Kaskus

Hobby

IndonesialobaltechAvatar border
TS
Indonesialobaltech
Hikmah Ruwatan Sukerta
1. Menurut kisah, Kala adalah produk dari kama-salah, yaitu mani yang salah. Jadi semacam pemberitahuan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, pada waktu dan tempat yang layak. Dan tidak hanya menonjolkan nafsu badaniah, sehingga akan membuahkan anak yang wataknya kurang baik.

2. Bekal dan sesaji yang diminta Kala itu merupakan barang-barang kebutuhan hidup manusia, yang juga melambangkan cinta kepada Ibu Pertiwi, dengan segala hasil buminya.

Hal-hal penting dalam ritual Ruwatan

1. Dalang yang membawakan lakon Ruwatan Murwakala harus memenuhi kriteria dalang yang bijak, mumpuni dalam seni pedalangan. Secara simbolis, dia akan menjadi ayah angkat para sukerta.

2. Upacaranya harus dilakukan dengan baik, cermat dan benar. Para sukerta dan keluarganya hendaknya bisa terlibat dan menghayati dengan perasaan mendalam. Dengan demikian akan mengerti dan memahami makna kidung, berupa tembang dan mantra suci, yang dibawakan Ki Dalang. Dalam upacara ini, lazimnya para sukerta dan orangtuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Sebelum pergelaran Wayang kulit, para sukerta mohon restu dari orangtuanya masing-masing. Selama pergelaran Wayang kulit yang akan dilanjutkan dengan ritual, pemotongan rambut dan mandi suci, para sukerta mengenakan pakaian kain putih. Secara mistis, putih menunjukkan kesucian.

3. Air suci untuk memandikan para sukerta berasal dari 7 (tujuh) sumber air.

Catatan: Sukerta yang diruwat tidak hanya anak-anak. Dapat juga orang dewasa yang dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian berat, sehingga membuat orang lain menderita. Zaman dulu, yang dianggap kelalaian atau kesalahan berat antara lain

a. Orang yang menggulingkan dandang ketika menanak nasi.
b. Orang yang mematahkan gandhik, batu penggiling jamu.

Kata “Kala”, harfiah berarti waktu. Ada waktu baik dan ada waktu jelek bagi setiap orang. Bila seseorang menderita karena berbagai alasan, seperti musibah kecelakaan, sakit, berbuat salah dan seterusnya, dikatakan orang itu mengalami waktu jelek atau nahas, naas. Setiap orang akan selalu berusaha membuang sial, menghindari waktu naas, dan berusaha hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan.

Dewasa ini, lebih-lebih dalam periode krisis multidimensi ini, banyak orang dewasa merasa tidak aman. Karena itu semakin banyak saja orang ikut dalam Ruwatan, agar tidak menjadi sasaran Kala dengan membuang nasib jelek atau sial.

Bathara Guru sebagai penguasa Jagat Raya, turun ke dunia menyamar sebagai dalang untuk memberitahu para sukerta dan orang-orang yang lain, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi mangsa Bathara Kala.

Nama Kandhabuwana (kandha artinya mengatakan, memberi nasihat, buwana berarti dunia), menyiratkan siapa yang menuruti nasihat Ki Dalang akan selamat dan bahagia. Itulah latar belakang ritual Ruwatan Murwakala.

Ruwatan Murwakala dapat dilakukan secara pribadi, terutama bagi kalangan mampu, atau secara bersama-sama karena biayanya cukup tinggi. Lazimnya diselenggarakan kalangan yayasan atau paguyuban pencinta budaya Jawa. Di antaranya adalah:

a. Institut Javanologi Panunggalan, Yogyakarta, setiap tahun menyelenggarakan Ruwatan Murwakala. Upacara ini tidak hanya diikuti para sukerta dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara (Eropa, Asia, Amerika, dsb.)

b. Institut Pudya Raja, pimpinan Prof. DR. Ki Wisnoe Wardhana, juga menyelenggarakan upacara ruwatan serupa.

Dari segi bahasa, akar kata sukerta adalah suker, atau kotor. Logikanya, sesuatu yang kotor harus dibersihkan. Dalam artian ini, manusia yang kotor harus disucikan atau diruwat. Ruwat artinya menghapus atau meniadakan kekuasaan, maksudnya menghapus atau membebaskan dari kutukan nasib jelek/sial, musibah dan malapetaka.
0
2.2K
8
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
Budaya
KASKUS Official
2.5KThread1.6KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.