- Beranda
- The Lounge
meraih do'a mustajab 1 (muslim masuk)
...
TS
hafi1991
meraih do'a mustajab 1 (muslim masuk)
Doa, di dalam Islam memiliki kedudukan sangat
agung. Doa merupakan ibadah yang sangat
dicintai oleh Allah. Doa merupakan bukti
ketergantungan seorang hamba kepada Rabb
Subhanahu wa Ta’ala dalam meraih apa-apa
yang bermanfaat dan menolak apa-apa yang
membawa mudharat baginya. Doa merupakan
bukti keterkaitan seorang manusia kepada
Rabb-nya, dan kecondongannya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, bahwasannya tiada daya
dan upaya melainkan dengan bantuan Allah
Subhanahu wa Ta’ala .
PERBANYAKLAH DOA
Sebagian orang ada yang beranggapan, bahwa
dirinya tidak selayaknya banyak meminta
kepada Allah. Dia menganggapnya sebagai suatu
aib. Menilainya sebagai sikap kurang bersyukur
kapada Allah atau bertentangan dengan sifat
qana’ah. Akhirnya ia menahan diri tidak
meminta kepada Allah, kecuali dalam perkara-
perkara yang dia anggap penting dan
mendesak. Sedang dalam masalah-masalah
yang dianggapnya ringan dan sepele, ia merasa
enggan meminta kepada Allah.
Pemahaman seperti ini, jelas merupakan
kekeliruan dan suatu kejahilan. Kerena doa
termasuk jenis ibadah, dan Allah Azza wa Jalla
marah jika seorang hamba enggan meminta
kepadaNya.
Dalan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻌِﺒَﺎﺩَﺓُ
Sesungguhnya doa adalah ibadah. [2]
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
membaca ayat:
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥ ﺍﻟﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ
ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
Dan Rabb-mu berfirman: "Berdo'alah
kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembahKu akan
masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina". [al Mu`min/40 : 60].
Doa ini -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala
- sangat bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀُ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣِﻤﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻭَﻣِﻤﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺰِﻝْ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ
ﺑِﺎﻟﺪﻋَﺎﺀِ
Doa itu bermanfaat bagi apa-apa yang sudah
terjadi ataupun yang belum terjadi. Hendaklah
kalian memperbanyak berdoa, wahai hamba-
hamba Allah.[3]
Seorang muslim, selayaknya banyak berdoa
setiap waktu. Karena doa merupakan ibadah
yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Tidak ada
yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa
Ta’ala daripada doa". [4]
DOA TIDAK PERNAH MEMBAWA KERUGIAN
Seseorang yang meninggalkan doa berarti ia
merugi. Sebaliknya seseorang yang berdoa, ia
tidak akan pernah merugi atas doa yang
dipenjatkannya, selama ia tidak berdoa untuk
suatu dosa atau memutuskan tali silaturrahmi.
Karena doa yang dipanjatkannya, pasti
disambut oleh Allah, baik dengan mewujudkan
apa yang dia minta di dunia, atau mencegah
darinya keburukan yang setara dengan yang ia
minta, atau menyimpannya sebagai pahala yang
lebih baik baginya di akhirat kelak. Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪُﻋَﺎﺀٍ ﺇِﻟﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣَﺎ ﺳَﺄَﻝَ ﺃَﻭْ ﻛَﻒ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴﻮﺀِ ﻣِﺜْﻠَﻪُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺪْﻉُ ﺑِﺈِﺛْﻢٍ ﺃَﻭْ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔِ ﺭَﺣِﻢٍ
Tidak ada seseorang yang berdoa dengan suatu
doa, kecuali Allah akan mengabulkan yang ia
minta, atau Allah menahan keburukan dari
dirinya yang semisal dengan yang ia minta,
selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan
dosa atau untuk memutuskan tali silaturrahim.
[5]
Oleh karena itu, janganlah seorang hamba
merasa keberatan meminta kepada Rabb-nya
dalam urusan-urusan dunianya, meskipun
urusan tersebut dianggapnya sepele, terlebih
lagi dalam urusan akhirat. Karena permintaan
itu merupakan bukti ketergantungan yang
sangat kepada Allah, dan kebutuhannya kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua
urusan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengatakan :
ﺇِﻧﻪُ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻪُ ﻳَﻐْﻀَﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak meminta
kepada Allah, maka Allah akan marah
kepadanya.[6]
ADAB-ADAB YANG HARUS DIPERHATIKAN
DALAM BERDOA
Dalam berdoa, ada beberapa perkara dan adab
yang harus diperhatikan oleh seseorang,
sehingga doanya mustajab.
Pertama : Memasang niat yang benar.
Seseorang yang berdoa, hendaklah meniatkan
dalam doanya tersebut untuk menegakkan
ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menggantungkan kebutuhannya kepadaNya.
Karena siapa saja yang mengggantungkan
hajatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.
Kedua : Berdoa dalam keadaan bersuci. Cara
seperti ini lebih afdhal. Hanya saja, jika
seseorang berdoa dalam kondisi tidak
berwudhu’, maka hal itu tidak mengapa.
Ketiga : Meminta kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan menengadahkan telapak tangan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda:
ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻢُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﻩُ ﺑِﺒُﻄُﻮﻥِ ﺃَﻛُﻔﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺴْﺄَﻟُﻮﻩُ
ﺑِﻈُﻬُﻮﺭِﻫَﺎ
Jika engkau meminta kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala , maka mintalah dengan
menengadahkan telapak tangan, dan janganlah
engkau memintanya dengan menengadahkan
punggung telapak tangan.[7]
Kaifiatnya adalah, dengan mengarahkan telapak
tangan ke wajah sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam[8]. Atau
dengan cara mengangkat tangan hingga
nampak putih ketiaknya (bagian dalam
ketiaknya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺣَﺘﻰ ﻳَﺒْﺪُﻭَ ﺇِﺑِﻄُﻪُ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔً ﺇِﻟﺎ ﺁﺗَﺎﻫَﺎ ﺇِﻳﺎﻩُ
(Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua
tangannya hingga nampak ketiaknya dan
memohon suatu permohonan, kecuali Allah
mengabulkan permohonannya itu).[9] Cara
seperti menunjukkan ketergantungan seorang
hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada
Allah, dan permohonannya yang sangat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Keempat : Memulai dengan mengucapkan
hamdalah dan puji-pujian kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Cara seperti ini menjadi
sebab lebih dekat kepada terkabulnya doa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mendengar seorang laki-laki berdoa dalam
shalatnya dan dia tidak mengagungkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala , tidak bershalawat atas
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Orang ini terburu-buru,” kemudian
Rasulullah memanggilnya dan bersabda :
ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺒْﺪَﺃْ ﺑِﺘَﺤْﻤِﻴﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺜﻨَﺎﺀِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛُﻢ
ﻟْﻴُﺼَﻞ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨﺒِﻲ ﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠﻢَ ﺛُﻢ ﻟْﻴَﺪْﻉُ
ﺑَﻌْﺪُ ﺑِﻤَﺎ ﺷَﺎﺀَ
Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah
ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah
serta puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , kemudian bershalawat atas Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setelah itu ia
berdoa dengan apa yang ia inginkan.[10]
Kelima : Bershalawat atas Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Jika ia meninggalkan
shalawat atas Nabi, doanya bisa terhalang.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Semua doa terhalang, sehingga diucapkan
shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[11] .
Keenam : Memulai berdoa untuk diri sendiri
terlebih dahulu. Demikian ini yang diisyaratkan
dalam al Qur`an, seperti ayat:
ﺭَﺏ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱ
Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, dan ibu bapakku
…… [Nuh/71 : 28].
Ketujuh : Bersungguh-sungguh dalam meminta.
Janganlah seseorang ragu-ragu dalam doanya,
atau ia mengucapkan pengecualian dengan
mengucapkan "jika Engkau berkehendak ya
Allah, berikanlah kepadaku ini dan ini". Doa
seperti itu dilarang, karena tidak ada
sesuatupun yang dapat memaksa kehendak
Allah.
Kedelapan : Menghadirkan hati dalam berdoa.
Seorang hamba, hendaklah menghadirkan hati,
memusatkan pikiran, mentadaburi doa yang ia
ucapkan, serta menampakkan kebutuhan dan
ketergantungannya kepada Allah. Janganlah ia
berdoa dengan lisannya, namun hatinya entah
kemana. Karena doa tidak akan dikabulkan
dengan cara seperti itu. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﺈِﺟَﺎﺑَﺔِ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﺎ
ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐُ ﺩُﻋَﺎﺀً ﻣِﻦْ ﻗَﻠْﺐٍ ﻏَﺎﻓِﻞٍ ﻟَﺎﻩٍ
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
sementara kalian yakin doa kalian dikabulkan.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak akan
mengabulkan doa dari hati yang lalai dan
lengah. [12]
Kesembilan : Berdoa dengan kata-kata singkat
dan padat, serta doa-doa yang ma’tsur. Tidak
syak lagi, kata-kata yang paling padat dan
paling singkat dan paling agung berkahnya
adalah, doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Doa-doa seperti
itu banyak terdapat di dalam buku-buku As
Sunnah.
Kesepuluh : Bertawasul dengan nama dan sifat-
sifat Allah. Allah Ta'ala berfirman:
ﻭَﻟِﻠﻪِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﺑِﻬَﺎ
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka
bermohonlah kepadaNya dengan menyebut
asma-ul husna itu … … [al A'raf/7 : 180].
Atau seseorang bertawasul dengan amal shalih
yang telah dia lakukan, sebagaimana
disebutkan dalam hadits shahih yang mashur
tentang tiga orang yang terperangkap di dalam
goa. Atau bertawasul dengan doa orang shalih
yang mendoakan untuknya. Dalil-dalil yang
menunjukkan hal ini banyak ditunjukkan di
dalam al Qur`an maupun Sunnah Nabi.
Kesebelas : Memperbanyak ucapan “Yaa Dzal
Jalaali wal Ikraam”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﺃَﻟِﻈﻮﺍ ﺑِﻴَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻠَﺎﻝِ ﻭَﺍﻟْﺈِﻛْﺮَﺍﻡِ
Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali Wal
Ikraam. [13]
Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah dalam
doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-
kata pujian yang sangat tinggi kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung.
Dengan memperbanyak membacanya akan
membantu terkabulnya doa dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala .
Keduabelas : Mencari waktu-waktu yang
mustajab dan tempat-tempat yang utama. Ada
beberapa waktu dan tempat-tempat yang
utama, sebagaimana telah disebutkan di dalam
nash-nash. Orang yang berdoa, sebaiknya
mencari waktu tersebut dan memperbanyak
doa pada waktu-waktu tersebut. Di antara
waktu-waktu yang utama dan mustajab adalah,
waktu antara adzan dan iqamah, di dalam
shalat, setelah selesai mengerjakan shalat-
shalat fardhu, pada waktu sore hari, ketika
berbuka puasa, di bagian akhir malam, dan
sesaat pada hari Jumat -yaitu saat-saat terakhir
pada hari Jumat- dan hari-hari di bulan
Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah, pada hari ‘Arafah, pada waktu
mengerjakan haji, di sisi Ka’bah, serta waktu-
waktu dan tempat-tempat lainnya yang
disebutkan di dalam atsar.
Ketigabelas : Memperbanyak doa pada saat-saat
lapang. Upaya ini agar Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengabulkan permintaannya pada saat-
saat sempit. Karena termasuk hikmah Allah
Subhanahu wa Ta’ala tatkala mentakdirkan
suatu bala (musibah), bahwasanya Allah
menyukai mendengarkan rintihan hambaNya
kepadaNya. Allah senang melihat para hamba
kembali kepadaNya pada saat-saat sempit dan
tercekam. Namun apabila seorang insan itu
bertadharru’ pada saat-saat ia lapang, maka
akan segera dikabulkan baginya permintaan-
permintaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengatakan :
ﻣَﻦْ ﺳَﺮﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺸﺪَﺍﺋِﺪِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺮْﺏِ
ﻓَﻠْﻴُﻜْﺜِﺮِ ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮﺧَﺎﺀِ
Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan
doanya pada saat-saat sempit dan kesulitan,
maka hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada
saat-saat ia lapang.[14]
PERKARA-PERKARA YANG HARUS DIHINDARI
BAGI ORANG YANG BERDOA
Untuk mendukung agar doa seseorang
dikabulkan, seseorang harus menghindari
beberapa perkara yang dapat menghalangi
terkabulnya doa.
Pertama : Mengkonsumsi makanan yang haram.
Karena ini termasuk perkara yang menghalangi
terkabulnya doa, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺮﺟُﻞَ ﻳُﻄِﻴﻞُ ﺍﻟﺴﻔَﺮَ ﺃَﺷْﻌَﺚَ ﺃَﻏْﺒَﺮَ ﻳَﻤُﺪ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟﺴﻤَﺎﺀِ ﻳَﺎ ﺭَﺏ ﻳَﺎ ﺭَﺏ ﻭَﻣَﻄْﻌَﻤُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻭَﻣَﺸْﺮَﺑُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ
ﻭَﻣَﻠْﺒَﺴُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻭَﻏُﺬِﻱَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﻓَﺄَﻧﻰ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟِﺬَﻟِﻚَ
Seorang laki-laki yang panjang perjalanannya,
rambutnya acak-acakan dan berdebu, ia
mengangkat tangannya ke langit dan
mengatakan : "Ya Rabbi, ya Rabbi," sementara
makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan diberi makan dengan
barang yang haram, bagaimana ia akan
diterima doanya?[15]
Kedua : Terburu-buru dalam meminta
dikabulkannya doa. Permintaan yang tergesa-
gesa itu dilarang, dan dapat menghalangi
terkabulnya doa. Seseorang yang berdoa juga
tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Sikap terburu-buru bisa
dikategorikan sebagai bentuk pendustaan
terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
padahal Allah telah berjanji mengabulkan doa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟِﺄَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﺠَﻞْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺩَﻋَﻮْﺕُ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺐْ
ﻟِﻲ
Akan dikabulkan doa salah seorang di antara
kamu selama dia tidak terburu-buru; ia
mengatakan “Aku sudah berdoa, namun tidak
dikabulkan bagiku”.[16]
Ketiga : Berlebih-lebihan atau melampaui batas
dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺭَﺑﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔً ۚ ﺇِﻧﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ
Berdo'alah kepada Rabb-mu dengan berendah
diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas. [al A'raf/7 : 55].
Sa’ad Radhiyallahu anhu pernah melihat anak
laki-lakinya berdoa, dan ia berkata dalam
doanya : “Ya Allah, aku memohon kepadaMu
surga, kenikmatannya, kemegahannya, begini
dan begini. Dan aku berlindung kepadaMu dari
api neraka, dari rantainya, belenggunya, begini
dan begini”.
Mendengar doa anaknya tersebut, Sa’ad
Radhiyallahu anhu berkata: Wahai anakku,
sesunggunya aku mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﺳَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻌْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀِ ﻓَﺈِﻳﺎﻙَ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ
ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺇِﻧﻚَ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻴﺖَ ﺍﻟْﺠَﻨﺔَ ﺃُﻋْﻄِﻴﺘَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﺇِﻥْ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨﺎﺭِ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺸﺮ
“Akan ada nanti kaum yang melampaui batas
dalam berdoa. Jangan sampai engkau masuk ke
dalam golongan mereka. Jika engkau diberikan
surga, niscaya engkau akan diberikan semua
apa yang ada di dalamnya. Jika engkau
dihindarkan dari api neraka, niscaya engkau
akan dihindarkan darinya dan seluruh
keburukannya”.
Keempat : Meminta perkara-perkara yang
mustahil. Seperti seseorang yang berdoa agar
dapat melihat Nabi dalam keadaan terjaga,
atau ia berdoa agar dijadikan sebagai malaikat,
atau ia berdoa meminta kekuatan, yang dengan
kekuatan itu ia dapat mengangkat gunung, atau
meminta kepada Allah berupa an nubuwah
(kenabian). Karena hal itu tidaklah mungkin.
Bahkan kalau ia meyakini diturunkannya
nubuwah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , maka ia bisa kafir karena hal itu. Dan
permintaan seperti itu juga termasuk bentuk
berlebih-lebihan dalam berdoa. Allahu a’lam.
Demikian, mudah-mudahan Allah berkenan
memberikan taufiq kepada kita untuk
senantiasa berdoa kepadaNya, dan menjadikan
doa-doa kita sebagai doa yang mustajab.
Billahit taufiq. (Ummu Ihsan)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 00/Tahun
XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diangkat dari kitab Muashu’ah Adab Islami.
[2]. HR Ahmad, IV/267; Abu Dawud, 1479 dan
at Tirmidzi, 2969 dan dishahihkan olehnya;
Ibnu Majah, 3828; al Hakim, I/491 dan
dishahihkannya; dan disetujui oleh adz
Dzahabi; Ibnu Hibban, 887h/II/124 dalam
Kitab al Ihsan. Al Baihaqi dalam asy Syu’ab,
1105 dan Ibnu Abi Syaibah, 29167h/VI/21; al
Bukhari dalam Adabul Mufrad, hlm. 105; Ibnu
Jarir dalam tafsirnya, no. 1 3038/11; dari
Nu’man bin Basyir. Silahkan lihat Shahih al
Jaami’, 3407.
[3]. HR Tirmidzi, 3048 dan al Hakim, I/493
dari Ibnu Umar. Shahih al Jaami’, 3409.
[4]. HR Ahmad, II/362 dan at Tirmidzi, 3370
dan dihasankannya; al Hakim, I/390 dan
disetujui oleh adz Dzahabi dan yang lainnya
dari Abu Hurairah. Silahkan lihat Shahih al
Jaami’, 5392.
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. HR at Tirmidzi, 3373 dan Ibnu Majah,
3727 dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam
Shahih at Tirmidzi, 2686.
[7]. HR Abu Dawud, 1486 dari Malik bin Yasar;
Shahih Abu Dawud, 1318. Dan diriwayatkan
dari Ibnu Abbas dan yang lainnya.
[8]. HR ath Thabrani dalam kitab al Kabir,
12234h/11 dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan
dari as Saib bin Khallad. Shahih al Jaami’,
4721.
[9]. HR at Tirmidzi, 3603 dari Abu Hurairah.
Shahih at Tirmidzi, 2853.
[10]. HR Abu Dawud, 1481; an Nasaa-i, 44/3;
at Tirmidzi, 3477 dan dishahihkannya, dari
Fudhalah bin ‘Ubaid. Silahkan lihat Shahih Abu
Dawud, 1314.
[11]. HR ad Dailami dalam Musnad al Firdaus,
III/4791 dari ‘Ali. Dalam hadits lain
diriwayatkan dari Anas. Juga dari ‘Ali secara
mauquf yang diriwayatkan ath Thabrani di
dalam al Ausath, dan al Baihaqi di dalam asy
Syu’ab. Berkata al Haitsami di dalam al Majma’,
X/160 : “Para perawinya tsiqat”. Silahkan lihat
Shahih al Jaami’, 4523.
[12]. HR at Tirmidzi, 3479 dan al Hakim, 493/1
dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at Tirmidzi,
2766.
[13]. HR at Tirmidzi, 3525 dan yang lainnya,
dari Anas. Lihat dalam Shahih at Tirmidzi,
2797. Dan diriwayatkan juga dari hadits
Rabi’ah.
[14]. HR at Tirmidzi, 3382; al Hakim, I/544 dan
dishahihkannya, dan disetujui oleh adz Dzahabi
dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih
at Tirmidzi, 2693.
[15]. HR Muslim, 1015 dari Abu Hurairah.
[16]. HR al Bukhari, 6340 dan Muslim, 2735,
dari Abu Hurairah.
[17]. HR Ahmad, I/172 dan Abu Dawud, 1480,
dari Sa’ad. Shahih Abu Dawud, 1313
agung. Doa merupakan ibadah yang sangat
dicintai oleh Allah. Doa merupakan bukti
ketergantungan seorang hamba kepada Rabb
Subhanahu wa Ta’ala dalam meraih apa-apa
yang bermanfaat dan menolak apa-apa yang
membawa mudharat baginya. Doa merupakan
bukti keterkaitan seorang manusia kepada
Rabb-nya, dan kecondongannya kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, bahwasannya tiada daya
dan upaya melainkan dengan bantuan Allah
Subhanahu wa Ta’ala .
PERBANYAKLAH DOA
Sebagian orang ada yang beranggapan, bahwa
dirinya tidak selayaknya banyak meminta
kepada Allah. Dia menganggapnya sebagai suatu
aib. Menilainya sebagai sikap kurang bersyukur
kapada Allah atau bertentangan dengan sifat
qana’ah. Akhirnya ia menahan diri tidak
meminta kepada Allah, kecuali dalam perkara-
perkara yang dia anggap penting dan
mendesak. Sedang dalam masalah-masalah
yang dianggapnya ringan dan sepele, ia merasa
enggan meminta kepada Allah.
Pemahaman seperti ini, jelas merupakan
kekeliruan dan suatu kejahilan. Kerena doa
termasuk jenis ibadah, dan Allah Azza wa Jalla
marah jika seorang hamba enggan meminta
kepadaNya.
Dalan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀُ ﻫُﻮَ ﺍﻟﻌِﺒَﺎﺩَﺓُ
Sesungguhnya doa adalah ibadah. [2]
Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
membaca ayat:
ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺭَﺑﻜُﻢُ ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ ۚ ﺇِﻥ ﺍﻟﺬِﻳﻦَ ﻳَﺴْﺘَﻜْﺒِﺮُﻭﻥَ
ﻋَﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩَﺗِﻲ ﺳَﻴَﺪْﺧُﻠُﻮﻥَ ﺟَﻬَﻨﻢَ ﺩَﺍﺧِﺮِﻳﻦَ
Dan Rabb-mu berfirman: "Berdo'alah
kepadaKu, niscaya akan Ku-perkenankan
bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari menyembahKu akan
masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina
dina". [al Mu`min/40 : 60].
Doa ini -dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala
- sangat bermanfaat, sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀُ ﻳَﻨْﻔَﻊُ ﻣِﻤﺎ ﻧَﺰَﻝَ ﻭَﻣِﻤﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺰِﻝْ ﻓَﻌَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋِﺒَﺎﺩَ ﺍﻟﻠﻪِ
ﺑِﺎﻟﺪﻋَﺎﺀِ
Doa itu bermanfaat bagi apa-apa yang sudah
terjadi ataupun yang belum terjadi. Hendaklah
kalian memperbanyak berdoa, wahai hamba-
hamba Allah.[3]
Seorang muslim, selayaknya banyak berdoa
setiap waktu. Karena doa merupakan ibadah
yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala , sebagaimana sabda
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : "Tidak ada
yang paling mulia di sisi Allah Subhanahu wa
Ta’ala daripada doa". [4]
DOA TIDAK PERNAH MEMBAWA KERUGIAN
Seseorang yang meninggalkan doa berarti ia
merugi. Sebaliknya seseorang yang berdoa, ia
tidak akan pernah merugi atas doa yang
dipenjatkannya, selama ia tidak berdoa untuk
suatu dosa atau memutuskan tali silaturrahmi.
Karena doa yang dipanjatkannya, pasti
disambut oleh Allah, baik dengan mewujudkan
apa yang dia minta di dunia, atau mencegah
darinya keburukan yang setara dengan yang ia
minta, atau menyimpannya sebagai pahala yang
lebih baik baginya di akhirat kelak. Dalam
sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﺃَﺣَﺪٍ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺑِﺪُﻋَﺎﺀٍ ﺇِﻟﺎ ﺁﺗَﺎﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣَﺎ ﺳَﺄَﻝَ ﺃَﻭْ ﻛَﻒ
ﻋَﻨْﻪُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﺴﻮﺀِ ﻣِﺜْﻠَﻪُ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺪْﻉُ ﺑِﺈِﺛْﻢٍ ﺃَﻭْ ﻗَﻄِﻴﻌَﺔِ ﺭَﺣِﻢٍ
Tidak ada seseorang yang berdoa dengan suatu
doa, kecuali Allah akan mengabulkan yang ia
minta, atau Allah menahan keburukan dari
dirinya yang semisal dengan yang ia minta,
selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan
dosa atau untuk memutuskan tali silaturrahim.
[5]
Oleh karena itu, janganlah seorang hamba
merasa keberatan meminta kepada Rabb-nya
dalam urusan-urusan dunianya, meskipun
urusan tersebut dianggapnya sepele, terlebih
lagi dalam urusan akhirat. Karena permintaan
itu merupakan bukti ketergantungan yang
sangat kepada Allah, dan kebutuhannya kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam semua
urusan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah mengatakan :
ﺇِﻧﻪُ ﻣَﻦْ ﻟَﻢْ ﻳَﺴْﺄَﻟْﻪُ ﻳَﻐْﻀَﺐْ ﻋَﻠَﻴْﻪِ
Sesungguhnya, barangsiapa yang tidak meminta
kepada Allah, maka Allah akan marah
kepadanya.[6]
ADAB-ADAB YANG HARUS DIPERHATIKAN
DALAM BERDOA
Dalam berdoa, ada beberapa perkara dan adab
yang harus diperhatikan oleh seseorang,
sehingga doanya mustajab.
Pertama : Memasang niat yang benar.
Seseorang yang berdoa, hendaklah meniatkan
dalam doanya tersebut untuk menegakkan
ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
menggantungkan kebutuhannya kepadaNya.
Karena siapa saja yang mengggantungkan
hajatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
niscaya ia tidak akan rugi selama-lamanya.
Kedua : Berdoa dalam keadaan bersuci. Cara
seperti ini lebih afdhal. Hanya saja, jika
seseorang berdoa dalam kondisi tidak
berwudhu’, maka hal itu tidak mengapa.
Ketiga : Meminta kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala dengan menengadahkan telapak tangan.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
bersabda:
ﺇِﺫَﺍ ﺳَﺄَﻟْﺘُﻢُ ﺍﻟﻠﻪَ ﻓَﺎﺳْﺄَﻟُﻮﻩُ ﺑِﺒُﻄُﻮﻥِ ﺃَﻛُﻔﻜُﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺗَﺴْﺄَﻟُﻮﻩُ
ﺑِﻈُﻬُﻮﺭِﻫَﺎ
Jika engkau meminta kepada Allah Subhanahu
wa Ta’ala , maka mintalah dengan
menengadahkan telapak tangan, dan janganlah
engkau memintanya dengan menengadahkan
punggung telapak tangan.[7]
Kaifiatnya adalah, dengan mengarahkan telapak
tangan ke wajah sebagaimana dicontohkan oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam[8]. Atau
dengan cara mengangkat tangan hingga
nampak putih ketiaknya (bagian dalam
ketiaknya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :
ﻣَﺎ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪٍ ﻳَﺮْﻓَﻊُ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺣَﺘﻰ ﻳَﺒْﺪُﻭَ ﺇِﺑِﻄُﻪُ ﻳَﺴْﺄَﻝُ ﺍﻟﻠﻪَ
ﻣَﺴْﺄَﻟَﺔً ﺇِﻟﺎ ﺁﺗَﺎﻫَﺎ ﺇِﻳﺎﻩُ
(Tidaklah seorang hamba mengangkat kedua
tangannya hingga nampak ketiaknya dan
memohon suatu permohonan, kecuali Allah
mengabulkan permohonannya itu).[9] Cara
seperti menunjukkan ketergantungan seorang
hamba kepada Allah, kebutuhannya kepada
Allah, dan permohonannya yang sangat kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Keempat : Memulai dengan mengucapkan
hamdalah dan puji-pujian kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Cara seperti ini menjadi
sebab lebih dekat kepada terkabulnya doa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah
mendengar seorang laki-laki berdoa dalam
shalatnya dan dia tidak mengagungkan Allah
Subhanahu wa Ta’ala , tidak bershalawat atas
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Orang ini terburu-buru,” kemudian
Rasulullah memanggilnya dan bersabda :
ﺇِﺫَﺍ ﺻَﻠﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻓَﻠْﻴَﺒْﺪَﺃْ ﺑِﺘَﺤْﻤِﻴﺪِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺍﻟﺜﻨَﺎﺀِ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺛُﻢ
ﻟْﻴُﺼَﻞ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨﺒِﻲ ﺻَﻠﻰ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠﻢَ ﺛُﻢ ﻟْﻴَﺪْﻉُ
ﺑَﻌْﺪُ ﺑِﻤَﺎ ﺷَﺎﺀَ
Jika salah seorang dari kalian shalat, hendaklah
ia memulainya dengan mengucapkan hamdalah
serta puja dan puji kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala , kemudian bershalawat atas Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , setelah itu ia
berdoa dengan apa yang ia inginkan.[10]
Kelima : Bershalawat atas Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam . Jika ia meninggalkan
shalawat atas Nabi, doanya bisa terhalang.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Semua doa terhalang, sehingga diucapkan
shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
[11] .
Keenam : Memulai berdoa untuk diri sendiri
terlebih dahulu. Demikian ini yang diisyaratkan
dalam al Qur`an, seperti ayat:
ﺭَﺏ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻲ ﻭَﻟِﻮَﺍﻟِﺪَﻱ
Ya Rabb-ku! Ampunilah aku, dan ibu bapakku
…… [Nuh/71 : 28].
Ketujuh : Bersungguh-sungguh dalam meminta.
Janganlah seseorang ragu-ragu dalam doanya,
atau ia mengucapkan pengecualian dengan
mengucapkan "jika Engkau berkehendak ya
Allah, berikanlah kepadaku ini dan ini". Doa
seperti itu dilarang, karena tidak ada
sesuatupun yang dapat memaksa kehendak
Allah.
Kedelapan : Menghadirkan hati dalam berdoa.
Seorang hamba, hendaklah menghadirkan hati,
memusatkan pikiran, mentadaburi doa yang ia
ucapkan, serta menampakkan kebutuhan dan
ketergantungannya kepada Allah. Janganlah ia
berdoa dengan lisannya, namun hatinya entah
kemana. Karena doa tidak akan dikabulkan
dengan cara seperti itu. Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda :
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻣُﻮﻗِﻨُﻮﻥَ ﺑِﺎﻟْﺈِﺟَﺎﺑَﺔِ ﻭَﺍﻋْﻠَﻤُﻮﺍ ﺃَﻥ ﺍﻟﻠﻪَ ﻟَﺎ
ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐُ ﺩُﻋَﺎﺀً ﻣِﻦْ ﻗَﻠْﺐٍ ﻏَﺎﻓِﻞٍ ﻟَﺎﻩٍ
Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
sementara kalian yakin doa kalian dikabulkan.
Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak akan
mengabulkan doa dari hati yang lalai dan
lengah. [12]
Kesembilan : Berdoa dengan kata-kata singkat
dan padat, serta doa-doa yang ma’tsur. Tidak
syak lagi, kata-kata yang paling padat dan
paling singkat dan paling agung berkahnya
adalah, doa-doa yang diriwayatkan dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Doa-doa seperti
itu banyak terdapat di dalam buku-buku As
Sunnah.
Kesepuluh : Bertawasul dengan nama dan sifat-
sifat Allah. Allah Ta'ala berfirman:
ﻭَﻟِﻠﻪِ ﺍﻟْﺄَﺳْﻤَﺎﺀُ ﺍﻟْﺤُﺴْﻨَﻰٰ ﻓَﺎﺩْﻋُﻮﻩُ ﺑِﻬَﺎ
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka
bermohonlah kepadaNya dengan menyebut
asma-ul husna itu … … [al A'raf/7 : 180].
Atau seseorang bertawasul dengan amal shalih
yang telah dia lakukan, sebagaimana
disebutkan dalam hadits shahih yang mashur
tentang tiga orang yang terperangkap di dalam
goa. Atau bertawasul dengan doa orang shalih
yang mendoakan untuknya. Dalil-dalil yang
menunjukkan hal ini banyak ditunjukkan di
dalam al Qur`an maupun Sunnah Nabi.
Kesebelas : Memperbanyak ucapan “Yaa Dzal
Jalaali wal Ikraam”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:
ﺃَﻟِﻈﻮﺍ ﺑِﻴَﺎ ﺫَﺍ ﺍﻟْﺠَﻠَﺎﻝِ ﻭَﺍﻟْﺈِﻛْﺮَﺍﻡِ
Ulang-ulangilah ucapan Yaa Dzal Jalaali Wal
Ikraam. [13]
Yaitu selalu ucapkan dan perbanyaklah dalam
doa-doa kalian. Karena hal itu merupakan kata-
kata pujian yang sangat tinggi kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala yang paling agung.
Dengan memperbanyak membacanya akan
membantu terkabulnya doa dari Allah
Subhanahu wa Ta’ala .
Keduabelas : Mencari waktu-waktu yang
mustajab dan tempat-tempat yang utama. Ada
beberapa waktu dan tempat-tempat yang
utama, sebagaimana telah disebutkan di dalam
nash-nash. Orang yang berdoa, sebaiknya
mencari waktu tersebut dan memperbanyak
doa pada waktu-waktu tersebut. Di antara
waktu-waktu yang utama dan mustajab adalah,
waktu antara adzan dan iqamah, di dalam
shalat, setelah selesai mengerjakan shalat-
shalat fardhu, pada waktu sore hari, ketika
berbuka puasa, di bagian akhir malam, dan
sesaat pada hari Jumat -yaitu saat-saat terakhir
pada hari Jumat- dan hari-hari di bulan
Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan
Dzulhijjah, pada hari ‘Arafah, pada waktu
mengerjakan haji, di sisi Ka’bah, serta waktu-
waktu dan tempat-tempat lainnya yang
disebutkan di dalam atsar.
Ketigabelas : Memperbanyak doa pada saat-saat
lapang. Upaya ini agar Allah Subhanahu wa
Ta’ala mengabulkan permintaannya pada saat-
saat sempit. Karena termasuk hikmah Allah
Subhanahu wa Ta’ala tatkala mentakdirkan
suatu bala (musibah), bahwasanya Allah
menyukai mendengarkan rintihan hambaNya
kepadaNya. Allah senang melihat para hamba
kembali kepadaNya pada saat-saat sempit dan
tercekam. Namun apabila seorang insan itu
bertadharru’ pada saat-saat ia lapang, maka
akan segera dikabulkan baginya permintaan-
permintaannya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam telah mengatakan :
ﻣَﻦْ ﺳَﺮﻩُ ﺃَﻥْ ﻳَﺴْﺘَﺠِﻴﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﻋِﻨْﺪَ ﺍﻟﺸﺪَﺍﺋِﺪِ ﻭَﺍﻟْﻜَﺮْﺏِ
ﻓَﻠْﻴُﻜْﺜِﺮِ ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺮﺧَﺎﺀِ
Barangsiapa yang suka Allah mengabulkan
doanya pada saat-saat sempit dan kesulitan,
maka hendaklah ia banyak-banyak berdoa pada
saat-saat ia lapang.[14]
PERKARA-PERKARA YANG HARUS DIHINDARI
BAGI ORANG YANG BERDOA
Untuk mendukung agar doa seseorang
dikabulkan, seseorang harus menghindari
beberapa perkara yang dapat menghalangi
terkabulnya doa.
Pertama : Mengkonsumsi makanan yang haram.
Karena ini termasuk perkara yang menghalangi
terkabulnya doa, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
ﺫَﻛَﺮَ ﺍﻟﺮﺟُﻞَ ﻳُﻄِﻴﻞُ ﺍﻟﺴﻔَﺮَ ﺃَﺷْﻌَﺚَ ﺃَﻏْﺒَﺮَ ﻳَﻤُﺪ ﻳَﺪَﻳْﻪِ ﺇِﻟَﻰ
ﺍﻟﺴﻤَﺎﺀِ ﻳَﺎ ﺭَﺏ ﻳَﺎ ﺭَﺏ ﻭَﻣَﻄْﻌَﻤُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻭَﻣَﺸْﺮَﺑُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ
ﻭَﻣَﻠْﺒَﺴُﻪُ ﺣَﺮَﺍﻡٌ ﻭَﻏُﺬِﻱَ ﺑِﺎﻟْﺤَﺮَﺍﻡِ ﻓَﺄَﻧﻰ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟِﺬَﻟِﻚَ
Seorang laki-laki yang panjang perjalanannya,
rambutnya acak-acakan dan berdebu, ia
mengangkat tangannya ke langit dan
mengatakan : "Ya Rabbi, ya Rabbi," sementara
makanannya haram, minumannya haram,
pakaiannya haram, dan diberi makan dengan
barang yang haram, bagaimana ia akan
diterima doanya?[15]
Kedua : Terburu-buru dalam meminta
dikabulkannya doa. Permintaan yang tergesa-
gesa itu dilarang, dan dapat menghalangi
terkabulnya doa. Seseorang yang berdoa juga
tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah
Subhanahu wa Ta’ala . Sikap terburu-buru bisa
dikategorikan sebagai bentuk pendustaan
terhadap janji Allah Subhanahu wa Ta’ala ,
padahal Allah telah berjanji mengabulkan doa.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda :
ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟِﺄَﺣَﺪِﻛُﻢْ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﻌْﺠَﻞْ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺩَﻋَﻮْﺕُ ﻓَﻠَﻢْ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺐْ
ﻟِﻲ
Akan dikabulkan doa salah seorang di antara
kamu selama dia tidak terburu-buru; ia
mengatakan “Aku sudah berdoa, namun tidak
dikabulkan bagiku”.[16]
Ketiga : Berlebih-lebihan atau melampaui batas
dalam berdoa. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
ﺍﺩْﻋُﻮﺍ ﺭَﺑﻜُﻢْ ﺗَﻀَﺮﻋًﺎ ﻭَﺧُﻔْﻴَﺔً ۚ ﺇِﻧﻪُ ﻟَﺎ ﻳُﺤِﺐ ﺍﻟْﻤُﻌْﺘَﺪِﻳﻦَ
Berdo'alah kepada Rabb-mu dengan berendah
diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui
batas. [al A'raf/7 : 55].
Sa’ad Radhiyallahu anhu pernah melihat anak
laki-lakinya berdoa, dan ia berkata dalam
doanya : “Ya Allah, aku memohon kepadaMu
surga, kenikmatannya, kemegahannya, begini
dan begini. Dan aku berlindung kepadaMu dari
api neraka, dari rantainya, belenggunya, begini
dan begini”.
Mendengar doa anaknya tersebut, Sa’ad
Radhiyallahu anhu berkata: Wahai anakku,
sesunggunya aku mendengar Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
ﺳَﻴَﻜُﻮﻥُ ﻗَﻮْﻡٌ ﻳَﻌْﺘَﺪُﻭﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪﻋَﺎﺀِ ﻓَﺈِﻳﺎﻙَ ﺃَﻥْ ﺗَﻜُﻮﻥَ
ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﺇِﻧﻚَ ﺇِﻥْ ﺃُﻋْﻄِﻴﺖَ ﺍﻟْﺠَﻨﺔَ ﺃُﻋْﻄِﻴﺘَﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ
ﺍﻟْﺨَﻴْﺮِ ﻭَﺇِﻥْ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨﺎﺭِ ﺃُﻋِﺬْﺕَ ﻣِﻨْﻬَﺎ ﻭَﻣَﺎ ﻓِﻴﻬَﺎ ﻣِﻦَ
ﺍﻟﺸﺮ
“Akan ada nanti kaum yang melampaui batas
dalam berdoa. Jangan sampai engkau masuk ke
dalam golongan mereka. Jika engkau diberikan
surga, niscaya engkau akan diberikan semua
apa yang ada di dalamnya. Jika engkau
dihindarkan dari api neraka, niscaya engkau
akan dihindarkan darinya dan seluruh
keburukannya”.
Keempat : Meminta perkara-perkara yang
mustahil. Seperti seseorang yang berdoa agar
dapat melihat Nabi dalam keadaan terjaga,
atau ia berdoa agar dijadikan sebagai malaikat,
atau ia berdoa meminta kekuatan, yang dengan
kekuatan itu ia dapat mengangkat gunung, atau
meminta kepada Allah berupa an nubuwah
(kenabian). Karena hal itu tidaklah mungkin.
Bahkan kalau ia meyakini diturunkannya
nubuwah setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam , maka ia bisa kafir karena hal itu. Dan
permintaan seperti itu juga termasuk bentuk
berlebih-lebihan dalam berdoa. Allahu a’lam.
Demikian, mudah-mudahan Allah berkenan
memberikan taufiq kepada kita untuk
senantiasa berdoa kepadaNya, dan menjadikan
doa-doa kita sebagai doa yang mustajab.
Billahit taufiq. (Ummu Ihsan)
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 00/Tahun
XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan Lajnah
Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp.
0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diangkat dari kitab Muashu’ah Adab Islami.
[2]. HR Ahmad, IV/267; Abu Dawud, 1479 dan
at Tirmidzi, 2969 dan dishahihkan olehnya;
Ibnu Majah, 3828; al Hakim, I/491 dan
dishahihkannya; dan disetujui oleh adz
Dzahabi; Ibnu Hibban, 887h/II/124 dalam
Kitab al Ihsan. Al Baihaqi dalam asy Syu’ab,
1105 dan Ibnu Abi Syaibah, 29167h/VI/21; al
Bukhari dalam Adabul Mufrad, hlm. 105; Ibnu
Jarir dalam tafsirnya, no. 1 3038/11; dari
Nu’man bin Basyir. Silahkan lihat Shahih al
Jaami’, 3407.
[3]. HR Tirmidzi, 3048 dan al Hakim, I/493
dari Ibnu Umar. Shahih al Jaami’, 3409.
[4]. HR Ahmad, II/362 dan at Tirmidzi, 3370
dan dihasankannya; al Hakim, I/390 dan
disetujui oleh adz Dzahabi dan yang lainnya
dari Abu Hurairah. Silahkan lihat Shahih al
Jaami’, 5392.
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. HR at Tirmidzi, 3373 dan Ibnu Majah,
3727 dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam
Shahih at Tirmidzi, 2686.
[7]. HR Abu Dawud, 1486 dari Malik bin Yasar;
Shahih Abu Dawud, 1318. Dan diriwayatkan
dari Ibnu Abbas dan yang lainnya.
[8]. HR ath Thabrani dalam kitab al Kabir,
12234h/11 dari Ibnu Abbas. Dan diriwayatkan
dari as Saib bin Khallad. Shahih al Jaami’,
4721.
[9]. HR at Tirmidzi, 3603 dari Abu Hurairah.
Shahih at Tirmidzi, 2853.
[10]. HR Abu Dawud, 1481; an Nasaa-i, 44/3;
at Tirmidzi, 3477 dan dishahihkannya, dari
Fudhalah bin ‘Ubaid. Silahkan lihat Shahih Abu
Dawud, 1314.
[11]. HR ad Dailami dalam Musnad al Firdaus,
III/4791 dari ‘Ali. Dalam hadits lain
diriwayatkan dari Anas. Juga dari ‘Ali secara
mauquf yang diriwayatkan ath Thabrani di
dalam al Ausath, dan al Baihaqi di dalam asy
Syu’ab. Berkata al Haitsami di dalam al Majma’,
X/160 : “Para perawinya tsiqat”. Silahkan lihat
Shahih al Jaami’, 4523.
[12]. HR at Tirmidzi, 3479 dan al Hakim, 493/1
dari Abu Hurairah. Lihat Shahih at Tirmidzi,
2766.
[13]. HR at Tirmidzi, 3525 dan yang lainnya,
dari Anas. Lihat dalam Shahih at Tirmidzi,
2797. Dan diriwayatkan juga dari hadits
Rabi’ah.
[14]. HR at Tirmidzi, 3382; al Hakim, I/544 dan
dishahihkannya, dan disetujui oleh adz Dzahabi
dari Abu Hurairah. Silahkan lihat dalam Shahih
at Tirmidzi, 2693.
[15]. HR Muslim, 1015 dari Abu Hurairah.
[16]. HR al Bukhari, 6340 dan Muslim, 2735,
dari Abu Hurairah.
[17]. HR Ahmad, I/172 dan Abu Dawud, 1480,
dari Sa’ad. Shahih Abu Dawud, 1313
0
2.2K
9
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•109.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya