- Beranda
- The Lounge
Pamer Kuasa Sang Bupati
...
TS
kemalmahendra
Pamer Kuasa Sang Bupati
Begitu banyak hal yang aneh dalam praktik kekuasaan yang terjadi di negara kita tercinta ini. Kekuasaan lebih dilihat sebagai alat untuk pamer kekuatan. Akibatnya, begitu sering kita melihat terjadinya salah guna kekuasaan, abuse of power.
Itulah yang terjadi dengan Bupati Ngada Marianus Sae. Hanya karena merasa kecewa tidak mendapatkan tiket untuk pulang dari Kupang, Marianus bisa memerintahkan Satuan Polisi Pamong Praja menutup landasan bandar udara di daerahnya agar pesawat Merpati Nusantara Airlines yang tidak mau memberikan tiket kepadanya, tidak bisa mendarat di sana.
Tidakkah ia membayangkan bahaya yang dihadapi pilot pesawat dan puluhan penumpang yang ada di dalamnya? Kalau kemudian bahan bakar tidak mencukupi untuk kembali ke kota asal keberangkatan, apa yang akan terjadi dengan pesawat itu?
Marianus pasti tidak pernah memikirkan bahaya yang mengancam pesawat komersial itu. Bagi dirinya, rasa tersinggung membuat ia ingin menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kekuasaan yang besar dan bisa melakukan apa pun yang ia maui di daerahnya.
Pesawat Merpati akhirnya tidak bisa mendarat di Ngada. Pesawat itu harus return to base, kembali ke Kupang karena landasan pacu dipenuhi oleh anggota Satpol PP yang menghalau upaya pendaratan dan tidak mungkin lagi landasan didarati oleh pesawat.
Kejadian di Ngada merupakan kejadian pertama yang terjadi di dunia penerbangan sipil. Ada pesawat komersial yang dilarang mendarat di sebuah bandara, hanya karena kepala daerahnya tersinggung dan tidak bisa ikut penerbangan itu.
Bupati Marianus mengaku siap untuk dikenai tindakan pidana atas perbuatannya. Ia secara terbuka mengaku memang memerintahkan untuk menutup landasan pacu di daerahnya, karena ia harus ikut penerbangan itu guna mengikuti Sidang Paripurna DPRD Ngada untuk membahas masalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Ngada 2014.
Marianus berdalih sudah mengemis-ngemis untuk bisa mendapatkan satu kursi di dalam penerbangan. Apalagi ia tahu ada tiga kursi yang masih belum terisi, sehingga tidak ada alasan bagi Merpati untuk tidak memberikan kursi kepada dirinya.
Apa pun alasan Marianus tentu tidak bisa dibenarkan. Tindakan yang dilakukan sudah membahayakan penerbangan sipil. Tindakan yang ia lakukan menimbulkan preseden yang tidak baik, di mana seorang pemegang kekuasaan boleh bertindak sewenang-wenang.
Apalagi aturan di dalam penerbangan sebenarnya memberikan hak istimewa kepada penumpang VIP. Kalau memang kursinya ada, tidak mungkin pihak Merpati tidak memprioritaskan bupati. Pasti karena tidak ada lagi kursi yang tersedia, tidaklah mungkin bagi pihak Merpati mengorbankan penumpang yang telah lebih dulu mendapatkan tiket.
Untuk itu kita mendukung bahwa tindakan ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada proses hukum agar para pejabat sadar bahwa kekuasaan itu bukan untuk dipamerkan. Kekuasaan itu adalah amanah untuk kepentingan rakyat.
Para penumpang yang ada di dalam pesawat Merpati merupakan rakyat yang seharusnya dilayani oleh Bupati Marianus. Jangan karena bupati kesal kepada pihak perusahaan penerbangan, Rakyat Ngada harus menjadi korban dari tindakan dari bupatinya sendiri.
Kasus yang terjadi di Ngada memberi pelajaran penting kepada kita untuk tidak mengambil keputusan ketika sedang emosional. Keputusan yang diambil ketika suasana batin sedang marah seringkali tidak rasional dan akhirnya menjadi tidak produktif.
Kita lihat sekarang bagaimana Bupati Marianus berupaya untuk berdalih atas tindakan yang ia lakukan. Kita tahu bahwa bupati berbohong harus mengikuti Sidang Paripurna DPRD, karena menurut anggota dewan tidak ada keharusan bupati untuk mengikuti sidang itu.
Ini tentunya menambah kadar kesalahan yang dilakukan Bupati Marianus. Ia bukan hanya telah membuat sebuah keputusan yang konyol, tetapi dalih yang disampaikan untuk membenarkan tindakannya itu pun ternyata konyol.
Sekali lagi kita diajarkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Apalagi ketika kita menjadi pejabat, maka kita harus lebih bijak dalam mengambil keputusan itu. Kuncinya, kita harus selalu rendah hati dan menjadikan kekuasaan sebagai sebuah amanah. Bukan sebaliknya menjadi kekuasaan sebagai alat untuk bersikap mentang-mentang.
Itulah yang terjadi dengan Bupati Ngada Marianus Sae. Hanya karena merasa kecewa tidak mendapatkan tiket untuk pulang dari Kupang, Marianus bisa memerintahkan Satuan Polisi Pamong Praja menutup landasan bandar udara di daerahnya agar pesawat Merpati Nusantara Airlines yang tidak mau memberikan tiket kepadanya, tidak bisa mendarat di sana.
Tidakkah ia membayangkan bahaya yang dihadapi pilot pesawat dan puluhan penumpang yang ada di dalamnya? Kalau kemudian bahan bakar tidak mencukupi untuk kembali ke kota asal keberangkatan, apa yang akan terjadi dengan pesawat itu?
Marianus pasti tidak pernah memikirkan bahaya yang mengancam pesawat komersial itu. Bagi dirinya, rasa tersinggung membuat ia ingin menunjukkan siapa sebenarnya dirinya. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya memiliki kekuasaan yang besar dan bisa melakukan apa pun yang ia maui di daerahnya.
Pesawat Merpati akhirnya tidak bisa mendarat di Ngada. Pesawat itu harus return to base, kembali ke Kupang karena landasan pacu dipenuhi oleh anggota Satpol PP yang menghalau upaya pendaratan dan tidak mungkin lagi landasan didarati oleh pesawat.
Kejadian di Ngada merupakan kejadian pertama yang terjadi di dunia penerbangan sipil. Ada pesawat komersial yang dilarang mendarat di sebuah bandara, hanya karena kepala daerahnya tersinggung dan tidak bisa ikut penerbangan itu.
Bupati Marianus mengaku siap untuk dikenai tindakan pidana atas perbuatannya. Ia secara terbuka mengaku memang memerintahkan untuk menutup landasan pacu di daerahnya, karena ia harus ikut penerbangan itu guna mengikuti Sidang Paripurna DPRD Ngada untuk membahas masalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Ngada 2014.
Marianus berdalih sudah mengemis-ngemis untuk bisa mendapatkan satu kursi di dalam penerbangan. Apalagi ia tahu ada tiga kursi yang masih belum terisi, sehingga tidak ada alasan bagi Merpati untuk tidak memberikan kursi kepada dirinya.
Apa pun alasan Marianus tentu tidak bisa dibenarkan. Tindakan yang dilakukan sudah membahayakan penerbangan sipil. Tindakan yang ia lakukan menimbulkan preseden yang tidak baik, di mana seorang pemegang kekuasaan boleh bertindak sewenang-wenang.
Apalagi aturan di dalam penerbangan sebenarnya memberikan hak istimewa kepada penumpang VIP. Kalau memang kursinya ada, tidak mungkin pihak Merpati tidak memprioritaskan bupati. Pasti karena tidak ada lagi kursi yang tersedia, tidaklah mungkin bagi pihak Merpati mengorbankan penumpang yang telah lebih dulu mendapatkan tiket.
Untuk itu kita mendukung bahwa tindakan ini tidak bisa dibiarkan. Harus ada proses hukum agar para pejabat sadar bahwa kekuasaan itu bukan untuk dipamerkan. Kekuasaan itu adalah amanah untuk kepentingan rakyat.
Para penumpang yang ada di dalam pesawat Merpati merupakan rakyat yang seharusnya dilayani oleh Bupati Marianus. Jangan karena bupati kesal kepada pihak perusahaan penerbangan, Rakyat Ngada harus menjadi korban dari tindakan dari bupatinya sendiri.
Kasus yang terjadi di Ngada memberi pelajaran penting kepada kita untuk tidak mengambil keputusan ketika sedang emosional. Keputusan yang diambil ketika suasana batin sedang marah seringkali tidak rasional dan akhirnya menjadi tidak produktif.
Kita lihat sekarang bagaimana Bupati Marianus berupaya untuk berdalih atas tindakan yang ia lakukan. Kita tahu bahwa bupati berbohong harus mengikuti Sidang Paripurna DPRD, karena menurut anggota dewan tidak ada keharusan bupati untuk mengikuti sidang itu.
Ini tentunya menambah kadar kesalahan yang dilakukan Bupati Marianus. Ia bukan hanya telah membuat sebuah keputusan yang konyol, tetapi dalih yang disampaikan untuk membenarkan tindakannya itu pun ternyata konyol.
Sekali lagi kita diajarkan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Apalagi ketika kita menjadi pejabat, maka kita harus lebih bijak dalam mengambil keputusan itu. Kuncinya, kita harus selalu rendah hati dan menjadikan kekuasaan sebagai sebuah amanah. Bukan sebaliknya menjadi kekuasaan sebagai alat untuk bersikap mentang-mentang.
0
1.4K
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.8KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya