- Beranda
- Berita dan Politik
[Kompak] BTP : Saya Tahu diri....
...
TS
CASSAS E N S O R8
[Kompak] BTP : Saya Tahu diri....
Basuki: Saya Tahu Diri, Bukan Paket Bersaing
Quote:
Di sela kesibukannya mempelajari dokumen, memimpin rapat, dan menerima banyak tamu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki T. Purnama, meluangkan waktu menerima wawancara di ruang kerjanya. Berikut petikannya.
Gubernur Jokowi memberi kepercayaan penuh pada Anda?
Ya, beliau betul-betul kasih kepercayaan penuh. Tapi, kita harus tahu diri. Saya tidak pernah merasa sebagai satu paket yang bersaing, yang berpikir,”Kalau kami ngga jadi gubernur, saya yang nggantiin.” Sewaktu kampanye, saya sudah katakan, saya mau membuat pak Jokowi berhasil menjadi gubernur. Bukan, membuat saya berhasil jadi gubernur. Orang politik kan selalu culas berpikirannya. Takut tidak dapat nama. Kalau bisa jadi orang harus konsisten dan jantan.
Bagaimana menyiasati karakter Anda dan Jokowi yang berbeda?
Karakter berbeda kalau visinya sama, ngga masalah. Karakter sama ngga akan ketemu kalau masing-masing berebut kekuasaan. Justru kalau karakter kita beda, tujuan kita sama, saling melengkapi. Hidup ini bisa lemah terus dan ngga bisa keras terus.
Proses pengkimpoian pasangan Anda ini sebentar. Resep menjaganya?
Pokonya, kita taat aturan saja. Sama-sama ngga pengen ngambil uang. Kita mana mungkin berantem, kerjaan banyak setengah mati. Mungkin itu yang ada di pikiran saya dan Pak Jokowi. Pak Jokowi berpikir,”Kalau Ahok tidak ada, saya pasti sudah pusing setengah mati” Saya juga, kalau tidak ada Pak Jokowi, pusing setengah mati. Saling membutuhkan, kenapa ribut.
Pernah ada beda pandangan? Lalu bagaimana menyiasatinya?
Pernah. Tapi bukan beda pandangan yang penting. Saya ngomong apa, dia ngomong apa. Jadi belum ketemu. Belum kompak ngomong. Saya itu ngomong dulu, baru mikir. Dia tahu. Makanya, tidak terlalu marah. Kalau ngomongnya salah, kan tinggal dibicarakan, maksudnya bagaimana, nanti saya ikutin bos.
Karakter Jokowi yang terlihat lembut apakah pernah mengganggu Anda yang berkarakter beda?
Pak Jokowi itu tegas. Dia kelihatannya saja kalem. Kalau Beliau sudah bilang enggak, ya enggak. Ngga ada nego. Kalau saya cuma keras di mulut, kadang masih bisa nego.Saya ingat, waktu rapat, dia bilang,”Ini diganti, ini diganti” sambil menunjuk berkas. Deputinya bilang,”Maaf Pak, boleh ngga saya usul ini gantinya setelah ini.”Beliau jawab,”Nggak, tanggal itu aja.”Gitu aja kalimatnya. Deputinya cuma jawab,”Iya pak.” Ngga berani lagi.
Pas ngecek laporan, kalau laporannya ngga bener, dia cuma bilang,”Ngaco kamu,” Kalau saya pasti mencak-mencak dulu. Kalau dia dijelasin lagi, dia cuma pergi. Stres ngga kamu. Beliau pernah ngejelasin, terus yang dijelasin ngga mudeng-mudeng. Pas orangnya pergi, Beliau bilang ke saya,”Ganti aja, ngga bisa kerja.” Ngga ada nego. Saya habisin energi teriak-teriak, orang ngga takut. Tapi semua orang segan sama beliau.
Apa kunci penanganan Waduk Pluit dan Ria Rio?
Tegakkan hukum. Manusiawi, kita kasih informasi, Anda kita mau bongkar dan disiapkan rumah susun. Tidak ada negosiasi untuk yang melanggar hukum. Tapi saya tidak benci Anda, saya benci kelakuan Anda. Tidak mau pindah ke rusun, tetap disikat. Kamu mengancam. saya tidak takut.
Jokowi masuk bursa capres terkuat.
Kita tidak tahu itu akan terjadi atau tidak. Kalau dia jadi presiden, saya jadi gubernur, pasti dia akan dukung habis saya, karena tahu kerja saya.
Soal wacana Jokowi-Ahok jadi Capres-cawapres?
Itu lebih ngga mungkin lagi. Lebih gila lagi.Ngarang-ngarang aja. [Majalah Gatra]
Gubernur Jokowi memberi kepercayaan penuh pada Anda?
Ya, beliau betul-betul kasih kepercayaan penuh. Tapi, kita harus tahu diri. Saya tidak pernah merasa sebagai satu paket yang bersaing, yang berpikir,”Kalau kami ngga jadi gubernur, saya yang nggantiin.” Sewaktu kampanye, saya sudah katakan, saya mau membuat pak Jokowi berhasil menjadi gubernur. Bukan, membuat saya berhasil jadi gubernur. Orang politik kan selalu culas berpikirannya. Takut tidak dapat nama. Kalau bisa jadi orang harus konsisten dan jantan.
Bagaimana menyiasati karakter Anda dan Jokowi yang berbeda?
Karakter berbeda kalau visinya sama, ngga masalah. Karakter sama ngga akan ketemu kalau masing-masing berebut kekuasaan. Justru kalau karakter kita beda, tujuan kita sama, saling melengkapi. Hidup ini bisa lemah terus dan ngga bisa keras terus.
Proses pengkimpoian pasangan Anda ini sebentar. Resep menjaganya?
Pokonya, kita taat aturan saja. Sama-sama ngga pengen ngambil uang. Kita mana mungkin berantem, kerjaan banyak setengah mati. Mungkin itu yang ada di pikiran saya dan Pak Jokowi. Pak Jokowi berpikir,”Kalau Ahok tidak ada, saya pasti sudah pusing setengah mati” Saya juga, kalau tidak ada Pak Jokowi, pusing setengah mati. Saling membutuhkan, kenapa ribut.
Pernah ada beda pandangan? Lalu bagaimana menyiasatinya?
Pernah. Tapi bukan beda pandangan yang penting. Saya ngomong apa, dia ngomong apa. Jadi belum ketemu. Belum kompak ngomong. Saya itu ngomong dulu, baru mikir. Dia tahu. Makanya, tidak terlalu marah. Kalau ngomongnya salah, kan tinggal dibicarakan, maksudnya bagaimana, nanti saya ikutin bos.
Karakter Jokowi yang terlihat lembut apakah pernah mengganggu Anda yang berkarakter beda?
Pak Jokowi itu tegas. Dia kelihatannya saja kalem. Kalau Beliau sudah bilang enggak, ya enggak. Ngga ada nego. Kalau saya cuma keras di mulut, kadang masih bisa nego.Saya ingat, waktu rapat, dia bilang,”Ini diganti, ini diganti” sambil menunjuk berkas. Deputinya bilang,”Maaf Pak, boleh ngga saya usul ini gantinya setelah ini.”Beliau jawab,”Nggak, tanggal itu aja.”Gitu aja kalimatnya. Deputinya cuma jawab,”Iya pak.” Ngga berani lagi.
Pas ngecek laporan, kalau laporannya ngga bener, dia cuma bilang,”Ngaco kamu,” Kalau saya pasti mencak-mencak dulu. Kalau dia dijelasin lagi, dia cuma pergi. Stres ngga kamu. Beliau pernah ngejelasin, terus yang dijelasin ngga mudeng-mudeng. Pas orangnya pergi, Beliau bilang ke saya,”Ganti aja, ngga bisa kerja.” Ngga ada nego. Saya habisin energi teriak-teriak, orang ngga takut. Tapi semua orang segan sama beliau.
Apa kunci penanganan Waduk Pluit dan Ria Rio?
Tegakkan hukum. Manusiawi, kita kasih informasi, Anda kita mau bongkar dan disiapkan rumah susun. Tidak ada negosiasi untuk yang melanggar hukum. Tapi saya tidak benci Anda, saya benci kelakuan Anda. Tidak mau pindah ke rusun, tetap disikat. Kamu mengancam. saya tidak takut.
Jokowi masuk bursa capres terkuat.
Kita tidak tahu itu akan terjadi atau tidak. Kalau dia jadi presiden, saya jadi gubernur, pasti dia akan dukung habis saya, karena tahu kerja saya.
Soal wacana Jokowi-Ahok jadi Capres-cawapres?
Itu lebih ngga mungkin lagi. Lebih gila lagi.Ngarang-ngarang aja. [Majalah Gatra]
Jokowi: Kita Terbuka 100%, Bukan 99%
Quote:
Ahok.Org – Memimpin DKI Jakarta Gubernur Joko Widodo, menekankan data lapangan, sebagai pijakan kebijakan. Itu sebabnya, ia sering blusukan. Petualangan lapangan juga ia jadikan kesempatan mengontrol program. Karena banyak ke lapangan, mantan wali kota Surakarta ini memercayakan urusan kantor kepada Wagub Basuki T. Purnama.
Bagaimana pola pembagian kerja dengan wakil gubernur?
Saya lebih banyak turun ke lapangan dan wagub di dalam. Saya juga sering ikut rapat pagi, tapi ngga sesering wagub. Kalau saya ke lapangan, ada masalah, saya minta wagub ngerapatin. Dua minggu lagi saya kontrol dan harus beres. Percuma direncanakan tapi nggak dikontrol. Kualitasnya bisa berantakan. Mereka harus merasa diawasi. Fungsi manajemen seperti itu yang sekarang terus kita garap.
Anda dan Ahok duet dadakan. Bagaimana mengembangkan rasa saling percaya?
Kita terbuka total, 100 %. Bukan 99%. Tiap pagi kita ketemu empat mata, kalau ngga ke luar kota. Waktunya sekitar setengah jam. Pembahasan masalah harian. Kalau perlu rapat, Pak Wagub yang biasanya ngerapatin. Koordinasi bisa lewat telepon. Saya selalu dapat hasil rapat. Rapih kerjanya.
Pernah berbeda pandangan jugakan? Bagaimana mengatasinya?
Sering. Tapi langsung diselesaikan empat mata.Kami terbuka, kalau yang benar wagub, ya langsung kita laksanakan. Kita orang-orang rasional. Asal alasan, data dan loginya masuk, kenapa tidak? Kalau sudah jadi putusan, berdua pasti satu suara, kalau ngga bisa bahaya.
Bagaimana Anda melihat Wagub Ahok?
Setiap masalah diselesaikan. Cepat kerjanya. Kalau bisa rampung sehari, ngapain nunggu sebulan.
Jadi, Ahok tipe cepat menyelesaikan masalah?
Kecepatan.
Itu positif atau negatif?
Ada yang positif, tapi kadang kalau kecepatan perlu juga ada remnya.
Yang mesti di rem, misalnya, dalam masalah apa?
Tanah Abang, misalnya, pas kita bahas malu langsung diselesaikan besoknya. Saya bilang, sebentar, dilihat dulu yang detail dan rinci biar ngga konflik. Buat saya, lapangan itu penting, saya kontrol, saya cek dengan detail biar semua gamblang.
Anda sering bikin festival, Itu lebih banyak gagasan Anda?
Kalau bisa setiap hari kita buat festival. Setiap kota, apalagi sekelas Jakarta, masyarakat jangan disuguhi terus dengan sesuatu yang sifatnya konsumtif atau hedonis, yang urusanya dengan duit atau urusan politik. Keseimbangan bisa hilang, sehingga harus ada sisi religius dan sisi budaya. Kalau ngga, psikologi masyarakat pasti akan terganggu. Makanya butuh keseimbangan. Saya sudah coba ini di Solo. Kota itu, semakin sering warganya berinteraksi dan komunikasi tensinya akan semakin turun.
Untuk realsi eksternal, komunikasi dengan DPRD DKI Jakarta bagaimana?
Tidak ada masalah. Kita setelah satu tahun lebih memimpin tidak pernah ada voting.
Tidak pernah adayang walk out?
Itu biasa tih, kok walk out aja dipikirin. Itu dinamika politik. Kalau waktu di Solo saya pernah, tahun pertama itu dua kali voting dan kalah. Walau kita ada program dan tidak disetujui, itu biasa-biasa saja. Namanya juga orang banyak dengan kepentingan politik berbeda-beda, ya jadi itu biasa saja.
