- Beranda
- The Lounge
(Monolog) Aspal dan Sawah. Perbincangan rakyat jelata vs Ningrat.
...
TS
ferydavianz
(Monolog) Aspal dan Sawah. Perbincangan rakyat jelata vs Ningrat.
Banyak sekali fenomena kehidupan yang saya temui di sini. Entah apa ini salah manusia mendidik manusia, atau negara, atau bahkan
ajaran agama yang sudah perlahan luntur. Semua bercerita dengan begitu asyiknya. Seperti dengan hadiah kejutan awal tahun dari
salah satu perusahaan negara ini. Harga gas dinaikkan dengan begitu seenaknya. Tanpa tanggung- tanggung kenaikannya lebih dari
50 persen. Membuat semua warga merasa terkejut dengan naiknya si gas. Saya pun menyaksikan kekagetan yang dialamai rakyat
bawah. Mereka berbondong – bondong transmigrasi dari yang semula bergolongan darah biru menjadi hijau. Mungkin jika
diibaratkan biru adalah ningrat dan hijau adalah jelata. Ya tapi itu yang terjadi..Asal bisa menyambung hidup serta bisa mensekolahkan anaknya saja sudah cukup. Syukur syukur jika ada sisa bisa untuk menjadi tabungan.
Alasan si perusahaan gas itu yang klasik namun menggelitik. Laporan kerugian yang sangat besar yang harus ditanggungnya. Aneh
to...jelas akumulasi kerugian didapat tidak hanya satu tahun melainkan sudah sejak
beberapa tahun, kok naik harga
baru sekarang. Kenapa evaluasi tidak sejak dulu waktu mengalami kerugian pertama kali.
Menurut cerita di televisi hal itu disebabkan karena gasnya harus impor. Kalau di buku pelajaran disebutkan kalau negara ini adalah
negara yang kaya raya. Gas bukan masalah seharusnya, karena sumber daya alam yang mbludak. Bahkan kotoran pun bisa menjadi gas alternatif. Kok ya harus impor segala???
Katanya salah satu perusahaan top dunia, tapi kenapa konsumennya hanya warganya sendiri.
Kalau ingin berdagang seharusnya ia berdagang di kancah dunia agar konsumenya dari negara lain juga. Mengeruk untung di luar untuk
membangun di dalam. Bukan sebaliknya kan ??? salah siapa ini. Mungkin salah saya yang memiliki keterbatasan otak sehingga
untuk hal rumit saya hanya bisa senyum sambil geleng – geleng. Bahkan mungkin masyarakat kalangan bawah pun juga sama
seperti saya hanya bisa tersenyum sambil geleng – geleng. Karena sudah tidak bisa lagi merasakan beban hidup yang terlalu lucu.
Lucu negeri ini. Banyak sekali orang yang konon pinter, bertitle luar negeri namun kok ya
masih saja nyleneh. Saya tidak habis pikir bagaimana pola pikir mereka. Logikanya kalau ingin kaya maka kita berusaha, Benar. Tapi bukan rakyatnya sendiri kan yang dijadikan konsumen pengeruk untung. Di UUD45 yang saya pelajari sewaktu skolah dulu dikatakan seluruh hajat hidup
masyarakat dikuasai negara. Kalau saya menafsirkan sih begini bray biar tidak ada persaingan antara si A dan si B yang berebut konsumen demi keuntungan sebuah pihak
makanya dikuasai negara. Selain harga nya murah ,juga uang tersebut bisa untuk membangun negara. Lah tapi kalau sekarang,
saya bingung bray kenapa pandangannya berubah.Yang dulunya dari rakyat untuk rakyat kini dari rakyat untuk kepentingan yang tidak tahu untuk sapa.
Saya jadi teringat beberapa waktu kemarin, di tv saya melihat sebuah acara dimana mantan menteri Orde Baru bercerita bagaimana jaman
ORBA yang katanya di stiker truk berbunyi isih penak jaman ku to le ?. Harga kebutuhan pokok dari Sabang sampai Merauke bisa satu
warna. Tidak perduli berapa jauhnya yang penting harga semua sama. Mungkin gengsi untuk meniru sesutau yang baik di masa lalu sehingga kini sistemnya berbeda. Atau takut dibilang tidak move on jika harus meniru.
Ya ini hanya obrolan diri saya ketika jenuh di dalam rumah dan berkeliling di daerah saya.
Dari satu sawah ke sawah lainya melalui perantara aspal. Cengar cengir melihat keadaan ekonomi yang semakin lucu. Saya
tidak habis pikir bagaimana ya rasanya si ibu ibu penanam padi yang jam 12 siang masih menanam benih. Panas lhoo bekerja di bawah terik matahari, apalagi saat menanam benih
padi, masih harus berjalan mundur pula. Mending kalau itu sawahnya tiap panen bisa sedikit lega dengan tumpukan gabahnya. Lha
kebanyakan mereka menanam padi bukan disawahnya. Mereka hanya buruh padi yang hanya mendapat secuil bagian penjualan dari gabahnya. Perbandingannya sangat jauh sekali.
Tapi Tetap saya masih bisa lho melihat sedikit senyum mereka ketika saya menundukan kepala
waktu lewat di depannya. Mungkin sisa peninggalan budaya lah yang menyebabkan ia masih bisa senyum kepada orang lain. Sisa
peninggalan pelajaran budi pekerti yang masih nempel, jadi apapun yang terjadi harus bisa senyum ketika menghadapi orang lain. Padahal mungkin saja ia sedang memikirkan mau makan apa besok pagi, atau mikir bagaimana
cara ngutang beras di tetangga. Coba ya seandainya para penguasa itu merubah sedikit pandangannya dari yang berkepentingan menjadi kepedulian pasti kehidupan kita bisa lebih baik dari sebelumnya.
Ya namanya juga monolog. Ngomong sendiri , jengkel sendiri, ketawa sendiri. Tanya sendiri dan harus dijawab sendiri.......
Semoga Alloh masih sudi melirik bangsa ini dan mmberi sedikit rahmatnya kepada hamba2-Nya di negara ini yg tidak tahu menahu kelakuan sang penguasa yang tega menindas rakyatnya sendiri demi memenuhi hasrat buas mereka yg tak ubahnya Seekor tikus yg selalu lapar dan lapar... God Bless Indonesia.. Amin.

ajaran agama yang sudah perlahan luntur. Semua bercerita dengan begitu asyiknya. Seperti dengan hadiah kejutan awal tahun dari
salah satu perusahaan negara ini. Harga gas dinaikkan dengan begitu seenaknya. Tanpa tanggung- tanggung kenaikannya lebih dari
50 persen. Membuat semua warga merasa terkejut dengan naiknya si gas. Saya pun menyaksikan kekagetan yang dialamai rakyat
bawah. Mereka berbondong – bondong transmigrasi dari yang semula bergolongan darah biru menjadi hijau. Mungkin jika
diibaratkan biru adalah ningrat dan hijau adalah jelata. Ya tapi itu yang terjadi..Asal bisa menyambung hidup serta bisa mensekolahkan anaknya saja sudah cukup. Syukur syukur jika ada sisa bisa untuk menjadi tabungan.
Alasan si perusahaan gas itu yang klasik namun menggelitik. Laporan kerugian yang sangat besar yang harus ditanggungnya. Aneh
to...jelas akumulasi kerugian didapat tidak hanya satu tahun melainkan sudah sejak
beberapa tahun, kok naik harga
baru sekarang. Kenapa evaluasi tidak sejak dulu waktu mengalami kerugian pertama kali.
Menurut cerita di televisi hal itu disebabkan karena gasnya harus impor. Kalau di buku pelajaran disebutkan kalau negara ini adalah
negara yang kaya raya. Gas bukan masalah seharusnya, karena sumber daya alam yang mbludak. Bahkan kotoran pun bisa menjadi gas alternatif. Kok ya harus impor segala???
Katanya salah satu perusahaan top dunia, tapi kenapa konsumennya hanya warganya sendiri.
Kalau ingin berdagang seharusnya ia berdagang di kancah dunia agar konsumenya dari negara lain juga. Mengeruk untung di luar untuk
membangun di dalam. Bukan sebaliknya kan ??? salah siapa ini. Mungkin salah saya yang memiliki keterbatasan otak sehingga
untuk hal rumit saya hanya bisa senyum sambil geleng – geleng. Bahkan mungkin masyarakat kalangan bawah pun juga sama
seperti saya hanya bisa tersenyum sambil geleng – geleng. Karena sudah tidak bisa lagi merasakan beban hidup yang terlalu lucu.
Lucu negeri ini. Banyak sekali orang yang konon pinter, bertitle luar negeri namun kok ya
masih saja nyleneh. Saya tidak habis pikir bagaimana pola pikir mereka. Logikanya kalau ingin kaya maka kita berusaha, Benar. Tapi bukan rakyatnya sendiri kan yang dijadikan konsumen pengeruk untung. Di UUD45 yang saya pelajari sewaktu skolah dulu dikatakan seluruh hajat hidup
masyarakat dikuasai negara. Kalau saya menafsirkan sih begini bray biar tidak ada persaingan antara si A dan si B yang berebut konsumen demi keuntungan sebuah pihak
makanya dikuasai negara. Selain harga nya murah ,juga uang tersebut bisa untuk membangun negara. Lah tapi kalau sekarang,
saya bingung bray kenapa pandangannya berubah.Yang dulunya dari rakyat untuk rakyat kini dari rakyat untuk kepentingan yang tidak tahu untuk sapa.
Saya jadi teringat beberapa waktu kemarin, di tv saya melihat sebuah acara dimana mantan menteri Orde Baru bercerita bagaimana jaman
ORBA yang katanya di stiker truk berbunyi isih penak jaman ku to le ?. Harga kebutuhan pokok dari Sabang sampai Merauke bisa satu
warna. Tidak perduli berapa jauhnya yang penting harga semua sama. Mungkin gengsi untuk meniru sesutau yang baik di masa lalu sehingga kini sistemnya berbeda. Atau takut dibilang tidak move on jika harus meniru.
Ya ini hanya obrolan diri saya ketika jenuh di dalam rumah dan berkeliling di daerah saya.
Dari satu sawah ke sawah lainya melalui perantara aspal. Cengar cengir melihat keadaan ekonomi yang semakin lucu. Saya
tidak habis pikir bagaimana ya rasanya si ibu ibu penanam padi yang jam 12 siang masih menanam benih. Panas lhoo bekerja di bawah terik matahari, apalagi saat menanam benih
padi, masih harus berjalan mundur pula. Mending kalau itu sawahnya tiap panen bisa sedikit lega dengan tumpukan gabahnya. Lha
kebanyakan mereka menanam padi bukan disawahnya. Mereka hanya buruh padi yang hanya mendapat secuil bagian penjualan dari gabahnya. Perbandingannya sangat jauh sekali.
Tapi Tetap saya masih bisa lho melihat sedikit senyum mereka ketika saya menundukan kepala
waktu lewat di depannya. Mungkin sisa peninggalan budaya lah yang menyebabkan ia masih bisa senyum kepada orang lain. Sisa
peninggalan pelajaran budi pekerti yang masih nempel, jadi apapun yang terjadi harus bisa senyum ketika menghadapi orang lain. Padahal mungkin saja ia sedang memikirkan mau makan apa besok pagi, atau mikir bagaimana
cara ngutang beras di tetangga. Coba ya seandainya para penguasa itu merubah sedikit pandangannya dari yang berkepentingan menjadi kepedulian pasti kehidupan kita bisa lebih baik dari sebelumnya.
Ya namanya juga monolog. Ngomong sendiri , jengkel sendiri, ketawa sendiri. Tanya sendiri dan harus dijawab sendiri.......
Semoga Alloh masih sudi melirik bangsa ini dan mmberi sedikit rahmatnya kepada hamba2-Nya di negara ini yg tidak tahu menahu kelakuan sang penguasa yang tega menindas rakyatnya sendiri demi memenuhi hasrat buas mereka yg tak ubahnya Seekor tikus yg selalu lapar dan lapar... God Bless Indonesia.. Amin.

0
1.7K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•105.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya