Pengaturan

Gambar

Lainnya

Tentang KASKUS

Pusat Bantuan

Hubungi Kami

KASKUS Plus

© 2024 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved

embercorAvatar border
TS
embercor
Jangan Nonton Televisi di Kampung Ini
Jangan Nonton Televisi di Kampung Ini





TRIBUNLAMPUNG.co.id - Memasuki pelataran kampung Suku Adat Sasak di Desa Gumantar, Lombok, NTB, anda seperti kembali ke masa purbakala.

Betapa tidak, Suku Sasak mengasingkan diri dari teknologi. Tak ada aliran listrik, tak boleh ada televisi, radio, apalagi internet.

Praktis setelah penduduk desa seharian menghabiskan waktu di sawah dan ladang, mereka kembali ke rumah tanpa ada hiburan.

Cuma nongkrong-nongkrong di teras rumah sampai malam tiba.

Mereka pakai lampu minyak jarak yang cahayanya amat redup seperti lampu 5 watt.

Pengamatan Tribunnews.com, Balai Gempeng, nama rumah adat suku Sasak, juga tak dilengkapi fasilitas sanitasi sehat.

Bahkan rumah-rumah Sasak tak berjendela. Saat Tribun mencoba blusukan ke dalam rumah, langsung terasa gelap gulita di dalam rumah, meski siang bolong.

Ini karena tak ada jendela atau genting kaca. Atap terbuat dari daun rumbia dan dinding dari anyaman bambu.

Hanya dari sela-sela anyaman bambung itu sedikit udara dan cahaya masuk. Pantas kalau udara pengap.

Anehnya, komplek Suku Sasak ini tak jauh dari perkampungan penduduk yang tidak alergi teknologi. Hanya berjarak sekitar 200 meter, ada rumah-rumah non Suku Sasak yang bebas nonton TV dan memutar radio.

"Di sini nggak boleh nonton TV. Tahu dah kenapa. Pokoknya nggak boleh aja," kata Sunaecih, warga Suku Sasak.

Kalau mau nonton TV, Sunaecih harus meninggalkan komplek Suku Adat, numpang nonton di rumah kampung tetangga terdekat.

Saat ditemui, Wanita 45 tahunan itu sedang memangku Rani, bungsu anak keenamnya.

Dia sudah berusia 4 tahun tapi belum bisa bicara sepatah kata pun. "Dia sering sakit-sakitan," tutur Sunaecih.

Meski hidup dalam "dunia purbakala" suku adat punya kearifan lokal yang patut dicontoh.

Mereka punya aturan adat namanya "Awiq-awiq." Salah satunya larangan menebang pohon sembarangan.

"Kalau kepergok babat hutan sembarangan, didenda harus bayar hewan ternak yang sudah dimasak dan disantap ramai-ramai oleh warga," kata Japarti, Kepala Desa Gumantar.





sumber;http://lampung.tribunnews.com/2013/12/14/jangan-nonton-televisi-di-kampung-ini




_______________________________________
orang jaman sekarang yang masih punya pemikiran2 jaman dahulu,kasihan emoticon-Berduka (S)
0
4.3K
40
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan PolitikKASKUS Official
672KThread41.8KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.