Ada lobi politik khusus ke DPRD?
Ngga pernah, tanya saja ke DPRD ada pernah.
Undangan makan siang?
Ngajak makan siang aja kok lobi. Makan siangnya terbuka kok. mana ada lobi. Waktu itu kan banyak yang tanya, kita sering undang masyarakat untuk makan siang tapi dengan dewan belum pernah. Ya udah kita undang makan. Artinya, kita dekat banget kok dengan dewan, tidak pernah ada masalah. Padahal, kalau hitung-hitungan kursi di DPRD kan kalah jauh. Tapi waktanya bukan mulus tapi sangat mulus. [Majalah Gatra]
Bagaimana pola pembagian kerja dengan wakil gubernur?
Saya lebih banyak turun ke lapangan dan wagub di dalam. Saya juga sering ikut rapat pagi, tapi ngga sesering wagub. Kalau saya ke lapangan, ada masalah, saya minta wagub ngerapatin. Dua minggu lagi saya kontrol dan harus beres. Percuma direncanakan tapi nggak dikontrol. Kualitasnya bisa berantakan. Mereka harus merasa diawasi. Fungsi manajemen seperti itu yang sekarang terus kita garap.
Anda dan Ahok duet dadakan. Bagaimana mengembangkan rasa saling percaya?
Kita terbuka total, 100 %. Bukan 99%. Tiap pagi kita ketemu empat mata, kalau ngga ke luar kota. Waktunya sekitar setengah jam. Pembahasan masalah harian. Kalau perlu rapat, Pak Wagub yang biasanya ngerapatin. Koordinasi bisa lewat telepon. Saya selalu dapat hasil rapat. Rapih kerjanya.
Pernah berbeda pandangan jugakan? Bagaimana mengatasinya?
Sering. Tapi langsung diselesaikan empat mata.Kami terbuka, kalau yang benar wagub, ya langsung kita laksanakan. Kita orang-orang rasional. Asal alasan, data dan loginya masuk, kenapa tidak? Kalau sudah jadi putusan, berdua pasti satu suara, kalau ngga bisa bahaya.
Bagaimana Anda melihat Wagub Ahok?
Setiap masalah diselesaikan. Cepat kerjanya. Kalau bisa rampung sehari, ngapain nunggu sebulan.
Jadi, Ahok tipe cepat menyelesaikan masalah?
Kecepatan.
Itu positif atau negatif?
Ada yang positif, tapi kadang kalau kecepatan perlu juga ada remnya.
Yang mesti di rem, misalnya, dalam masalah apa?
Tanah Abang, misalnya, pas kita bahas malu langsung diselesaikan besoknya. Saya bilang, sebentar, dilihat dulu yang detail dan rinci biar ngga konflik. Buat saya, lapangan itu penting, saya kontrol, saya cek dengan detail biar semua gamblang.
Anda sering bikin festival, Itu lebih banyak gagasan Anda?
Kalau bisa setiap hari kita buat festival. Setiap kota, apalagi sekelas Jakarta, masyarakat jangan disuguhi terus dengan sesuatu yang sifatnya konsumtif atau hedonis, yang urusanya dengan duit atau urusan politik. Keseimbangan bisa hilang, sehingga harus ada sisi religius dan sisi budaya. Kalau ngga, psikologi masyarakat pasti akan terganggu. Makanya butuh keseimbangan. Saya sudah coba ini di Solo. Kota itu, semakin sering warganya berinteraksi dan komunikasi tensinya akan semakin turun.
Untuk realsi eksternal, komunikasi dengan DPRD DKI Jakarta bagaimana?
Tidak ada masalah. Kita setelah satu tahun lebih memimpin tidak pernah ada voting.
Tidak pernah adayang walk out?
Itu biasa tih, kok walk out aja dipikirin. Itu dinamika politik. Kalau waktu di Solo saya pernah, tahun pertama itu dua kali voting dan kalah. Walau kita ada program dan tidak disetujui, itu biasa-biasa saja. Namanya juga orang banyak dengan kepentingan politik berbeda-beda, ya jadi itu biasa saja.
Ada lobi politik khusus ke DPRD?
Ngga pernah, tanya saja ke DPRD ada pernah.

Undangan makan siang?
Ngajak makan siang aja kok lobi. Makan siangnya terbuka kok. mana ada lobi. Waktu itu kan banyak yang tanya, kita sering undang masyarakat untuk makan siang tapi dengan dewan belum pernah. Ya udah kita undang makan. Artinya, kita dekat banget kok dengan dewan, tidak pernah ada masalah. Padahal, kalau hitung-hitungan kursi di DPRD kan kalah jauh. Tapi waktanya bukan mulus tapi sangat mulus. [Majalah Gatra]
SUMUR
SUMUR
Komeng :
Inilah orang2 yg di butuhkan di Indonesia........Untuk mengatasi Jaman Edan
Apakah Mereka RATU ADIL dan SATRIA PENINGIT yg di Idam2kan Rakyat Indonesia?? Kita lihat saja nanti....
.

Quote:
Ada kesamaan antara duet Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama, hasil Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Prov. DKI Jakarta 2012, dengan pasangan SBY-JK di Pilpres 2004. Jokowi, sapaan akrab Gubernur DKI Jakarta itu dan SBY, panggilan pesiden, sama-sama rising star politik pada masanya. Elektabilitas Jokowi pasca-pemilihan gubernur Jakarta 2012 terus menanjak, begitu pula tingkat keterpilihan SBY selepas Pilpres 2004.
Dua primadona elektoral pada eranya itu juga sama-sama didampingi pasangan tak biasa: out of the box. Sosok JK sebagai wapres berbeda daripada umumnya wapres, yang sekedar konco wingking. JK tampil aktraktif, menjadi problem solver, dan banyak terobosan. Pun performa Ahok, tidak seperti kesan umum wagub yang sekedar pelengkap protokoler.
Kepada daerah populer itu biasa. Tapi tak banyak wakil kepada daerah sekondang Ahok. Mantan Bupati Belitun Timur ini banyak melontorkan gagasan kejutan, pekerja produktif, dan punya kemampuan bicara yang argumentatif. Terlihat saling mengisi dengan Jokowi yang kalem dan biacara secukupnya. Ahok tidak cuma menumpang popularitas Jokowi, melainkan juga memberi warna lebih.
Salah satu wajud pengakuan publik, tahun ini Ahok dianugerahi “Bung Hatta Anti-Corruption Award” – penghargaan yang pernah diterima Jokowi tahun 2010, saat masih menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah. Banyak yang memandang kiprah Ahok sebagai wagub mirip JK sebagai wapres. Pasangan SBY-JK dinilai tepat dan saling mengisi. SBY sosok pemikir visioner, JK tipe pekerja smart yang berorientasi kedepan.
Dua primadona elektoral pada eranya itu juga sama-sama didampingi pasangan tak biasa: out of the box. Sosok JK sebagai wapres berbeda daripada umumnya wapres, yang sekedar konco wingking. JK tampil aktraktif, menjadi problem solver, dan banyak terobosan. Pun performa Ahok, tidak seperti kesan umum wagub yang sekedar pelengkap protokoler.
Kepada daerah populer itu biasa. Tapi tak banyak wakil kepada daerah sekondang Ahok. Mantan Bupati Belitun Timur ini banyak melontorkan gagasan kejutan, pekerja produktif, dan punya kemampuan bicara yang argumentatif. Terlihat saling mengisi dengan Jokowi yang kalem dan biacara secukupnya. Ahok tidak cuma menumpang popularitas Jokowi, melainkan juga memberi warna lebih.
Salah satu wajud pengakuan publik, tahun ini Ahok dianugerahi “Bung Hatta Anti-Corruption Award” – penghargaan yang pernah diterima Jokowi tahun 2010, saat masih menjadi Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah. Banyak yang memandang kiprah Ahok sebagai wagub mirip JK sebagai wapres. Pasangan SBY-JK dinilai tepat dan saling mengisi. SBY sosok pemikir visioner, JK tipe pekerja smart yang berorientasi kedepan.
Diubah oleh CASSAS E N S O R8 29-12-2013 19:03
0
3.3K
Kutip
34
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.1KThread•58.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya