untuk bangsa ini.
Seiring dengan perubahan zaman, Hariman tidak lagi memainkan peran sentral dalam politik Indonesia. Padahal, banyak kawan-kawannya semasa pergerakan menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan, baik menteri bahkan banyak pula menjadi pengusaha. Namun, dia tetap berusaha memelihara pemikiran-pemikirannya untuk perubahan. Saat ini bersama kawan-kawan perjuangannya dulu dia mendirikan sebuah lembaga seperti Indonesian Democracy Monitor (Indemo).
Diskusi-diskusi yang rutin dilakukan di Indemo ini tentunya menyangkut persoalan tema-tema yang bersinggungan dengan rakyat. Hal ini membuktikan konsistensi dirinya terhadap perjuangan mewujudkan kemaslahatan rakyat tidak luntur.
Terkadang dia memberikan seminar untuk kalangan mahasiswa di kampus sebagai bentuk kenangannya masa muda dulu. Saat ada undangan dari luar negeri pun dirinya tidak sungkan buat menolak.
Selain masih terlibat aktif dalam beberapa kegiatan diskusi yang menyikapi persoalan negeri, tidak lupa dia mempraktikkan ilmu yang didapatnya dari bangku kuliah dengan membuka klinik dokter kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Merdeka.com - Peristiwa Malari menjadi tonggak perlawanan mahasiswa terhadap rezom Orde Baru. Selama beberapa hari, Soeharto tak berbicara saking kesal dan malunya karena peristiwa itu terjadi persis ketika tamu negara datang berkunjung.
Peristiwa Malari sangat melekat dengan nama Hariman siregar. Tidak bisa dipungkiri peran sentral orang ini dalam pergerakan mahasiswa ketika itu sangatlah penting. Banyak kalangan yang mengakui peran tokoh ini dalam perjuangannya untuk mementingkan kepentingan kehidupan yang merata di masyarakat kala itu.
Dalam perbincangan dengan merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu di kediamannya kawasan Kalibata, Hariman kecewa dengan banyaknya anak muda sekarang yang tidak paham tentang Malari.
"Gue bingung anak muda sekarang kurang tahu sejarah. Padahal sejarah bisa menjadi acuan mereka nantinya," kata Hariman.
"Apa pengenalan sejarahnya di sekolah kurang. Atau apa ini yang salah sebenarnya," tambahnya.
Menurutnya, dengan mengenal sejarah sebenarnya anak muda akan lebih banyak tahu bagaimana proses kehidupan ini terjadi sehingga bisa menggambarkan pula kehidupan nantinya akan seperti apa. Dia menambahkan, perjuangan anak muda saat ini kurang begitu semangat ketika dibandingkan dengan era dirinya dulu.
"Anak sekarang kurang bergerak. Harusnya mereka bisa lebih pintar dari gue. Sekarang ini dengan dulu beda, gue yang dulu aja bisa pinter," ujarnya.
Meski secara fisik sudah mulai tidak seperti dulu lagi, dia mengaku masih memiliki semangat untuk mendorong anak muda mau demi perubahan bangsanya. Dia menyadari, dalam setiap perubahan suatu bangsa akan lebih baik jika diteruskan kepada penerusnya yang memang lebih muda.
Hariman mengaku akan selalu tetap mendukung setiap pergerakan anak muda yang dianggap bisa membawa perubahan untuk bangsa ini.
Seiring dengan perubahan zaman, Hariman tidak lagi memainkan peran sentral dalam politik Indonesia. Padahal, banyak kawan-kawannya semasa pergerakan menduduki posisi-posisi penting di pemerintahan, baik menteri bahkan banyak pula menjadi pengusaha. Namun, dia tetap berusaha memelihara pemikiran-pemikirannya untuk perubahan. Saat ini bersama kawan-kawan perjuangannya dulu dia mendirikan sebuah lembaga seperti Indonesian Democracy Monitor (Indemo).
Diskusi-diskusi yang rutin dilakukan di Indemo ini tentunya menyangkut persoalan tema-tema yang bersinggungan dengan rakyat. Hal ini membuktikan konsistensi dirinya terhadap perjuangan mewujudkan kemaslahatan rakyat tidak luntur.
Terkadang dia memberikan seminar untuk kalangan mahasiswa di kampus sebagai bentuk kenangannya masa muda dulu. Saat ada undangan dari luar negeri pun dirinya tidak sungkan buat menolak.
Selain masih terlibat aktif dalam beberapa kegiatan diskusi yang menyikapi persoalan negeri, tidak lupa dia mempraktikkan ilmu yang didapatnya dari bangku kuliah dengan membuka klinik dokter kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Sumur
Quote:
Original Posted By Komen TS"Semoga lahir dan terus renkarnasi para macan" kampus yang dulu mengawal para pemegang kekuasaan...
"
"Diubah oleh bubs 15-01-2014 07:04
0
4.1K
Kutip
22
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.9KThread•59.4KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya