Sering Anda mengirim SMS, BBM, chat Whatsapp, KakaoTalk, dll dengan pola kata yang sederhana dan atraktif? Tentunya, sejak awal mula ditemukan media Short Message Service (SMS), penyampaian pesan harus muat dalam 114 karakter. Walaupun saat ini bisa beratus-ratus kata dalam aplikasi seperti BBM atau WA, atau KT, penyampaian tetap dengan satu pola. Menarik dan mewakili perasaan pengirim.
Pengetikan huruf pada keypad HP atau gadget untuk mengirimkan pesan, sejatinya bukan menulis. Mengirim SMS bukanlah kegiatan menulis. Mengirim SMS/BBM atau serupanya, adalah kegiatan mengirimkan perasaan dengan bentuk huruf tulis pada HP/Gadget. Huruf atau karakter yang kita ketik seumpama representasi ucapan kita. Kita serasa ingin bertegur sapa langsung dengan diwakili huruf atau karakter sederhana dalam SMS kita. Seringkah Anda semua menulis emoticon (emot)/smileys/autotext dalam SMS/BBM seperti ini?
Karakter diatas, sesungguhnya mewakili perasaan kita. Karakter yang unik dan lucu sehingga mengundang reaksi perasaan yang juga akan diterima oleh si pembaca SMS. Dan tentunya, karakter diatas tidak berlaku atau tidak sesuai dengan pola tulisan formal seeprti dalam artikel atau tulisan formal lain. Sehingga, emot ini adalah ciri khas dari pola penyampaian perasaan melalui SMS. Dan seolah-olah jari tangan kita (finger) ingin berbicara seumpama tuturan kita (speech).
Finger speech pula tidak memiliki struktur tata bahasa atau tipografi huruf yang standar. Selama SMS/BBM itu menarik dan bisa dipahami dengan baik oleh penerimanya, finger speech akan tetap menjadi baik. Mungkin sering anda mendapat atau melihat SMS Alay. SMS yang cenderung berpola tipografi huruf yang dicampur angka dengan variasi upper dan lower case yang kurang jelas. Berikut contohnya.
Sekilas gaya penyampaian finger speech dalam teks SMS ini terkesan sulit dibaca dan lebay. Karena penggabungan pola dan variasi huruf atau tipografi yang beragam. Dan, dari SMS gaya Alay ini, terlihat dengan baik siapa yang menulisnya. Entah untuk sekadar iseng atau jail dan atau memang pengirimnya adalah anak Alay. Atau istilahnya anak yang berlebihan-lebiha atau norak. Baik berdandan, berucap bahkan dalam mengirimkan pesan SMS/BBM. Jadi, sekali lagi ada maksud dalam SMS untuk juga berbicara sesuai gaya atau karakter si pengirim yang mungkin tidak bisa disampaikan dalam sebuah artikel.
Finger Speech Di Dunia Sosmed
Dan pada akhirnya, dengan semakin merbaknya dunia Social Media atau Sosmed seperti Facebook, Twitter, Path, dll, pola finger speech juga dimanfaatkan. Apalagi di dunia Twitter dengan posting dengan hanya 140 karakter, tentunya pembuat tweet harus kreatif dan padat dalam menyampaikan tweet-nya. Dan akhirnya penggunaan bahasa yang ‘kurang sesuai’ standar atau sederhana digunakan.
Begitu pula dengan Facebook, yang memfasilitasi pola pengetikan smileys yang dapt langsung menjadi bentuk kartunnya. Terutama dalam fitur chat Facebook. Berikut bentuk-bentuk smiley atau emoticon chat Facebook dengan pola penulisannya atau shortcut keysdengan keyboard.
Dan pada intinya, semua pola penulisan dalam Sosmed juga menerapkan finger speech. Dimana pengetikan tipografi huruf cenderung mencerminkan perasaan dari sang pengirim tweet atau chat. Dan sejauh saya tahu, gambar atau sticker dalam fitur-fitur aplikasi sudah juga menjadi pola finger speech yang berbeda. Pola finger speech yang lebih sederhana. Karena gambar kadang bisa mewakili beragam perasaan atau malah penegas suatu SMS/BBM yang dikirim.
Semakin maju pola komunikasi, semakin sederhana dan simple kita berucap. Atau malah jangan-jangan kita akan kembali ke jaman pra-sejarah dulu. Saat gambar di tembok-tembok gua menjadi sistem komunikasi manusia pra-sejarah. Ah, entahlah?