- Beranda
- The Lounge
Gelar Juara Umum Lepas di Myanmar
...
TS
kemalmahendra
Gelar Juara Umum Lepas di Myanmar
Target 120 medali emas yang ditetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo di SEA Games XXVII Myanmar gagal untuk dicapai. Kontingen Indonesia hanya mampu mengumpulkan setengah dari target yang ditentukann sehingga gagallah upaya untuk mempertahankan gelar pengumpul medali terbanyak pada pesta olahraga bangsa-bangsa Asia Tenggara.
Kontingen Indonesia hanya mampu menempati urutan keempat dari 10 negara ASEAN. Kali ini kita harus puas berada di belakang Thailand, Myanmar, dan VIetnam yang menempati tiga posisi teratas.
Menpora Roy Suryo menegaskan bahwa tidak perlu ada yang dipersalahkan dalam kegagalan kontingen Indonesia di ajang SEA Games XXVII. Kalau harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan ini, maka dirinyalah yang menanggung semua kesalahan itu.
Poin terpenting dari kegagalan kontingen Indonesia memang bukanlah mencari kambing hitam. Namun kegagalan yang terjadi di Myanmar menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang kita kembangkan belumlah berjalan dengan baik.
Dengan sistem yang belum tertata dengan baik tidak usah heran apabila prestasinya naik-turun seperti sekarang. Kehebatan yang kita tunjukkan di Palembang dua tahun lalu, tidak terlihat lagi di Myanmar.
Selalu kita sampaikan bahwa olahraga merupakan indikator yang paling riil dari pembentukan manusia yang dilakukan sebuah bangsa. Sebab, tidak pernah ada jalan pintas dalam pembinaan olahraga. Apa yang kita tanam, itulah yang kita akan petik.
Kita selalu menyepelekan persoalan persiapan. Padahal para pembina olahraga dan para atlet sejak lama mengeluhkan persoalan peralatan yang mereka perlukan untuk berlatih. Mereka selalu meneriakkan soal perlunya uji tanding untuk mengukur kemajuan prestasi.
Namun semua keluhan itu tidak pernah ada yang memedulikan. Seakan prestasi itu akan datang dengan sendirinya. Padahal dalam olahraga persiapanlah yang jauh lebih penting daripada pertandingan yang sebenanya.
Mantan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Wismoyo Arismunandar sering menggunakan istilah militer untuk menempa para atlet. Ia selalu mengatakan, lebih baik bercucuran keringat pada saat berlatih, daripada bercucuran air mata pada saat pertandingan.
Kelemahan paling mendasar pada bangsa ini, kita cenderung melupakan proses untuk mencapai tujuan. Kultur yang lebih mencuat pada kita sekarang ini, tidak pernah mau sulit untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Maraknya kasus korupsi yang terjadi sekarang merupakan cerminan dari semua itu. Kita ingin menjadi kaya tanpa mau berkarya. Akibatnya, kita lebih menggunakan kekuasaan untuk mengeruk harta kekayaan.
Mereka tidak menyadari bahwa sikap jalan pintas seperti itu merugikan banyak orang. Hanya demi memperkaya diri sendiri, mereka mengambil hak orang banyak. Korupsi yang dilakukan merebut kesejahteraan dari rakyat banyak.
Olahraga sebenarnya kita harapkan bisa memperbaiki kultur bangsa yang buruk itu. Kita menanamkan kembali sikap disiplin, sportif, kerja keras, dan sikap untuk tidak mudah menyerah. Hal-hal mendasar itulah yang menjadi landasan utama bagi seorang atlet apabila ingin berhasil.
Sayang kita tidak pernah menyadari esensi dari olahraga. Seringkali olahraga hanya sekadar dilihat sebagai sebuah permainan belaka. Seakan-akan olahraga hanya mengajarkan kita persoalan menang dan kalah saja.
Padahal ada pesan yang lebih mendalam dari yang namanya olahraga. Kalau kita sekarang gagal lagi di ajang SEA Games menunjukkan bahwa ada yang keliru dari pembinaan manusia yang kita lakukan. Pertanggungjawaban yang kita mintakan bukan persoalan gagal untuk menjadi juara umum, tetapi kegagalan untuk menciptakan sistem pembinaan yang baik itu.
Inilah yang seharusnya menjadi bahan refleksi dari jajaran pembina olahraga. Bagaimana kita lebih sungguh-sungguh untuk melakukan investasi kepada generasi muda. Sebab, hanya bangsa yang memiliki generasi muda berkualitaslah yang akan memiliki masa depan itu.
Kontingen Indonesia hanya mampu menempati urutan keempat dari 10 negara ASEAN. Kali ini kita harus puas berada di belakang Thailand, Myanmar, dan VIetnam yang menempati tiga posisi teratas.
Menpora Roy Suryo menegaskan bahwa tidak perlu ada yang dipersalahkan dalam kegagalan kontingen Indonesia di ajang SEA Games XXVII. Kalau harus ada yang bertanggung jawab atas kegagalan ini, maka dirinyalah yang menanggung semua kesalahan itu.
Poin terpenting dari kegagalan kontingen Indonesia memang bukanlah mencari kambing hitam. Namun kegagalan yang terjadi di Myanmar menunjukkan bahwa sistem pembinaan yang kita kembangkan belumlah berjalan dengan baik.
Dengan sistem yang belum tertata dengan baik tidak usah heran apabila prestasinya naik-turun seperti sekarang. Kehebatan yang kita tunjukkan di Palembang dua tahun lalu, tidak terlihat lagi di Myanmar.
Selalu kita sampaikan bahwa olahraga merupakan indikator yang paling riil dari pembentukan manusia yang dilakukan sebuah bangsa. Sebab, tidak pernah ada jalan pintas dalam pembinaan olahraga. Apa yang kita tanam, itulah yang kita akan petik.
Kita selalu menyepelekan persoalan persiapan. Padahal para pembina olahraga dan para atlet sejak lama mengeluhkan persoalan peralatan yang mereka perlukan untuk berlatih. Mereka selalu meneriakkan soal perlunya uji tanding untuk mengukur kemajuan prestasi.
Namun semua keluhan itu tidak pernah ada yang memedulikan. Seakan prestasi itu akan datang dengan sendirinya. Padahal dalam olahraga persiapanlah yang jauh lebih penting daripada pertandingan yang sebenanya.
Mantan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia Wismoyo Arismunandar sering menggunakan istilah militer untuk menempa para atlet. Ia selalu mengatakan, lebih baik bercucuran keringat pada saat berlatih, daripada bercucuran air mata pada saat pertandingan.
Kelemahan paling mendasar pada bangsa ini, kita cenderung melupakan proses untuk mencapai tujuan. Kultur yang lebih mencuat pada kita sekarang ini, tidak pernah mau sulit untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.
Maraknya kasus korupsi yang terjadi sekarang merupakan cerminan dari semua itu. Kita ingin menjadi kaya tanpa mau berkarya. Akibatnya, kita lebih menggunakan kekuasaan untuk mengeruk harta kekayaan.
Mereka tidak menyadari bahwa sikap jalan pintas seperti itu merugikan banyak orang. Hanya demi memperkaya diri sendiri, mereka mengambil hak orang banyak. Korupsi yang dilakukan merebut kesejahteraan dari rakyat banyak.
Olahraga sebenarnya kita harapkan bisa memperbaiki kultur bangsa yang buruk itu. Kita menanamkan kembali sikap disiplin, sportif, kerja keras, dan sikap untuk tidak mudah menyerah. Hal-hal mendasar itulah yang menjadi landasan utama bagi seorang atlet apabila ingin berhasil.
Sayang kita tidak pernah menyadari esensi dari olahraga. Seringkali olahraga hanya sekadar dilihat sebagai sebuah permainan belaka. Seakan-akan olahraga hanya mengajarkan kita persoalan menang dan kalah saja.
Padahal ada pesan yang lebih mendalam dari yang namanya olahraga. Kalau kita sekarang gagal lagi di ajang SEA Games menunjukkan bahwa ada yang keliru dari pembinaan manusia yang kita lakukan. Pertanggungjawaban yang kita mintakan bukan persoalan gagal untuk menjadi juara umum, tetapi kegagalan untuk menciptakan sistem pembinaan yang baik itu.
Inilah yang seharusnya menjadi bahan refleksi dari jajaran pembina olahraga. Bagaimana kita lebih sungguh-sungguh untuk melakukan investasi kepada generasi muda. Sebab, hanya bangsa yang memiliki generasi muda berkualitaslah yang akan memiliki masa depan itu.
0
1.2K
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•104.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya